ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Titip Duka Kami Atas Kepergian Bagus

Bagikan Artikel Ini:

Bagus dan Lin

IBUNYA perempuan tangguh. Kami akrab menyapanya Lince. Putranya adalah bocah hitam legam. Usianya masih lima tahun saat kutemui melincah  di tanah lapang Elang Taruna EroPassi. Matahari menggerayangi tubuh mungil bocah itu hingga keringat mengucur. Bagus namanya.

Waktu berjalan. Rumah tangga Lince di ambang perceraian. Ombak memecah bahtera hingga oleng kemudian karam. Membuat Bagus  bimbang. Mau ikut Ayah atau Ibu. Namun kasih Ibu menerangi jalan yang  dia tapaki. Lince membesarkannya penuh cinta setelah perceraian.

Meski  kami tengah berserak tawa dan mengunyah embun malam di bawah pohon tome-tome, Lince melesat cepat menuju rumah saat Bagus menangis dan mencarinya.

Waktu berjalan lagi. Bagus besar di Eropassi dengan gigi putih bersih yang berderet rapi.

“Biar saki, tetap musti gosok gigi,” tutur Lince. Aku mendengarnya saat berkesempatan mengunjungi Bagus yang sedang dirawat di rumah sakit, dua bulan silam. HB-nya sangat rendah. Wajah hitamnya memucat. Tapi senyum dan deretan gigi putih, masih di sana.

Kabar meninggalnya Bagus, kuketahui lewat recent update dan status BBM yang dibuat list kontak teman-teman di kampung.  Inalillahi, dada kutepuk-tepuk. Jauh di Bolmut, tak sempat bersua  tangis dengan ibunnya. Tak disangka, Bagus yang tumbuh besar dengan fisik yang tampak setangguh ibunya, begitu cepat berpulang.

Tubuhnya yang atletis sebab Bagus gemar berolahraga, kini terbujur kaku. Sepakbola adalah masa depannya. Dia begitu gesit berlari menjemput bola dan menggiringnya ke gawang, hingga terdengar riuh teriakan GOLLL…..!!!! Bagus selalu menjadi harapan klub yang ia perkuat. Tak hanya saat laga tarung antar desa dan sekolah yang pernah diikuti. Dia adalah juara di lapangan hijau.

“Pokoknya main bola sampe di Jakarta sana,” terang kilatan mata Lince saat itu.

Harap itu karam di hari Kamis yang penuh tangis. Foto-foto hanya bisa kupandangi di facebook dan BBM. Lince yang tangguh kini luluh lantak. Mata bengkak dan…. Ah, aku tahu seperti apa Lince meluapkan sedihnya.

Meski masih memiliki putra kedua, dipernikahannya yang kedua, Duta masih begitu belia. Sedangkan Bagus adalah guardian-nya. Masih menunggu lama, untuk Duta tumbuh remaja.

Kedua putranya ini berdarah Jawa, dari dua bapak yang berbeda. Tapi lahir dari satu perempuan yang telah mencecap ribuan luka, suka, dan duka, yang telah mengelilingi Nusantara.

Turut berduka cita dari kami Eropassi. Kami tahu sebesar apa sedihmu Lince. Namun kami pun tahu, setangguh apa dirimu. Bagus hanya sedang ingin berkunjung, atas undangan Tuhan, yang ingin menyaksikan kelihaiannya memainkan bola.

Kelak, saat Tuhan memanggil kita yang semoga saja di usia senja, piala-piala Bagus sedang berderet serapi giginya, menunggu kamu — Lince — si perempuan tangguh. Lalu silakan berpelukan menebus rindu.  Sebab kita pun akan begitu.

Titip duka kami, yang tak sempat hadir pada pemakaman. Besarkan Duta  menjadi Bagus yang kedua.

Penulis : Kristianto Galuwo

Kristianto Galuwo
Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya.

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.