ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Bir Terancam, Ayo Kembali ke Selera Asal

Bagikan Artikel Ini:

felix

PASCA diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Republik Indonesia Nomor 06/-DAG/PER/1/2015, pada Kamis 16 April 2015, Bir yang mengandung kadar alkohol rendah kesukaan Joe Kandati, Gerri Tumani, Estefan Mait, Ronald Larage dan teman-teman Mapala, membuat Felix Marpaung  tiba-tiba girang.

Hal tersebut jelas menimbulkan tanda tanya besar di kepala Muller Anarkisto Sulaeman yang terus mempertahankan style gondrongnya. Begitu pula saya (sudah lama plontos) sebab setahu kami Felix termasuk sahabat yang tergila-gila dengan Bir. Apalagi yang dingin. Bulan kemarin saja, saya baru menerima kunjungan dari Felix Marpaung yang datang ke rumah sembari menenteng setengah gardus Bir dingin kemasan kaleng.

Oleh sebab itu, mewakili sahabat-sahabat di atas, saya ikut merasa terpanggil menanyakan langsung kepada Felix Marpaung, apa sebenarnya yang membuat ia kini dituduh ‘murtad’ dari Bir.

“Saatnya para penikmat bir kembali ke selera leluhur, yakni olahan pohon seho (nira maksudnya) khas sulawesi utara,” kata dia melalui sambungan selular, Jumat 17 April 2015, siang tadi.

Apa yang disampaikan Felix, jelas berbeda dengan pendapat teman-teman lain sebagaimana yang dikabarkan media ini edisi, Kamis 16 April 2015, kemarin.

“Saya sepakat dengan adanya regulasi tersebut,” tandasnya menanggapi Permendag mihol.

“Keluarnya Permendag tersebut, justru melindungi produk khas lokal yakni cap tikus,” tambah Felix. Nada bicaranya terkesan penuh kebanggaan.

“Masyarakat kita saat ini sudah terbuai beer fest ala Hitler” katanya seperti bersungguh-sungguh.

“Apa masyarakat penikmat bir di sini sudah lupa dengan sedikit mengambil contoh semangat Irish terhadap Whiskey dan orang Rusia yang bangga dengan Vodka. Nah, kenapa kita tidak berbangga dengan minuman lokal olahan dari pohon seho,?” urainya sembari menambahkan kalau dirinya merasa tak habis pikir dengan kesedihan yang tiba-tiba melanda para sahabatnya, buntut dari diberlakukannya Permendag.

“Saatnya kembali ke minuman adat (cap tikus maksudnya), agar semangat lokalitas sulawesi utara tetap lestari dan senantiasa bertahan,” tukasnya.

Kepada arusutara.com, Felix lagi-lagi mengaku justru bersyukur dengan dikeluarkannya Permendag tersebut.

Menurutnya, kegemaran masyarakat Indonesia dan Sulawesi Utara pada khususnya terhadap mihol jenis Bir, lambat laun akan mengalami pergeseran setelah Permendag ini keluar, sebab akan menekan gerak masyarakat pengonsumsi mihol jenis Bir. Dengan demikian, menurutnya lagi,  kembali ke selera para leluhur adalah solusi berbasis lokalitas.

Bagaimana dengan Anda?

Berita terkait:

Kamis Kelabu ntuk Para Penikmat Bir

Soal Bir, Disperindagkop Tunggu Juknis

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.