ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Tes Komix

Bagikan Artikel Ini:

NARKOBA

ISU Narkoba masih selalu laku diributkan semenjak republik ini memiliki BNN (Badan Narkotika Nasional) dan anak-pinaknya yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.

Apalagi, berdasarkan laporan BNN, tiap hari ada 50 generasi muda mati gara-gara narkoba. Yang berarti pula, saat tulisan ini sedang diketik, ada 50 orang pemuda yang sedang dikubur.

Benar tidaknya laporan itu, pasti kita sepakat kalau hal itu adalah sesuatu yang mengerikan. Sehingga memusuhi narkoba sepertinya adalah tindakan wajib dibanding memusuhi rokok atau makanan-makanan berlemak dan mengandung kolestrol tinggi pemicu serangan jantung.

M Nasir, selaku Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, setelah merasa beruntung dipanggil Jokowi masuk kabinet, bulan Maret kemarin,  punya rencana baru. Dia mengusulkan, dalam rangka memberantas peredaran narkoba di kalangan remaja, terutama mahasiswa, maka kementerian yang dipimpinnya akan mengeluarkan peraturan tes narkoba bagi setiap pelajar yang hendak masuk perguruan tinggi.

Tentu ini pantas didukung. Sebab siapa yang mau, bangku perguruan tinggi kita diduduki mahasiswa-mahasiswi yang positif narkoba.

Namun demikian, untuk di wilayah Bolaang Mongondow Raya (Kotamobagu, Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut) saya punya pendapat berbeda. Ini semata-mata soal efisiensi anggaran. Semacam itikad baik untuk mencegah kemubasiran dana. Jangan sampai rencana itu sebenarnya justru merupakan hasil main mata dengan pihak ketiga. Semacam bermuatan proyek pengadaan belaka.

Pertanyaan saya adalah, pertama : berdasarkan data BNN, BNP atau BNK setempat (Kotamobagu, Bolmong, Boltim, Bolsel, Bolmut), kira-kira ada berapa remaja positif narkoba dan yang mati setiap harinya berapa?

Kedua, di Bolsel, Bolmut, dan Boltim misalnya, apa sudah ada BNK disana? Jika ada, maka berapa data remaja pemakai narkoba di tiga kabupaten itu? Remaja pemakai Heroin atau Kokain misalnya. Untuk data angka kematian karena Heroin, Kokain, atau Shabu dan Ganja, sudah sewajibnya ada. Begitupun di Kotamobagu dan Bolmong.

Kenapa efisiensi anggaran?

Alat pendeteksi narkoba itu bukan barang gratis.  Selain tidak gratis, harganya juga mahal.  Jika setiap 1 kabupaten/kota yang ada di Bolaang Mongondow Raya (BMR), punya 500 calon mahasiswa baru (perhitungan terendah), berarti dari 5 kabupaten/kota yang ada di BMR, terdapat 2.500 calon mahasiswa. Ini berarti diperlukan 2.500 alat pendeteksi narkoba yang harus diadakan. Maka, coba kalikan dengan Rp 800 ribu? Dapat Rp 2 Milyar bukan? Dan itu hanya digunakan sekali test.

Bayangkan jika hasilnya negatif? Oh, tidak mungkin? Baik. Anggap saja begitu. Sekarang kita berdamai dan sepakat menganggap ada separuh yang positif (meski ini adalah perhitungan sewenang-wenang), terus apa yang akan dilakukan? Memenjarakan 1.250 orang? Tidak juga bukan? Sebab pengguna yang terdeteksi tidak bisa dipenjara.  Lantas mau diapakan? Direhab? Pak Menteri belum ada jawaban mendetail soal ini.

Sekarang bayangkan jika Rp 2 Milyar ini dialokasikan untuk pembangunan di bidang pertanian. Ah,sudah terlalu mainstream ya. Kalau begitu, kita coba Rp 2 Milyar ini dibagi rata ke 5 kabupaten di BMR, dimana setiap kabupaten menerima  Rp 400 juta. Lebih mantap kayaknya dibangun gedung Futzal lengkap dengan fasilitas cabang olahraga lainnya didalam semisal tenis meja, bulu tangkis, takraw, dan catur. Ini mungkin lebih baik, berguna, dan bermanfaat, ketimbang sekali tes dan Rp 2 Milyar melayang.

Tapi ada yang lupa disisipkan. Jika tetap dipaksakan untuk menghabiskan Rp 2 Milyar sekali pakai, dibanding pembangunan fasilitas Futzal yang menyehatkan remaja,  saya usul, sebaiknya untuk di BMR, ada tes zat Komix. Itu lho, puyer batuk yang biasa dipake dedew-dedew untuk mabuk.

Kalau untuk ini, saya yakin  akan ada banyak calon mahasiswa dan mahasiswi yang terdeteksi. Tapi masalahnya, ada tidak, alat pendeteksi Komix? Kementerian mungkin perlu mengadakannya lewat anggaran berikut.

Delianto Bengga

dekianto bengga
menulis dikala mood, main catur tak kenal mood, gagal berhenti merokok

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *