ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ludah di Rumah Kopi

Bagikan Artikel Ini:

gadget

KEMAJUAN teknologi membuat bumi seperti dalam genggaman saja. Komunikasi tak kenal jarak lagi. Mengirim dan mendapatkan informasi, tak ada masalah. Tinggal buka, baca. Tinggal ketik, kirim. Tinggal jepret, sending. Uyo di Mongkkonai bisa ketemu Barbara di San Fransisco. Anu di Motongkad bisa ketemu Sergio di Mexico. Tanpa buang-buang duit tiket. Cukup bikin paket data, maka bumi dalam genggaman.

Bagi yang yang tergila-gila dengan game (online), tinggal buka aplikasi, lalu habiskanlah waktu di situ. Dari toilet di Tungoi boleh menyerang kubu lawan di Kalkuta. Asalkan punya gejet maka genggamlah dunia, rayakan hobi dan kesenangan, rayakan kemajuan.

Apalagi MUI belum memfatwakan, haram hukumnya memakai gejet karena gejet buatan orang kafir. Jadi, jangan cemas apalagi putus asa. Asal saja bukan hasil curian, gejet jauh dari dikotomi halal-horom.

Mau bukti? tengoklah fakta di lapangan; gejet disukai perempuan berhijab dan digilai perempuan you can see maupun yang hot panty. Gejet juga digilai pria plontos dan disukai pria bersorban. Dari yang cukuran hingga yang janggutan. Pokoke, gejet is the best. Produk kekinian yang bukan dosa. Coba tanya Om Jonru.  Pasti dia sepakat. Sehingga jangan heran jika gejetnya (mungkin) lebih dari empat. Hehe.

Tapi, bukan berarti kehadiran gejet tak membawa dampak pada tatanan sosial budaya komunikasi dan perilaku masyarakat penggunanya. Sepertinya muncul budaya baru yang mampu merubah (bahkan merusak) pola sikap, pola tindak, dan karakteristik berbeda yang lahir dari keberadaan gejet. Semacam ada pola interaksi dan komunikasi gaya baru yang akan berdampak pada stabilitas sosial budaya komunikasi dan pergaulan. (Hahaha..maaf jika saya sok sok-an jadi ahli perilaku sosial).

Sembari sadar, ada ahli yang lebih paham soal itu, dan bukan ranah saya untuk membahasnya karena kesadaran akan kompetensi yang terbatas, maka saya cukup membagi kisah atau pengalaman yang saya alami beberapa waktu lalu.

***

Mongondow sebagai bagian dari masyarakat bumi era gejet, tak lepas dari pengaruh itu. Gejet yang saya maksudkan di sini adalah smartphone, tablet, phabet, yang memakai sistem pad ponsel android dan ios.

Saya salut dengan kekuatan gejet yang mampu merubah ranah publik dan ruang-ruang yang dahulunya biasa dipakai sebagai ajang interaksi dan bersosialisasi, kini jadi kaku, dingin, individualis, dan tanpa emosi.

Saya tidak sedang mengambil contoh di gedung perkantoran, kampus, supermarket atau rumah makan. Tapi rumah kopi menjadi menarik untuk dibahas.

Dulu, suasana di rumah kopi sarat interaksi dan padat komunikasi; perbincangan-perbincangan hangat, hidup, dan pikuk; gelak tawa; debat; dari yang serius hingga sekadar lelucon ria; dan omongan-omongan agak cabul.

Pendek kata, rumah kopi sebagai ajang tumbuhnya komunikasi dan interaksi sosial, di era gejet suasana itu berubah jadi kaku. Tak ada debat, tak ada topik-topik hangat, yang ada hanyalah pengunjung yang duduk sambil kumudung.

Dalam bahasa Mongondow, kumudung artinya suatu keadaan yang sedang menundukkan kepala. Dalam konteks rumah kopi (sebagaimana yang hendak saya kisahkan), menundukkan kepala atau kumudung di sini, bukan berarti sebuah sikap yang menunjukan rasa hormat, segan, takluk maupun takut kepada lawan bicara. Malah kebalikan dari itu; cuek, tak peduli; acuh tak acuh; hingga terkesan menganggap remeh, karena wajah enggan lepas dari gejet.

Saya beberapa kali mengalami ini. Mulanya kehadiran rumah kopi di Kotamobagu saya sambut penuh hore, sebab tahu akan ada ruang dimana saya akan punya banyak peluang untuk sering berkumpul dengan teman-teman, sehingga tali silahturahim dan komunikasi senantiasa terbangun.

