ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Membela Para Pecinta TOA

Bagikan Artikel Ini:

Toa Masjid

MEDIA SOSIAL adalah wahana terbaik dalam mengusung debat. Selain gampang dan murah—bahkan gratis—kita tidak perlu berhadap-hadapan di forum nyata dengan lawan debat.  Setiap orang juga bebas berbicara apa saja. Bahkan memaki. Mimik dan gestur juga tak nampak. Ini adalah dunia maya tanpa batas.

Saat Ramadhan hampir tiba tempo hari, kita kembali terperosok ke kubangan debat yang topiknya masih diseputar pro-kontra rumah makan;  tutup atau buka. Padahal bulan puasa kan bukan berarti harus cengeng. Apalagi lebay yang kadar kealayannya naujubillah. Ganti topik dikit kan apa salahnya?

Tapi, yah inilah endonesya. Negara kepulauan, ratusan suku bangsa, ribu bahasa, tabiat, kelakuan, dan jutaan perbedaan yang membuat para founding father negeri ini menetapkan; Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila adalah landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Supaya negeri ini dapat berdiri menjadi sebuah nation.

Kita tidak akan membahas itu. Tapi, jika ada kelompok yang menganggap Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan, maka disilahkeun menggantinya dengan paham apa saja, semau-mau saja. Tentu harus dibarengi dengan kenekatan untuk berhadap-hadapan dengan para penjaga kedaulatan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Sudah tahu kan bagaimana nasib para pemberontak dan yang dituduh pemberontak? Yah, tapi karena memberontak adalah panggilan jiwa, dan mati dalam memberontak itu adalah mati syahid, maka tak ada salahnya mencoba. Namun sebaiknya, seperti kata orang Passi;  asal bo mo yakin tete.

Belakangan, di medsos, terutama di beberapa group, topik yang diributkan adalah soal pernyataan Wapres Jusuf Kalla dan Menteri Agama. Isinya apa? Menteri Agama mengatakan begini; “Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita perlu hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa”.

Sedangkan Wapres Jusuf Kalla, saat menghadiri pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah, meminta agar pengelola masjid di Indonesia menghentikan kebiasaan memutar kaset pengajian menggunakan pengeras suara, dengan waktu putar yang lama. Menurut Jusuf Kalla, kebiasaan memutar kaset pengajian menggunakan sound sistem atau pengeras suara di masjid, tidak membuahkan pahala bagi pemutarnya, tetapi justru menganggu warga sekitar.

“Permasalahannya yang ngaji cuma kaset dan memang kalau orang ngaji dapat pahala, tetapi kalau kaset yang diputar, dapat pahala tidak? Ini menjadi polusi suara,” katanya sebagaimana dikutip pada Kompas.

Dia juga menambahkan, “Apa urusan Anda mengaji pakai kaset? Tidak ada pahalanya itu. Kalau ada pahalanya, itu orang Jepang yang dapat pahalanya karena itu pasti pakai Sony (pemutar kaset), kan Sony itu yang dapat. Tidak ada pahalanya, kita jengah, dan dia berdosa mengganggu kita,”

Apa yang terjadi dengan jamaah fesbukiyah, twitterkiyah, dan bebekiyah, terkait komentar Pak JK ini? Ada yang pro, namun tak sedikit pula yang kontra. Orang-orang yang malas mengkaji dan membuka cakrawala berpikirnya supaya lebih luas, serta merta menuduh JK  titisan Yahudi. Entah, logika apa yang dipakai sehingga mereka—yang merasa paling pintar dan benar—tak malu diri menuduh begitu.

Cemohan sebagai dajjal dan perusak umat islam pun dilekatkan pada JK dan Menag. Membuat saya berkesimpulan; orang-orang ini kurang santai karena kemungkinan bukan perokok dan bukan peminum kopi. Oleh sebab itu dagunya terasa cepat terbakar dan kepalanya mendidih ketika JK mengatakan, TOA yang membahanakan Qasidah dan Tadarus yang diputar lama dan keras, menganggu umat yang sedang beristirahat (atau yang sedang khusyuk bertahajud).

Hmm, JK dan Menag memang jahat ya. Mereka kafir dan tak lain tak bukan adalah kaki-tangan Zionis. Atau kedua pejabat negara ini iri kepada pihak SONY, AQUARIUS, MUSIKINDO, atau kepada pihak perusahaan aseng yang memproduksi peralatan sound sistem seperti TOA yang digemari para pecinta dan pengagum alat moderen itu? Kemungkinan juga JK dan Menag adalah agen-agen komunis yang anti produk kapitalis. Dan mereka ini, JK dan Menag, adalah musuh Islam.

Jadi apa yang harus dilakukan? Sebagai gerakan untuk mengkaunter pernyataan JK dan Menag yang kafir dan pemecah-belah umat?

Bagai para pecinta lesepeker bin TOA, ini kiat-kiat jitu yang perlu dilakukan, agar syiar Islam tetap terjaga, awet, lestari, dan langgeng sepanjang masa.

  1. Bagi para pengurus masjid pecinta lespeker, kotak amal yang biasa ditaruh di pintu masjid, untuk kali ini, ikhlaskan saja dulu untuk tidak dibagi-bagi atau dipakai membayar tagihan listrik dan air. Pakailah dulu uang itu untuk membeli lespeker baru. Empat atau enam buah TOA semakin baik. Agar suara semakin membahana di angkasa raya. Ini soal syiar agama. Bukan soal jual pakean di pasar senggol.
  2. Sebaiknya, belilah lespeker buatan Eropa. Jangan China, karena Cina adalah negeri komunis. Sudah tahu kan, komunis di sini sudah lama di cap anti Tuhan, anti agama. Jadi kenapa harus beli produk buatan anti Tuhan dan anti Agama. (saatnya mengecek TOA masjid itu produk Cina ato Jerman).
  3. Belilah kaset tape recorder atau kepingan VCD dan DVD berisi Qasidah dengan berbagai langgam. Ya, betul. Saya jadi ingat karena pernah dengar, ada Qasidah yang dimainkan dengan langgam Jawa dan Bali. Tapi jangan hanya Qasidah. Sebaiknya beli juga kepingan berisi Murratal Al Quran, termasuk Zikir sebagai bonus. Atau nyanyian dari Ustadz-ustadz seperti Solmed atau AA Gym.
  4. Putarlah kepingan VCD dan DVD itu sebagai sebuah syiar agama dengan motto; Tanpa Kenal Waktu, Mari Syiarkan Agama Allah. Nah, pengurus masjid yang memutar ini jelang sahur, lalu berhenti sementara karena harus break azan Subuh, seusai sholat, jangan dulu langsung pulang ke rumah dan tidur setelah kelelahan mengurus jamaah. Tapi putarlah kembali syiar agama itu, tengadahkan ke mic dan biarkan 6 buah TOA membahanakan syiar agama. Sebaiknya volume diputar full. Jangan tanggung-tanggung. Agama adalah tiang utama kehidupan. Jadi biarkan lespeker itu tetap tereak. Setelah memastikan lespeker tetap nyala, barulah pulang ke rumah untuk tidur. Jangan lupa, sebelum pulang ke rumah, kunci pintu masjid agar tak ada jamaah yang merasa terganggu datang mematikannya. Putarlah terus saban waktu, hanya break setiap azan 5 waktu tiba.

Maka percayalah, dengan empat kiat itu, syiar agama Islam akan berhasil. Umat bumi akan datang berbondong-bondong masuk Islam. Tanpa ada paksaan, gangguan, atau tekanan dan ancaman dari pihak manapun (tak terkecuali ISIS), melainkan datang dengan kerelaan dan keikhlasan sendiri.  Karena keberhasilan syiar dari corong TOA.

Jadi, kenapa harus mendengarkan Wapres JK dan Menag Lukman Saifuddin? Toh, mereka ini Yahudi, kaki tangan Zionis, kafir, Dajjal, dan pemecah belah umat.

Ayo. Berbondong-bondonglah ke toko beli TOA buatan negeri Timur Tengah (Jangan Cina karna Cina komunis), demi syiar agama. Sekaranglah saatnya beli TOA made in gurun pasir, masing-masing 6 buah per 1 masjid, dan putarlah apa yang WAJIB untuk diputar, secara menggelegar membahana badai.

Oh, ya. Sekadar pemberiantahu, mulanya saya tidak suka dengan tabiat para penggemar dan pecinta TOA. Tapi setelah mendapat semacam tauziah dan ruqiah dari kelompok ini di medsos, akhirnya saya tercerahkan. Maka bersama ini ada 4 alasan kenapa para penggemar dan pecinta TOA harus dibela?

Pertama: para penggemar dan pecinta TOA atau lespeker adalah ksatria-ksatria penegak tiang agama, yang percaya dan meyakini dengan segenap hati bahwa, syiar agama itu penting di jaman medsos dan android. Selanjutnya, mengumandangkan zikir, pengajian, dan qasidah berbahasa Arab yang dibahanakan melalui corong TOA, adalah tindakan mulia yang diwariskan Nabi Muhammad SAW berdasarkan perintah Al Quran dan Al Haditz. (Mohon ralat kalau salah)

Kedua, para pembenci TOA adalah mereka orang-orang kafir (sekalipun mengaku Islam) karena telinga mereka terganggu mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Quran, Zikir, dan Qasidah (lokal dan import).

Ketiga, para pembenci TOA adalah mereka yang penuh iri dengki terhadap perusahaan pembuat TOA karena mereka tidak mampu membuatnya sendiri. Orang-orang ini juga iri sama SONY, SANYO, POLYTRON, JVC, dan YAMAHA.

Keempat, dengan adanya TOA atau lespeker, syiar agama tercapai dan dapat ditegakkan. Banyak orang yang akan berbondong-bondong masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka datang secara sukarela, tanpa paksaan apalagi dibawah ancaman seperti yang dilakukan ISIS.

Kelima, para pecinta dan pengagum TOA, pahalanya akan berlipat-lipat ganda sehingga dijamin masuk sorga.

Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
semacam pimpinan yang susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.