ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kisah Zainal, Terpidana Hukuman Mati

Bagikan Artikel Ini:

RAGAM penolakan dan kecaman terhadap hukuman mati yang meruyak di media (termasuk di medsos) tak hanya diributkan kalangan yang mewakili organisasinya. Sederet akun pribadi pun tak mau kalah; beramai-ramai melakukan hal sama. Namun tak jarang terseret pada satu arus isu semata yang dianggap lebih dominan. Mary Jane Veloso misalnya.

Saya, engkau, kita, akhirnya lupa. Zainal Abidin (semoga arwahnya berisitirahat dengan tenang dan mendapat tempat terbaik disisi Tuhan Yang Maha Kuasa), seolah tak lebih penting dengan Mary Jane Veloso.

Ya, Zaina Abidin, seolah terabaikan dibanding Mary Jane Veloso. Dukungan terhadapnya tak sederas dukungan kita terhadap warga Mary. Mendapat vonis yang sama (hukuman mati), jalan cerita yang berbeda, dan kepemilikan barang (narkotika) yang daya rusaknya berbeda pula.

Zainal adalah warga negara di republik berperikemanusiaan dan berperikeadilan ini (Indonesia), yang divonis hukuman mati oleh Hakim Pengadilan Tinggi Palembang pada 2001 silam, dan akhirnya terbunuh pada Kamis 29 April 2015, dini hari.

Kisahnya begitu menyedihkan dalam melalui serangkaian proses peradilan yang membuat Ayah 2 orang anak itu akhirnya meregang nyawa diujung senapan regu tembak Kejagung, setelah PK yang diajukannya ditolak MA, dan permohonan Grasi juga ditolak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Dia sudah dikurung dalam penjara sejak kedua anaknya masih kecil, atau selama 15 tahun hingga menemu ajalnya di hadapan regu tembak. Keluarga besarnya tidak pernah menjenguknya di Nusakambangan karena tidak ada biaya.

Dalam kurun waktu yang lama itu, beban penderitaan lahir batin menjadi menu hari-hari baginya. Hingga akhir hayatnya, ia merasa tidak bersalah dan bukan pemilik ganja sebagaimana yang dituduhkan.

Berikut ini adalah sepenggal kisah Zainal Abidin sebagaimana yang dilansir Kompas dan Liputan6.

Sengaja kami kisahkan kembali di sini, agar kita sama-sama tahu, bagaimana sepenggal cerita memiriskan yang dialami Zainal hingga membawanya ke lembah kematian. Dia meninggal lewat proses eksekusi yang dilaksanakan pihak Kejaksaan Agung Republik Indonesia di Pulau Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah.

***

AWAL KISAH

Zainal ditangkap dirumahnya pada tahun 2000 silam. Penangkapan itu dilakukan terkait kepemilikan ganja seberat 58,7 kilogram.

Pada tahun 21 Desember tahun 2000 silam itu, rumah keluarga besar Zainal Abidin, di Jalan KI Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang Sumatera Selatan, digerebek polisi, sekira pukul 05.30 waktu setempat. Dalam operasi tersebut, polisi berhasil menemukan dan menyita barang bukti tiga karung plastik berisi ganja seberat 58,7 kg, 1 telepon genggam, 2 timbangan duduk, dan uang tunai Rp 3.345.700. Subuh itu pula Zainal ditangkap bersama Kasyah binti Karta (istrinya) dan Aldo (teman Zainal asal Aceh).

Di kantor polisi, saat dirinya sedang meringkuk dalam sel, petugas datang mengeluarkannya. Dia lantas diperiksa dan dipaksa untuk mengakui barang bukti berupa tiga karung plastik berisi ganja seberat 58,7 kilogram adalah miliknya. Tubuhnya lantas harus menahan pukulan dan tendangan yang datang bertubi-tubi dari petugas. Merasa kesakitan dan ketakutan, akhirnya dia mengaku dan membenarkan semua pertanyaan penyidik.

“Saya dipaksa untuk mengaku seperti itu, Pak. Saya dipukul, Pak. Ditendang, Pak. Saya takut, Pak. Malam-malam saya dikeluarkan dari sel dan dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP). Waktu itu belum ada pengacara. Waktu saya di pengadilan, saya bilang, itu tidak benar. Pak Hakim tanya, ‘Kenapa kamu tanda tangan?’ Saya terpaksa karena saya dipukul. Ini buktinya. Kata Pak Hakim, tidak usah, tidak usah…,” tutur Zainal, sebagaimana dilansir Kompas.

Zainal Abidin bin Mgs Mahmud Badaruddin, menyampaikan kisah pengakuannya itu melalui telepon di sela-sela pembicaraan dengan putrinya, yang sudah 15 tahun berpisah sejak dirinya ditahan.

Tim penasehat hukum Zainal pada tahun 2001 dari LBH Peradil Palembang (Ismail, Sadli, dan Shahrin B Nasution) serta Ade Yuliawan (penasehat hukum Zainal jelang eksekusi) mengungkapkan bahwa, berdasarkan pengakuan Zainal di persidangan pada tahun 2001, ganja itu bukan milik Zainal, melainkan milik teman Aldo bernama Dedi dan Wahyu. Di pesrsidangan itu pula, berdasarkan pengakuan Zainal, Ganja itu dititipkan di rumah keluarga besarnya, karena Dedi dan Wahyu menghindari razia di Lintas Timur Sumatera.

Zainal baru mengetahui karung itu berisi Ganja pada malam harinya setelah Dedi dan Wahyu pergi. Ketika itu Aldo mengajaknya memindahkan karung untuk menghindari hujan. Zainal lantas menelepon Dedi agar segera mengambil kembali Ganja itu, namun Dedi menjanjikan nanti akan mengambilnya pada siang hari. Apes bagi Zainal, saat subuh, polisi datang menggerebek rumahnya. Zainal dibawa bersama istrinya ke kantor polisi. Demikian pula Aldo. Sedangkan Dedi dan Wahyu, pemilik Ganja tersebut, hingga kini masih buron.

Namun, pengakuan Zainal saat di persidangan, berbeda jauh dengan keterangan dalam BAP polisi yang disusun Serka Ghofur selaku penyidik pembantu. Pada bagian awal, BAP itu sudah memberatkan Zainal.

“Lahir di Palembang, tanggal lupa/tahun 1966, suku Palembang, agama Islam, jenis kelamin laki-laki, kewarganegaraan Indonesia, pendidikan SD tamat, pekerjaan jual beli ganja,” demikian tertulis dalam dokumen BAP tertanggal 21 Desember 2000. Disampaikan Shahrin B Nasution saat ditemui Kompas di Palembang, menunjukkan dokumen itu.

Ade Yuliawan juga mempertanyakan proses penyusunan BAP itu. “Bagaimana mungkin membuat BAP semacam itu. Ini, kan, sudah penuh tendensi. Apa ada di KTP pekerjaan jual beli ganja. Ini dari awal sudah kecelakaan,” ujar Ade.

Ghofur yang masih aktif bertugas di Poltabes Palembang belum bersedia memberikan keterangan tentang hal ini. “Saya tidak bisa kasih keterangan kalau tidak ada izin pimpinan,” ujarnya di ujung telepon saat ditanyai wartawan Kompas.

Mencermati dokumen Putusan No 550/Pid.B/2001/PN.PLG, halaman 16, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Palembang, Ghofur menyanggah melakukan paksaan dengan menakuti, memukul, atau melakukan kekerasan terhadap Zainal.

Meski hanya lulusan SD yang bekerja sebagai tukang pelitur perabotan, ZA tetap tak putus asa mencari keadilan, setelah Hakim Pengadilan Negeri memvonisnya 18 tahun penjara. Sayangnya, ditingkat banding, Hakim Pengadilan Tinggi justru memvonis Zainal hukuman mati.

Merasa tak putus asa mencari keadilan, pada tahun 2005, Zainal mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Permohonan tersebut belum pernah dijawab selama 10 tahun lamanya. Dan tiba-tiba pada tahun 2015, nama Zainal masuk dalam daftar eksekusi hukuman mati Gelombang II bersamaan dengan kelompok Bali Nine, meski belum ada jawaban terkait PK yang diajukan.

