ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Surat Untuk Bapak ***** ****** Usai Eksekusi

Bagikan Artikel Ini:

APA kabar pak? Sehat? Tentu sehat. Bapak kan bukan pecandu narkotika. Bukan pula penggila kristal Psikotropika macam zat Metamphetamin itu (shabu-shabu). Apalagi yang suka ngelem kayak ABG. Kasihan mereka ya pak, terpaksa ngelem lantaran harga Heroin di pasaran, cuma mampu dibeli anak-anak orang kaya. Sekali hidu Rp 2,3 juta lho melayang. Mana ada remaja anak orang papah punya duit beli itu. Kalo mereka ponakannya Tomi Winata, Anggodo, atau Eddy Tansil yang entah di mana rimbanya kini, jangankan Heroin, LSD aja pasti dimakan.

Tapi sayang, generasi muda Indonesia kebanyakan anak orang miskin. Sedikit saja yang kaya, maka sedikit pula yang bisa beli narkotika. Maka dari itu saya juga heran dengan statistik yang bapak berikan (kini berubah-ubah). Bapak pernah menyebut, dalam per tahun ada 51.000 remaja mati, namun pada kesempatan lain menyebut 33.000, dan kini 18.000. Mana yang betul sih.

Narkotika ya pak. Bukan Psikotropika. Bukan pula obat-obatan berbahaya. Apalagi yang mati gara-gara lem kastol dan ehabon (belum termasuk obat batuk macam kom*ks).

Ini penting untuk dicatat lho pak. Sebab Narkotika, beda dengan Psikotropika. Tapi bapak sih hobinya menjenelarisir. Padahal Dasar-Dasar Logika mengajarkan, Teh itu bukan Kopi, dan Kopi itu bukan Coca-cola. Sekali lagi catat ya pak, sebab ini penting. Apalagi soal Ganja yang selalu bapak kampanyekan sebagai tanaman pembunuh; sekali sedot = masa depan rusak, mati! Tapi sayangnya kampanye bapak itu, orang-orang banyak yang gak percaya. Hm, mungkin belum kena batunya aja mereka itu ya pak.

Oh,ya. Kadar gula bapak gimana? Naik? Ah, bapak becanda. Bapak kan dikenal berpola makan yang sehat, dibarengi pola hidup yang sehat pula. Masak kesehatan bapak gak terjamin. Bapak kan bukan pecandu yang kesehatan jiwa dan fisiknya terganggu? Macam yang sering bapak kampanyekan itu lho.

Dan di rumah bapak yang ciamik itu, terlebih di bagian ruang makan yang berlantai marmer, di situ pasti bapak sering mengonsumsi buah-buahan mengandung serat ya? Serat memang baik untuk kesehatan.

Eh, jangan suudzon dulu. Serat yang saya maksud bukan serat yang dihasilkan tanaman Ganja. Ya, tanaman Ganja. Yang pernah bapak basmi waktu ke Atjeh beberapa tahun lalu. Yang kata bapak di media; dengan berhasil membakar hampir 200 Ha tanaman Ganja (yang kata orang tanaman ciptaan Tuhan yang penuh berkah), bapak mengklaim telah menyelamatkan 40 juta jiwa generasi muda dari ambang kematian.

Aduh, benar ya pak begitu? Jika benar begitu, maka sungguh terlalu negeri ini ketika tidak memberi penghargaan berlipat-lipat ganda dan bertimpal-timpal kepada bapak. Tentu harus disertai dengan uang pembinaan.

Bahkan dengan prestasi yang demikian gemilang itu, bapak sangat pantas lho dipromosikan untuk jadi malaikat. Tugas bapak ya itu, untuk menjadi malaikat pelayan Tuhan. Sebab kami percaya, manusia utama nan mulia macam bapak, yang telah menyelamatkan 40 juta jiwa nyawa generasi muda (belum terhitung prestasi lainnya) sudah tidak pantas lagi menjadi manusia. Bapak harus didaulat dan dipromosikan jadi dewa. Atau malaikat gitu pak. Bumi ini terlalu kotor menampung orang suci dan mulia macam bapak.

Oh, ya. Saya amat sangat tidak setuju sekali sama aktivis-aktivis medsos yang seolah-olah menyindir bapak lewat kicauan di timeline twitter dan postingan di wall fesbuk. Apa lagi ada embel-embel
hesteg-nya pak. Bapak tahu apa yang mereka kicaukan itu? Yang mereka posting sebagai status? Kalau tak salah ingat, mereka menulis begini pak: “Bagi yang masih haus, silahkan tumpahkan lagi darah dari tubuh-tubuh anak manusia laki-perempuan, pada gelombong berikutnya,”.

Tuh, kan pak. Bukankah itu kejam? Seolah-olah mereka menganggap bapak sebagai pampir yang haus darah. Padahal, seandainyapun (maaf ya pak) bapak pampir, pasti bapak enggan menyedot darah manusia-manusia yang terbunuh itu. Karena menurut bapak, darah mereka kan kotor. Tercemar zat narkotika. Nanti bapak ketularan, sehingga gak lucu kan, kalo tiba-tiba bapak jadi pecandu?

Ada lagi yang menulis gini pak; “Ketika 8 nyawa melayang, dan darah merembes dari jantung, maka haus macam mana lagi yang hendak kalian dustakan,?”

Aduh, pak. itu maksudnya pa sih? Kok saya jadi bingung dan gemetaran. Apalagi ketika membaca yang satu ini; “Apakah kalian akan mengajak minum mister presiden siang ini? Sebagai pelepas dahaga sambil tos,?”

Hm, saya mulai tak berselera pak. Sungguh serem-serem kicauan itu pak. Meski demikian, saya tetap tak akan suudzon dan berharap, semoga kicauan-kicauan itu bukan dialamatkan atau disindir-sindirkan pada bapak. Sungguh bapak amat tak pantas menerima sindiran kurang-ajar begitu. Seolah-olah mereka adalah iblis yang bisa tegaan terhadap orang suci dan baik macam bapak.

Oh,ya. Saat sedang menulis surat ini, jujur bahwa saya kesulitan bertahan jika tak mencuri-curi pandang mengikuti alur timeline medsos. Padahal selera saya sebenarnya sudah teracak-acak. Tapi ada satu lagi terbaru pak yang mereka tulis; “Jika itu adalah Ayahmu, Ibumu, Anakmu, Kakak, Adik, Istri, Suami, atau Istrimu, maka kesenangan macam apa yang kau rasakan ketika mereka meregang nyawa,”

Aduh, pak. Tiba-tiba saya mual. Tak tahan lagi rasanya. Sebelum tangis saya meledak karena tiba-tiba ingat Ibu-Bapak dan keluarga di rumah, sebaiknya saya tutup saja surat ini dengan menulis: Semoga arwah para terpidana yang terbunuh itu, akan tenang di alam baka. Semoga pula ketika bapak jadi malaikat nanti, tolong bisikkan kepada Gusti Allah supaya memberikan tempat paling mulia untuk mereka.

Dan kepada orang-orang terkasih yang mereka tinggalkan, semoga diberi ketabahan dan dapat menjaga lisan supaya tak menggelegarkan sumpah yang akan membumbung jadi doa. Ingat, sumpah dan doa orang-orang yang teraniaya itu mustajab!

Sudah dulu ya pak. Kemungkinan sore kita ketemuan lagi…!!

TERKAIT :

1. Jelang Eksekusi Mati

2. Menunggu Mati Dibunuh

3. Untukmu Mary Jane Veloso

4. Mary Jane Selamat dari Eksekusi Mati

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.