ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Rp 13 Untuk Generasi Muda

Bagikan Artikel Ini:

SEJAK dulu, bahkan jauh sebelum Bang Haji Roma Irama berkelana dengan gitar tuanya, pemerintah sepertinya kurang kreatif bermain kata atau mencari alasan yang lebih “jujur” atau setidaknmya berbeda, terkait perang melawan narkotika. (belakangan jadi narkoba = narkotika dan obat-obatan berbahaya).

Alasan yang umum disumpalkan ke kita adalah; demi menyelamatkan kehidupan generasi muda; sebab masa depan bangsa ada di tangan generasi muda; mereka (generasi muda) adalah ujung tombak bangsa yang harus diselamatkan; jika generasi muda rusak, maka rusak pulalah bangsa dan negara.

Dan itu sudah berulang-ulang didendangkan. Anehnya, kita belum juga bosan mendengarkannya. Tidaklah berlebihan jika alasan itu setara dengan Begadang atau Mirasantika-nya Bang Haji Rhoma, yang tak lengkang oleh waktu. Selalu hidup di telinga masyarakat. Tua hingga muda.

Tulisan ini anggap semacam alat ukur; sejauh mana sebenarnya kepedulian pemerintah/negara terhadap generasi muda, hingga nekat melakukan pembunuhan terhadap manusia-manusia terpidana kasus narkoba, dengan mengatas-namakan kepedulian terhadap kelangsungan HIDUP dan MASA DEPAN generasi muda.

Betulkah demikian adanya? Pemuda telah ditempatkan pemerintah/negara di tempat yang begitu spesial dan mulia? Ingat, penerus masa depan bangsa lho ceritanya.

Maka, mari kita tes kadar kepedulian itu dengan matematika. Apalagi kita percaya bahwa matematika adalah ilmu pasti yang tak bisa dikadal-kadalin seperti ilmu politik. Apalagi kita juga tahu kalau pemerintah suka bermain angka. Tengoklah kebiasaan menyumpal nalar kita dengan teror angka-angka itu macam begini ; 51.000 generasi muda mampus tiap tahun gara-gara narkoba. Atau 50 orang mati tiap hari gara-gara barang yang sama.

***

Ada banyak cara menguji kadar kepedulian pemerintah terhadap generasi muda yang diposisikan sebagai penerus masa depan bangsa. Tapi ini ada cara yang cukup sederhana.

Mulailah dari desa atau tempat dimana kita tinggal. Coba cek, program pemerintah apa yang sedang dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda. Ada tidak? Jika ada, maka program apa itu? Bagaimana bentuknya? Kalau tidak ada, mengapa menaruh percaya bahwa negara/pemerintah benar-benar peduli terhadap kehidupan generasi muda sampe nekat membunuh para terpidana narkotika.

Jika program kepedulian terhadap generasi muda itu ada di kampung Anda tinggal, maka program apa itu? Berapa besar dananya? Rp 2 juta, 3 juta, atau 4 juta?

Baik. Saya mengambil contoh salah satu desa yang ada di Kabupaten Bolaang Mongondow. Sesuai data yang ada, pemerintah mengalokasikan dana untuk pemuda, sebesar Rp 2,5 juta per tahun. Dana ini adalah salah satu bentuk kepedulian negara terhadap kehidupan generasi muda yang di tiap desa jumlahnya berada dihitungan (rata-rata) 500 pemuda per desa.

Kita lantas bertanya, buat apa dana Rp 2,5 juta per tahun itu? Jika Rp 2,5 juta itu dibagi rata untuk 500 pemuda, maka Rp 2.500.000 : 500 pemuda = Rp. 5.000 per pemuda.

Jadi ada Rp. 5000 di setiap kantong 500 pemuda yang diberikan negara sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang agar tidak merusak dirinya dengan cara membeli dan menjadi pecandu narkotika.

Selanjutnya, uang yang tak cukup beli pulsa, apalagi sepiring nasi inipun harus dihemat untuk dibelanjakan selama selama 1 tahun atau 12 bulan atau 365 hari.

