ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Pedih Rahang Bebih : Sebuah Peringatan Buat Duo “Penjahat Kelamin”

Bagikan Artikel Ini:

pacqiau

SAYA PERNAH bercita-cita menjadi seorang aktivis. Semacam menjadi orator ulung di corong megaphone sebagaimana yang pernah dilakukan kakaw-kakaw di kampung. Membela kepentingan masyarakat yang merasa dirugikan oleh kebijakan yang timpang dan menindas dari pamarentah.

Semua yang pernah melewati masa akil mochtar akil baliqh pasti pernah mengalami masa pancaroba. Semacam masa labil yang diidap remaja alay puber. Yang kalau diingat-ingat bikin tulang terasa ngilu, bulu roma berdiri, dan muka merah padam sembari jingkrak-jingkrak.

Anda tidak pernah melewati masa itu? Cuma satu kata yang pantas; Anda bohong! dan kurang bahagia. Kalau saya jujur pernah mengalaminya. Maka dari itu,  jelang kelas 3 SMA, cita-cita untuk menjadi pembela kepentingan masyarakat kampung itu,  berubah. Tiba-tiba saya ingin jadi Polisi. Seperti salah seorang kakaw di kampung. Saya sebut namanya dengan takzim, Andi Wirjawan Mokodompit. Sekarang berpangkat Brigadir dan dibelakang namanya ada SE. Perawakannya gagah. (Bukan maksud saya untuk memuji. Sebab pujian hanya umum dielu-elukan bawahan kepada atasan, anak buah kepada bos).

Di jaman itu, entah kenapa saya membayangkan, memegang pistol atau senapan laras panjang itu sepertinya keren. Jujur, motivasinya bukan untuk masuk arena perang atau aksi kejar-kejaran menangkap penjahat seperti yang biasa kita tonton di pelem (film).

Tapi ini semacam keinginan untuk gagah-gagahan. Siapa tahu banyak cewek yang bakal kepincut. Seperti ada keyakinan dalam diri saya ketika itu yang percaya, cewek-cewek di Mongondow akan mudah klepek-klepek ketemu cowok berperawakan seorang komandan yang berbadan tegap, sigap, dan six pack.

Namun dipenghujung masa jelang kelulusan SMA, keinginan itu berubah. Penyebabnya bukan karena saya tidak percaya lagi kalau menjadi polisi bakal dijauhi dedew-dedew.  Tapi terjungkal dari atas sepeda motor, kemudian terguling-guling di aspal saat mencoba jadi pembalap, membuat lengan kanan saja nyaris patah. Kondisi ini tentu menghambat cita-cita untuk menjadi seorang polisi yang secara fisik harus sehat. Akhirnya saya kembali pada cita-cita awal, yakni menjadi seorang aktivis pembela kepentingan rakyat kecil. (ehemm..cuit cuit..)

Keinginan itu beriringan dengan sebuah kesadaran yang membuat saya berpikir, kepala ini harus di isi asupan wawasan dan pengetahuan. Konon salah satu dasar untuk bisa menjadi seorang aktivis adalah, kepala harus berisi.

Maka munculah niatan ketika itu yang percaya bahwa jalan satu-satunya adalah masuk fakultas hukum atau mendaftar di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di Universitas Sam Ratulangi.

Keinginan ini ternyata mendapat kendala. Sebab untuk masuk Perguruan Tinggi, dibutuhkan biaya yang tinggi pula. Pada orang tua dibebani ongkos menyekolahkan 5 orang anak. Satu diantaranya sedang dalam persiapan Wisuda di Universitas Manado (UNIMA).

Ayah lantas menyarankan, saya boleh-boleh saja mendaftar masuk di Perguruan Tinggi asal masuk UNIMA dan mengambil program D2 jurusan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Kakak saya Samsi Dilapanga yang rampung menyelesaikan program D2 Keguruan dan berhasil lulus tes CPNS, dijadikan tolok ukur kedua orang tua. (Hm, PNS masih selalu jadi andalan orang tua).

Karena keadaan, niat untuk sekolah Hukum program S1 atau kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik program S1, pupus sudah.

Menyesuaikan keadaan, saya akhirnya mengikuti keinginan orang tua untuk mendaftar di UNIMA di Fakultas PGSD Program D2.

Tapi sebelum itu dilakukan, Murdhany Djohan alias Dhani alias Darwa, saudara sepupu atau anak laki-laki dari adik kandung Ayah saya, tiba-tiba memberi usul. Saya ditawarkan mendaftar di sekolah perawat. Namanya Akademi Keperawatan Totabuan (AKPER) Kotamobagu. Ketika itu AKPER baru saja beridir dan membuka pendaftaran angkatan pertama.

