ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Menunggu Mati Dibunuh

Bagikan Artikel Ini:

HAMPIR rata-rata dari kita, minim informasi terkait kronologi kasus yang melilit para terpidana narkotika. Mary Jane Veloso, misalnya.

Kita hanya disuguhi sepenggal demi sepenggal informasi, meski diputar secara berulang-ulang oleh media televisi. Padahal kasus narkotika di Indonesia, sedang menjadi sorotan dunia, karena terkait penerapan hukuman mati sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya yakni, ‘pembunuhan berencana sekali’ yang dilakoni oleh negara dan aparatur hukumnya, terhadap Rani Febriani, beserta terpidana WNA lainnya yang sudah ikutan terbunuh.

Hal yang sebenarnya kurang sehat dalam memandang kasus terpidana mati narkotika adalah, banyak kalangan yang sudah miskin data dan informasi, namun untuk mengutuknya selalu ada di barisan paling depan dengan cara pandang kaca mata kuda.

Presiden RI Joko Widodo menolak semua grasi yang diajukan para terpidana mati kasus narkotika. Alasan yang mengemuka diantaranya, untuk menyelamatkan masa depan bangsa, mengingat negeri ini sedang dalam keadaan darurat narkotika dan ‘obat-obatan berbahaya’ (narkoba).

Sama seperti Rani Febriani yang sudah duluan dibunuh bersama terpidana mati lainnya gara-gara grasinya ditolak oleh Presiden, hal serupa juga dialami Mary Jane Veloso (dan WNA lainnya), yang kini sedang menunggu untuk dibunuh.

Bagi yang sejak lahir sudah menyatakan perang terhadap narkotika, dan yang merasa bangga serta mulia mendukung upaya pembunuhan terhadap orang-orang yang terlibat kasus narkotika, tanpa perlu melihat latar belakang kasusnya, apalagi melalui proses peradilan sesat, maka sebaiknya banyak-banyaklah berdoa dan mohon ampun pada kehadirat Ilahi agar tak kualat.

Kepada Yth, Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menolak mengampuni permohonan grasi para terpidana mati agar mereka dapat terhindar dari pembunuhan para algojo, semoga bapak tidak disumpah-sumpahi anak, istri, suami, cucu, cece, ponakan, kakek, nenek, om, tante, dan seluruh anggota keluarga para terpidana yang divonis mati gara-gara tertangkap sedang membawa narkotika.

Mari Jane Veloso adalah perempuan korban perdagangan manusia, penipuan terhadap buruh migran yang hendak bertahan hidup sebagai pembantu rumah tangga, menjadi korban drug traficking, dan proses peradilan yang jauh panggang dari rasa keadilan yang ia harapkan.

Berikut ini, kami tampilkan profil kasus terpidana mati Mary Jane Veloso, yang kami ambil melalui laman IDWF (International Domestic Workers Federartion) atau Federasi Pekerja Rumah Tangga Internasional.  Dan terjemahan dari Iwan Pirous  pada laman pribadinya.

Profil Kasus Mary Jane Veloso

Kasus: Divonis Hukuman Mati Karena Membawa Narkotika

Asal : Barangay Caudillo, Cabanatuan City, Nueva Ecija – Pilipina

Lokasi saat ini : Lapas Nusa Kambangan

LATAR BELAKANG KASUS

MARI JANE berasal dari keluarga miskin di Nueva Ecija. Dia adalah seorang single mother berumur 30 tahun dan memiliki 2 orang anak. Untuk dapat hidup, keluarga ini hanya mengandalkan gaji Ayahnya, seorang buruh musiman di Hacienda Luisita. Namun gaji itu ternyata tak mencukupi. Maka jalan satu-satunya adalah, menjadi pemulung sampah plastik untuk di daur ulang.

Dia adalah yang termuda diantara 5 anak. Dan tak sanggup menyelesaikan sekolah hingga SMA.

