ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Pertemuan Di Batas Kota

Bagikan Artikel Ini:

tommy j pisa

ENTAH kenapa, belakangan saya tiba-tiba rindu Kotamobagu. Penyebabnya bukan karena suatu hubungan berbau asmara, atau termakan agitasi propaganda yang dilancarkan kawan-kawan di wilayah yang kata kepala suku Arus, kota kecil yang dikuasai Satpol PP.

Sebab mengagitasi saya yang tinggal tak jauh dari pantai Pinagut, yang keindahan pasir putihnya lebih aduhay dibanding dada artis AA (padahal saya belum tahu pasti siapa AA), dan buih ombaknya lebih murni dari busa Bir–konon mulai dilarang beredar di kawasan Katipolbukanlah perkara mudah.

Terlebih yang menjadi pembanding adalah kota berkonsep ‘jasa’ tapi penuh razia, sebagaimana yang sering saya dapati dalam tulisan kepala suku Arus.

Seandainya kota sekecil itu masih dibawah kendali penguasa masa lalu (Bolmong belum mekar), bisa lain ceritanya. Siapa sih diantara kita yang tak pernah beberapa kali lupa jam pulang, gara-gara keenakan memocik-mocikan sayap kebebasannya di Lapangan Kotamobagu? Motor dan bentor sama berjejer, mobil yang terparkir padat mengelilingi lapangan, sebagian bahkan harus masuk ke tanah lapang sebab tak dapat lagi tempat di pinggir jalan. Cengkrama penuh keakraban, terkadang agak cabul, riuh tawa, goda berbalas goda, suit berbalas suit, colek-colekan, belum ada facebook, twitter dan path, tetapi  keramaian nan riang santai terlampau penuh mengisi dada dan kepala kami hingga subuh teriak dari corong toa Masjid Raya Baitul Makmur.

Dan tentunya semua itu bisa terjadi karena tidak adanya razia dari Satpol PP dan Polisi. Yang ada hanya warga dan angkringan yang jualannya selalu laku.

Soal bala tentara di Markas KODIM 1303, yang posisinya cuma tiga langkah dari riuh dan tumpah ruah orang-orang merdeka, yang penuh kebebasan membunyikan musik dan lagu pujanya dari perangkat ‘audio-set-bass’ masing-masing, itulah yang membuat semua ini semakin menarik.

Betapa selow dan merdekanya mereka. Tak pernah sekalipun terjadi insiden ada tentara gila yang tiba-tiba memberondong kami dengan Ak-47, gara-gara telinga dan dadanya terusik oleh musik yang menginvasi Jalan TNI dan kolong pohon asam Jawa yang purba di ‘teritori tentara’. Malah seolah-olah kami yang justru dianggap sebagai hiburan yang melimpah dan gratis. Kemungkinan ini juga dikarenakan berjibunnya dedew-dedew yang bisa begitu kentara dari Pos Piket KODIM 1303.

Tak usah ditanya pula soal keberadaan Markas Besar Satuan Polisi Lalu-lintas Bolaang Mongondow (Satlantas) yang jaraknya sama seperti KODIM 1303. Jaraknya hanya tiga langkah dari ‘keributan’ semua lapisan warga di Lapangan Kotamobagu. Tapi keselowan bapak-bapak dan om-om polisi di situ seolah kompak dengan tentara di Markas KODIM 1303. Tak pernah ada kejadian mereka menyeruduk pemilik kendaraan yang sedang bersantai menikmati malam di Lapangan Kotamobagu, lalu satu persatu memeriksa semua dokumen kendaraan yang terparkir penuh kedamaian.

Ah, masa-masa itu cepat hilang. Berganti sunyi sepi yang padat, sebagaimana kelengangan yang ditimpa hampa, dan ironi sebab terjadi setelah wilayah ini didaulat jadi Kota yang memiliki pemerintahan sendiri setelah berpisah dengan induknya, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Lalu apa sebenarnya yang membuat saya rindu Kotamobagu? Meski tak terpengaruh dengan romantisme masa lalu itu?

Tentu bukan gara-gara informasi yang barusan saya dengar dimana Pemkot Kotamobagu mewajibkan setiap siswa muslim harus khatam Quran.

