ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kutitipkan Kepadamu Pusaka Ini

Bagikan Artikel Ini:

SEANDAINYA Badan Statistik tak hanya mendata warga yang sudah punya ikatan suami-istri (kalimat singkatnya menikah) maka, secara statistik, kemungkinan warga yang masih jomblo presentasinya cuma beda tipis dengan mereka yang sudah menikah. Saya bahkan berpikir, angka itu bahkan jauh lebih tinggi dibanding yang sudah memiliki ikatan perselingkuhan pernikahan.

Tanpa perlu didebat (saya sedang tidak dalam mood inginberdebat), kita yakin bahwa kaum jomblo (belum menikah, tapi sudah punya pacar, atau tidak kedua-duanya),  sebenarnya kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Berbeda dengan pihak swasta yang selalu mengandalkan manusia-manusia jomblo. Mau bukti? Coba lihat, setiap melakukan perekrutan karyawan, perusahaan swasta selalu  mengutamakan kaum jomblo sebagai prasyarat pelamar yang masuk kategori prioritas. Masih mau membantah? Pelototilah iklan versi cetak maupun versi online terkait perekrutan tenaga kerja baru. Syaratnya adalah; belum menikah.

Ini tentu membuat kita bertanya-tanya, mengapa  demikian? Seolah-olah pihak swasta telah berlaku diskriminatif terhadap para pelamar yang berstatus menikah. Ini belum termasuk kecurigaan yang tertuju pada bos. Semacam suudzon yang mengulek-ulek dada lewat pertanyaan; kenapa harus yang belum nikah ya? Bos sebenarnya butuh karyawan atau butuh jodoh? Dan se-suudzon-suudzonnya pelamar, belum ada kejadian mereka yang merasa dirugikan akibat perlakuan diskriminatif ini, melaangkan protes. Minimal mengadu ke Dinas Tenaga Kerja atau LSM yang concern di bidang perburuhan, tanpa perlu mempraperadilankan proses perekrutan yang dinilai diskriminatif dan melanggar HAM, dengan harapan sidangnya dipimpin Hakim Sarpin. Emang perusahaan swasta itu milik nenek lu! (bukan kata Ahok).

Akhirnya kita dapat jawaban, pihak swasta menyukai mereka yang jomblo karena jomblo dipandang sebagai tenaga kerja produktif, kreatif, dan gak ribet. Alasan lainnya mungkin karena pihak perusahaan enggan rugi ketika list gaji karyawan akhirnya harus menyertakan daftar tanggungan anak, suami, atas istri misalnya. Belum lagi jika diadakan mutasi. Karyawan yang sudah bersuami maupun beristri, pasti tidak semudah itu oke-oke aja.

Setiap kepindahan pasti lebih dulu dibicarakan dengan istri ataupun suami. Pendek kata ribet. Lebih dari itu, status menikah terkadang mengancam produktivitas. Lha, iya. Memang betul. Bagaimana jika karyawan hamil, minta cuti melahirkan. Sedangkan yang laki-laki, alasan ini-itu karena istri lagi ngidam atau mengandung 9 bulan, pasti menghambat kinerja. Maka dari itu prioritas perusahaan kepada kaum jomblo selalu menguntungkan. Selain cekatan, disuruh melampaui jam kerja, atau ada tugas ekstra yang harus dilakukan, kaum jomblo merasa lebih merdeka dan tak bergantung pada siapa-siapa. Tentu dengan syarat; “Gue sih asik-asik aja selagi lu kagak nyenggol gue”. Dan untuk urusan mutasi, karyawan jomblo yang mulai bete di tempat kerja itu-itu saja, justru akan menyambut mutasi itu dengan hati girang dan dada yang momocik-mocik, sebab siapa tahu di tempat kerja baru, ada jodoh menunggu jadian.

Tapi bagaimana nasib kaum jomblo di mata pemerintah? Jawaban pendeknya adalah, suram (sekali lagi tak perlu di debat, sebab saya sedang tidak dalam mood ingin berdebat). Lihatlah contoh berikut, untuk kerja sebagai tukang jaga saja, pemerintah masih pilih kasih. Hampir tak ada sejarah dimana gedung kantor maupun sekolah pemerintah disuruh jaga sama mereka yang masih jomblo. Biasanya untuk posisi se-ecek itu, yang dipilih adalah Om-om atau Bapak-bapak yang sudah punya anak bini.  Yang sudah punya cucu malah paling disukai. Supaya bisa jadi tukang jaga hingga akhir hayatnya dan tanpa banyak protes.

Mereka malah disuruh tinggal di dalam kantor. Biasanya disediain tempat yang multifungsi; siang kantin, malamnya kamar tidur. Tentu tanpa ruang tamu. Sebab ruang kantin dengan meja kursi itulah yang ruang tamu ketika malam tiba. Lagian buat apa menerima tamu, toh tak ada pula yang bertamu. Malam adalah waktu tidur atau nonton tipi yang ditaruh di sudut kamar.

Lalu kenapa kaum jomblo selalu tersingkir untuk perkejaan se-ecek itu? Ya, mana ada kepala dinas atau kepala sekolah yang mau kantornya jadi sarang penyamun. Mereka sudah lama curiga, kalau jomblo yang jaga, tiap malam kantor bisa jadi sarang pesta para begundal dan mereka-mereka yang dituduh tak beres.

Waktu siang (jam kantor) si tukang jaga yang jomblo sok alimnya minta ampun. Dinilai lewat mimik, tutur kata, dan gestur, rekordnya bahkan mampu mengalahkan Aa Gym yang tak pernah disangka-sangka bakal memoligami istri pertamannya.

Tapi malam harinya, si tukang jaga yang jomblo dan sok alim di depan bos ini, berubah jadi semacam sosok Mick Jagger dengan Rollling Stone-nya yang berjingkrak-jibkrak di panggung konser. Tak jarang pernah ada kejadian dimana kepala dinas atau kepala sekolah pernah menemukan pembalut wanita di toilet pribadinya dan beberapa sobekan bungkus kondom di sudut ruangan. Soal botol minuman tak usah ditanya.

Hm,alangkah piciknya ya kita mereka pada kaum jomblo. Ya, sudah. Sekarang kita ngomongin soal peluang kaum jomblo dalam memajukan pariwisata.

Ini semestinya layak jadi perhatian pemerintah yang selalu remeh memajukan pariwisata. Pantas tak pernah menang dengan pihak swasta. Boro-boro menang, untuk bersaing saja sudah ngos-ngosan kok.

Revolusi Mental

Maka, revolusi mental adalah jawaban. Tapi ini bukan revolusi mental ala Jokowi-JK. Sebab terbukti, mereka gagal dalam merevolusi mental sendiri. Penolakan grasi meski terpidana merengek-rengek bahkan seorang diantaranya gila, adalah bukti bahwa Presiden belum bisa merevolusi budaya kekerasan dan kekejaman warisan Orba, yang ternyata masih tertancap kokoh dibatok kepala dan lubuk sanubarinya yang paling dalam.

Jadi, revolusi mental yang saya dimaksudkan di sini adalah revolusi mental ala Lalusala yang berstatus jomblo.

Auuhh…kok Lalusala? Bukankah Lalusala itu adalah sosok seorang begundal, kasar, sinting, orang gila, dan tak punya masa depan? Apalagi diperparah dengan status yang masih jomblo?

Hm, siapa yang bilang begitu. Revolusi mental adalah salah satu cara berpikir dari gaya kolot ke progresif-revolusioner. Bisa dikata juga out of the box. Artinya, jangan kayak katak dalam kubus tempurung.  Dan berpikirlah dengan mengkolaborasikan dua kutub dan arus pemikiran berbeda. Hasil tabrakan negatif dan positif. Semacam kelahi antara tesis dan anti tesis sehingga menghasilkan sintetis. Atau… (bagaimana ya saya menjelaskan,..??) Oh,iya. Jika Anda pernah nonton Thai Chi Master yang diperankan Jet Lee si jago Kung Fu (mudah-mudahan doski punya hubungan saudara dengan Ahok agar Haji Lulung tak macam-macam lagi), maka tak ada debat lagi diantara kita. Pendek kata, memanfaatkan kebrutalan lawan untuk kepentingan yang lebih besar dan bermanfaat.

Bagiamana caranya?

Dalam konteks ini bisa diawali dengan pemberian 2 buah danau (dulunya dibawa tata kelola Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow),  kepada Lalusala berstatus jomblo.

Kita tahu bersama bahwa Danau Tondok dan Danau Mooat, tidak pernah diurus dengan baik dan serius sejak republik ini diproklamirkan Bung Karno.

Kegagalan Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow (Pemkab Bolmong) tak perlu kita ungkit, sebab hanya akan bikin darah putih kita naik ke ubun-ubun. Saatnya move on kata Mario Lamu Teguh. Lupakan masa lalu, termasuk noda hitam dan luka-lukanya yang menganga.

Pasca mekar, 5 tahun belakangan ini Pemkab Bolmong sudah memberikan hak pengelolaannya kepada pemerintahan yang baru yakni Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Pemkab Boltim) dibawah kepemimpinan Sehan Landjar si Bupati berkumis klimis dan Medi Lensun, si Wakil Bupati berparas masih ABG. (Hehe, maaf Pak Wabup)

Kesempatan 5 tahun yang sudah dilewati, tentunya sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati pertama pilihan rakyat Boltim, perhatiannya lebih banyak tercurah ke arah penjuru kepentingan yang masih jauh basah dari danau. Maklumlah pasangan baru, di kabupaten yang baru pula belajar merangkak.

Tapi, belum terlambat. Sebentar lagi akan ada Pilkada Bupati. Danau Tondok dan Danau Mooat menunggu belaian. Sudah lama Duo Danau ini menjomblo dan jablay.

Siapapun yang terpilih nanti, ada kesempatan untuk memberi peluang (khususnya) kepada Lalusala Jomblo mengurus Duo Danau ini sehingga menjadi ikon yang bakal membahana badai di mata Natjwa dunia kepariwisataan, baik tingkat nasional maupun tingkat internasional. (Bermimpi bukan aib)

Kenapa harus kepada Lalusala Jomblo? Bukankah itu adalah wilayah kerja Dinas Pariwisata dan instansi terkait lainnya?

Hm, perlu di revolusi rupanya cara berpikir Anda yang masih direcoki status quo bin jadul yang hanya berkontribusi menutup ide kreatifitas Anda yang sebenarnya ada dalam batok kepala bulat itu.

Lalu bagaimana caranya?

Haha, jangan dulu kita bocorkan di sini. Nanti ada bakal kandidat dalam suksesi Pilkada Boltim yang akan mencontek kemudian memasukkannya kedalam bagan visi-misi, dan setali tiga utang uang dijadikan bahan kampanye dalam suksesi sehingga menggelegar dan memancing dukungan sana-sini nyaris tanpa bendung.

Lha, bukankah itu baik dan memang seharusnya begitu? Duo Danau kan milik bersama?

Ya, baik jika ada di tangan orang yang tepat. Bagaimana jika jatuh ke tangan orang yang tidak tepat?

Film Pelem silat yang biasa kita tonton di masa kanak dulu selalu memberi pelajaran, lewat adegan memilukan tatkala seorang kakek (guru yang mengajarkan silat) sedang menemui ajalnya sembari berkata dengan terbata-bata (khas pelem nasional) kepada muridnya;

“Ini, kutitipkan kepadamu pusaka ini. Uhuuk..jangan sampai jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat..uhukk..uhukk“. (Uwin Mokodongan)

Artikel lainnya klik disini

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.