ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ayo Di Main Bola Lagi Di….

Bagikan Artikel Ini:
fifa
pict : stephen wilson

DIJATUHI sanksi dari tukang urus sepakbola dunia (FIFA) memang menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi sebab lembaga yang menjatuhkan hukuman itu, bos-bosnya baru saja ditangkap polisi FBI dan FOJ (Kejaksaan Swiss) karena terlibat maling duit berbanderol seratus limah puluh juta yu es dollar (US$ 150 juta) atau (jika dirupiahkan) berada dikisaran angka satu koma sembilan triliun lebih (Rp1.9 Triliun). Hm, lebih besar dari PAD Sulawesi Utara tentunya yang hanya berada di kisaran Rp 944 Milyar di tahun kemarin.

Hukuman dari FIFA yang bos-bosnya sudah ditahan FBI ini, datang melalui surat yang ditandatangani salah satu bos bernama Jerome Valke. Dia adalah Sekretaris Jenderal FIFA. Tak perlu kita berburuk sangka dulu kepada mister bos Jerome. Bisa jadi dia adalah salah satu bos yang beruntung sebab tidak ikut terlibat korupsi seperti kawan-kawannya.

Surat dari Sekjen FIFA ini dikirim melalui faksimile ditujukan kepada tukang urus kegiatan sepakbola negeri ini alias  PSSI melalui Sekjennya, Azwan Karim.

Apa isinya? Ya, apalagi kalau bukan hukuman. Sebab PSSI adalah anggota FIFA dan telah melanggar statuta FIFA pasal 13, 17 dan 14 Ayat 1.

Secara garis besar, hukuman yang dijatuhkan ini dikarenakan PSSI telah diintervensi pemerintah melalui Kemenpora. Padahal urusan sepakbola di Indonesia berdasarkan statuta FIFA, harus ditangani oleh PSSI sendiri, alias tak boleh ada campur tangan pamarentah!

Oh, jadi begitu. Ya, iyalah. PSSI kan masuk anggota FIFA. Lain soal kalau tidak.

Nah, sekarang bagaimana? Apa Bambang Pamungkas dan kawan-kawan pesepakbola negeri ini tak boleh main bola lagi? Tentu boleh. ‘Main’ batu akik aja boleh, masak main bola gak boleh. Tak ada satu badan dunia selevel FIFA pun yang berhak melarang orang bermain bola.

Tapi yang membuat awan berselimut mendung berarak di atas kepala bos-bos PSSI adalah, selama masa hukuman, PSSI kehilangan hak keanggotannya di FIFA dan semua tim Indonesia, baik timnas maupun klub, dilarang terlibat kegiatan olahraga secara internasional dan tidak diperkenankan berpartisipasi di kompetisi yang diselenggarakan FIFA dan AFC.

Lalu apa yang tambah bikin kepala mereka terasa seperti dibentur-benturkan ke dinding kantor PSSI di Jakarta? Kemungkinan karena hukuman itu mengakibatkan mereka dan official tak akan mendapat program pengembangan lagi dari FIFA atau AFC, berupa pendidikan, pelatihan, dan bantuan persepakbolaan selama skorsing belum dicabut.

Merupakan kiamat dalam persepakbolaan negeri inikah itu? Bagi Rulli Dilapanga yang selalu setia meniduri mimpi panjangnya agar timnas tembus World Cup, kemungkinan akan berkata Ya. Sedangkan Endri Wijaya Tanjung The Jack Mania, saya kurang pasti, apakah dia yang diam-diam menyimpan mimpi yang sama panjangnya dengan Rully agar Persija bisa tembus Liga Champion, menghajar MU, Madrid dan Juventus, punya pendapat yang sama; kematian bola di endonesya.

Tapi bagi kelompok yang pesimis kalau timnas dan klub-klub negeri ini bakal tembus World Cup dan Liga Champion, tentu hanya merasa bahwa saatnya timnas dan klub-klub sepak bola negeri ini mengukur kemampuan. Tapi ingat, kelompok yang pesimis bukan otomatis anti bola. Mereka yang ada di barisan ini adalah kelompok yang tahu diri. Artinya, mereka paham betul karena sudah mengukur sendiri, sejauh mana prestasi sepak bola Indonesia di luar kandang.

Makanya kelompok ini tidak ikutan mencak-mencak ketika Menpora membekukan PSSI. Mereka tak terpengaruh dan tidak khawatir jika nantinya FIFA bakal mengeluarkan sanksi. Mereka santai dan malah sibuk memburu batu bacan.

Oleh sebab itu Edy Sukasah sang Bobotoh sejak dari moyangnya, adalah pendukung Persib yang tak peduli dengan sanksi FIFA. “Gak ada pengaruh apa-apa bagi sepak bola indonesia jika dihubungkan dengan prestasi,” katanya via chat BBM saat tulisan ini sedang dibuat. Dia bahkan mengaku sempat bersuudzon dengan niat Menpora benahin PSSI.

Oleh sebab itulah Samsir Galuwo, meski mengaku sempat kecewa dengan sanksi yang diturunkan FIFA, mengatakan kalau dibalik kekecewaan itu ada sepenggal cermin berisi bayang harapan dimana sanksi itu dapat dijadikan cambuk agar persepakbolaan negeri semakin baik. “Banned tidak identik dengan kemunduran bola kaki di negera yang dikenai sanksi. Banyak kok negara yang pernah di banned oleh FIFA tapi bisa bangkit,” tulisnya via BBM. “Silahkan beri skorsing, tapi kompetisi di dalam negeri tetap jalan. Kan hanya gak boleh ikut laga internasioanl yang dihelat FIFA. Jadi tak masalah. Sebab sama juga bohong ikut laga di luar tapi selalu saja kalah, jadi percuma,” pungkasnya.

Lalu datang tanggapan dari seorang  Ibu Guru SD di Mongondow “Gak usah dibesar-besarin, karena sanksi FIFA itu gak berlaku selamanya. Jika pemerintah udah gak intervensi lagi, otomatis sanksi itu hilang. Kalo memang buat perbaikan, ya sah-sah saja. Tapi sebaiknya liga nasional diterusin. Jangan ada pembekuan. Kasihan jika para pemain bakalan nganggur. Kasihan juga mereka yang gak bisa main di ajang internasional,” kata Ririn Prisa Mokodompit.

Tapi biarlah Eza Yayang Marhaen bebas merdeka meletup-letupkan emosinya kepada Menpora yang dituding sebagai biang kerok banned FIFA. Soalnya konon ada isu yang mula-mula disebarkan Kenny Gerald bahwa Eza Yayang Marhaen disebut-sebut terekrut sebagai official tim klub yang akan bertarung di luar indonesia. Doski takut gajinya bakal lenyap gara-gara banned.

Berbeda dengan Aldi Mokodompit mantan bek Bintang Fajar sekaligus Coach Rajawali FC pada perhelatan Liga Tarkam Pemuda Merdeka Passi Bersatu ke-II Tahun 2014. “Tidak setuju pembekuan liga, tapi setuju PSSI ditata kembali,” singkat dia via BBM.

Jadi bagaimana para penggila batu bacan bola lainnya di negeri ini menyikapi skorsing yang diberikan FIFA kepada PSSI?

Eits..eits…santai dulu bro, jangan ngamuk-ngamuk dulu. Tak perlu turun ke jalan bawa pentungan mencari Pak Menpora karena beliaulah yang disebut-sebut penyebab keributan ini sampai-sampai PSSI kena banned. Tim U-23 masih diberi kesempatan kok berlaga di Sea Games hingga selesai (semoga menang). Persipura juga masih diberi kesempatan meneruskan laga di Singapura (semoga juga menang). Jadi apa yang perlu diributkan?

Oh, soal Timnas yang tak bisa ikut laga Pra Piala Dunia? Hmm, (mengelus dada) inilah yang masih belum juga kita sadari kawan-kawan. Sekali lagi bukan soal pesimistis, sebab pesimistis tak otamatis anti sepak bola. Ini sebenarnya soal prestasi, soal kemampuan, soal menjaga hati dan perasaan publik agar tak berulang-kali dibuat murung dan kecewa oleh Timnas. Cobalah latihan-latihan dulu dengan keras dan tekun di kandang sendiri. Bila perlu saat latihan, libatkan Singa dan Harimau Sumatera di lapangan. Setelah benar-benar siap seluruh jiwa raga lahir batin, barulah unjuk gigi. Agar tak sekedar jadi bintang iklan biskuat biskuit.

Biarlah PSSI dibanned. Biar sudah persepakbolaan kita tak masuk catatan FIFA. Biarkanlah laga-laga tingkat Internasional dan Asia tak bisa kita ikuti karena hukuman itu. Sebab coba bentangkan, apa prestasi Timnas dan klub bola kita di tingkat Internasioanal? Apakah itu sekadar berada di level merayap atau bahkan tak ada sama sekali?

Biarkan hukuman-hukuman itu menjadi cermin bagi kita. Sekarang buat badan baru pengurus masa transisi persepakbolaan dalam masa latihan keras yang boleh diberi nama Macan Bola Kaki Indonesia (Mabokaki) sambil menunggu skorsing dicabut seiring terbenahinya PSSI tanpa kisruh lagi.

Setelah berhasil latihan bersama Singa, Harimau, bahkan mungkin Buaya di lapangan hijau, pemain-pemain kita yang sudah tak hanya sangar melainkan lincah-lincah memainkan si kulit putih bundar, siap sudah melibas negara dan klub mana saja yang meremehkan kita.  Pada masa itu, saatnya mata FIFA terbelalak kepada kita, Macan Sepak Bola Asia.

Jadi, buat para pelatih dan official, tak usah khawatir kehilangan pekerjaan. Para pemain seluruh klub juga tak usah risau ketika terancam jadi pengangguran hingga akhirnya memilih beralih profesi jadi penjual batu akik, atau cari sampingan di liga tarkam. Ayo Di, main bola lagi Di…..

Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
susah senang tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.