ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Semacam Taman Tanpa Rencana

Bagikan Artikel Ini:

taman gelora

SEJAK ribuan tahun lalu, membangun taman, tugu, monumen dan sejenisnya, sudah dilakukan umat manusia. Maksud dan tujuannya bisa berbeda-beda. Begitupun alasan dan motivasi yang melatar-belakangi pembangunan itu. Dari kepentingan kepercayaan, simbol kekuasaan, sekedar untuk pamer dan adu gengsi, bahkan bukan tak ada yang dibangun sebagai pemulus modus demi kesenangan pribadi.

Tak usah kita singgung kisah yang melatar-belakangi pembangunan 1001 candi. Boleh dong milih-milih contoh kasus. Sama seperti p*lisi aparat hukum (oknum maksudnya) yang lihai dalam memilah-pilah, mana kasus maling sendal tetangga dan mana kasus maling duit rakyat.

Baik. Fokus lagi ke soal pembangunan taman atau tugu dan monumen.

Orang memang akan melakukan berbagai cara untuk menyenangkan orang lain. Contohnya suami kepada istri (atau sebaliknya), atasan kepada bawahan, raja kepada permaisuri, bupati kepada rakyatnya, atau walikota kepada warganya.

Sekarang mari kita berekreasi barang sebentar ke suatu tempat di abad ke-15. Pada kehidupan seorang sultan di negeri India yang membangun monumen cinta paling terkenal di dunia.

Taj Mahal. Ya, itulah nama monumen yang dibangun sang sultan bernama Mughal Shah Janan di Agra India. Monumen cinta yang dijadikan sebagai moseleum untuk isterinya, perempuan bernama Mumtaz Mahal dari Persia.

Selanjutnya mari kita bergerak ke Pulau Sumatra. Masih di abad yang sama, seolah tak mau kalah dengan Mughal Shah Jahan dari Agra India,  seorang sultan yang paling berkuasa di ujung Barat Pulau Sumatera ketika itu, ikut membangun sebuah monumen cinta yang dikenal dengan nama Taman Ghairah.

taman gairah2
Taman Ghairah peninggalan Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Kesultanan Aceh pada tahun 1607-1636

Terdapat sebuah bangunan putih yang disebut Gunongan dan Pinto Khob di tengah taman. Sultan Iskandar Muda yang membangunnya. Dia berkuasa sejak tahun 1607-1636. Atau di masa-masa kejayaan Kerajaan Aceh yang sangat disegani di kawasan Selat Malaka.

Taman yang dibangun pada abad ke-15 itu dipersembahkan kepada selirnya yang cantik bernama Putroe Phang (Putri Pahang). Ada bangunan berwarna putih yang dibangun di tengah taman, di antara sungai. Sebuah taman yang indah berumur hampir 500 tahun yang hingga kini keindahan dan kekuatannya senantiasa terjaga.

Terdapat beberapa gundukan batu berwarna putih di pinggir Sungai (krueng) Daroy Banda Aceh. Pun pepohonan nan rindang yang membuat suasana begitu nyaman.

Taman ini ada di pusat Kota Banda Aceh. Senantiasa menjadi pilihan warga, mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek. Di depan Pinto Khob itu, terdapat kolam kecil. Anak-anak biasa memancing di situ. Sebuah taman yang jadi ruang rekreasi dan hiburan warga kota.

Di dalam taman ini, di sebuah bangunan berwarna putih yang terbuat dari kapur, tertulis kisah berdirinya bangunan. Terdapat sebuah lorong di situ yang menurut kisah sebagaimana yang tertulis di pintu masuk, merupakan gerbang menuju ke taman ghairah. Putri Pahang biasa melintasinya selepas mandi di Sungai Daroy. Ia akan berjalan menelusuri lorong dan berganti pakaian dalam bangunan yang terbuat dari batu berwarna putih sebelum melewati bagian dalam istana sultan. Ini taman yang disediakan untuk para selir dan dendayang. Hm,pantas namanya Taman Gairah.

Intinya semua tugu, monumen, dan taman yang di bangun di abad ke 15 atau 500 tahun lalu itu, sangat terencana. Arsiteknya pasti orang-orang cerdas, berdedikasi, dan tahu betul bagaimana harus membuat sebuah taman. Sungguh sebuah taman yang memang menggairahkan.

Di dunia ini, masih ada banyak tugu, monumen, dan taman made in 500 tahun silam, yang selain kokoh nilai estetikanya tetap terjaga dan pantas dikisahkan di sini. Tapi sudahlah. Semua hanya bikin rasa iri kita terus terpupuk dan hanya berkontribusi memberi maki pada diri kita sendiri yang hidup pada era dimana dunia terang benderang. Tapi apa yang terjadi,  kita menemu tugu, monumen, dan taman yang dibuat seenaknya saja; perencanaan yang gagal, perhitungan yang seenaknya saja, dan (paling utama) lokasi dan nilai estetika yang dikesampingan, sehingga hanya pantas untuk dibuli sebuli-bulinya.

Mau contoh? Merapatlah sebentar ke Gelora Ambang (Hm,lagi-lagi saya harus mendesahkan resah untuk stadion ini) dan perhatikanlah bagaimana sebuah taman dengan anggaran 967 juta hampir 1 milyar itu dibangun.

Di jaman pentium, quantum, 4G, gadget, android dan Ios, insinyur-insinyur kita bukan saja jauh tertinggal berabad-abad ke belakang pada hitungan 500 tahun, melainkan 2.000 tahun di belakang Sultan Iskandar Muda dan para tukangnya ketika itu. Tentu saja kalah 2.000 tahun ke belakang pula dengan orang-orang di jaman Mughal Shah Janan.

Tak percaya? Silahkan jalan-jalan ke  Stadion Gelora Ambang dan saksikan sendiri. Pahami dengan akal sehat; kenapa taman itu di bangun di situ, apa yang melatar-belakanginya, dibuat untuk siapa, kenapa untuk membuat kakus saja tidak becus, dan…… hm, silahkan teruskan. Saya hanya sedang dalam keadaan tidak ingin menjadi tukang maki dan pembuli di sini. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.