Saya membayangkan suasana Jarod di Manado, Kopi Billy, Rumah Kopi Tikala, Wanea, Samrat dan beberapa tempat di Manado yang sarat diskusi, interaksi sosial dan komunikasi yang terbangun antar pengunjung.

Ternyata dugaan saya meleset. Sebab di Kotamobagu, rumah kopi tak berfungsi untuk itu. Apalagi ada fasilitas jaringan WiFi. Akibatnya, pengunjung yang datang kemari bukan untuk berinteraksi atau bersosialisasi satu sama lain, melainkan untuk menyedot pasokan data internet gratis, sehingga pengunjung bukan eksis dalam bangunan komunikasi dan interaksi sosial, melainkan eksis bermaya-maya.

Jadilah rumah kopi sebagai ajang ber-eksis ria di jagat maya dan game online. Anda tak akan menemukan pengunjung saling bertegur sapa satu sama lain, larut dalam diskusi hangat, topik-topik terbaru dan mengembirakan, tetapi Anda akan begitu mudah menemukan orang-orang dengan keadaan sedang Kumudung alias tertunduk-tunduk di layar gejet, tak peduli orang di sekitar. Pokoknya asik dengan dunia sendiri, jagat maya, jagat gejet. Kaku, dingin, acuh tak acuh, individualis.

Tapi saya sepertinya belum kapok juga. Siang itu, sekitar 2 minggu yang lalu, saya mampir ke rumah kopi terkenal di Kotamobagu. Tujuannya adalah, selain hendak melepas lelah, menikmati kopi asli Kotamobagu adalah solusi paling damai. Saya bahkan masih menaruh harap, siapa tahu bertemu kawan-kawan lama, dan masih terbuka ruang untuk saling berkomunikasi dengan topik-topik hangat, lucu, inspiratif, bahkan yang agak cabul sedikit.

Tapi, apa yang terjadi? Tak ada saling sapa yang erat penuh sorak, kecuali senyum yang datar, dingin dan biasa-biasa saja, lalu menunduk di gejet. Tak peduli saya ada di samping di depan, atau di belakang, pokoknya muka mereka ter-kudung-kudung di layar gejet.

Saya yang akhirnya benar-benar mulai kapok, berusaha memaklumi keadaan dan mencoba menyenangkan diri dalam sunyi rumah kopi. Sama halnya dengan kawan di sebelah yang menyenangkan diri di jagat maya.

Satu-dua kawan lantas datang. Merapat di meja tempat saya berada bersama seorang kawan yang mukanya larut di layar gejet. Kawan yang baru datang ini ikut nimbrung satu meja. Sebelumnya ia menyapa kawan di samping saya. Tapi, yang disapa bersikap acuh. Gejet tetap jadi prioritas.

Saya menyeruput kopi lalu memecah kekakuan. Kawan yang baru datang rupanya tak terima dicueki. Ia menyapa lagi kawan di sebelah yang akhirnya mengangkat muka, dan sama seperti tadi; senyum simpul yang dingin dan acuh. Sesudah itu, membenamkan kembali wajahnya ke layar gejet.

Saya memesan kopi lalu mengajak bicara kawan yang baru datang. Komunikasi mengalir tapi keadaan tiba-tiba berubah 180 derajat ketika kawan ini mengajak bicara kawan yang mukanya luruh di layar gejet. Merasa tak digubris, kawan ini menepuk meja agak kuat, membuat kawan yang sedang asik bergejet ria sontak kaget. Sial bagi dia, ketika menengok, kawan yang baru datang ini menyemburkan ludah ke wajahnya; “Puihh!! ada mobacirita akang pandang enteng.”

Keributan kecil terjadi. Kami melerai. Keduanya dipisahkan.

Niat untuk berlama-lama di rumah kopi pupus sudah. Kami beranjak pulang. Di jalan sempat melewati rumah kopi lainnya. Dari jendela mobil saya menengok, dan semua yang di dalam rata-rata menundukkan kepala ke layar gejet. Kaku, dingin, individualis, acuh tak acuh, tak peduli, apatis, membosankan.

Dari peristiwa itu, setiap kali bertemu kawan yang hendak ke rumah kopi, dengan nada bercanda saya selalu mengingatkan mereka; “Hati – hati dapa ludah di sana!”

Penulis : Apriwahyudi

Copy of yudi

 

 

Orang Passi. Aktivis lingkungan yang kini jadi tukang jual mobil 

Artikel lainnya klik disini

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.