ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Doa Yang Terpanjat Melalui Medsos

Bagikan Artikel Ini:

BERITA soal pemblokiran sejumlah situs online yang dianggap berbahaya karena berbasis radikalisme agama oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Kominfo (Kemkominfo),  membuat saya penasaran. Apa betul tindakan blokir-memblokir ini masih menjadi momok terhadap kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat?

Saya lantas iseng mencoba membuka satu-dua situs yang konon berbahaya sehingga layak diblokir. Ternyata betul. Situs itu tidak bisa saya akses.

Saya sebenarnya hanya ingin melihat langsung konten – konten yang ada dalam situs itu. Mencoba mencari tahu logika apa sebenarnya yang dipakai pemerintah sehingga nekat memutuskan agar situs – situs tersebut diblokir. Sebab, jika alasannya semata adalah karena paham radikalisme, maka kita mungkin perlu membuka KBBI.

Sepintas, pemblokiran ini juga mengingatkan saya akan hal serupa, ketika Kemkominfo jaman Tiffatul Sembiring, memblokir 300 situs porno yang dianggap merusak moral bangsa.

Ah, sudahlah. Terkait pemblokiran situs-situs radikalime (istilah yang dipakai pemerintah), saya sebenarnya sudah punya pendapat sendiri dan tentu berbeda. Tapi nantilah kapan-kapan kita bincangkan soal itu sambil ngopi. Namun, supaya pembaca tak serta merta segera meninggalkan kesempatan ini, saya mencoba berbaik hati dengan memberi tiga alasan, yakni; pertama, Menkominfo Rudiantara seolah kehilangan akal untuk sekedar mencari tahu dan mengajak para Admin situs yang dianggap menyebarkan paham radikalisme itu untuk ngopi bareng, kemudian diadakan pendekatan persuasif bila perlu dengan segala kemampuan bujuk rayu mumpuni, Admin diminta secara sukarela untuk melakukan ‘pertobatan’ massal jika berita-berita yang mereka upload adalah Hoax dan membahayakan secara massif, apalagi berbuntut pada terganggunya saluran pernapasan dan sakit perut yang menyebabkan kentut tak bisa dikontrol. Pak Mentri lalu meminta agar ikatan Admin itu secara sukarela menghapus konten yang dianggap sesat bin hoax, atau mereka (para Admin situs yang dituduh terlarang) diajak supaya mau diruqiah.

Sedangkan alasan yang kedua, kita patut bertanya; dimana para intelektual muslim yang cakrawala berpikirnya konon seluas angkasa raya? Jika ada Admin dengan cakrawala berpikir yang konon sempit memosting konten-konten yang dianggap tak hanya berbahaya melainkan sesat di situs yang mengatasa-namakan Islam, maka bukankah merupakan tindakan mulia jika para  intelektual dan cendikiwan muslim membuat situs tandingan dan memosting paham-paham tandingan? Dan ketiga, bukankah negara ini menjamin kebebasan berpikir setiap warga negaranya dalam mengeluarkan pendapat?

Tuh, kan. Bakal panjang pembahasan kita. Maka, sebelum memanjang dan melebar, saya rasa cukup demikian dulu. Nantilah kita sambung di lain waktu. Sebab sekarang saatnya saya mengutarakan topik yang hendak saya sampaikan pada kesempatan kali ini.

Sebenarnya ini terkait doa-doa yang seliweran di media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan BlackBerry Messenger. Bukankah hampir setiap saat kita begitu mudah menemukan rentetan doa akibat untaian masalah beragam yang seliweran di medsos? Mulai dari minta jodoh, dijauhkan dari jomblo, izin usaha, izin nangis, izin kuliah, minta dikuatkan ketika pacaranya ditelikung dari belakang, dan masih banyak permohonan lagi. Namun satu yang paling gokil dan pernah saya baca adalah ketika ada yang meminta agar diberi izin bersandar sejenak dipangkuan Tuhan. Ya ampun…..(tepok jidat) bukankah itu pertanda minta mati atau berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa Gusti Allah?

Lama-lama saya berpikir, saatnya kawan Ismail Dahab tak hanya menggelar survey elektabilitas tokoh-tokoh politik di Sulawesi Utara yang kemungkinan maju di Pilkada Gubernur nanti.  Saatnya kawan ngopi kita ini melakukan penelitian terkait pengaruh kehadiran medsos terhadap tingkat kunjungan di rumah-rumah ibadah yang ada di Sulawesi Utara.

Selain Ismail Dahab yang konon sudah punya kerja sampingan di Boltim, saya sebenarnya hendak menawarkan ini pada bung Pitres Sambowadile, tapi kabar mengatakan (bukan kabar burung lagi) bahwa beliau sedang sibuk mengurus media yang baru dirintisnya di Nusa Utara; Sasahara.  Sedangkan anak-anak HMI dan PMII, saya tidak tahu apakah mereka tertantang atau tidak, termasuk para peneliti di Universitas Dumoga Kotamobagu.

Saya mulanya berencana mencari referensi di situs-situs berbau agama terkait doa-doa mustajab. Sekalian mencoba masuk ke milling list website tersebut untuk membincangkan ini dengan asumsi dasar; siapa tahu mereka adalah orang yang mampu memberikan pencerahan sebab termasuk golongan yang paling tahu. Namun karena keburu diblokir, saya lantas iseng mengugling dan sampailah saya pada Abatasa.co.id .

Iseng-iseng membuka, ada ilmu yang hendak saya bagi di situs ini ketimbang kebencian dan radikalisme yang mengancam pemblokiran. Oleh sebab itu yakinlah saya bahwa di mata BNPT dan Kemkominfo, situs yang saya pakai ini masih tergolong moderat karena tidak menyebarkan paham kebencian dan radikalisme sebagaimana yang mereka pahami.

Berhubung saya jarang sekali berdoa meski ber-KTP Islam, maka saya kutip saja yang versi Islam. Saya juga baru tahu kalau ternyata ada tempat – tempat utama untuk berdoa (doa-doa mustajab) yang mendapat prioritas diterima oleh Allah SWT.

Berikut ini waktu dan tempat-tempat yang di maksud (secara garis besarnya saja) versi Abatasa.co.id   :

  • Waktu antara adzan dan iqomat.
  • Waktu sepertiga malam yang terakhir dan sesudah sholat wajib.
  • Kala melakukan thowaf (mengelilingi ka’bah).
  • Saat turun hujan atau menghadapi musuh di medan perang.
  • di depan dan di dalam Ka’bah.
  • di Masjid Muhammad Rosulullah SAW.
  • di belakang makam Nabi Ibrohim AS.
  • di atas bukit Shofa dan Marwah.
  • di Arofah, di Mudzalifah, di Mina, dan di sisi jamarot yang tiga.
  • Di tempat-tempat yang mulia lainnya seperti Masjid dan Musholla.

Sekarang kita bertanya; apakah doa-doa di Medsos itu dapat diterima Tuhan Yang Maha Kuasa Gusti Allah?

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.