Pada Kamis 5 Maret 2015, sebagaimana dilansir Liputan6, Zainal menyurati Kejaksaan Agung. Surat itu terkait dengan belum dijawabnya permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan ke Mahkamah Agung, dan sudah menunggu selama 10 tahun lamanya.

Dalam surat yang dikirimkan ke Kejaksaan Agung, dia memohon agar hukuman matinya ditangguhkan. Jika seandainya Kejaksaan Agung tetap pada pendiriannya melaksanakan eksekusi mati, maka Zainal mengatakan arwahnya tidak akan tenang dan dia akan menghantui semua pihak yang terlibat dalam eksekusi mati terhadapnya. Tak terkecuali Jaksa Agung HM Prasetyo sebagai orang yang dituju dalam surat Zainal.

Surat untuk Kejagung tersebut dibuat dan ditulis tangan oleh Zainal. Ini karena surat pertama yang dia kirim pada Senin 2 Maret 2015 lalu tidak digubris oleh Kejagung.

Pengacaranya juga menyampaikan, Zainal sangat berharap Kejagung dapat mempertimbangkan waktu pengajuan PK tersebut ke Mahkamah Agung karena sudah 10 tahun lalu. Apalagi PK dibuat sebelum grasi ditolak Presiden pada 2014 lalu.

“Zainal mengajukan PK sebelum grasi atau bukan grasi ditolak, baru PK seperti yang dilakukan terpidana mati lainnya. Jangan karena yang bersangkutan ini orang miskin dan tidak ada yang mengurus jadi dikesampingkan saja, jika PK dikabulkan lalu sudah dieksekusi lantas bagaimana?” pungkas Ade, dilansir Liputan6

PERLU KETELITIAN

Di tengah maraknya peredaran narkotika di negeri ini, tidak bisa dimungkiri, banyak yang geram terhadap kelakuan para pengedar narkoba dan ingin menghukum seberat-beratnya. Namun, mendengar pengakuan Zainal, terlintas juga di benak kisah memilukan George Junius Stinney Jr (14), warga Carolina Selatan, Amerika Serikat, 70 tahun silam. Saat itu, pengadilan meyakini pemuda kulit hitam ini terbukti secara sah dan meyakinkan membunuh dua gadis berusia 11 tahun dan 8 tahun. Palu hakim pun menjatuhkan vonis mati. Nyawa Stinney diambil paksa di kursi listrik. Namun, 17 Desember 2014, pengadilan di Carolina Selatan mengakui ada kesalahan. Sayang, pengakuan itu datang sangat terlambat.

Kini, Zainal sudah dieksekusi dan dimakamkan di Cilacap dekat dengan lokasi pelaksanaan hukuman mati terhadapnya. Jasadnya tidak dipulangkan ke Palembang karena ditolak Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, sebagaimana keterangan yang disampaikan Kejagung HM Prasetyo.

Usaha Zainal untuk tetap hidup kandas di pengadilan semua tingkatan. Di Pengadilan Negeri ia divonis 18 tahun penjara. Merasa tak bersalah karena bukan pemilik ganja sebagaimana yang disangkakan, dia menempuh banding, tapi mendapat vonis hukuman mati oleh Hakim Pengadilan Tinggi dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung. Pengajuan PK yang dimohonkan pun tak membuahkan hasil. Begitupun ketika Presiden Joko Widodo, menolak mengampuninya lewat Grasi.

“Semoga eksekusi terhadap papa dibatalkan dan semoga ada keringanan hukuman terhadap papa,” pinta putri Zainal penuh harap, sebagaimana dilansir Kompas, beberapa hari sebelum pelaksanaan eksekusi.

***

Zainal sudah terbunuh oleh sistim hukum kita. Namun yang mengkhawatirkan adalah ketika Dedi dan Wahyu (hingga kini buron) tiba-tiba tertangkap, atau menyerahkan diri sebagaimana Cristhine pada kasus Mary Jane, lalu keduanya mengakui bahwa Ganja yang disangkakan kepada Zainal adalah milik mereka (Dedy dan Wahyu), maka siapa yang bisa menghidupkan Zainal dari dalam kubur? Tidak kita, tidak Kejagung HM Prasetyo, tidak pula Presiden Jokowi. (Uwin)

Bagikan Artikel Ini:
No Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.