Jika pemuda yang dapat dana kasih sayang dari pemerintah/negara sebesar Rp. 5.000 per tahun harus menghemat uang tersebut, maka berapa nominal per hari yang harus dibelanjakan? Supaya uang kepedulian ini dapat bertahan selama 365 hari (1 tahun)?

Mari ambil kalkulator dan hitung, 5.000 : 365 = 13,69XXXXXX…. (benar-benar angka sial men!)

Masya Allah, apa yang dapat dibeli dengan Rp 13 itu? Sungguh sebuah pelecehan. Bayangkan bro, pewaris dan penerus masa depan bangsa dikasih 13 rupiah per hari. Preek!

Bagaimana pula kalau jumlah pemuda di kampung lebih dari 500 orang? Segera lempar kalkulator ditanganmu itu sebelum minus 4,5 atau 0xxxxxxxxx muncul di layar dan membuatmu tak berselera untuk sekedar gosok gigi. Jangan sampai Rp 13 atau minus 4,5 atau 0,00 itu akan membuat asam lambungmu naik hingga engkau benar-benar punya niat bunuh diri, atau dengan terpaksa mencari pelarian atas tragedi yang baru kau sadari itu. Menjerumuskan diri ke lembah hitam, misalnya. Semacam jadi begal motor paling brutal atau pecandu lem Ehabond kelas tengik.

Lalu, kenapa pemerintah dan aktivis-aktivis pendukung hukuman mati, betapa tidak tahu malunya mengumbar bacot di media massa, yang secara berulang-ulang dan kompak (seperti dihafal) mengatakan; “Ini demi keselamatan generasi muda selaku pewaris masa depan bangsa”.

Negara macam apa yang menganggap generasi muda sebagai penentu masa depan bangsa, tetapi menelantarkannya dan hanya mampu memberikan Rp 13 untuk biaya hidup sehari atau Rp. 5.000 per tahun?

Saatnya pemerintah dan ksatria-ksatria pejuang anti narkoba pendukung hukuman mati, mencari alasan yang lebih kreatif, supaya tak pekak di telinga.

Oh, ya. Boleh tahu 50 nama generasi muda yang mati siang tadi, yang mati besok, dan 50 nama yang akan mati lusa, dan seterusnya, dan seterusnya, hingga mencapai 51.000 di penghujung tahun 2015.

Boleh juga minta data, dari nama-nama itu, mana yang mati karena Heroin, Kokain, dan Morfin? Begitupun yang mati karena Psikotropika (Shabu, Inex) dan yang mati karena THC (Ganja). Ini penting sebab, Narkotika bukan Psikotropika, sama halnya dengan Kopi bukan Teh, dan Teh bukan Coca-Cola. Tak mesti digeneralisir. Selanjutnya, untuk yang mati karena minum racun serangga, pembasmi kuman, anti nyamuk dan lain-lain, tak usah dihitung. Toh zat-zat mematikan yang legal dan dijual bebas itu tak masuk hitungan sebab bukan narkotika.

Dan terakhir, kepada para ksatria anti narkoba, jangan pernah mundur dan pantang tuk menyerah. Tetaplah berdiri di garis depan sebagai ksatria anti narkoba yang mendukung hukuman bunuh. Urusan dosa belakangan. Toh ada Tuhan yang nanti mengadili. Tak usah pula percaya karma. Namun sebaiknya, jadilah ksatria pejuang anti narkoba yang nalarnya tegak, tidak kalap di ruang gelap, dan terutama tak mempertontonkan kegoblokan yang mengandung rasa iba orang-orang yang terasah falsafah.

Ah, tuh kan. Sekarang kalian menuduh saya sebagai pendukung peredaran narkoba di negeri ini. Membantu para bandar, kurir, pengedar dan pengguna narkoba.  Hehe, padahal yang betul itu, saya sekedar iseng membantu supaya nalar kita tetap sehat. (Uwin Mokodongan)

ARTIKEL TERKAIT :

1. Kisah Zainal, Terrpidana Hukuman Mati

2. Surat Untuk Bapak **** ***** Usai Eksekusi

3. Mary Jane Selamat Dari Eksekusi

4. Untukmu Mary Jane Veloso

5. Menunggu Mati Dibunuh

6. Jelang Eksekusi Mati

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *