ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Air Susu Dibalas Air Tuba

Bagikan Artikel Ini:

JIKA kita memodifikasi pepatah di atas, kemudian mengaktualisasikannya dalam peristiwa hebohnya buah dada Pamela Safitri di medsos, maka modifikasi itu akan jadi begini: Puting susu, dibalas caci maki.

Negeri ini sepertinya disesaki barisan kaum moralis, yang merasa diri paling bersih dibanding toilet rumah ibadah manapun.

Oleh sebab itu, tak usah kita heran, satu-dua puji yang terlontar gembira nan lucu-lucu menggemaskan, harus kalah dengan mewabahnya rentetan caci maki dan hojatan pedih, (sepertinya para moralis itu memang terlampau suci), pada pose payudara dan puting susu dedew Pamela yang terunggah di medsos.

Betapa para moralis itu cepat sekali menuduh, ketersembulan payudara dan puting susu dedew Pamela, adalah bentuk kerusakan moral si korban. Seolah-olah para moralis yang merasa tak berdosa ini, mengimani dengan begitu tengik bahwa payudara berukuran waw itu dapat menyebabkan serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan, dan yang terparah adalah dapat merongrong kehidupan berbangsa dan merusak sendi-sendi kehidupan bernegara, dengan dampak (misalnya) ; naiknya harga kebutuhan pokok, anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar, melonjaknya harga BBM, dan menimbulkan gangguan pernapasan (terengah-engah di kamar mandi misalnya).

Alih-alih patut bersyukur karena dapat tontonan gratis, yang terjadi justru kenaik-pitaman emosi secara berjamaah, tatkala memelototi dua buah dada lengkap dengan dua ujung puting susu, tersembul dari balik kutaang dedew Pamela.

Di negeri ini, puting susu dan selangkangan, memang cepat sekali divonis sebagai bentuk kerusakan moral dan bejatnya kelakuan. Seolah-olah moral hanya bernilai jika ada di dua wilayah itu; dada dan selangkangan. Sedangkan yang di luar  itu, bukan moral.

Maka dari itu pulalah saya (mungkin bukan salah satu) adalah orang yang suudzon pada mantan Menteri Agama RI, Suryadharma Ali—kini ditahan KPK. Bagi beliau, (mungkin) korupsi dana haji itu bukan bentuk kerusakan moral. Saya pun ikut-ikutan suudzon pada Anas Urbaningrum (kini sedang menjalani hukuman) bahwa apa yang dilakukannya (begitu juga sahabatnya Angelina Sondakh), bukan bentuk kebejatan moral. Karena moral di negeri ini adalah moral yang dilandaskan pada dada dan selangkangan. Makanya beliau pernah sesumbar gantung di Monas karena dirinya yakin tidak bersalah.

Namun, karena berprasangka buruk itu tidak baik, sebab berpotensi melahirkan fitnah, maka saya harus mengikuti apa yang sering dinasehatkan secara mulia lewat tutur kata KH. Abdullah Gymnastiar alias AA Gym; jagalah hati jangan kau nodai. Meski pada akhirnya tak sedikit mamak-mamak dan dedew-dedew di negeri ini yang kecewa ketika AA Gym luput menjaga hati setelah memilih berpoligami. Tentu hal ini didasari kematangan hati dan pikiran yang meyakini bahwa, memoligami istri pertama bukanlah sebuah bentuk kejahatan, apalagi kebejatan moral. Maka pantas pulalah para penegak tiang moral negeri ini, tak merasa jenggot dan kening lancipnya terbakar ketika AA Gym berpoligami. Beruntung ketika poligami itu dilakukan, penyanyi dangdut Cita Citata belum ngetop. Kasihan kan kalau si teteh istri pertama AA Gym harus disindir-sindir publik di medsos; sakitnya tuh disni.

Kembali ke soal Pamela Safitri. Pose menantang (juga lucu) yang mengundang kontroversi kalangan netizen ini, kenapa tak kita baca sebagai (kemungkinan) bentuk kerewelan mantan pacarnya yang merasa dicueki setelah tak kebagian rejeki dari hasil job selama Pamela bergoyang dribel dengan teman duetnya, Ovi Sovianti? Atau tidak menutup kemungkinan pacar (atau mantan pacarnya) sengaja mengumbar karunia Ilahi itu, sebagai bentuk berbagi ke sesama kaum Adam yang aktif ‘bekerja’ siang malam di medsos. Bukankah para penggemar Duo Srigala  layak bersyukur ketika akhirnya rasa penasaran terhadap ‘kebesaran’ dedew Pamela Safitri akhirnya terkuak? Sama halnya ketika para pengagum Luna Maya, Cut Tari, dan Ariel ‘Peterpan’ Noah, bisa menikmati segala keterbukaan dari mereka bertiga yang sebelumnya tertutupi. Maka rasa syukur dan nikmat mana lagi yang hendak kita dustakan? Supaya tak ada istilah air susu dibalas air tubah, atau puting susu berbalas caci maki.

Lalu bagaimana jika dedew Pamela hanyalah korban dari kerewelan pacar, mantan pacar, atau teman-teman usil yang berbaik hati pada khalayak netizen, dengan cara yang dapat membuat Duo Serigala nangis-nangis? Apa kita tega melihat dedew Pamela dan Ovi yang fenomenal dengan goyang dribelnya harus tampil dengan wajah memelas karena dipaksa mendribel lagunya Cita Citata Sakitnya tuh disni?

Kasus dada dan puting susu dedew Pamela sebetulnya hanya menambah deretan panjang kasus-kasus serupa yang pernah ada di negeri ini. Kita mungkin jenuh ketika masih senantiasa menyadari; negeri dengan gugusan pulau-pulau ini, belum bisa menghindari keributan massal yang datang dari ukuran buah dada dan selangkangan.

Sejenak terlintas di kepala kita pidato Bung Karno yang berapi-api.

“Ini dadaku, mana dadamu!”

Orang-orang yang cakrawala berpikirnya luas, yang tingkat kemerdekaannya tak hanya setinggi dengkul dan merasa bukan katak dalam tempurung, mungkin sedih ketika buah dada Duo Serigala dijadikan objek caci maki dan hojatan.

Ingat, kita juga hidup dari payudara dan puting susu. Kesedihan dedew Pamela karena payudaranya dieksploitasi, mungkin sama pedihnya dengan kesedihan masyarakat adat suku Amungme di Papua, ketika gunung-gunung yang mereka imani sebagai payudara Ibu, dikais, dipotong, dicincang, diratakan, dan dilubangi korporasi pertambangan.

“Bagaimana perasaanmu jika kami ambil ibumu dan kami belah payudaranya, itulah perasaan orang Amungme,” kata  Linda Baenal

Artikel lainnya klik disini

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.