Dengan harapan meningkatkan kehidupan keluarganya dan memberikan pendidikan bagi dua orang anaknya, ia pergi ke Dubai pada tahun 2009 untuk bekerja sebagai buruh migran yakni sebagai pembantu rumah tangga. Sebelum masa kontraknya berakhir, ia memilih kabur kembali ke Manila karena majikannya berusaha memperkosanya.

Pada 19 April 2010, Mary Jane didekati oleh temannya bernama Ma Cristina Serio, warga Talavera, Nueva Ecija. Dengan dalil membantu kebutuhan Mary Jane, Maria lantas memberitahu bahwa ada kenalannya di Malaysia membutuhkan pembantu rumah tangga. Dia membayar pada Christina uang sebesar 20 ribu peso, 1 sepeda motor dan sebuah telepon seluler untuk “mengganti” ongkos ongkos yang diperlukan Christina mengurus keberangkatan Jane. Demikianlah Jane direkrut secara ilegal.

Lima hari setelah itu, mereka berangkat ke Malaysia. Di hari keberangkatan, dia hanya membawa satu dan sepasang baju seadanya. Setelah tiba, Cristina memberitahu Jane bahwa pekerjaan yang dijanjikan kepadanya sudah ditutup. Namun demikian, Christina mengatakan kalau masih ada pekerjaan lain yang akan diberikannya. Mary Jane lantas tinggal selama 3 hari di Malaysia. Cristina mengajaknya berkeliling di sejumlah tempat di Malaysia, mengajaknya berfoto, berbelanja pakaian dan kebutuhan pribadi lainnya.

Insiden di Bandara Adi Sucipto, Jogyakarta

Pada tanggal 26 April, Cristina mengatakan kepada Mary Jane untuk mengemasi barang-barangnya. Ia tiba-tiba diminta harus berangkat ke Indonesia karena ada pekerjaan di sana. Mulanya dia menolak karena tidak mempunyai uang untuk beli tiket. Tapi Cristina mengatakan bahwa dia tidak perlu khawatir. Jane lalu diberinya koper kosong dan beberapa pakaian dimasukkannya ke dalam situ. Setelah itu ia diberi beberapa lembar uang untuk berangkat.

Ketika mendarat di Jogyakarta dan melewati X-Ray, petugas mencurigai koper Jane. Setelah dibongkar dan segala isi dikeluarkan, tidak terdapat apa apa yang aneh. Namun ketika dimasukkan lagi ke dalam mesin X-Ray ada tampak barang mencurigakan. Maka kemudian koper tersebut dihancurkan dan di bagian dalam yang tersembunyi terdapat 2.6 kg heroin senilai US$500,000.

Setibanya di Bandara Adi Sucipto Jogjakarta, ia melewati X-Ray. Petugas bandara lantas mencurigai koper yang dibawanya. Mereka lantas memeriksanya. Semua barang dikeluarkan, akan tetapi petugas tidak menemukan apa-apa. Setelah dimasukkan lagi ke dalam mesin X-Ray, nampak ada barang yang mencurigakan. Koper itu lantas dihancurkan petugas bandara. Lalu nampaklah paket Heroin seberat 2,6 Kg senilai US $ 500.000 tertata rapi di bagian dalam koper itu.

Penahanan dan Pengadilan

jane
Jane tampak menghibur sang ibu Celia yang datang berkunjung ke tahanan tahun 2013. (foto: IDWF)

Pada tahun 2013, Jane nampak menghibur sang Ibu bernama Celia ketika datang membesuknya bersama-sama dengan keluarga di penjara. Kunjungan dan pertemuan ini dapat terjadi karena dukungan teman-teman tahanan dan sipir penjara.

Pada tanggal 9 Mei di hari ulang tahun Ayahnya, ia menelepon ibunya di rumah yang tak mengerti apa-apa.

Tanggal 11 Mei 2010, ia mengirim SMS kepada ibunya: “Nanay, Tatay, mahal na mahal ko Kayong lahat.” (Ibu, Ayah, Aku sangat mencintai kalian semua). Dia juga menyebutkan nama kedua putranya Mark Daniel dan Mark Darren, dan kedua adiknya. Tapi dia tidak menceritakan kepada orang-orang yang dicintainya itu, gerangan apa yang tengah ia alami dan hadapi. Ia nampaknya enggan memberitahukan . Keesokan harinya, keluarganya mencoba meneleponnya beberapa kali. Ketika mereka akhirnya dapat menghubunginya, Mary Jane mengatakan pada Darling (kakak perempuannya) “Ate nakulong ako” (aku dipenjara).

Segera, pada 13 Mei, ibu dan adiknya bernama Maritess, pergi ke Manila untuk mencari bantuan dari media. Namun pihak media berupa Stasiun TV menolak mereka. Pihak media beralasan bahwa kasus tersebut sulit untuk mereka tangani. Media lain bahkan menolak mereka masuk ke dalam gedung kantor. Akhirnya mereka melapor ke Departemen Luar Negeri. Di situ mereka mendapat janji bahwa pemerintah akan mempelajari dulu kasusnya dan akan memberikan bantuan.

Sejak itu, selama lebih dari 2 tahun menunggu sampai mereka kelelahan, belum ada perubahan apa-apa yang dapat mereka pegang. Tidak ada jawaban substansial dari kementerian dalam negeri setempat kecuali mereka bilang akan membantu Mary Jane. Pemerintah Filipina juga tidak memberikan bantuan hukum maupun investigasi atas kasus tersebut.

Menurut Agus Salim, pengacara Indonesia Mary Jane, dia (Jane) tidak bisa membela dirinya sendiri dengan baik:

Penyebabnya karena dia tidak diberi pengacara atau penerjemah yang baik ketika polisi menginterogasinya dalam Bahasa Indonesia, yang tidak dimengerti olehnya pada saat itu.

Dalam persidsangan, ada bantuan penerjemah yang disediakan pihak pengadilan yakni seorang mahasiswa akademi bahasa asing yang tidak memiliki lisensi dari asosiasi penerjemah bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, yang Mary Jane sendiri tidak terlalu fasih.

Pengacaranya pada saat itu adalah pembela umum yang disediakan oleh polisi.

Pengadilan singkat bagi Mary Jane berakhir pada bulan Oktober 2010. Atau hanya 6 bulan semenjak dirinya ditangkap. Jaksa menuntutnya seumur hidup, namun Haki tidak mengabulkan tuntutan itu dan malah menjatuhi hukuman mati terhadapnya.

Pada 3 Juni 2013, keluarga (orang tua Veloso – Celia dan Cesar Veloso, dan kedua anaknya Mark Daniel dan Mark Darren) berangkat ke Indonesia untuk mengunjunginya. Kunjungan itu dimungkinkan melalui bantuan keuangan dari teman-teman Jane dalam penjara termasuk para petugas penjaga penjara yang menyumbangkan uang untuk ongkos tiket pesawat, pembuatan paspor, dengan jumlah total 82,000 peso, termasuk biaya kebutuhan mereka selama 1 bulan di Indonesia.

Perkembangan Kasus sejak Vonis Mati

Pada bulan Agustus 2011 Presiden Noynoy Aquino meminta pengampunan bagi Mary Jane yang ditujukan pada pemerintahan Presiden SBY. Pada masa itu Indonesia punya moratorium untuk menunda hukuman mati dan pengampunan belum ditindaklanjuti sampai masa akhir kepemimpinan SBY.

Pada bulan Oktober 2014, Presiden Indonesia yang baru, Joko Widodo (Jokowi), disumpah. Tak lama setelah itu, Jokowi menyatakan perang melawan perdagangan narkotiba dan menolak semua permintaan grasi dari narapidana narkotika yang sudah divonis mati pihak pengadilan.

Pada bulan Januari 2015 nama Mary Jane termasuk dalam daftar yang akan dihukum mati. Pengacara yang disewa pemerintah Filipina segera mengajukan proses judicial review (peninjauan kembali) yang merupakan usaha terakhir yang masih terbuka dan diakui oleh sistem peradilan di Republik Indonesia. Judicial Review diajukan tanggal 19 Januari 2015. Presiden Jokowi menolak semua grasi termasuk yang diajukan Mary Jane.

Pada masa kunjungan Presiden Joko Widodo ke Filipina, Presiden Aquino kembali mengangkat kasus Mary Jane dalam pertemuan resmi. Tanggal 19-21 Februari 2015, pemerintah Filipina memfasilitasi Keluarga Veloso sebuah kunjungan keluarga bagi Ibu, saudara perempuan, dan dua orang anak Mary Jane ke penjara. Sekretaris Deplu Pemerintah Filipina Alberto Rosario menengok Mary Jane pada tanggal 24 Maret 2015.

Permohonan Peninjauan Kembali

Pada tanggal 3 sampai 4 Maret 2015 dilangsungkan Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Sleman untuk mencari jika ada bukti-bukti baru dalam kasus Mary Jane. Pihak pengacara Mary berpendapat bahwa kasus ini berhak ditinjau ulang karena selama proses peradilan sebelumnya, Mary Jane tidak didampingi oleh penerjemah tersumpah dan profesional sehingga terdapat cacat hukum. Bahkan Kepala sekolah Akademi Bahasa Asing di Jogyakarta pun mengakui bahwa pada saat itu penerjemah Mary Jane tercatat sebagai siswa sekolah mereka. Untuk memperkuat argumen ini, pengacara menggunakan kasus yang menimpa Nonthanam M. Saichon seorang warganegara Thailand dalam kasus Narkotika yang juga secara teknis memiliki cacat karena masalah tidak ada penerjemah yang layak. Tetapi pada tanggal 25 Maret 2015, Mahkamah Agung Republik Indonesia (Supreme Court) menolak peninjauan kembali kasus Mary Jane.

Meskipun demikian, pemerintah Filipina masih berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa Mary Jane. Pemerintah sedang berusaha mengajukan petisi kedua untuk Judicial Review yang memang secara hukum masih dapat dilakukan. Namun masih belum jelas apakah usaha di atas diperbolehkan oleh sistem peradilan Indonesia. Pengacara Mary Jane masih mempelajari pilihan-pilihan jalur hukum terakhir yang dapat dilakukan.

Utusan PBB Christhof Heyns yang diberi mandat menangani masalah-masalah internasional extra-judicial dan hukuman mati sembarangan juga sudah mengajukan keberatan kepada Presiden Joko Widodo untuk mencabut hukuman mati terhadap Mary Jane dan 14 terhukum lain atas dasar laporan dari UN Commisioner for Human Rights karena mereka mengalami proses peradilan yang cacat. Dalam laporan yang sama mereka dianggap tidak menerima cukup bantuan hukum dan tidak terpenuhi haknya untuk memperoleh penerjemah yang layak. Mereka juga tidak didampingi oleh perwakilan hukum dalam tiap tahapan peradilan yang dialaminya.

Sementara itu, organisasi Migrante International dan Migrante Sectoral Party bersama dengan keluarga Mary Jane di Cabanatuan City tengah melancarkan kampanye untuk menggalang dukungan solidaritas warga untuk peduli dan menyelamatkan nyawa Mary Jane. Jaringan Flor@20–yang dibentuk untuk mengenang Flor Contemplacion, seorang pembantu rumah tangga yang digantung–juga aktif menekan pemerintah Indonesia untuk mengubah nurani Indonesia sehingga Mary Jane Veloso tidak harus mati.

Sebarkan ini bagi Anda yang menghargai setiap kehidupan

Artikel terkait:

Jelang Eksekusi Mati

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.