ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dengan Segala Hormat, Ibu Kartini

Bagikan Artikel Ini:

kartini

PADA KESEMPATAN kali ini, saya hendak menyampaikan lekukan-lekukan asumsi yang senantiasa berkeluk-keluk dalam dada setiap kali mendekati 21 April di tahun yang berganti-ganti.

April memang bulan paling gokil, fenomenal, dan menyisakan banyak resah. Selain punya Mop, keberpulangan Chairil Anwar, jatuh pada bulan April. Baru-baru ini, masih di bulan April juga, semua follower dan tukang intip akun pribadi DuoSerigala, terpuaskan sudah hasrat penasarannya, setelah memelototi hal-hal yang duoDan masih di bulan April juga, negeri ini mengagendakan ragam kesibukan lewat aneka pidato, seminar, simposium, dan bentuk-bentuk kegiatan peringatan atas keterkungkungan perempuan dari kalangan priyayi, yang dicetuskan sebagai pejuang emansipasi wanita negeri ini. Meski di antara kita tidakkah mungkin banyak yang tahu, pahlawan emansipatoris ini rela, pasrah, dan takluk dibawah kekuasaan ‘ningratisme’. Dia juga setia menerima dominasi patriarki yang mewajibkan dia harus patuh, tak perlu cerewet apalagi memberontak pada aturan laki-laki, meski dia harus dipoligami sebagai istri ke-empat dari seorang laki-laki bergelar bangsawan yang tak ia kenal.

Dialah perempuan malang pada jaman itu yang pasrah, tunduk, dan setia pada penindasan kaum kolonial dan budaya patriarki, yang pada berpuluh-puluh tahun selanjutnya, di jaman ketika saya duduk di bangku sekolah dasar, kami kenal lewat lagu Ibu Kita Kartini…

Di sekolah, kita diberi pelajaran sejarah tentang ‘pemberontakan’ dan ‘perjuangan’ seorang perempuan dari keluarga bangsawan, yang konon mengusung emansipasi wanita negeri ini. Sebuah catatan ‘pemberontakan’ dan ‘perjuangan’ yang benarkah ada? Dan ketika hampir seabad lamanya,  mencuat perdebatan, yang kian gencar pasca ditemukannya fesbuk, tentang pantas-tidaknya Ibu Kita Kartini digelari pahlawan nasional, sehingga pantas pula disandingkan dengan tokoh perempuan seperti Siti Aisyah We Tenri OlleArung Pancana Toa, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, dan berderet nama perempuan lainnya ambil misal, Colliepujie  atau Datu Tanete Ratna Kencana

Kartini Adalah Korban  Politik Etis

Pembaca tahu siapa J.H. Abendanon? Ya, mister Abendanon lah tokoh utama penyebab  semua perdebatan tentang Kartini ini dimulai. Saya yakin, pada suatu waktu nanti, debat tentang kepahlawanan Kartini akan mengalahkan debat tentang Syiah – Sunni di republik ini. Sampai-sampai kita baru sadar, kenapa nama Kartini menjadi begitu pasaran dimata mamak-mamak dari Merauke hingga Sabang. Dan di sekolah, tak usah ditanya ada berapa teman kita bernama Kartini. Bahkan yang sedang baca tulisan inipun, ada yang bernama Kartini. Benar tidak? Tuh kan ketawa sendiri.

Semua bermula dari (konon) “surat – surat” Ibu kita Kartini, yang dibukukan mister Abendanon pada tahun 1911, yang diberinya judul : Door Duisternis tot Licht, yang arti harfiahnya adalah, “Dari Kegelapan Menuju Cahaya,”.

Judul buku ini kemudian berganti setelah Armin Pane, sang Pujangga Baru, menerjemahkannya kedalam bahasa Melayu, sehingga jadilah buku itu berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeh Pikiran,  diterbitkan Balai Pustaka, tahun 1922.

Siapa Abendanon? Dialah yang dikirim Ratu Belanda untuk datang ke wilayah kekuasaan kolonial bernama Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dengan tujuan jelas, yakni; untuk menyelenggarakan program Politik Etis alias politik balas budi, setelah pemerintah kolonial Belanda melakukan penindasan dan penghisapan selama hampir 350 lebih di wilayah nusantara.

Abendanon, adalah Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan di pemerintahan kerajaan Belanda, yang mendukung program Politik Etis. Buku “Dari Kegelapan Menuju Cahaya,” pertama kali diterbitkan olehnya pada masa Politik Etis sedang berlangsung, atau 7 tahun setelah Kartini berada di liang kubur.

Sampai saat ini bukti otentik berupa “surat-surat” asli dari Kartini, belum pernah terungkap di mana rimbanya. Dan Abendanon hingga akhir hayatnya tidak pernah bisa menunjukkan sama sekali, naskah “surat-surat” asli dari Kartini.

Maka muncul kecurigaan datang dari para ahli; Abendanon kemungkinan memalsukan “surat-surat” itu kemudian membukukannya, untuk kepentingan program Politik Etis.

Tak usah pula mencari jejak keturunan Abendanon, sebab di Wikipedia, Sulastin Sutrisno sudah menyampaikan bahwa pemerintah Belanda pun sukar melacak silsilah mantan menteri kerajaan Belanda ini. Maka sudah bisa ditebak, tak ada satupun yang tahu dimana naskah asli  “surat-surat” Kartini berada.

Jadi apa sebenarnya yang dilakukan Kartini, sehingga ia harus dikenang sebagai emansipasipatoris dan layak dijadikan sebagai pahlawan yang memberontak dan memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia?

Coba kita lihat fakta sejarah berikut ini;

Pertama; Kartini (dengan segala hormat saya kepada beliau), ternyata senantiasa tunduk pada aturan adat keningratan, tak berbuat apa-apa untuk mengubah itu.

Kedua, setelah berumur 12 tahun, Ayahnya melarang Kartini melanjutkan sekolah. Keputusan itu tak dibantah Kartini. Ia tunduk sebagai anak manis yang tak memberontak. Padahal Kartini muda ini, betapa ingin sekali bersekolah ke negeri Eropa.

Ketiga, pada umur itu juga, Kartini dirumahkan alias dipingit. Dia sudah tidak boleh keluar rumah sembarangan. Adat keraton memang punya hak memingit anak remaja yang sudah memasuki masa akil baliq karena akan dipersiapkan untuk kepentingan pernikahan. Siapa jodohnya, tak harus disoal olehnya, sekalipun lelaki itu tak ia kenali. Karena urusan jodoh adalah urusan orang tua saja. Dan lagi-lagi, tak ada catatan sejarah pemberontakan Kartini di lingkungan keluarganya terkait ketertindasan itu.

Keempat, berdasarkan catatan sejarah, pada pertengahan tahun 1903, Kartini yang terus tunduk dalam pingitan, (tidak memberontak), menyampaikan maksudnya untuk melanjutkan sekolah di Batavia. Ia ingin menjadi guru. Tapi harapan inipun pupus. Padahal mister Abendanon sudah menyiapkan sekolah Belanda untuk ia masuki kelak. Sebuah sekolah program Politik Etis yang dibangun kolonial Belanda. Tapi Kartini muda mengekang keinginanya untuk sekolah meski ia begitu menginginkannya. Lha, kenapa ia mengekang keinginan itu? Karena Kartini muda memilih tunduk kepada keputusan Ayahnya, yang akan menikahkan dia dengan seorang laki-laki bangsawan bergelar Adipati yang jauh lebih tua darinya, dan tak ia kenali.

Kelima, setelah menikah, Kartini semakin melunak dengan tatanan adat istiadat keningratan Jawa. Terbukti, lagi-lagi ia pasrah dan tidak memberontak ketika ia harus setuju dijadikan Istri poligami sang Adipati. (inikah emansipasi?)

Keenam, Kartini, konon dalam “surat-suratnya” yang entah dimana aslinya, menyebutkan kepada korespondensinya orang Belanda bahwa, sang suami mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja.

Ketujuh, delapan tahun setelah Kartini wafat, pada tahun 1912, keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis, mendirikan Yayasan Kartini. Orang Belanda ini lantas membangun sekolah-sekolah untuk perempuan Indonesia sebagai salah satu program Politik Etis, sebagaimana yang dijanjikan dan disetujui Ratu Belanda dari Eropa.

Dari tujuh fakta diatas, kita mungkin bertanya; Di mana perjuangan Kartini (sekali lagi dengan segala hormat kepada beliau dan keluarganya) dalam mengangkat derajat dan hak-hak perempuan Indonesia? Apakah Jepara dan Rembang itu adalah Indonesia pada masa itu?

Kalau Kartini adalah pejuang feminisme, maka pertanyaan kita adalah; kenapa Kartini senantiasa setia dan tunduk pada dominasi patriarki? Di mana catatan sejarah pemberontakannya terhadap budaya patriarki? Tak perlulah memanggul senjata seperti Cut Nyak Dien yang dikejar-kejar sepuluh-duapuluh kompi tentara kerajaan Belanda di pegunungan dan hutan belantara. Bisa saja toh Kartini yang mati muda (25 tahun) cukup minggat dari rumah dan sembunyi di rumah tetangga atau saudara kemudian meneruskan surat-suratnya.

Dan jika Kartini adalah pejuang emansipasi wanita Indonesia dalam kungku ngan budaya ningrat dan patriarki, kenapa beliau tunduk setia tak memberontak ketika dilarang sekolah oleh Ayahnya sendiri? Jika Kartini (sekali lagi dengan segala hormat) adalah pembela dan pejuang hak-hak perempuan Indonesia yang tertindas oleh praktek kolonialisme maupun oleh budaya patriarki, kenapa beliau mau dijadikan istri keempat? Apakah perjuangan emansipasi wanita adalah termasuk harus rela dipoligami dan patut dilestarikan hingga bulan April di tahun selanjutnya dan selanjutnya lagi? Sekali lagi, dengan segala hormat, wahai Ibu Kita Kartini putri yang mulia…

Penulis : Uwin Mokodongan
Artikel lainnya klik disini

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *