ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

SIM dan KK Layak Masuk Daftar MURI

Bagikan Artikel Ini:

BAHASA Indonesia terkadang pelik dan hipokrit. Inilah mungkin yang merisaukan DR.J.S Badudu sehingga senantiasa berupaya agar kita bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dalam bukunya berjudul Pelik-Pelik Bahasa Indonesia (Pustaka Prima, hal 11-1979), Badudu mengatakan, Bahasa Indonesia yang kini kita pakai sebagai bahasa persatuan dan bahasa perhubungan dalam pergaulan hidup, berasal dari bahasa Melayu.

Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, menurut Badudu, berlangsung secara perlahan-lahan dan terus menerus. Menurutnya, bahasa yang kita pergunakan dewasa ini, tidak lagi sama dengan bahasa Melayu yang dipakai pada zaman Tan Muhammad Sri Lanang, atau pada zaman Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Juga tidak sama dengan bahasa Melayu pada zaman Balai Pustaka. Bahasa Indonesia (sebagai bahasa Melayu) perlahan-lahan berkembang dan terus tumbuh hingga pada akhirnya menjelma menjadi suatu bahasa baru.

Prof. Dr. Slamatemulyana, menjelaskan, sejarah telah mampu membantu penyebaran bahasa Melayu di nusantara (Indonesia) sebab bahasa Melayu merupakan lingua – franca di nusantara, yakni bahasa perhubungan/perdagangan.

Dengan bantuan para pedagang, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh pantai nusantara (Indonesia) terutama di kota-kota pelabuhan. Maka jadilah bahasa Melayu sebagai bahasa penghubung antar individu.

Bahasa Melayu mempunyai sistim yang sederhana. Oleh sebab itu, bahasa Melayu mudah dipelajari. Dan dalam kenyataannya membuktikan bahwa bahasa Indonesia (Melayu) adalah bahasa yang dapat dipakai untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan dengan jelas.

Sepertinya akan memakan banyak ruang dan perlu ber-bab-bab buku untuk membahas sejarah Bahasa Indonesia disini. Padahal bukan soal itu yang hendak disajikan hari ini, melainkan soal SIM (Surat Izin Mengemudi) dan Kartu Keluarga (KK).

Tanpa perlu membuka KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), meski bukan disebabkan oleh sikap sok tahu atau sok yang paling betul, pengertian surat sebagaimana yang saya pahami adalah;  secarik kertas, atau bisa dari apa saja yang berisi tulisan dan dapat dibaca, kemudian dikirimkan ke pihak kedua. (tidak mungkin kan mengirim surat pada diri sendiri). Jika pembaca merasa pengertian ini salah, maka silahkan buka KBBI atau boleh minta bantuan Om Gogel.

Selanjutnya, mengenai kartu, sepanjang pengertian saya, kartu adalah bahan (bisa dari kertas tebal) berbentuk segi empat (berbagai ukuran namun umumnya agak kecil), yang diperuntukkan dalam berbagai keperluan, misalnya sebagai pengenal; kartu anggota partai, kartu tanda pengenal, kartu persatuan jomblo-jomblo, dan lain  sebagainya.

Perlu dicatat pula, sepanjang saya hidup, belum pernah saya menemukan kartu keanggotan partai, kartu miskin, kartu jaminan sosial (dan anak-pinaknya) seukuran kertas folio. Apalagi ukuran kartu ATM. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya jika ukuran kartu-kartu itu sebesar surat lamaran kerja atau malah selebar Kartu Keluarga?

Oh,ya. Yang saya maksudkan di sini bukan kartu remi, kartu gaplek, apalagi ‘kartu’ pejabat publik.

Lantas ada apa dengan SIM dan KK? Sebenarnya ini soal ukuran. Namun ada kaitannya dengan bahasa. Inilah yang membuat saya berani menyebutkan bahwa, Bahasa Indonesia terkadang hipokrit dan membingungkan. Sebagai bentuk protes, tentulah teman-teman tak perlu heran ketika saya berbahasa atau menulis kata maupun kalimat (tak jarang) tanpa menggunakan kaidah-kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka itu pulalah sejak dulu saya suka membuat istilah dan bahasa baru. Sebagaimana yang pernah saya dan Sigidad lakukan.

Baiklah, sekarang coba tengok fakta berikut ini,

SIM sebagai Surat Izin Mengemudi ukurannya kok bukan macam surat pada umumnya? Sedangkan KK sebagai Kartu Keluarga, bentuknya kok macam Surat? Bukan seperti kartu pada umumnya? KTP misalnya, atau kartu pramuka. Sayangnya kita tidak bisa lagi bertanya pada Prof Badudu.

Jika SIM benar-benar dimaknai sebagai Surat? Maka siapa penulis dan pengirimnya? Kemana alamat yang hendak dituju? Masih menjadi misteri bukan? Ah, kenapa kita begitu bodoh dan pelupa? Bukankah ini yang sudah disindir-sindir Ayu Ting Ting lewat dendangnya, ke mana ke mana ke mana/kuharus mencari ke mana/kekasih tercinta/tak tahu rimbanya/lama tak datang ke rumah…

Selanjutnya, jika KK benar-benar dimaknai sebagai Kartu Keluarga? Maka, Museum Record Indonesia (MURI) layak memberi apresiasi dan penghargaan. Lha, kenapa tidak? KK adalah salah satu contoh produk yang berevolusi sehingga menjadi satu-satunya Kartu berukuran jumbo di Indonesia. Ukurannya bahkan berlipat ganda mengalahkan KTP, Kartu Jamkesmas, BPJS, dan terutama ATM.

Maka SIM juga harus mendapat posisi yang sama dimata MURI selayaknya KK. Karena SIM termasuk produk yang unik bikinan manusia. SIM adalah surat super mini yang dari segi ukuran, mengalahkan surat-surat lain yang pernah kita lihat atau kita buat. Misalnya, surat cinta, surat putus, surat tanda tamat belajar, surat lamaran, atau surat panggilan dari sekolah.

Ditinjau dari segi makna dan bahasa, baik SIM maupun KK sama-sama produk hipokrit yang tidak pernah diributkan eksistensinya. Bukankah itu cukup layak?

Artikel lainnya klik disini

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.