ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

7 Alasan Kenapa Harus Pecinta Alam

Bagikan Artikel Ini:

Mapala Avestaria Fisip Unsrat Manado

TAK USAH khawatir soal bagaimana nanti anak Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) dan KPA (Komunitas Pecinta Alam) bakal mencintaimu sekaligus mengasihi keluargamu. Alam beserta isinya saja ia ikrarkan untuk dijaga dan senantiasa dicintai, apalagi calon istri (atau suami) macam kamu, begitupun bapak-ibu, om-tante, dan oma-opa-mu di rumah.

Di jaman ketika banyak orang tua menaikan standard ongkos nikah anak perempuannya gara-gara kontribusi tayangan infotainment (pernikahan waw kalangan artis), pada akhirnya akan datang suatu masa dimana para orang tua yang mulai putus asa, menyadari sepenuhnya bahwa, pemuda macam Rafi Ahmad memang sedikit di Indonesia, dan tak selalu baik bin manjur dijadikan standar patokan.

Begitupun untuk orang tua yang memimpikan anak laki-lakinya mempersunting putri macam Syahrini. Sudah saatnya membuang impian sia-sia itu dan pintar menyadari tanpa perlu putus asa bahwa, putri macam Syahrini itu hanya bikin ngos-ngosan ketika banyak penduduk membully, bukan gara-gara aksi maju mundur maju mundur cantik cantik-nya melainkan gaya hidup kak Syahrini yang sepertinya hendak meniru Paris Hilton.

Dan impian agar anak laki-laki Anda dapat mempersunting Noor Hafizah, seorang pilot pesawat yang hingga kini masih menjomblo, segera tepikan ke kaki dipan, sebelum anak Anda makin terjerumus ke lembah kesepian terdalam penuh khayal.

Bagi putra dan putri anak si Bapak Fulan dan si Ibu Fulin juga sudah waktunya untuk tidak mengimani kekhawatiran terdungu yang mewujud dalam deretan kalimat; “Lalu makan apa nanti kalau sudah menikah? Makan cinta? Kalau sakit mau minum apa? Minum cinta juga,?”.

Kalau ada yang menanyakan begitu, maka rugilah berdebat panjang saling bersitegang. Cukup jawab; “Kalau lapar ya makan nasi, dan kalau sakit ya minum obat,”. Titik. Begitu saja. Logis kan?

Nah, semua itu merupakan peluang, terutama bagi anak-anak Mapala atau KPA (cewek maupun cowok), untuk mulai menonjolkan diri ke hadapan publik. Saatnya turun gunung meninggalkan sejenak jejak-jejak pertualang alam bebas dan segala bentuk semedi di sana, lalu sedapat mungkin mangkir sebentar dari hidupan liar margasatwa endemik, dan jadilah sosok yang self-proclaimed demi terciptanya wacana alternatif yang nanti tertangkap menjadi paham paling revolusioner dalam batok kepala para calon mertua terkait pilihan; kepada pemuda (dan pemudi) macam mana anak mereka tepat dinikahkan.

Kenapa anak Mapala atau KPA?

Di jaman ketika konsep kemapanan banyak melahirkan modus penipuan, dan pernikahan pada akhirnya bangkrut meski baru seumur jagung, mendapatkan anak Mapala atau KPA sebagai menantu, adalah pilihan cerdas dan paling revolusioner bagi para calon mertua yang berpikir.

Berikut ini adalah 7 alasan paling revolusioner, terkait keunggulan anak Mapala dan KPA yang layak dibaca para orang tua yang frustasi dan hampir bunuh diri menyeleksi calon menantu.

1.Romantis.

Jangan menganggap remeh anak Mapala dan KPA, terlebih dari segi tampilan luar, yang biasanya cepat membuat orang mudah menuduh macam-macam (meski hampir semuanya betul. Hehehe tepok jidat).

Kesalahan masyarakat kita adalah menilai orang dari casingnya saja. Umumnya anak Mapala dan KPA disangka brutal, berdandan bak garong dengan perut lapar 3 hari, nakal, brengsek, orang gak bener tanpa masa depan cerah, jarang mandi, berkutu, dan bau.

Tapi tahukah orang-orang picik itu, dibalik merek pembasmi hama serangga dan pestisida yang disangkakan pada anak-anak Mapala dan KPA, tersimpan kelembutan hati yang harum mewangi seperti aroma lavender dan wangi sedap malam di pegunungan, puitis dan romantis.

Tak percaya? Coba tanya sana sama yang pernah dekat dengan anak Mapala dan KPA. Bukankah banyak anak gadis yang klepek-klepek dan dengkulnya mendadak gemetar, ketika di malam sunyi; kopi krim coklat tersaji depan tenda beralaskan matras; dibawah sinar bulan dan taburan bintang; si anak Mapala dan KPA memetik gitar membawakan lagu Power Slaves: “Tetaplah di sampingku ow ho.. sampai fajar tiba…”. Ehhuu..Dijamin deh, akan ada yang bakal lupa turun gunung.