Kepada Dhani yang akrab pula disapa Darwa, saya sempat bertanya, kenapa saya harus masuk sekolah perawat? Anehnya, entah bagaimana jalan ceritanya, keesokan harinya, kedua orang tua saya tiba-tiba mengusulkan hal sama dan menyetujuinya. Pertanyaan yang sama saya lontarkan,  “kenapa saya harus masuk sekolah perawat?”. Alasan yang masih mengiang di telinga saya hingga kini adalah, saya punya bakat menjadi perawat. Dan entah, itu dipatok dari sudut mana.

Singkat cerita saya masuk dan di terima. Perasaan gagal karena tidak bisa mengikuti kemauan lanjut studi Perguruan Tinggi di Ibukota Propinsi Sulawesi Utara (Manado), membuat saya harus mencari-cari alasan yang sesuai dan bisa diterima akal (minimal sebagai hiburan), soal kenapa saya harus lanjut studi di sekolah lokal, di akademi keperawatan, yang gedung kuliahnya biasa-biasa saja, akreditasi yang dipertanyakan orang-orang iri, dan penilaian-penilaian negatif lainnya. (Sekarang AKPER makin maju coy)

Di masa-masa yang penuh transisi itu, jawaban akhirnya datang dari hasil perenungan yang hampir membuat saya patah semangat. Jawaban itu adalah, saya harus merubah cara pandang orang Mongondow terutama anak-anak yang baru lulus SMA, terkait perkara di mana tempat untuk melanjutkan studi setelah lulus SMA. Dan pilihan itu adalah, Mongondow.

Saya berpikir, jika ada 2.000 siswa lulus SMA/SMK se-Bolaang Mongondow Raya (Kotamobagu, Bolmong, Boltim, Bolmut, dan Bolsel), yang keluar daerah, ambil contoh kuliah di Manado, maka ada berapa miliar uang keluar kantong Mongondow dan masuk kantong Manado? Bayangkan jika rata-rata kuliah 4 tahun lamanya. Belum termasuk ongkos tinggal(indekos), makan, mall, studio 21, dan lain-lain.

Maka dapat saya simpulkan bahwa saya kuliah di AKPER sekalian sebagai bentuk perlawanan terhadap cara pandang dan cara pikir orang Mongondow terhadap pendidikan (luar dan dalam).

Hm, memang adalah kekebasan tiap anak dan orang tua Mongondow, kemana menyekolahkan anak. Tapi kita tidak bisa memungkiri, semacam ada mindset tertanam dalam pikiran banyak orang (termasuk orang Mongondow) yang mengatakan, semakin jauh tempat kuliah semakin tinggi ilmu yang di dapat. Maka dari itu muncul pula semacam anekdot, semakin jauh menyekolahkan anak, semakin jauh pula kontrol itu hilang terhadap mereka. Membuat saya ingat Didin Ulaan sejak dia bekerja sebagai staf administrasi PPIP dan PNMP. “Apa yang kau lakukan di belakangku….di belakangku….dibelakangku..” Demikian suara serak-serak berlendir  dari Ariel Peterpen yang senantiasa di setel doski dari aplikasi Winamp jadul. Secara doski fans berat coy sama Peterpan.

Tapi tak usah simpan di hati. Apa yang saya ungkapkan di atas, hanyalah bentuk kecemburuan negatif dan rasa iri terhadap teman-teman sebaya yang punya kesempatan kuliah di luar. Meski saya tetap akan mengatakan, kuliah jauh-jauh di luar, bukan jaminan kecerdasan. Apalagi mereka yang ketika mengenyam pendidikan di luar, tiba-tiba sok-sok-an bicara mengkritisi pendidikan di daerah sendiri yang dianggap terkebelakang. Kepada mereka itu saya hendak mengatakan, bagaimana ente-ente mau memajukan pendidikan di daerah sendiri ketika semua ente-ente keluar daerah. Padahal ada Universitas di sini. Ada sekolah tinggi, ada akademi, dan ada tempat kursus mengemudi. Dan siapa anak Mongondow yang pernah kuliah di Harvard atau di Universitas Leiden? Cuma Sigidad mungkin yang hingga kini masih menyimpan ambisinya ke Harvard, meski saat ini tengah dalam “rantau” di negeri utara, Bolmut. (hello seigidad, how are you? prekk!!)

Nah, akhirnya saya ingat Kristianto Galuwo alias Sigidad dan Murdani Djohan alias Dhani alias Darwa. Dan kepada mereka berdualah sebenarnya tulisan yang dieditori Katz ini hendak saya tuju.

Sebenarnya ini agak pribadi. Tapi hal-hal pribadi di jaman edan ini sepertinya tak ada nilai lagi. Tidakkah kita menyadari, hampir tiap saat kita sebenarnya melakukan hal-hal yang sifatnya pribadi namun sejak ditemukannya facebook, twitter, path, dan terutama lagi aplikasi blackberry messenger, hal-hal yang sifatnya privasi itu sudah terkoyak-koyak. Aktivitas di dalam kamar saja kita unggah ke medsos. Berak pun demikian. Bahkan ketika saling cekik dengan pacar, bini, laki, dan selingkuhan pun jadi menu terlahap. Tak usah ditanya pula soal pesta miras. Minum jam segini, sepersekian detik kemudian, atasan tiba-tiba menelfon; “oh,lagi miras rupanya ya?”. Nah, ini karena apa? Karena hal-hal yang sebenarnya kita anggap privasi, belum tentu dianggap demikian oleh orang lain yang usil memotret dan bikin display picture. Sudah itu merasa tak ada beban, dan tanpa perasaan bersalah. Bahkan yang tersial adalah, tanpa konfirmasi, langsung mengunggah ke medsos. Peh, sial!

Jadi apa yang hendak saya utarakan kepada kedua bro-bro ini? Mereka berdua inilah penjahat kelamin dan sudah menyentuh pada level akut. Semacam ada kesenangan aneh dan amat sepihak yang mereka rasakan ketika merasa berhasil mengaburkan istilah yang mengidentifikasi mana sebutan untuk laki-laki dan mana untuk perempuan. Mereka berdua ini kurangajar. Totok no kurangngajar in kai Mongondow.

Semua orang tahu, di sini, ada kebiasaan yang memanggil perawat perempuan dengan sebutan Ses, dan perawat laki-laki sebagai Brur. Tapi kedua bro ini rupanya memang tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Jika alasannya adalah yang ketiga, yakni tahu tapi pura-pura tidak tahu, maka lama-lama mereka akan berkenalan dengan kepalan tangan saya. Jika ternyata mereka adalah yang pura-pura tidak tahu, maka lama-lama hadiah untuk mereka adalah huk kiri. Jika mereka memang tidak tahu, maka tinju kiri kanan sebagaimana yang sering disarangkan Manny Pacquiao, lama-lama akan mendarat dikedua pipi atau rahang kalian sebelah-menyebelah.

Di banyak kesempatan, sebenarnya saya sudah sering memperingatkan mereka berdua. Tapi toleransi yang masih saya lakoni, rupanya tak membuat mereka tahu diri dan kapok. Tapi dari pada main tangan berbuntut kekerasan yang akan membuat mereka pulang ke rumah sembari merengek-rengek setelah satu gigi saya rontokan, saya mencoba bersabar dan akhirnya berpikir bahwa, mereka ternyata bukan penjahat kelamin yang ahli merekayasa jenis kelamin orang dengan cara melakukan pembalikkan istilah . Tapi mereka inilah contoh kesesatan pikir sejak mereka belum bergaul hingga bisa tembus Bolsel dan sekarang Bolmut. Mereka pikir, perawat itu hanya dilakoni kaum perempuan. Maka dari itu, mereka terheran-heran ketika saya kuliah di AKPER TOTABUAN kemudian lulus, masuk CPNS, lulus, dan sekarang bekerja sebagai tenaga kesehatan PNS di Puskesmas. Dipikirnya, AKPER itu hanya dihuni para gadis. Dan semenjak saya masuk AKPER, dimulailah istilah Ses kepada saya.

Akhirnya saya juga tahu bahwa Darwa jugalah yang terlibat dalam agitasi-propaganda yang ia sebarkan kepada orang tua saya supaya mengusulkan saya mendaftar di AKPER. Baru saya sadar, Darwa yang sebenarnya sudah terkenal sebagai manusia gokil sekampung Passi (telah banyak korban), rupanya berpikir, mengusulkan saya masuk AKPER adalah lelucon lucu. Dipikirnya, cuma anak-anak gadis yang mendaftar di AKPER.

Ya, sudah. Karena kalian tidak kapok-kapok saya ingatkan, dan tetap merasa asik (keasyikan yang mengandung kesesatan) memanggil saya dengan sebutan Ses Rully (disegala tempat), maka kesempatan baik yang diberikan Arus Utara ini, saya jadikan sebagai surat terbuka untuk kalian berdua. Jika belum kapok lagi, maka jangan salahkan saya ketika akhirnya kalian akan bernyanyi : pedih rahang bebih..rahang bebih..rahang bebih….aw a’au. Ingat, Pacman mengajarkan itu!

Penulis : Rully Dilapanga

Editor : Katz

rully
Gagal jadi aktivis, gagal jadi polisi, gagal jadi pembalap, nasib malah membawa dia jadi PNS

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.