ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Suamiku Bukan Dukun Santet (1)

Bagikan Artikel Ini:

Tieng Paputungan

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Tieng Paputungan (42), istri mendiang Janna Modeong (45), ketika ditemui wartawan Arus Utara, Selasa 12 April 2015, sore tadi, menyampaikan, mendiang suaminya yang menjadi korban pembunuhan sadis oleh pelaku HP (43) alias Han, bukanlah seorang dukun santet sebagaimana yang disangkakan.

“Ka asik au ah, kibuloyku nion intau bi’ biasa. Deman bi’ mongonggaing na’ beresi pinopo sangka inta nomatoy nion au,” (Kasihan, suamiku ini hanya manusia biasa. Dia bukan tukang santet seperti yang disangkakan orang yang membunuhnya). Ungkap ibu dua anak ini dengan bahasa setempat.

Ada tangis tertahan dari balik tenggorokannya. Seperti berusaha tegar di depan wartawan meski matanya yang masih sembab tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Aluang atau kain berwarna putih tanda kabung yang merupakan tradisi kedukaan orang suku Mongondow, nampak terselempang di lehernya.

“Suami saya hanya seorang petani nenas. Bukan dukun santet. Dia orang baik. Hasil dari berjualan nenas itulah yang dipakai menafkahi kebutuhan keluarga kami sehari-hari. Saya tak pernah menyangka orang sebaik dia dibunuh dengan kejam,” tuturnya kemudian.

Tak jarang Tieng diam terpaku di tengah wawancara. Mungkin terkenang suaminya. Raut kesedihan dan rona duka mendalam masih tergambar diwajahnya.

“Saya sangat kehilangan. Tak pernah terbayangkan akan terjadi peristiwa seperti ini,” ungkapnya sembari tertunduk.

Selain dikenal sebagai orang baik yang tidak pernah tersandung kasus apapun selama di kampung, korban sebagaimana dituturkan Tieng yang didampingi anggota keluarganya, dikenal agak pemalu dan sedikit pendiam. Meski demikian, tiap ada hajatan sosial di kampung, korban yang lebih banyak meluangkan harinya di kebun nenas, menyempatkan diri hadir bergotong-royong dan saling bersosialisasi dengan warga. Dalam bahasa Mongondow dikenal dengan sebutan motonggolipu’ alias bermasyarakat. Termasuk pada hari jelang dia terbunuh.

“Saya dan suami saya sama-sama ikut baku-tulung (gotong-royong) persiapan duka 3 malam di rumah tetangga yang hanya bersebelahan dengan rumah kami,” tutur Tieng mengisahkan.

“Saya tidak menyangka, almarhum yang ikut bantu-bantu di dapur, tega dihabisi tuan rumah ahli duka yang sedang dibantu. Suami saya yang tidak tahu apa-apa justru dituduh sebagai penyebab kematian anggota keluarga para ahli duka,” kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Suami saya bukan dukun santet. Dia orang baik. Hanya seorang petani yang berusaha menghidupi keluarganya yang susah,” keluhnya.

Anggota keluarga Tieng yang ikut mendampinginya ikut berbicara,  “Selain dikenal baik, almarhum memang agak pemalu dan sedikit pendiam. Kami tak pernah menduga, orang baik dan pendiam seperti almarhum harus pergi dengan cara sadis,” tutur mereka.

Diberitahkuan pula oleh E.Paputungan selaku mertua almarhum, selain bertani nenas, korban juga merupakan anggota Usaha Tani Mongkonai yang dipimpin Tuleng Lambe alias Papa Anggi yang bergerak dibidang jasa pendirian tenda atau los dalam bahasa setempat.

“Terkadang kalau ada orderan pesta kawin,  almarhum diajak serta bikin los sebab dia adalah salah satu anggota dalam usaha itu. sehingga dia juga mendapat sedikit penghasilan dari situ,” tutur Paputungan.

Almarhum Janna Modeong, disemayamkan di rumah mertuanya yang berjarak sekira 100 meter dari rumahnya. Almarhum dimakamkan di TPU Mongkonai, Sabtu 8 Mei 2015, sore hari setelah peristiwa naas itu.

Disemayamkannya almarhum di rumah mertuanya, sudah berdasarkan kesepakatan antara pihak pemerintah setempat, keluarga, dan kepolisian. Hal tersebut dilakukan mengingat rumah almarhum hanya bersebelahan dengan rumah pelaku.

“Kami mungkin orang susah, lemah, dan bodoh sehingga anggota keluarga kami tega diperlakukan tak manusiawi begitu,” keluh keluarga korban. Mereka juga mengaku telah menaruh harapan besar ke pundak para penegak hukum agar dapat memberikan ganjaran seberat-beratnya kepada pelaku sebagai hukuman atas perbuatannya.

Pihak keluarga juga mengaku tak habis pikir, setelah pelaku membunuh korban, masih tega pula mengiris kepalanya pisah dari badan, kemudian ditenteng sejak dari belakang dapur, menelusuri sepanjang lorong, pergi ke jalan raya, dan mempertontonkannya kepada khalayak ramai.

“Kasihan anak ini (menunjuk bocah kelas 4 SD) yang sempat melihat langsung kejadian itu di dapur dan hampir saja ikut jadi korban,” kata salah seorang anggota keluarga Tieng.(Oksa/Uwin) ->page2

BERITA TERKAIT :

1. Suamiku Bukan Dukun Santet (2)

2.Isu Santet Picu Pembunuhan di Mongkonai

3. Logika Mistika

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.