Saya harus berterus terang bahwa saya tiba-tiba rindu Kotamobagu gara-gara lagu Tommy J Pisa, yang ternyata ada dalam Folder MP3 di perangkat laptop saya.

Ekhuuu, mana mungkin ini. Lantas apa hubungannya Tommy J Pisa dengan kerinduan saya terhadap Kotamobagu?

Ini semata-mata menyangkut judul lagu. Adalah putarbale jika di antara kita yang sudah bisa menyanyi di era 90an, lupa syair lagu Di Batas Kota Ini yang selalu sabar kita tunggu selama 6 hari berturut-turut, dan baru muncul di hari ke-tujuh, dalam acara Album Minggu TVRI sebagai satu-satunya program musik era itu.

Kenapa lagu Di Batas Kota yang didendangkan penuh pedih-perih oleh Tommy J Pisa, mengingatkan saya pada Kotamobagu?

Ada dua alasan yang sebenarnya sepele. Ini adalah pengalaman pribadi. Pertama, tiap kali hendak meninggalkan Kotamobagu oleh suatu urusan, di ujung Mongkonai, kalau kita sempat menengok ke arah kanan sebelum pintu gerbang, ada rumah makan bernama Batas Kota. Sama halnya ketika kita kembali lalu menengok ke arah kiri, setelah 4 detik melintasi pintu gerbang. Perut kita seolah teriak minta mampir ke Batas Kota.

Kedua, pernah suatu ketika, usai meliput suatu peristiwa, saya yang tidak sedang ditimpa perasaan lapar, menerima panggilan telpon yang disusul BBM dan SMS, berisi (semacam) instruksi agar segera merapat ke Batas Kota.

Mengertinya saya waktu itu, Batas Kota yang dimaksudkan adalah batas wilayah antara Kota Kotamobagu dan Bolaang Mongondow. Makanya saya, membalas isi BBM itu dengan pertanyan; “Batas Kota yang sebelah mana? Barat atau Timur?”

BBM berbalas; “Barat. Di ujung Mongkonai,”. Saya susul kembali dengan pertanyaan, “Dalam rangka apa?”. Tentu itu dikarenakan sebuah tanda tanya besar, sebab bagi saya, adalah hal langka ada orang mengajak bertemu di batas kota.

Pikiran saya justru tertuju pada suatu gambaran Tugu Tapal Batas yang terpancang di atas tanah. Atau sebuah pintu gerbang, sebab keterangan menyebutkan sebelah Barat. Maka tak salah lagi. Ujung Mongkonai lah tempat itu. Pehh..!! Ngajak ke rumah kopi kek atau tempat karaoke. Ini kok di Batas Kota.

BBM kembali berbalas; “Nantilah setelah disini baru kita ngobrol,”. Saya kembali menyasarkan tanya; “Siapa-siapa disitu?”. Pesan cepat berbalas; “Ada Tommy J Pisa dan kawan-kawan,”.

Haha. Saya tertawa lalu cuzz gass pul merapat ke Batas Kota. Oh,ya sebelum tancap gas, saya terlebih dahulu masuk ke link yang memnyediakan fasiltas download musik cuma-cuma, termasuk yang jadul.

Saya masukkan kata kuntji, Tommy J Pisa, Di Batas Kota, lalu mendownloadnya. Tentu dengan harapan, setelah sampai di tujuan, proses download sudah 100 % complete, jadi tinggal diputar, sesuai tema hari itu; ketemu Tommy J Pisa dan kawan-kawan (penggemar pasti) Di Batas Kota.

Sudah sampai di pintu gerbang, tapi yang saya temui hanya honorer Dinas Perhubungan yang nampak lesu di Pos Jaga. Saya lantas mengirim BBM; “Saya sudah di batas kota. Kamu di sebelah mana?” Sesaat setelah isi chat berstatus “R” pertanda sudah dibaca, smartphone saya berdering. Setelah dijawab lalu saling bicara, ternyata ada kesalah-pahaman. Batas Kota itu rupanya nama sebuah rumah makan. Untung tak jauh dari pintu gerbang kota, dimana saya berada. Segera saya menuju, dan masuk.

Di dalam sudah ada beberapa kawan dan wajah-wajah asing berjejer. Hm, para penggemar Tommy J Pisa rupanya, gumam saya dalam hati. Sejurus kemudian, sembari senyam-senyum, saya bergabung di meja panjang. Rupanya belum lama mereka di situ. Pesanan baru sedang dibuat. Aroma ikan bakar menggoda selera, dan tentu membuat perut minta jatah.

Saya lantas mulai menelisik, yang mana Tommy J Pisa? Kok batang hidungnya gak kelihatan sama sekali? Saya merapat ke teman yang mengajak tadi, “Mana Tommy J Pisa?” tanya saya pada dia. “Lagi ke toilet. Sedang sakit perut soalnya. Dia juga pusing-pusing,” jawabnya. “Silahkan pesan dulu,” katanya kemudian. Ah, lagi sakit kok bikin pertemuan, gumam saya.

Goropa ukuran lebar lantas saya pesan. Tak lupa sebotol Bir yang teronggok-onggok di lemari pendingin. Meski belum tahu  gerangan apa yang hendak dibicarakan, saya bersikap santai saja dengan keadaan. Toh, teman juga yang mengajak. Pikir saya waktu itu, pertemuan ini semacam jumpa fans kalangan terbatas. Kentara dari gelagat dan konsep pertemuan yang terkesan ditutup-tutupi dari histeria massa penggemar. Tahu sendiri kan, lagu-lagu era jadul memang tak ada matinya men.

Sesosok laki-laki lantas muncul. Pasti dia Tommy J Pisa. Bukan tak pernah melihat tampangnya sih, tapi harap maklum. Saat Om Tommy sedang berdendang di layar tipi Album Minggu, saya baru berumur 10 tahun.

Tapi  kok tampangnya beda? Ah, sudah 21 tahun lamanya tak pernah melihat Om Tommy di tipi, tentulah ada perubahan. Kalau umurnya waktu saya tonton di Album Minggu ada dikisaran 40 tahun, berarti saat bertemu di Batas Kota, sudah 61 tahun dong. Yah, maklumlah kalau begitu.

Pesanan datang. Beramai kami makan dengan lahapnya. Karena botol Bir sudah kosong, saya memesan lagi. Sedang kawan yang lainnya lebih tertarik dengan Jus. Sebagian malah memesan kopi.

Pembicaraan ringan mulai mengemuka, tapi saya belum menemukan substansi sebenarnya. Semua masih serba basa-basi. Membuat saya kesulitan masuk lewat mana, dengan pertanyaan apa, kepada mantan artis sekondang Om Tommy.

Tiba-tiba Om Tommy J Pisa pamitan. Rupanya ia benar-benar sedang sakit perut dan pusing-pusing.  Kawan di samping juga bilang kalau Om Tommy, sejak tadi memang sudah mual-mual dan pusing. Tapi ia tetap menggelar pertemuan. Saya juga bisa melihat dari dari raut wajahnya yang tak bisa menyembunyikan gambaran memelas.

Om Tommy berangkat ditemani 4 orang pengawalnya. Tak tahu ke hotel mana. Tapi satu-dua orangnya (termasuk kawan yang mengajak saya) masih bersama kami. Mereka semacam event organizer pengusung pertemuan “senyap” ini. Membuat saya masih dipenuhi tanya, apa substansi pertemuan ini.

“Jadi Om Tommy meminta agar pertemuan ini tak perlu diumbar ke media. Soal kasus yang kini menimpanya, kawan-kawan selaku jurnalis penggemar Om Tommy, dimohon dengan amat sangat, dapat memberitakan ini dengan………….,” suara itu tiba-tiba tertahan ketika salah satu di antara mereka menarik pundak teman saya yang berbicara itu, lalu berbisik ke telinganya.

Usai bisik-bisik itu, ia kembali dipersilahkan meneruskan bicaranya. “Dengan tetap menghormati teman-teman, kami memohon, beritakanlah masalah Om Tommy dengan cara yang tidak terlampau vulgar,” katanya.

“Kami tidak melarang teman-teman untuk tidak memberitakannya. Apalagi masalah ini sudah bukan rahasia lagi. Tapi kami memohon, sekiranya boleh, maka selaku penggemar Om Tommy, beritakanlah itu dengan lebih…….. Teman-teman mengertilah maksud kami…,”.

Permintaan itu dijawab khalayak yang hadir dengan tawa dan anggukan kepala. Sebagian yang karena terkenal dengan keusilannya, malah menggertak. Dan namanya gertakan, ada yang betul akan dilakoni, namun tak sedikit pula yang memang hanya gertak sambal belaka. Dan terbukti. Gertakan itu memang hanya ekspresi keusilan di hadapan Goropa.

Baik. Akhirnya saya merasa seperti sedang berada pada situasi sedang dijebak, terjebak, atau malah menjebakkan diri. Dua botol Bir sudah kandas. Goropa dan kangkung cah sudah di lambung. Ada 2 bungkus rokok yang masih tersegel, lalu didaratkan ke kantong kemeja yang jadi span.

Sejurus kemudian, di penghujung acara santap siang, amplop putih berisi receh seliweran dari tangan ke tangan lalu menyusup ke tiap-tiap kantong. Dan semua ini, saya belum tahu apa pangkal soal yang menimpa Om Tommy?

Merasa hormat kepada teman baik yang mengusung pertemuan ‘gelap’ ini, saya memilih untuk bertanya pada dia saat orang-orang yang hadir (juga kawan-kawan) mulai bubar satu-satu.

“Sebenarnya apa masalah yang sedang melilit Om Tommy? Saya mau menanyakannya tadi, tapi hampir tak punya kesempatan. Selain itu hubungan pertemanan kita tetap saya jaga, makanya sekarang saatnya saya bertanya, cukup antara kau dan aku,” demikian saya bicara.

Teman ini tiba-tiba tertunduk lesu. Lama dia tak bicara. Saya mendesaknya, tapi yang saya terima adalah derai air mata yang seketika menetes untuk pertama kalinya dalam sejarah pertemanan kami. Perasaan trenyuh cepat merayap di sekujur tubuh saya.

“Owh, ada apa ini bro? Maaf saya hanya bertanya tadi,”

Dia tidak bicara. Air matanya terus mengucur. Saya tahu, ini bukan air mata buaya. Kami sudah berteman sejak lama. Saya tahu track record orang ini.

“Tolonglah mengerti,” pintanya, mulai bisa berbicara.

“Iya. Tapi bagaimana saya mengerti jika kamu tidak memberitahu?”

Dia menangis. Ada jerit yang berusaha ditahannya. Membuat pelayan rumah makan ikut hanyut dalam kesedihan ketika melihat ‘tragedi’ diantara kami.

“Saya hanya bisa bermohon kepadamu, demi pertemanan kita, saya mohon mengertilah kawan,” pintanya lalu memeluk lagi. Pundak saya jadi basah.

Pelan-pelan saya mendengar lantunan sebuah lagu;

di batas kota ini ku menatap wajahmu
perpisahan ini membuat luka di hati
ingin ku berlari namun tak kuasa diriku
engkau menangis dalam pelukanku

sendiri kau terpaku melepas kepergianku
air matamu berlinang membasahi pipi
seakan kau sesali perpisahan ini

janganlah kau sesali, janganlah kau tangisi
aku pergi untuk kembali lagi
hapuslah air matamu, hapus luka hatimu
nantikan aku di batas kota ini

Suasana lantas jadi dingin. Sedingin cuaca malam di Eropassi. Sekonyong-konyong, saya mulai merasakan semacam ada kesengsaraan menelusup setiap pori dan setiap jengkal persendian.

Sesuatu yang datar dan dingin. Kawan dihadapan saya sontak hilang. Saya seperti sedang terlempar ke suatu peristiwa gaib. Seperti sedang menggapai kegelapan yang kian kelam.

Tangan saya meraba-raba. Tak ada pundak, tak ada suara, hanya nyanyian, hanya dendang lagu pedih-perih Tommy J Pisa, Di Batas Kota Ini.

Saya membuka mata, dan yang tertangkap mula-mula adalah plafon kamar ukuran 3 x 4 Meter. Tanpa baju, saya tergeletak begitu saja di atas ubin, sejak sore sepulang dari pantai Pinagut Bolmut.

Saya bermimpi rupanya. Ah, Om Tommy. Semoga baik-baik saja.

 Kristianto Galuwo

Kristianto Galuwo
Anak Totabuan tulen, Mongondow paten, Indonesia keren, yang mengaku liar di alam raya. Sigidad adalah nama gaulnya

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.