ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dukung Kakaw Bambang Jadi Dokter Kerakyatan

Bagikan Artikel Ini:

BERKIRIM pesan chatting BBM (BlackBerry Messenger) dengan dr.Bambang, membuat saya seperti sedang kena pelet.

Tiba-tiba saja saya punya keinginan menulis surat terbuka buat Presiden Jokowi atau kepada Ibu Menteri Kesehatan RI, Nila Joewita Moeloek.

Supaya apa? Supaya Presiden Jokowi atau Ibu Menteri Kesehatan, Nila Joewita Moeloek, tahu bahwa, di Sulawesi Utara, yakni di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), tepatnya di Desa Nunuk Kecamatan Pinolosian, ada dokter yang perlu dapat dukungan karena mindset berpikirnya yang progresiff-revolusioner. (Apakah dr.Bambang sedang dalam tahap revolusi mental? Wallahualam)

Tapi sepertinya model surat terbuka mulai kehilangan pamor. Dan kemungkinan besar hampir semua pejabat negeri ini sudah kehilangan selera atau malah telah membuta-tulikan mata-telinga terkait surat-suratan terbuka begitu.

Meski demikian, sebagai wujud simpati saya kepada dr.Bambang, yang tak lain adalah sahabat reriungan di rumah kopi, saya yang senantiasa berbaik hati kepada siapa saja yang berpikiran maju, bebas, dan terbuka, menurunkan tulisan ini di arusutara.com, meski saya (bahkan dr.Bambang) sendiri tahu bahwa kami pernah menjadi rival ketat saat Pilpres kemarin.

Maka, mari kita simak pokok-pokok pikiran sahabat kita dr.Bambang (terkadang kawan satu ini akrab pula disapa kakaw Bambang), via chatting BBM yang (bayangkan) ia kirimkan subuh-subuh.

Ketika chatting berlangsung, jujur, saya seperti menemukan ada energi baru dari dalam dirinya. Namun begitu, saya tak serta merta menuduh bahwa, Bupati Bolsel Herson Mayulu, adalalah (mungkin) biang kerok kemajuan berpikir dr.Bambang.  Sebab bukankah saat ini dr.Bambang sudah bertugas di Bolsel? Bahkan konon di pelosok Bolsel? Maka siapa yang tahu, ketika bosan di wilayah penempatan kerja, ngopi bareng Om Oku, adalah kuliah private sekaligus terapi gratis setelah (konon) dr.Bambang terlempar dari dunia perkotaan, tersebab (kata gossip) dampak kebijakan yang menganggap dirinya seolah ancaman dan terlampau cerewet.

Namun yang pokok, saat ini,  ada semangat revolusioner kini mendidih dalam dada dr.Bambang yang baru kali ini saya temukan. (Yakinlah dr.Bambang bahwa Presiden Jokowi dan Ibu Menteri pasti membaca Arusutara.com).

“Saatnya cara berpikir dokter kita putar secara radikal. Paradigma elitis yang terbangun selama ini, saatnya dirobah dengan maindset kerakyatan.  Dokter harus merakyat. Dengan begitu, perjuangan akan kesejahteraan akan meningkat secara otomatis dan terjamin, seiring cara berpikir yang kuat dan bersemangat karena tumbuh bersama rakyat,”.

Ekhuhu, betapa mulianya semangat yang baru pertama kali ini saya temui dari sahabat kita kakaw Bambang—Kakaw adalah istilah kekinian buatan adik-adik (perempuan) yang ditujukan pada orang yang lebih tua (laki-laki). Dan sebagai balas-pantun, adik-adik ini juga diistilahkan dedew-dedew, sebagai sebutan kekinian para kakaw-kakaw terhadap adik-adik yang lebih muda.

“Sekarang pelayanan kedokteran adalah pelayanan pasif. Artinya dokter menunggu pasien datang berobat atau menunggu pasien menelfon. Sekarang saatnya dokter turun langsung di tengah masyarakat dan langsung menangkap persoalan yang ada. Tindakan blusukan ini sekaligus sebagai pendataan penyakit di wilayah tempat dokter ditugaskan. Jadi konsep pelayanan kesehatan pasif kita robah dengan pelayanan kesehatan aktif,” tulis dr.Bambang melalui chating BBM.

“Dokter yang melakukan konsep pelayanan aktif ini, harus didukung pemerintah, baik pusat maupun daerah. Artinya penting memperhatikan dokter yang dalam hal ini kita sebut sebagai dokter kerakyatan,” tandasnya.

“Pendek kata, saatnya dokter blusukan, mengunjungi pemukiman warga dan mengobati secara langsung mereka yang sakit. Bukankah tuga dokter memang begitu?” tulis kakaw Bambang lagi.

Nuansa berapi-api terasa hadir dalam aktivitas berkirim chating. Kakaw Bambang sepertinya tidak langsung menanggapi saat ia ditanya, bagaimana tanggapannya terkait dokter yang melakukan pola pelayanan pasif. Misalnya dokter yang buka praktek di rumah, ongkang-ongkang kaki menunggu pasien datang minta tolong, dan tetap menghasilkan.

Kakaw dr.Bambang hanya menambahkan, salah satu keuntungan jika dokter blusukan di wilayah tempat sang dokter ditugaskan, adalah, program pencegahan penyakit dan penanganan dini dapat tercapai. Hal ini menurutnya penting sebab sudah menjadi budaya masyarakat kita pergi ke dokter nanti ketika penyakitnya sudah parah.

“Dokter kerakyatan atau dokter blusukan kan akan memudahkan masyarakat mengakses layanan kesehatan. Dokter juga dapat berdialog lebih lama dengan masyarakat tentang penyakit yang diderita. Sebelum penyakit parah, dokter sudah tahu, karena melakukan blusukan,” urainya.

Di India, lanjut dr.Bambang, konsep dokter kerakyatan sudah lama dilakukan dan didukung teknologi. Dokter di sana bisa melakukan operasi dibawah pohon rindang yang udaranya bersih. Operasi yang dilakukan itu adalah operasi kecil seperti sunat atau operasi usus buntu.  (Wew, operasi usus buntu dibawah pohon rindang men…)

Kalau pemerintah Indonesia mendukung program dokter kerakyatan ini, tambah dr.Bambang, maka 5 tahun ke depan cara kerja dokter Indonesia sudah akan seperti dokter di India.

Dia mengaku, meski secara pribadi dirinya tmasih agak terkendala fasilitas transportasi, obat-obatan, dan dukungan altekes, konsep dokter kerakyatan ini sedang ia jajaki secara bertahap.

“Nomor ponsel sudah saya sebar dan upaya blusukan ke rumah-rumah pasien sedang saya lakukan,” ungkapnya.

“Saya melakukan ini secara bertahap sekalipun ada kendala terutama urusan transport, obat, dan altekes. Tapi Insya Allah ke depan ada kemajuan sehingga bisa berjalan dengan baik supaya bisa menjadi contoh dokter yang punya cita-cita luhur dalam mengabdikan diri pada rakyat,”  tutupnya.

Ah, saya mendadak haru pada kakaw Bambang. Semoga cita-cita mulia kakaw dr.Bambang untuk menjadi dokter kerakyatan dapat tercapai. Dimulai dari Desa Nunuk Kecamatan Pinolosian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, tempat dokter ditugaskan saat ini.

Selaku sahabat ngopi, saya juga berharap, semoga nomor henpon yang dr.Bambang sebarkan, tidak disalah-gunakan orang. Maksud saya jangan langsung terpengaruh dengan miskolan atau phone call yang bisa jadi datangnya dari dedew-dedew berwatak usil.  Bukankah dr.Bambang percaya bahwa geliat dedew-dedew kekinian lebih berbahaya dari  dedew  demam berdarah?

Buat teman-teman yang pura-pura tidak  membaca tulisan ini, mari kita dukung sekaligus doakan dr.Bambang mengejar cita-cita mulianya untuk bisa menjadi dokter kerakyatan seperti yang didambakan orang-orang sakit negeri ini. Amin.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.