ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dandim : Dulu AMD, Sekarang TMMD

Bagikan Artikel Ini:
Dandim 1303 Bolmong, Letkol Inf. Sampang Sihotang (Kiri) saat menggelar pertemuan dengan kalangan Jurnalis di Bolaang Mongondow (Bolmong), Jumat 25 September 2015
Dandim 1303 Bolmong, Letkol Inf. Sampang Sihotang (Kiri) saat menggelar pertemuan dengan kalangan Jurnalis di Bolaang Mongondow (Bolmong), Jumat 25 September 2015

ARUSUTARA.COM KOTAMOBAGU – Di era kepemimpinan Soeharto, atau di masa Orde Baru, ada program pembangunan pedesaan yang dijalankan pihak ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) yang disebut AMD atau ABRI Masuk Desa. Program ini diawali pada tahun 1978 dan mulai rutin dilaksanakan di seluruh Indonesia pada tahun 1980.

Kondisi perpolitikan nasional lantas mengalami perubahan besar. Pada tahun 1998, Soeharto dijatuhkan lewat arus gelombang reformasi yang dimotori mahasiswa. Tuntutan agar pemerintah menghapus Dwi-fungsi ABRI ikut menggema. Di era kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) Dwi-Fungsi ABRI akhirnya dihapuskan. ABRI lantas berubah nama menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Pemisahan fungsi antara TNI – Polri pada masa kepemimpinan Gus Dur, membuat kita juga mengenal apa yang disampaikan Panglima TNI pada masa itu yakni, Back To Basic. Semua personil TNI akhirnya kembali ke barak; berkonsentrasi pada latihan atau urusan pertahanan dan teritori. Seiring dengan gerakan reformasi itu, program AMD pun terhenti.

Di era kepemimpinan Presiden SBY dan kini Presiden Jokowi, istilah AMD atau di masa Orde Baru, kini dibangkitkan lagi, dengan nama yang berbeda.

“Kalau dulu istilahnya AMD, sekarang bernama TNI Manungal Membangun Desa atau TMMD. Ini akan menjadi rutinitas bagi personil TNI di seruluh indonesia untuk membantu petani, nelayan, dan masyarakat pedesaan di tiap desa yang ada di Indonesia, untuk demi kemajuan desa itu sendiri,” kata Dandim 1303 Bolaang Mongondow, Letkol Inf Sampang Sihotang, memberi penyampaian saat menggelar pertemuan dengan para wartawan, Jumat 25 September 2015 di rumah dinasnya.

“Kegiatan TMMD sudah ada sudah sejak lama. Masyarakat Indonesia tentu sudah mengenalnya, meski dengan nama lama yakni AMD. Sekarang ya itu tadi, TMMD namanya,” kata Dandim.

Ia menjelaskan, TMMD bertujuan untuk membantu masyarakat pedesaan untuk meningkatkan potensi yang dimiliki setiap desa. Utamanya adalah soal pembangunan. Tanggal 8 Oktober 2015 nanti, lanjut Sihotang, program TMMD akan berlangsung di Desa Dayo Kecamatan Pinolosian Timur Kabupeten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Sihotang juga menyampaikan, kegiatan TMMD yang akan berlangsung di Desa Dayo itu, tak hanya pembangunan fisik berupa jalan tani sepanjang 2 kilo meter. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilangsungkan yakni, bakti sosial, pembagian sembako, khitanan, pengobatan masal gratis, bahkan operasi medis berupa operasi katarak, dan bibir sumbing.

“Selain pembangunan fisik berupa jalan untuk membantu urusan transportasi masyarakat petani dalam mengangkut hasil bumi, diadakan pula pengobatan gratis bahkan operasi medis bagi masyarakat,” katanya.

Selain itu, lanjut Sihotang, melalui TMMD, pihaknya juga akan melakukan proyeksi pembangunan terkait obyek pariwisata potensial yang dimiliki desa-desa tempat dilaksanaknnya TMMD.

Ditandaskan pula olehnya bahwa, fungsi TMMD, selain membantu masyarakat pedesaan dalam pembangunan, TNI Ankatan Darat juga bertujuan menciptakan hubungan yang erat, hangat, dan harmonis antara TNI AD dengan masyarakat pedesaan demi terciptanya rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI.

***

Pada Juli 2011 silam, dalam acara silaturahmi bersama pemimpin redaksi media massa nasional, Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang saat itu masih dijabat Jenderal Pramono Edhie Wibowo, sebagaimana dilansir VIVA.Com, disampaikan Eddie Wibowo bahwa, TMMD memang bukanlah program baru. Dikatakannya kalau program ini telah dilaksanakan sejak tahun 1980 di seluruh Indonesia. Lokasi dipilih utamanya di daerah tertinggal, terisolasi, perbatasan darah kumuh perkotaan, serta daerah lain yang terkena dampak bencana.

Pada Oktober 2011, TMMD ke-87 digelar di 61 Kabupaten/Kota. Saat itu TNI AD bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan. Kegiatan difokuskan di 61 kabupaten/kota yang dinilai punya masalah kesehatan; tersebar di Aceh, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua.

Menteri Kesehatan yang saat itu masih dijabat Endang Rahayu Sedyaningsih, menjelaskan bahwa TMMD akan meliputi program kegiatan fisik dan nonfisik. Anggota TNI akan lebih berperan pada pembangunan fisik seperti pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung akses layanan kesehatan. Sedangkan Kementerian Kesehatan akan fokus pada kegiatan nonfisik, seperti penyuluhan kesehatan.

Disebutkan pula kalau anggaran TMMD berasal dari APBD setempat, dana hibah, maupun dari swadaya masyarakat. Sedangkan dana untuk pasukan TNI diambil dari APBN sektor pertahanan.

Pada 27 Juli 2011 silam, Mayor Jenderal TNI Moeldoko, yang saat itu masih menjabat sebagai pagdam III?Siliwangi, ketika membuka kegiatan bedah Rumah di Desa Ujung Jaya, Indramayu, mengatakan,
“Tujuan TMMD untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung, melalui berbagai program yang ditujukan kepada masyarakat dan wilayah yang masih ketinggalan,”

Sebagai contoh, Bedah Desa di Desa Muntur, Kecamatan Losarang, Indramayu, direncanakan memperbaiki 31 Rumah Tidak Layak Huni, 1 unit mushala, 2 Pos Kamling, perbaikan jalan desa sepanjang 1.250 m x 3 m, serta pembuatan 1 unit instalasi dan penampungan air bersih. Sementara itu, di Desa Ujung Gebang, prajurit TNI akan merenovasi 30 unit Rumah Tidak Layak Huni. (Uphink)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.