ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kelucuan-Kelucuan yang Menggemaskan

Bagikan Artikel Ini:

KITA tidak sedang membicarakan tentang brodkes (penulisan yang sebenarnya adalah broadcast) berisi sumpah dan kutuk mengerikan apabila tak diteruskan. Tidak pula tentang brodkes emoticon-emoticon yang setali tiga uang berisi ajakan agar memforward ke semua kontak supaya emoticon-emoticon itu terinstal secara otomatis dan bisa langsung digunakan. Bukan juga soal brodkes bujuk rayu berisi jaminan bahwa lampu LED mendadak kelap-kelip jika ikutan membrodkes.

Kali ini sudah bukan tentang itu lagi. Karena kita akan berbicara tentang gejala sosial kekinian yang nyaris luput dari perhatian kita.

Kenapa itu nyaris luput? Bisa jadi penyebabnya karena dipicu oleh beberapa hal yang kuat memengaruhi, diantaranya; tayangan klasik infotaintment,  drama korea,  usaha yang begitu menyita karena hendak melepas status jomblo, duduk meringkuk dan anti sosial demi pembangunan Town Hall Clash of Clan, atau karena sakit hati sama Kak Syahrini.

Deretan pengaruh itu tentu masih di luar kabar soal kematian Olga yang sampai saat ini masih terus di blow job blow up media.

Terlebih, di tahun Kambing Kayu ini, kita seolah tak sadar sedang hidup di pusaran arus dua jaman, yakni Gejetlitikum yang diwakili smartphone, android, dan ios).  Dan pengulangan jaman Megalitikum, diwakili batu akik, batu bacan, dan giok.

Lalu gejala sosial kekinian apa yang nyaris kita lupakan itu?  Padahal gejala ini ada dan sedang merasuki pola sikap dan perilaku masyarakat kita terutama para pengguna smartphone?

Inilah yang saya sebut secara sewenang-wenang sebagai; kelucuan-kelucuan yang menggemaskan.

Supaya terkesan keren dan go internasioanal, seperti cita-cita Agnes Monica di blantika musik, maka kita istilahkan saja gejala sosial yang saya maksud ini sebagai funnystranger smartphone syndrome user (untuk selanjutnya disingkat Funsy saja).

Karena ini adalah bahasa seenak-menanya saja, maka tak perlu bersusah-payah mencari di mesin pencari. Seandainyapun tetap memaksakan diri, maka sebagai bahan penggugur kandungan, cukup ingat apa kata Joker; Why so serious?

Gejala Funsy ini merujuk pada perilaku para pengguna smartphone berisi aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) yang menampakkan kelucuan dan keanehan yang menggemaskan.

Gejala tingkat awalnya adalah, pertama; mengimani secara fundamentalis bahwa smartphone dan aplikasi BBM didalamnya, adalah biro jodoh.

Para Funsy menganggap,  dengan memakai smartphone dan bergabung sebagai jamaah di bebekiyah (BBM),  maka bagi yang berstatus jomblo, akan dengan teramat mudah mendapatkan pasangan lintas jamaah.

Anggapan ini tentu bukan serta-merta kita vonis sebagai sesuatu yang salah. Selow dan maknai saja hal itu sebagai bagian dari kelucuan yang menggemaskan. Dan tak perlu membuang-buang umur hanya karena berambisi jadi tukang vonis, apalagi nekat mengeluarkan fatwa haram atau sesat. Tak usah ikut-ikutan macam MUI atau FPI.

Oke, lanjut. Dalam tingkatan awal ini, sebagai bentuk keimanan yang meyakini bahwa smartphone dan aplikasi BBM-nya dapat berfungsi sebagai biro jodoh,  maka cara yang paling standard dilakukan para Funsy adalah; membujuk atau memengaruhi teman agar membagi PIN lewat pesan siaran, brodkes.

Pada tahap ini, ragam modus dilakukan yang dikemas lewat isi pesan yang hendak di brodkes,  misalnya : “Please hilang kontak. Invite PIN 5240IKK27”.  (Hohoho..padahal BlackBerry-nya baru saja di beli).

Selanjutnya umpan pertama yang dilempar demi usaha untuk mencari pasangan, adalah dengan membuat status seperti berikut ini:

“Malam minggu?  Sudah biasa tuh. atau “Pacar mana..mana pacar.. Oh lupa, gak ada ternyata.

Haha, kenapa tak sekalian saja ya pasang iklan di Display Picture (DP) lengkap dengan Meme diiringi status : “Lagi butuh pacar. Silahkan mendaftar. Yang minat PM”

Gejala tingkat kedua, yakni perekrutan agen merangkap penyiar.

Setelah berhasil merekrut agen, yang bekerja secara sukarela maupun yang dapat bayaran (tak sedikit pula yang mengaku diancam),  adalah menjadikan agen itu sebagai penyiar PIN via brodkes.

Dalam tahapan ini, tak heran list kontak si Funsy penuh sesak dengan jamaah bebekiyah yang 90 persen tak ia kenali.

Hal yang sebenarnya berbahaya ketika tahapan ini berhasil adalah;  seorang Funsy mulai belagak seperti pimpinan sekte radikal keagamaan. Tak heran jika ia mendadak tegas dan arogan, tercermin lewat cara dia menyiarkan pesan brodkes, macam begini :

“Maaf,yang gak kenal silahkan delcont”

Alamak…. amit-amit nih orang. Apakah dia tidak sadar, seandainya saja semua jamaah menuruti perintahnya yang sok artis terkenal itu, di list kontaknya, yang tersisa tinggal orang rumah. Kalau bukan adiknya ya kakak.

Selanjutnya, gejala ketiga yakni,  ketidak-jelasan Display Picture (DP) dan jenis kelamin.

Gejala Funsy tahap ini saya contohkan macam berikut ini;  Anda memasang DP yang bukan wajah Anda sendiri,  termasuk ketika ditelisik dari kategori berdasarkan jenis kelamin.  Artinya,  Anda cowok, tapi yang di DP adalah foto cewek.  Begitupun sebaliknya, Anda cewek tapi yang di DP adalah foto cowok dengan tampilan sedikit kumis dan janggut.

Nah, ini maksudnya apa? Apakah ini yang (kalau saya tak salah ingat) kata Dokter Bambang sebagai; kecenderungan dalam mengganti jenis kelamin?

Jika itu bukan maka, benarlah mungkin kata Oksa bahwa tindakan itu hanya sekedar pamer belaka. Masih mujur kalau tak ditelikung orang atau teman sendiri. Sebab bukan sedikit kejadian dimana teman Anda salah mengerti. Dipikirnya itu iklan. Maka jangan salahkan dia jika tiba-tiba kecantol.

Gejala keempat, yakni apa yang disebut sang pilsuf cilik Muh.Zakir Mokoginta sebagai status samping.

Seorang Funsy selalu memiliki kecenderungan membuat status samping. Tempatnya di  sidebar pojok kanan. Biasanya nama pacar atau yang sebangsa dengan itu. Namun tak jarang juga kita menemukan, tak sedikit status samping bersisipkan kalimat bertuah yang menyatakan bahwa Anda sedang bersama-sama dengan Tuhan.

Tetapi apa yang terjadi? Tak jarang selain menampilkan DP yang tak senonoh, Anda juga membuat status berisi caci maki.

Lha, apakah ada yang dapat menerka, bagaimana perasaan Tuhan yang hanya berada beberapa inci dari DP dan status yang dibuat?

Benarlah kata nabi filsuf, Nietzsche, dalam Also Spracht Zarathustra.  “Tuhan telah mati. Ya Tuhan telah mati dalam jiwa-jiwa manusia modern”

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.