ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Jelang Eksekusi Mati

Bagikan Artikel Ini:

DARI segi bahasa, penggunaan kata Membunuh dalam menjalankan keputusan pengadilan terhadap para terpidana mati, adalah sesuatu yang tak hanya sadis, brutal, dan berdarah dingin, melainkan kejam tak berperi.

Alasan itulah mungkin yang dipakai para ahli hukum, pemerintah dan lembaganya, supaya mengganti kata Membunuh dengan; mengeksekusi, mati!

Sehalus apapun bahasa yang digunakan, terbunuhnya seorang manusia melalui serangkaian rencana yang dilakoni para pejabat negara dan alat-alatnya, tetaplah suatu kesadisan, kebrutalan, keberdarah-dinginan, dan kekejaman tak berperi, yang proses dan rencana pembunuhan itu, terumbar dihadapan hampir seluruh umat manusia.

Eksekusi mati, atau apapun istilah hukum yang digunakan untuk membunuh terpidana mati kasus narkotika, pada hakekatnya hanyalah padanan kata ganti yang dingin namun tetap kejam, bertujuan untuk sedapat mungkin bersembunyi secara tengik dibalik jubah kebiadaban manusia yang konon mulia karena punya adab.

Mengeksekusi mati, menghukum, menjalankan keputusan pengadilan dan undang-undang, atau apapun istilah dan bahasanya, membunuh (terpidana mati) tetaplah pekerjaan keji.

Dan para penuntut, pemutus, dan pelaku pembunuhan itu, tentu diminta untuk tak peduli, apabila manusia yang akan dibunuh itu merengek-rengek minta tolong, minta diampuni.

Vonis sudah keluar. Pengadilan di semua tingkatan sudah memutuskan. Presiden enggan memberi grasi. Keputusan untuk membunuh tetap harus segera dilaksanakan. Apapun  rintangannya nanti.

Adakah lagi pengampunan?

Di saat-saat itu, baik pelaku, yang menyuruh, dan yang mendukung pembunuhan itu, wajib menutup pintu hati dan nurani rapat-rapat. Tak boleh ada yang masuk. Sekalipun itu adalah bulir-bulir air mata yang menetes melewati pipi seorang bocah perempuan yang minta Ibunya diampuni. Atau tangis yang terisak begitu purba dari Ibu, Kakek, Nenek, Cucu, Om, Ponakan, dan segala isak yang meledak dari sanak keluarga nun jauh di kampung.

Tetap tak boleh. Nurani sudah dikunci. Pembunuhan harus segera dilakukan. Bangsa lain tak boleh ikut campur. Setiap negara punya kedaulatan hukum sendiri-sendiri.

Tangis tinggalah tangis. Tolong tinggalah tolong. Rengek tinggalah rengek. “Tukang antar narkotika” harus dibunuh sampai mati. Titik!

Menutup hati dan pintu nurani?

Manusia macam apa yang bisa melakukan itu? Jaksa kah? Hakim kah? Kejagung? atau Presiden?

Manusia macam itukah yang mampu menutup hati dan pintu nurani? Yang enggan memberi ampun karena bukan malaikat apalagi Tuhan? Karena masa depan bangsa sedang dipertaruhkan?

Jika Jaksa, Hakim, Kejagung, dan Presiden adalah empat  kategori manusia yang mampu menutup hati dan pintu nurani, lalu bagiamana dengan manusia-manusia mulia yang mendukung agar empat kategori manusia itu wajib menutup hati dan pintu nurani ?

Ya, mereka. Manusia-manusia yang senang dan bangga ketika empat tipe manusia itu mampu menutup hati dan pintu nurani untuk enggan memberi ampun. Mereka yang terharu penuh kemuliaan ketika empat tipe manusia itu tak bergeming saat calon korban dan keluarganya penuh susah payah merengek-rengek dengan tangis hitam nan purba supaya diampuni.

“Perusak masa depan bangsa kok diampuni!”

Demikiankah yang ber-tengik-tengik dalam dada para penuntut, pemutus, penolak, dan pendukung pembunuhanmu Mary Jane? Bagaimana dengan para algojomu?

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.