ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Posko Berisik Di Bulan Penuh Hikmah

Bagikan Artikel Ini:

sahur1

POSKO POSKO Ramadan mulai didirikan ya? Lespeker  tentu jadi perangkat yang wajib ada. Difungsikan sebagai corong bulan puasa yang siap menggelegarkan pekik bangun sahur secara membahana badai di angkasa dini hari yang tentram.

Baik ya. Supaya seluruh warga yang sedang lelap tidur, seketika terlonjak dari kasur dan mimpi malamnya buyar. Meski sebenarnya mereka sudah memasang alaram di gadget masing-masing. Jaraknya bahkan lebih dekat dari urat nadi. Cuma di seberang kuping. Di bawah bantal, atau di atas dada.

Bayangkan jika di kampungmu ada 8 posko sahur berisik. Didirikan remaja enggan tidur malam yang doyan main domino, kartu remi, punya hobi memutar dakwah dan zikir via VCD maupun Gadget, lalu disambung ke corong Toa. Bisakah Anda bayangkan, bagaimana pekaknya angkasa malam yang sebelumnya tenang dan syahdu (sehingga cocok untuk bertahajud) menjadi berisik oleh teriakan sahur, yang saling bertautan dan berkelindan dengan suara-suara yang sama dari posko seberang, antara pukul 02:00 hingga pukul 03:00.

Posko A teriak-teriak membangunkan sahur warga sikitar. Pun demikian dengan Posko B. Tak mau kalah berisik sebagai Posko paling awal membangunkan para jamaah. Posko C pun begitu. Merasa penuh pahala teriak-teriak bangun sahur. Seolah-olah dengan semakin banyak menggelegarkan panggilan sahur secara membahana badai ke udara, pahala akan sebanyak itu. Apalahi diyakini akan berlipat ganda.  Dan semua keberisikan yang diproduksi secara masal oleh posko sahur A, B, dan C, belum terhitung grup vokalia sahur di Posko D, E, F, G, dan I.

Menjadi warga negara Indonesia pemeluk agama dan pemegang teguh ideologi pancasila, memang makan hati. Harus mempertebal kesabaran. Seperti sabar dan tabahnya orang sedang sakit gigi, tapi tak boleh marah mendegar keberisikan yang menggelegar dari corong toa posko sahur berbagai penjuru. Belum termasuk dari desa tetangga dengan posko-poskonya yang bertebaran.

Saya bahkan nyaris tak bisa membayangkan bagaimana nasib orang tua yang punya anak bayi, dan rumahnya hanya berseberangan dengan posko sahur.  Kasihan bayinya ya? Atau mamaknya yang senantiasa was-was jelang pukul 2 –  3 dinihari.

Hm, bagaimana dengan posko sahur keliling? Itu lho, anak-anak tukang tahan tidur yang bawa gitar, krecekan, drum, gelon, dan botol untuk di ketek-ketek dengan leper agar menimbulkan suara mendenging yang nyaring?

Pertunjukan inipun tentu include dengan ‘vokal group’ sahur yang suaranya harus dibikin centreng membahana di ujung mic. Tujuannya apa? Ya, apalagi kalau bukan supaya warga peserta sahur segera bangun. Meski sebenarnya mereka sudah bangun oleh alaram di pinggir kuping, yang sudah disetel masing-masing, dan teriak duluan sebelum ‘perang’ sahur di toa menggelegar memekak kesunyian malam yang sebenarnya syahdu untuk dihayati.

Terkadang kita memang enggan membedakan mana wajib, mana sunnah, mana makruh dan mana yang alangkah berisik hingga menganggu kekhusyuan tengah malam; orang-orang yang tengah bertahajud memanjatkan doa-doa paling sunyi.

sahur4

Berikut ini adalah contoh posko sahur yang paling dianjurkan. Semacam kiat agar kita tetap tidak dilarang beragama dan tetap punya tata krama dan saling pengertian antar warga.

1. Posko Tanpa Lespeker

Posko tanpa  sound sistem macam amplifer dan toa (istilah disini lespeker) yang akan menggelegar di udara, adalah posko paling mengerti dan memahami nilai-nilai tata krama dan kekhusyuan warga pada tengah malam yang syahdu. Posko jenis ini adalah posko yang mendukung doa-doa warga yang tengah bertahajud di malam hari yang (sebaiknya) tenang dan sunyi. Sehingga doa-doa yang dipanjatkan semakin mustajab tanpa ada gangguan suara-suara yang membahana badai.

2. Posko Sahur Papan Catur

Dari pada dilengkapi lespeker—selain karpet dan gorden yang diselundupkan dari rumah—akan jadi selow lah suasana jika posko sahur yang didirikan, punya fasilitas papan catur. Selain tidak menganggu warga yang lagi memunajatkan doa-doa dalam sholat tahajud, posko sahur berpapan catur, dianggap lebih paham dan mengerti kelompok warga yang sedang sakit gigi atau yang baru punya momongan. Suasana tenang, hanya ada siulan kecil, atau tadarus samar-samar, diselingi suara skak, adalah ciri khas posko sahur yang selow penuh ketentraman. Dari posko ini, usai lebaran, tercipta atlit-atlit catur produk ramadan yang berkwalitas.

3. Posko Sahur Revolusioner

Ini layak didirikan kalangan remaja yang enggan tidur malam tapi jago tidur sayang. Posko ini tak dilengkapi perangkat lespeker, kartu remi, domino, dan (terutama) tape recorder. Aduh, sudah kelewat jadul ya kalau bawa-bawa tape recorder.  Yah, pokonya tak ada perangkat VCD maupun DVD. Ini posko tanpa mic dan Toa.

Tapi posko sahur ini penuh buku-buku kiri yang bermanfaat. Eitzz, jangan suudzon dulu, kemudian tanpa tedeng aling-aling, langsung menuduh posko sahur ini sebagai sarang komunis. Bukankah ada pepatah mengatakan begini; tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina.

Eh, tapi cina itu kan komunis? Baiklah, kita ganti dengan (semacam) pepatah lain; Bacalah! Maka kau ada!. (Hm, itu pepatah atau apa ya).

Nah, posko sahur kategori revolusioner ini adalah sarana orang berdiskusi. Ada bedah buku, bedah paham, bedah aliran dan sebangsanya. Pendek kata sarat debat, dialog, dan diskusi.

Ini adalah Posko Sahur paling kritis. Ketimbang main gaplek, remi, atau hal-hal yang kurang berbobot, remaja yang mendirikan posko ini menjadikan posko sahur sebagai ajang mencari dan menggali ilmu. Supaya wawasan bertambah. Tak masalah topik apa yang hendak dibahas. Karena momennya bulan puasa, maka tak ada salahnya membahas agama. Mulai dari sejarah kelahirannya sampai ke masa rumah makan dilarang berjualan siang-siang dengan dalil menghormati bendera orang yang berpuasa. Termasuk pertanyaan, kenapa orang-orang yang mengaku islam paling benar pembawa kedamaian, kok mengajarkan kebencian terhadap Syiah, Ahmadiyah, atau keyakinan lain yang dianggap bukan Islam.

Posko ini tidak membahas kepicikan dan permusuhan. Apalagi mengajarkan kebencian terhadap orang yang beda keyakinan. Posko ini jelas berbeda dengan fanpage Jonru.

Beragama memang penting dalam pencarian kebenaran. Tetapi bukan final yang nekat, sombong, dan angkuh mengatakan; dengan beragama, berarti saya adalah manusia benar dan paling benar. Padahal agama—bahkan yang kita anut sekalipun—bukan satu-satunya jalan dalam pencarian kebenaran.

Kenapa kita harus mengkafirkan orang yang tak seakidah dengan kita? Apalagi membenci mereka yang berbeda keyakinan.

Dan soal sahur, soal teriak-teriak bangun sahur dicorong Toa atau mengketek-ketek botol dengan leper demi mengharapkan imbalan pahala, bukankah Nabi sama sekali tidak menganjurkan itu? Coba buka Al Quran dan Al Haditz, adakah anjuran untuk mengumandangkan; banguuuun… bangguuunn.. bangguuunnn.. sahuuuurr… sahuuuurr… ayo masak sahuuuurrrrr…. ayo santap sahuuuuurrr…. santap sahurrr.

Agama memang penting. Tapi lebih penting menjaga ketentraman sesama umat. Tapi pilihan tetap pada Anda, mau mendirikan posko yang berisik, atau posko kritis yang penuh ketentraman.

Hm, bulan puasa memang bulan penuh hikmah. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.