ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Luna : Damailah Boltimku

Bagikan Artikel Ini:

Luna Alexandra

Connie Alexandra Pricilya Putri Manarat, atau lebih populer dengan nama Luna, adalah salah satu anak muda Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang menyampaikan uneg-unegnya terkait Pilkada Bupati Boltim yang tensinya kini terus memanas.

Gadis kelahiran 2 April 1987, yang memiliki bakat modeling ini, kepada ARUS UTARA menyampaikan rasa keprihatinannya atas ragam peristiwa kekerasan yang terjadi antar pendukung pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Boltim 2015.

“Semua orang tentu menginginkan pilkada berjalan damai sekalipun memang ada persaingan didalamnya. Tapi bukankah persaingan yang fair dan jauh dari sisi negatif, adalah dambaan setiap rakyat dan elemen yang terlibat didalamnya,?” kata dia melalui sambungan ponsel.

“Jujur, awalnya saya sebenarnya tidak tertarik dengan urusan politik. Maksud saya politik praktis yang dijalankan lewat sistim kepartaian. Jangankan terlibat, membahasnya saja saya tidak punya ketertarikan sama sekali. Tapi kalau kita mau berpikir lagi, segala sesuatu selalu erat kaitannya dengan politik,” katanya.

Gadis yang pernah menjabat selaku pengurus Forum Komunikasi Duta Pariwisata Bolaang Mongondow (FKDPBM) ini, lantas mengutip Bertolt Brecht, seorang Penyair dan Dramawan Jerman.

“Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung keputusan politik. Ada orang membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar; aku benci politik! Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tak mau politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negri,” kata Luna mengutip Bertolt penyair Jerman.

“Saya adalah anak Boltim. Tinggal di Boltim dan bangga menjadi anak Boltim. Nah, tentu saya harus punya kepedulian bagaimana nasib daerah yang saya cintai ini ke depan nanti. Selaku anak muda Boltim, sudah saatnya terlibat menentukan perjalanan daerah ke depan dengan lebih baik. Salah satu sikap sederhana yang anggap saja itu adalah kontribusi politik kita adalah, dengan memilih pemimpin politik yang kita nilai dialah yang terbaik. Jadi selaku orang muda, tak harus pasrah dan ogah-ogahan dengan urusan itu. Pilkada misalnya,” tukasnya dengan fasih.

Oleh sebab itulah, lanjut Luna, saat Pilkada Bupati Boltim mulai dihelat, dia aktif turun rembuk di group media sosial yang topiknya mengangkat isu-isu dan perkembangan politik di Boltim. Unek-Unek Pilkada Boltim 2015 adalah salah satu yang ia tongkrongi.

“Meski memang karena kita adalah anak muda yang orang-orang sering bilang gaul dan alay, jujur kalau apa yang mencuat di group media sosial facebook misalnya, yang topiknya adalah soal politik di Boltim, lebih bernuansa ke saling bully, saling baku terek, atau wahana bermain saja,” katanya sembari tertawa.

“Tapi demikianlah cara kami. Jelas kami bukan politisi, bukan orang partai yang statemennya terlampau serius. Kami punya cara sendiri dalam berkomunikasi. Bahkan jika ada yang keras, janganlah terlampau dibawa serius. Ingat, why so serious? kata Joker dalam film Batman..Hahahaha..” kata Luna gadis penyuka traveling ini sembari tergelak.

Mengenai peristiwa kekerasan dan benturan berdarah antar pendukung yang sempat terjadi di Boltim, Staf Manajemen Pemasaran Simore Cafe Lounge Manado ini, mengaku sedih dan prihatin.

“Nah, itu yang sangat memukul hati kami selaku anak muda Boltim yang cinta damai. Politik dan semua kisi-kisinya harus kita cerna dengan kepala dingin. Sangat disayangkan memang kekerasan yang meletup di antara pendukung pasangan calon. Kenapa terlalu serius, fanatik, atau dengan kepala panas mencerna remah-remah politik yang tak harus membuat persatuan menjadi tercerai-berai hanya karena perbedaan dukungan? Lihatlah kami di medsos, sekalipun saling bully, saling memberi postingan atau komentar miring, toh kami bisa saling tertawa dan tidak saling memusuhi,” ujarnya.

Di facebook, lanjut Luna, dalam group UNEK-UNEK PILKADA BOLTIM 2015, bagi Anda yang kepalanya cepat panas, mungkin akan mencerna mentah-mentah dan terlampau menganggap apa yang kami sampaikan disitu adalah sesuatu yang serius dan harus dibawa keluar dunia maya menuju dunia nyata. Ini sebenarnya yang jadi soal. Padahal kami bisa menjadi barometer bagaimana sesuatu yang berlaku di dunia maya itu tidak dibawa-bawa ke dunia nyata. Biarlah facebook tetaplah facebook.

Luna lantas mengatakan kalau penyebab terjadinya kekerasan dan benturan antar pendukung pasangan calon di lapangan, sebagaimana yang terjadi di Boltim dalam beberapa pekan belakangan ini, dikarenakan cara menanggapi sesuatu yang terlampau serius, fanatik, tanpa filter, dan kepala yang panas.

“Kita terlalu serius, fanatik, sehingga menyebabkan kita tidak santai. Akhirnya yang terjadi adalah kekerasan. Coba kalau kita lebih rileks dan santai, pilkada tentu menjadi sebenar-benarnya pesta demokrasi bagi rakyat,” tandasnya.

Diakhir pembicaraan, gadis asal Modayag Barat yang mengaku hubungan asmaranya baru saja Crash Boom Bang alias hancur berantakan dan membuatnya memilih untuk masih menutup diri, berpesan kepada seluruh masyarakat Boltim, terutama para pendukung pasangan masing-masing calon untuk dapat melonggarkan pakaian agar tak terasa sesak di badan, supaya lebih rileks, jangan terlalu serius, jangan tegang, dan lebih santai dalam menyambut akhir pesta demokrasi 9 Desember nanti, supaya damai di Boltim masih akan senantiasa terjaga. Selain itu, jadilah embun penyejuk, kata Luna berpesan.

Lebih dari itu, gadis yang mengaku pecinta seni tatto sebagai warisan budaya nusantara ini, menambahkan kalau siapapun yang akan menang nanti, itulah pilihan rakyat Boltim dan harus didukung.

“Ingat, tanggal 9 Desember adalah jawaban dan berakhirnya persaingan. Sama-sama kita bangun Boltim dengan lebih baik dan damai. Dan yang lebih penting lagi, apapun yang ada di group facebook yang mengangkat isu-isu politik di Boltim, biarlah itu hanya berlaku di facebook saja, sebagai kenangan dan cerita yang tak terlupakan sekalipun ada yang mungkin pahit. Biarlah facebook punya ceritanya sendiri. Biarkan kita tertawa ketika mengenangnya kembali, bukan untuk dijadikan bahan untuk saling memperkeruh keadaan. Salam damai untuk Boltimku. Boltim yang kita cintai sama-sama. Siapapun Anda, pendukung nomor 1, 2, atau 3, kita adalah orang yang sama-sama mencintai damai sebagaimana kita mencintai Boltim kita,” pungkasnya. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.