ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Surat Terbuka Online Untuk Tatong Bara

Bagikan Artikel Ini:

SEBENARNYA tiga kali ragu saya menulis judul di atas. Pertama soal kata surat terbuka. Kedua, soal menentukan apakah harus memakai Ir (Insinyur) atau Ibu saja. Ketiga, saya sebenarnya hendak menulis, Kepada Walikota.

Kenapa Surat Terbuka? Ya, memang lagi musiman saja. Kalau mau diingat-ingat, pada musim Pilpres kemarin anaknya Amien Rais juga pernah bikin surat terbuka yang ditujukan pada Capres Jokowi. Sekarang Jokowi sudah jadi Presiden. Saya termasuk orang yang mendukung dan ikut-ikutan membela dia di Medsos. Akibatnya, ada banyak pertemanan pupus. Ada sih yang masih bertahan. Tapi persekawanan itu mendadak dingin. Padahal saya tak henti-hentinya berusaha menghangat-hangatkan. Sampe jadi lupa saya kalau malah jadi panas dan meletup sebagai emosi. Sedikit saja yang jentel dan penuh pengakuan sampe peluk-pelukkan. Tentu dibarengi kebesaran jiwa dengan meminta maaf sehingga betapa mulianya itu sebab tak menghentikan jalan nafas.

Kembali ke soal surat, pendek kata, saya memilih surat terbuka online karena memang lagi ngetrend. Padahal saya berdusta sebab sejak jaman dulu, metode surat-suratan terbuka ini sudah ada. Sama seperti ketika dulu Goenawan Muhammad, si penulis Catatan Minggir Pinggir di Tempo, yang bersahabat karib dengan Sitok Srengenge (konon Sitok memerkosa Mahasiswi UI namun lolos dari jeratan hukum), mengirim surat terbukannya kepada Pramoedya Ananta Toer.

Jadi mana yang benar? Ternyata saya memilih berkirim surat secara terbuka, supaya mudah disebar. Dengan begitu maka banyak orang yang bakalan tahu.

Kenapa harus dengan cara demikian? Bukankah sebaiknya dikirim langsung? Secara khusus. Lewat pos misalnya? Atau dititip ke Setda. Boleh juga lewat Bagian Humas. Supaya cuma dua orang yang tahu.

Mulanya sih begitu. Tapi akhirnya saya berpikir untuk menghindari fitnah. Lho, kenapa fitnah? Ya, iya. Saya tak mau dituduh macam-macam oleh oknum-oknum penebar gossip gara-gara berkirim surat secara khusus untuk Ibu. Nanti kesannya itu surat pribadi. Dan namanya surat pribadi, banyak pengalaman mengatakan, akan mudah dituduh yang enggak-enggak. Tak enak rasanya. Apalagi ada berlusin-lusin wartawan di Kotamobagu yang haus akan kehebohan. Ibu pasti tahu kan, sekalipun wartawan keliru menulis dan menimbulkan kerugian, mereka tidak bisa dituntut memakai KUHP. Sama juga dengan ini. Sebab semua pewarta dilindungi Undang-Undang Pers. Hak jawab dan klarifikasi sudah cukup membuat perkara usai dan damai.

Maka jadilah surat terbuka ini. Ibu bisa mengaksesnya dimana saja dan kapan saja. Internet kan tak mengenal ruang dan waktu. Inilah kelebihan media online. Bahkan ketika Ibu sedang dalam perjalanan, semua ada dalam genggaman. Orang Humas tak perlu repot-repot menenteng bertumpuk-tumpuk Koran kemudian dibawa ke hadapan Ibu. Tak perlu lagi diregist di buku ekspedisi (eh, ekspedisi ya namanya? Soal surat keluar-masuk itu? Ah, entahlah), cukup akses di www.arusutara.com melalui gadget gejet kesayangan Ibu, pasti surat ini sudah dapat dieja.

Sengaja pula dibuat versi online agar dunia tahu. Termasuk mereka yang di Praha, tempat Ibu dulu pernah kesana mempromosikan Kopi Kotamobagu. Atau kepada mereka yang ada di pelosok Argentina (semoga ada orang Mongondow di sana), supaya bisa membacanya. Dan siapa tahu Presiden Barack Obama ikut berkesempatan membaca dari Gedung Putih.

Eh, tak usahlah Barack Obama. Saya justru berharap ada Pangeran dari Arab Saudi (sekarang lagi memerangi Yaman) yang iseng membuka internet, lalu secara tak sengaja menerima tautan surat terbuka online ini, sehingga memungkinkan dia bisa membacanya.

Ah, ngaco sekali. Bukankah Pangeran Arab Saudi tak bisa berbahasa Indonesia? Tenang, ada Google Terjemahan. Sejak Google berdiri, hanya bahasa qalbu mungkin yang sulit mereka terjemahkan.

Kenapa harus Pangeran Arab? Sebenarnya itu bukan pertanyaan tepat dan tidak taktis. Sebab saya justru berharap, jika memang ada Pangeran Arab Saudi yang membacanya, maka harapan saya cuma satu. Apa itu? Semoga Pangeran Arab itu berstatus jomblo.

Lha kenapa begitu? Ya iyalah. Bukankah sampai hari ini Ibu masih menjomblo? Jika Pangeran dari Arab Saudi ternyata jomblo juga, maka tunggu apalagi. Kata orang Mongondow, baca don jiow.

Tapi yang jadi soal adalah, apakah Pangeran Arab Saudi itu ganteng? Eits..tuh kan. Cewek-cewek jaman sekarang yang kebetulan ikut membaca surat terbuka online ini, pasti langsung protes. Cepat terbaca apa maksud mereka. Apa lagi kalau bukan soal materi. Menurut cewek-cewek yang hobi memutar lagu pucing palaberbi ini, urusan ganteng itu belakangan, yang penting tajir. Betul kan? Lalu, Pangeran Arab Saudi mana yang tidak tajir?

Kalau sudah soal ini, giliran saya yang akan lebih dulu turun tangan. Kemugkinan saya akan berdiri di depan Ibu, lalu bermohon supaya Ibu jangan sampai mendengarkan petuah cewek-cewek matre ini. Ketajiran itu penting, tetapi kegantengan juga perlu. Sama halnya dengan pentingnya rasa cinta dan keutamaan kasih sayang.

Waduh, kok saya tiba-tiba terjebak diurusan nasehat-menasehati. Tak maulah saya dituduh belagak bak Ustad Solmed.

Ah, supaya ini cepat selesai, maka saya akan sangat sepakat jika Ibu jadian dengan Omar Borkan Al Gala.

Hei, siapa dia? Dia itulah pemuda yang di usir dari Arab Saudi gara-gara kegantengannya yang terlampau amat sangat memesona. Cewek-cewek di Kotamobagu pasti sudah pernah bikin bikin foto orang ini sebagai Display Picture di BBM (BlackBerry Messenger). Ibu pasti sudah bisa menebak yang mana dia. Ya, betul. Fotonya yang saya taruh di atas. Sengaja disandingkan dengan Ibu. Ingat lho, jodoh itu selalu bekerja secara misterius.

Baik, kita kembali lagi di atas. Sudah sampai mana ya? Oh, sampai di soal kenapa saya tidak memilih kata Insinyur (Ir) di depan nama Ibu?

Bukan berarti saya tidak menghormati apalagi menghargai predikat akademik yang sudah Ibu raih dengan susah payah di dunia kampus. Olehnya saya menghaturkan permohonan maaf sebesar-besarnya terlebih dahulu. Memang salah saya karena malas mencari tahu, gedung mana yang pernah Ibu arsiteki.

Lalu, kenapa tidak menggantinya dengan kata Ibu, sehingga judul di atas menjadi; Surat Terbuka Buat Ibu Tatong Bara?

Ini juga disebabkan suatu alasan yang sebenarnya membuat saya kurang bernyali mengatakannya. Saya takut nanti Ibu ngomel-ngomel sehingga menyebabkan surat ini disobek-sobek. Eh, tapi saya salah. Ini surat versi online. Tak bisa disobek-sobek. Cukuplah anak remaja jadul yang pernah melakukan ini; menyobek-nyobek surat kaleng kiriman para pemujanya di jaman ketika Pak Pos belum terbunuh telepon genggam dengan fasilitas berkirim suratnya bernama SMS.

Ah, Ibu. Saya sudah ngelantur kemana-mana. Dan belum ada intisari pokok yang saya tandaskan dalam surat terbuka ini. Supaya tidak memakan banyak ruang, maka berikut ini adalah pokok yang ingin saya sampaikan, sebagai berikut:

  1. Kotamobagau adalah kota kecil yang sebenarnya mudah di urus. Karena Visi-Misi Ibu adalah menjadikan Kotamobagu sebagai kota jasa, maka realisasikanlah itu minimal dengan 2 cara, yakni pertama, mengurangi peran Satpol PP dan Kepolisian dalam melakukan razia di penginapan, hotel-hotel, kos-kosan, tempat hiburan malam, dan fasilitas-fasilitas publik (taman kota dan emperan toko). Ini kota jasa, namun ironisnya, fasilitas-fasilitas jasa yang justru jadi bulan-bulanan dijadikan samsak. Ingat, peran Satpol PP dan Kepolisian yang selalu gencar memeloroti kegiatan dan usaha jasa dengan cara razia, justru memandulkan investasi dan tak hanya menyebabkan indeks perekonomian di Kotamobagu menurun, tetapi indeks kebahagiaan masyarakatnya pun ikut melorot hingga di titik yang memprihatinkan. Kedua, benahi Stadion Gelora Ambang. Buatlah SGA yang hampir dua dekade ini terlantar sebagai sorga kegiatan. Mulai dari ragam kegiatan olah raga, seni pertunjukan teater, konser musik, arena pameran, jambore, outbond, dan sebagainya sebagaimana yang pernah semarak di jaman JA Damopolii.
  2. Kami minta jaringan WiFi gratis dibeberapa titik Kota. Pokoknya bagaimanapun caranya, kami minta diberi jaringan WiFi. Titik. Tak perlu alasan dan penjelasan panjang lebar. Pokoknya WiFi. Titik. (kami memang egois ya)

Eh, hampir lupa. Rupanya saya belum menjawab, kenapa surat ini tidak saya beri judul begini; Surat Terbuka Online Kepada Walikota Kotamobagu.

Maaf Ibu, ini adalah pengakuan yang sejujur-jujurnya. Seingat saya, sudah yang kedua-kalinya ini saya mengaku secara online, sebagaimana yang saya tulis lalu di Leput Institut, bahwa saya adalah pendukung bakal calon Walikota Kotamobagu yang dikenal dengan nama Matt Jabrik. Sayangnya ia tak lolos seleksi selanjutnya. Partai Politik masih lebih mempercayai orang-orang lama, termasuk Ibu sendiri ketimbang Matt Jabrik.

Demikian surat terbuka online ini. Nanti akan dilanjutkan di kesempatan berikutnya. Mohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan. Saya yang jarang sekali berdoa, kali ini ingin mendoakan Ibu selaku Walikota Kotamobagu, semoga sehat selalu dan cepat dapat jodoh. Amin. (Uwin)

Bagikan Artikel Ini:
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.