ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Bukan Alul, Bukan Eyang, Tapi Chandra Modeong

Bagikan Artikel Ini:

Menang
Ini soal Pilkada. Bagi yang suka meluangkan waktu untuk memperhatikan, maka selalu muncul dua kategori manusia dengan sikap yang menggelikan. Saking menggelikannya, setiap baru punya niatan masuk akun medsos (fesbuk misalnya), tawa Anda sudah duluan menggelegar lalu muncrat menghujani layar gejet kesayangan Anda.

Dua kategori manusia ini biasanya makin eksis pasca pemilihan; pilkada misalnya. Begitu menggelikan sekaligus menghiburnya sehingga kemungkinan ada ide yang muncul dari benak Anda, kiranya para pemenang kontes Pilkada (di Boltim), dapat memberi hadiah berupa paket tamasya kepada mereka (tanpa pandang bulu) ke…… sudahlah untuk ke Padang Arafah, tapi Bombuyanoi Island dengan pasir putihnya yang cantik dan bikin baper, sudah cukup pantas diberikan sebagai hadiah. Paket tamasya itu tentu harus includ dengan dofoma, petromaks, dan peralatan snorkling. Selimut dan sunblock juga sudah termasuk.

Lantas siapa mereka? Tipe pertama, adalah mereka yang meributkan dengan cara sinis dan nyinyir, soal perkara yang sebenarnya enteng. Yakni hasil perolehan suara pasangan calon yang berlaga dalam Pilkada Bupati Boltim yang baru saja usai.

Biasanya mereka yang ada dalam kategori ini, akan dengan pongahnya menyerang kelompok lain sambil merapal alasan teknis-prosedural berbau regulasi. Misalnya; belum ada pengumuman resmi dari lembaga resmi; KPU. Belum ada yang bisa disebut pemenang sebelum semua surat suara habis dihitung. Perjalanan masih panjang, jangan terpengaruh dengan informasi sesat. Dan segala tetek-bengeknya yang sebenarnya cuma ajang untuk membuang-buang umur kalau tak dibilang sebagai ajang menghibur diri.

Bagi kelompok ini, Anda adalah orang awam yang bodoh, tidak tahu apa-apa soal teknis-prosedural lembaga berwenang, dan tersial dianggap sebagai cecungukcecunguk yang sesat informasi, atau dibodoh-bodohi oleh informasi bodong. Maka jangan heran, Anda akan ditertawakan setelah lebih dulu disindir, diserang, dan dijadikan bahan buli.

Serangan paling klise adalah; “Tahu dari mana? Emang kakek lu KPU? Dapat data dari mana? Hongkong? Kan belum selesai dihitung? Di situ mimpi kali yee…. kan ada KPU? Belum pleno juga,”

Tak heran jika Anda (yang sebenarnya kelompok pemenang) merasa seperti terpojok. Seolah-olah apa yang Anda yakini itu salah dan apa yang mereka sampaikan adalah kebenaran yang harus dipercayai.

Baik. Lepaskan itu. Lantas cobalah Anda tanya kembali. Contoh; “Lantas setahu kalian pasangan calon mana yang berhasil meraup suara signifikan?” Ooopsss..ntar dulu. Bisa jadi mereka bingung dengan pertanyaan Anda. Maka tanyakan saja begini; “Lantas menurut kakekmu, pasangan calon mana yang saat ini berhasil meraup suara terbanyak dalam proses penghitungan cepat?” Percayalah, mereka juga akan kesulitan menjawab, kecuali cuma akan tambah menyiyiri Anda dengan lebih agresif.

Sekarang kita masuk pada kategori kedua. Mereka ini adalah tipe kebunglon-bunglonan. Atau mendadak independen. Mendadak netral. Dengan cerdiknya mereka memberi kesan seolah-olah tidak ada di kubu A maupun di kubu B. Atau mendadak di A setelah B kalah. Begitupun sebaliknya.

Tapi kalau Anda mau membuang waktu sebentar, dan memperhatikan dengan lebih cermat, silahkan cek riwayat postingan status kelompok ini di lini massa, maka percayalah tawa apa lagi yang akan Anda dustakan? Tapi ini harus buru-buru dilakukan sebelum kelompok ini sudah tahu rencanamu lalu buru-buru menghapus riwayat postingannya. Jika Anda berhasil sebelum mereka mendelet semua riwayat status maupun komen, maka dijamin, keterkakakan Anda lebih menggelegar dibanding bunyi penggilingan tarepak! Jangan lupa, capture bila perlu. Wkwkwkwkw.

Tapi yang lebih menggelikan lagi, ketika kelompok ini seolah-olah merasa bahwa Anda tak tahu apa-apa, termasuk jurus bunglon yang sedang diperankan, lihat apa yang mereka lakukan. Mereka mendadak jadi sang maha bijaksana. Terkadang malah berkhotbah, mengutip dan merapal ayat suci sembari membawa-bawa nama Tuhan. Contoh; “Memang apa yang sudah digariskan Tuhan, tak akan bisa dilawan dengan apa-apa,”. Atau begini ; “Alhamdulillah, akhirnya dengan kesabaran dan doa yang dikumandangkan, jagoanku akhirnya berhasil,”.

Lantas apa dan bagaimana sekarang? Lihatlah perdebatan di fesbuk. Yang menang dibuli takabur dan dikatai sebagai masyarakat yang mendapat asupan informasi bodong. Parahnya lagi, kelompok yang hampir dipastikan memanga dalah pemenang, malah masih merasa terusik dan panas hati.

Jadi begini saja. Pilkada Boltim diikuti 3 pasang calon, masing-masing Chandra Modeong – Supratman Datunsolang (CERDAS), Sacrul Mamonto – Meddy Lensun (SMILE), dan Sehan Landjar – Rusdi Gumalangit (SERU). Pencoblosan sudah selesai. Lantas siapa yang berhasil meraup suara signifikan berdasarkan asumsi, suara sah yang masuk di KPUD Boltim sudah 90 persen?

Agar tidak membuang-buang ludah dan karena berdebat itu butuh tenaga, (seperti yang pernah terjadi di jaman Pilpres Jokowi VS Prabowo), maka saran saya kepada pemenang, jika Anda disindir, dinyinyiri, atau ditanyai siapa pemenang Pilkada Boltim, maka jawab saja begini; “Yang menang bukan Alul, bukan Eyang. Bukan pula Smile apalagi Seru. Tapi yang menang adalah Chandra Modeong. Titik!”.

Lalu biarkanlah jika ada yang masih berdebat berbantah-bantahan sampai Eyang dan Rusdi dilantik menjadi pasangan Bupati-Wakil Bupati hingga tahun 2020.

Penulis : Uwin Mokodongan

Uwin Mokodongan
susah senang, tetap sahabat sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *