ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Selamat Ulang Tahun, Itu Saja

Bagikan Artikel Ini:

sigidad

KAWAN ini bernama Kristianto Galuwo. Sepanjang hidup, dia memiliki banyak nama;  Yanto, 83, Yha, Atol, dan Sigidad.

Deretan nama-nama itu, sepertinya kado atas kemerdekaan langkahnya yang sebenarnya agak gamang dalam remang di 4 penjuru mata angin.

Bahkan di subuh buta, dia yang suka berdebat tentang orang-orang tua Yunani, masih bisa tertawa dalam mabuk, ketika saya berkelekar; “Mari kita dustai pagi”. Tentu Salman Mokoagow dan Buyung Algifari Potabuga tak akan melupakan peristiwa pendustaan terhadap pagi kala itu.

Pada suatu masa yang lampau, saya pernah menemukan Yha’ penuh kuasa bersembunyi di balik sarung Ayahnya yang tengah duduk di kursi peninggalan nenek moyang. Sebuah kenyamanan sang diktator cilik dengan sokongan penuh Ayahnya yang baru saja berpulang akhir Maret kemarin.

Di tahun yang telah berlalu itu,  Yha’ tak ubahnya seperti seekor Kanguru sok tahu, yang masih selalu senang berlindung di balik kantung. Setiap gerak-geriknya adalah sebuah keadaan memisahkan dia dari realitas luar dan realitas sarung Ayahnya. Waktu itu dia mungkin baru berumur 5 tahun.

Masih pada suatu ketika, di masa yang telah lampau, pada malam menjelang pesta pernikahan saudara di samping rumah Ibu, secuil kisah tentang Yha’ saya dengar melalui penuturan Ayahnya kepada Ibuku yang kala itu sibuk bersama Ibu-ibu lain di dapur malam bakupas. Meski suasana dapur ketika itu seramai pasar, kisah-kisah tentang Yha’ kecil, terus bergulir dapat tempat.

Ayahnya bercerita tentang bagaimana Yha’ punya kebiasaan bercengkrama dengan dirinya sendiri ketika sedang berada di dalam toilet. Dan istilah asing yang pertama kali saya dengar di jaman kanak itu adalah, Monolog. Itu adalah jawaban yang Ibu berikan kepada Ayah dari Yha’, ketika menyebut apa sebenarnya yang dilakukan Kanguru di dalam toilet rumahnya. “Anak kecil memang begitu. Biasanya mereka melakukan Monolog. Dan bercakap-cakap sendiri bagi anak-anak, itu baik” kata Ibu.

Kisah yang dituturkan kemudian, di tempat yang sama pada malam yang telah terlampau silam itu, adalah gelagat Yha’ yang diterjemahkan Ayahnya sebagai sebuah kepintaran seorang bocah yang baru mulai mengeja aksara dengan lebih sempurna.

Bincang-bincang malam menjelang pesta pernikahan itu adalah bincang-bincang antara seorang Ayah (dari Yha’) yang bertanya-tanya kepada Ibu saya yang tak lain adalah kepala sekolah di Taman Kanak-Kanak. Saya ada di situ, menjadi pendengar.

Di tahun-tahun selanjutnya adalah lompat tali, congklak, singki’an, kuda-kuda’an dari pelepah pisang, game watch, yang semua itu hanya bisa dimainkan di sekitaran rumah. Sebab Yha’ adalah seekor Kanguru yang tak boleh jauh-jauh dari sarung Ayahnya. Dunia luar terlampau jahat dan kerdil.

Saya kemudian bertemu kembali dengan Yha’ ketika Play Station dimainkan di Lorong Pinang (pernah dinamakan Lorong Sporadis oleh Donni Bengga). Padahal di jaman ketika saya kanak dulu (yang sebenarnya tak terpaut jauh dengan masa kecil Yha’) kami menyebut lorong itu sebagai Kampung Kodo. Alasanya pendek saja; sebab berdekatan dengan wilayah Pinoba dan kolam ikan warga setempat. Itu adalah wilayah basah.

Waktu berjalan seperti arus liar yang menghanyutkan apa saja. Lalu tiba lah era Millenium. Di tahun ini, saya menjanjikan petualangan kepada Yha; belukar, arus sungai, rimba raya, puncak gunung, dan dunia demonstarsi dimana kami harus berhadap-hadapan dengan sekompi aparat keamanan terkait penolakan TPA yang masih berlangsung di Passi .

Bergabung dengan Komunitas Pecinta Alam Bogani Mongondow Lestari (KPA BoMLest) menempa Yha’ menjadi pribadi yang akhirnya mengenal realitas luar kantong dan sarung yang terlampau empuk menjadikannya diktator cilik dalam rumah.

Tapi Yha’ telah berhasil memetik buah petualangan itu tak hanya sebatas ilmu yang betapa diperlukan untuk mengenal kemampuan diri dan dunia di sekitarnya. Saya yakin, ia mengambil itu dan menjadikannya sebagai falsafah hidup yang terkadang gamang dalam kerahasiaan yang absurd.

Sampai suatu ketika, cinta datang merangkulnya. Yha menikah dan lahirlah Sigi dari rahim Sigimom. Bersamaan dengan itu pula, jadilah Yha’ sebagai Sigidad.

Tapi pernikahan itu sepertinya gemetar. Sigidad dengan kedua telapak tangannya yang halus, sekonyong – konyong menyangsikan usia ikatan itu. Dia seolah menemukan kedua tangannya dalam keadaan kosong, tak bertenaga. Kedua tangan yang sebenarnya biasa ia gunakan mencongkel bulan dan matahari, lalu menyembunyikannya ke kolong dipan. Tapi kali itu, sepertinya ia tak punya tenaga. Tangannya kosong. Padahal hidup harus berisi; dengan Sigi dan Sigimom.

Dan keanehan jiwa muda yang tiba-tiba terangkul, seolah membuat Sigidad tak mampu berlama-lama menatap istrinya, Sigimom. Padahal Sigi masih bayi. Dan Sigidad seperti kena tampar melihat kekosongan dalam telapak tanganya yang pernah meremas bara dan api. Tak mungkin ia kembali ke kantong dan sarung Ayahnya. Seperti ketika ia adalah seekor Kanguru. Karena dia kini adalah Sigidad yang menyayangi Sigimom. Yang tak harus memberi isi kepala dengan cita-cita dan harapan belaka. Melainkan harus memberi kenyataan pada pagi hingga malam hari.

Dalam pergumulan yang penuh misteri itu, keadaan bertepatan dengan suatu suasana dimana Sigidad sedang bersama saya untuk sama – sama menerjemahkan Skinhead dan Anarko di Lorong Hitam; pada sebuah Gig di Pingkan Matindas; Gedung Manggala, depan Toko Sakura, SMA 2, dan Bundaran Paris, dimana jejak Anarkisme dari para Anarko sepertinya kini ‘hilang’, terkikis.

Ah, cintanya kepada Sigi terlampau tinggi. Tapi gemetar ketika mata Sigimom menajam kearahnya. Sebuah cinta yang unik antara keduanya. Yang tak hadir pada banyak orang. Sehingga kegelisahan-kegelisahan yang hadir, mulai dicairkan dengan pelukan-pelukan hangat yang lama hilang. Bergumul bersama malam dengan wangi arak yang meruyak kemana-mana.

Bersamaan dengan keterkikisan itu, dan “mati-surinya” komunitas Skinhead Anarko dan Anarko Punk di Kotamobagu, termasuk dengan “kematian” panjang KPA BoMLest, beserta kesunyian yang berkeluk-keluk dalam dada, Yha mantap bertualang ke dunia sofis, sehingga dimulailah perkenalan dengan Protagoras, Perikles, dan deretan filsuf kontemporer; dari struturalisme hingga post modernitas; dari Mula Sadra hingga Nietzsche yang kini abadi di punggungnya.

Tapi entah apa yang ditanam Yha’ di sudut tanah lapang Passi, tempat kawan-kawan berkumpul saat gamang di simpang jalan?

Kemudian, di Rumah Pemuda Merdeka (RPM) dan Mabespond, debat panjang teruntai seperti kelahi yang lebih tajam dari belati.

Ah, tawa yang melebur dalam arak, tetaplah tawa yang tak pernah berdusta memberi kehangatan.

“Aku percaya semesta memiliki getah abadi yang saling menghubungkan kita dengan segala mahluk di jagat raya ini”. kata Sigidad di Getah Semesta.

“Seperti apa getah semesta itu? Apa dia materi atau non materi? Aku pikir jika Sigidad menggantinya dengan getah bumi, maka jika itu materi, getah bumi itulah aspal,” kata Delianto Bengga berseloroh penuh Wkwkwkwk.

Tetapi Yha’ berkata, “Getah itu bening, terlalu bening hingga tak terlihat tapi bisa dirasakan. Seperti spasi yang bisa kau tekan dan rasakan lewat sentuhan. Tercipta, tapi tak berwujud. Siapa bilang spasi itu menciptakan jarak? ia ada sebagai getah bening penghubung kata, agar kita bisa memaknai semesta ini”.

Hari ini adalah hari ulang tahun Sigidad. Jika orang-orang berultah, saya ingat,  Sigidad akan mengirimkan ucapan: “Selamat ulang tahun ya, semoga sukses. Dan jangan pernah dewasa”.

Jangan pernah dewasa? Apa yang membuatmu khawatir? Haha, sisa-sisa kediktatoran di masa silam ketika berjaya di balik sarung Ayah, sepertinya belum hilang dari Sigidad. Semacam romantisme masa lalu, sehingga proses kedewasaan ibarat kutukan yang harus dihindari olehnya. Seperti seorang komunis yang mengutuk demokrasi liberal dan perkembangan kapitalisme yang terus merajalela dewasa ini.

Selamat ulang tahun, Sigidad. Itu saja.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.