Begitupun anak laki yang menaksir anak Mapala dan KPA yang cewek. Baru tahu dia kalau bumi itu tak sebatas ketiak Mami, dan tak sekedar seru seperti Clash of Clan, ketika diajak kemping.

Akan tetapi, sekalipun dikenal romantis dan peka dalam merasa nuansa hati pasangannya, jangan berharap kalau anak Mapala dan KPA akan menjual idealismenya dengan memberikan hadiah romantis berupa Edelweiss yang akan menambah hati para cewek berbunga-bunga, atau bagi yang cowok (yang menaksir anak Mapala dan KPA cewek) merasa seperti baru saja dilemparkan ke bumi. Namun demikian, sebagai ganti agar si cewek tak merasa keinginan vandalis-nya ditolak, pertunjukkan sulap yang biasa mereka mainkan dalam tenda, dapat menjadi hiburan pereda sedih. Sedangkan untuk cowok, betapa malunya anak itu ketika si cewek anak Mapala atau KPA yang ditaksirnya, cekatan bikin tenda, bivak untuk perlindungan, api unggun, dan menyalakan Trangia sembari memberi penjelasan pada si cowok bahwa bunga Edelweiss itu bukan hijau apalagi merah jambu warnanya.

2. Pondasi Ketahanan Pangan

Anak Mapala dan KPA itu telaten berkebun. Sebagian bahkan pernah tahu bagaimana bercocok-tanam Ganja. Jadi tak usah ditaruh heran jika pekarangan rumah mertua dicangkul kemudian ditanami sayur mayur beragam varietas. Menantu yang satu ini sepertinya sesak nafas jika melihat ada pekarangan rumah yang dibiarkan kosong tak ditanami apa-apa. Lama-kelamaan, jika tak dikontrol, ia akan mengubah pekarangan jadi sorga sayur-mayur, tanaman rempah, dan umbi-umbian menjalar hingga ke tembok. Dalam perkembangan selanjutnya, jangan heran jika anak Mapala dan KPA ini mulai merekrut para tetangga kemudian mendirikan Kelompok Hijau Tingkat RT.

3. Master Chef

Selain telaten berkebun, anak Mapala dan KPA juga pintar memasak. Jadi tak usah khawatir jika selaku istri (dan suami) atau mertua yang sedang sakit, urusan di dapur untuk sementara di pe-el-te-kan dulu ke menantu. Soal lidah istri (suami) dan mertua yang pahit akibat didera panas, rata-rata anak Mapala dan KPA sudah tahu bagaimana mensiasati nafsu makan yang hilang itu dapat berangsur-angsur stabil.

Makanya dari dapur, aroma daun sereh, batang bawang dan bumbu Kuah Asang, begitu kuat memprovokasi ujung hidung meski mampet. Anak Mapala paling tahu berapa buah tomat yang pas, begitupun sereh; daun kunyit; dan bumbu racik lainnya dalam menegasikan menu Kuah Asang.

Soal memasak Sup Daging Sapi dan Opor Ayam, tak usah didebat. Untuk Sup, anak Mapala dan KPA sudah tahu mana yang lebih dulu dijatuhkan ke kuali; irisan bawang merah atau jintar ketumbar. Begitupun untuk Opor; rempah mana yang duluan ditumis sebelum menaruh air dan santan kelapa. Dari dapur, anak Mapala dan KPA cerdas bekerja meramu bumbu, seperti Lenin yang tengah menyusun materi agitasi propaganda untuk kaum Bolshevik.

4.Dapat Diandalkan

Soal tanggung jawab tak usah ditanya. Medan keras dan kejam mana lagi yang tak ia tempuh meski dengan punggung yang sarat beban. Hujan, panas, badai, lembah, lereng, punggungan, puncak, goa, lautan, rawa, semua berhasil dilalui. Ini yang membedakan anak Mapala/KPA dengan anak alay gaul jablay yang cepat merengek ketika ditimpa masalah.

Soal bertahan hidup tak usah ditanya lagi, materi dan praktek survival sudah beberapa kali disantap. Jadi, jika masalah yang menimpa hanya soal bunga rentenir dari lintah darat 30 persen yang mencoba mengirim kaki tangannya ke rumah, suruh saja anak Mapala dan KPA yang mengatasi. Jika sengketanya adalah soal perebutan lahan, maka kasih anak Mapala menangani. Ia akan dengan mudah menyebarkan informasi ke organ-organ bentukannya (ambil contoh Simpul Mamak-Mamak Hijau) teman-teman Mapala seantero daerah, untuk hadir dalam Kemah Akbar yang lokasinya di lahan sengketa. Kaki tangan dan lumpen-lumpen perusahaan hendak masuk mengamankan lahan sengketa itu, tentu akan berpikir 10 kali ketika melihat kepadatan tenda-tenda di situ mirip tenda-tenda gerilyawan yang haus perang di gurun Afganistan.

Dan bagi Anda yang bermukim di daerah rawan bencana, tak perlu terlampau khawatir. Anak Mapala dan KPA sudah beberapa kali menjadi tenaga sukarela yang terlibat di Posko-Posko Tim Sar sekaligus pernah beberapa kali bergabung dengan Badan SAR Nasional dalam menanggulangi bencana. Mereka cekatan dan telaten.

Jadi kalau cuma soal banjir, itu kecil dimata mereka. Jangankan itu, bencana longsor, gunung meletus, banjir bandang, sudah menjadi santapan hari-hari anak Mapala dan KPA. Pendek kata, jika diibaratkan jenis kendaraan, maka anak Mapala adalah tipe ATV (All Terrain Vahicle) yang dapat diandalkan di segala medan.

5. Presiden Adalah Anak Mapala

Orang sudah banyak yang tahu kalau Jokowi yang waktu itu masih menjabat sebagai Gub DKI, pernah berdandan metal saat nonton konser Metallica. Tapi banyakkah orang yang tahu kalau Jokowi adalah anak Mapala? Tak percaya? Ini jaman Mbah Gogel. Maka gugling-lah di internet dengan kata kunci Jokowi Anak Mapala, Anda akan menemukan bagaimana Presiden RI ini berpose di atas gunung sambil membentangkan bendera Mahasiswa Pecinta Alam.

Menjadi anak Mapala dan KPA, berarti menjadi sosok yang ditempa alam jadi pribadi bermental kerupuk baja. Berkali-kali belajar mandiri, dan yang terutama itu lho, tidak alay-alay jablay lebay.

6. Stylish

Siapa bilang anak Mapala dan KPA ketinggalan fashion? Justru anak Mapala dan KPA berkontribusi besar dalam perkembangan fashion, baik di tanah air maupun di mancanegara. Produksi kemeja flanel secara massal dan laku di pasar adalah salah satu contoh. Tukang desain pakaian selalu terinspirasi dengan fashion ala Mapala dan KPA yang tak henti-hentinya memberi inspirasi. Maka lahirlah celana adventure yang melahirkan banyak tipe dan varian. Ini belum termasuk pernak-pernik yang biasa mereka pakai. Melahirkan embrio-embrio ekonomi kreatif yang menghasilkan banyak pundi.

Soal peralatan, jangan ditanya lagi. Dan jarang sekali KW. Rata-rata Ori. Anak Mapala dan KPA paling anti memakai fashion, asesoris, dan peralatan KW. Sepatu boots dipadu dengan celana lapangan, atau jeans belel dengan pernak-pernik perpaduan segala jenis budaya fashion dari yang terkecil hingga yang menyolok, ada di anak Mapala. Siapa sih yang tak terkintil-kintil dengan itu semua (cewek maupun cowok). Dan coba cari tahu, di bidang fashion, anak gaul alay bin jablay memberi kontribusi apa? Paling-paling rambut menghasilkan gaya rambut ala… .&4532@@#^%&*((%%% sensor. Hehehe

7. Setia

Dari semua alasan di atas, ini yang paling penting. Kesetiaan anak Mapala dan KPA telah teruji tak hanya di bibir saja. Ini juga bukan ujian yang berlangsung dalam ruangan kelas; seperti mengerjakan ragam soal dan deretan tes ujian kesetiaan yang diberikan guru atau seorang psikolog saat Anda melamar pekerjaan dalam sebuah perusahan bonafid yang mewajibkan calon karyawannya di uji dengan 250 soal psikotes yang diputar-putar.

Ujian yang dicecap anak Mapala adalah ujian langsung yang membahana badai dari alam semesta dengan segala iklim, cuaca, dan keadaan medan dan lapangan. Ketika mendaki, mereka tidak pernah saling meninggalkan satu sama lain. Selalu seiring sejalan. Tengoklah pula kesetia-kawanan antar anak Mapala dan KPA di seluruh wilayah nusantara tercinta ini. Anda mungkin hanya tahu soal istilah sepiring berdua, segelas bersama, atau sekasur berdua. Tapi di dunia kepecinta-alaman, jangan heran jika Anda menyaksikan secara langsung bagaimana itu; selinting berempat, sepiring berenam, setikar bersepuluh, setenda sekelompok, atau sebakul sekawanan. Senantiasa bersama seiring-sejalan, tak saling tinggal meninggalkan, kecuali Anda memintanya pergi ketika awalnya Anda menyuruh dia menanti di Hutan Pinus tak jauh dari tempat Anda pipis namun tiba-tiba Anda Berce (Berak di celana). Prek!!

Dont dive alone, dont clim alone, adalah salah satu semboyan yang mereka pegang teguh.

Maka, anak Mapala dan KPA mana lagi yang hendak kalian tolak wahai para calon mertua. Adalah tindakan merugi dan sebuah kesia-siaan yang semena-mena dan amat disayangkan sekali, jika para anak gadis (juga pemuda alay) dan orang tua jaman gadget sekarang ini, masih menganggap remeh calon menantu anak Mapala dan KPA, lalu lebih memilih (meski setengah putus asa dan hampir bunuh diri) untuk menunggu kehadiran pemuda macam Rafi Ahmad atau pemudi seperti Syahrini,  pun anak gaul alay jablay dengan ketidak-jelasan karakter, yang selalu ada bak jamur di musim dingin.

Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
susah senang tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.