ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

PLN Adalah Kelompok Kedua Yang Tak Takut Dengan DPR

Bagikan Artikel Ini:

lampu Mati

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Siapa yang paling berani dengan DPRD? Jawabannya tak mungkin Walikota, Bupati, atau Gubernur. Tidak juga Kepala Dinas, Hansip, Investor, maupun Kontraktor. Lantas siapa? Jawabannya cukup simpel; Kelompok pendemo!

Ya, betul. Setuju kan khalayak pembaca? Sudahlah untuk melihat tayangan demonstrasi anak-anak di Makassar. Atau memutar kembali film dokumenter peristiwa 98. Di Kotamobagu, lihatlah bagaimana para pendemo beraksi di Gedung DPRD. Selain berteriak-teriak kayak petantang-petenteng yang tak pernah gentar adu duel, adu fisik, tengoklah kelakuan para pendemo ketika menguasai gedung parlemen; berjingkrak-jingkrak di kursi yang diperoleh empunya dengan money politik susah payah, terkadang berbuat brutal dengan melakukan pengrusakan, memaki-maki, dan sebagainya tanpa harus memanas-manasi telinga para wakil rakyat yang terhormat, ketika dituding-tuding, ditunjuk-tunjuk dengan jari tengah telunjuk para pendemo.

Nah, sekarang, mari bertanya; selain kelompok pendemo, kelompok mana berada di posisi kedua yang punya nyali sehingga nekat berbuat sewenang-wenang terhadap anggota DPRD?

Ya, betul. Tak salah lagi, PLN adalah jawaranya. Pintarnya lagi, mereka tidak perlu menggelar rapat soal setting aksi, tak perlu patungan mengeluarkan duit untuk beli spanduk, tak perlu bersusah-payah melakukan agitasi-propaganda kepada massa rakyat, apalagi harus lelah-lelah berlong-march sambil berkoar-koar di corog pengeras suara, memaki para anggota dewan satu-satu. Cukup sekali KLIK, atau sekali Pretak, Prek, atau dengan cara menarik tuas dari ON ke OFF, dan gelaplah dunia termasuk Gedung DPRD Kota Kotamobagu, dimana para pejuang rakyat tengah menggelar rapat penting yang konon untuk kemaslahatan umat.

Tak percaya? Jumat 18 Desember 2015, tadi malam, kira-kira pukul 20:00 WITA, Perusahaan Listrik Negara alias PLN, yang meski selalu mendapat buli, hojat, fetnah, dan caci-maki dari pelanggan—namun tetap saja abadi nan jaya—berani-beraninya mereka (PLN) melakukan pemadaman listrik, termasuk di jalur yang sebenarnya harus mendapat pengecualian.

Lha, pengecualian? Berarti ketimpangan dong namanya? Kalau di desa mati, ya di kota juga harus mati. Kalau di lorongnya Bambang Racun Tikus dapat giliran pemadaman, ya kenapa tidak dengan jalur dimana Gedung Rakyat berdiri (DPRD). PLN kan tak harus pilih kasih. Harus merata. Lagian ada urusan apa Gedung DPRD malam-malam? Biasanya sebelum siang, mereka yang berkantor di sana terkadang sudah pulang juga kok.

Mungkin demikian ya butir-butir prasangka, praduga, pertimbangan, atau perdebatan yang dapat muncul di antara kita, terkait pemadaman listrik. Termasuk di jalur-jalur vital, apalagi di Gedung Rakyat semacam Kantor DPRD.

Tapi, di luar dari prasangka sesat itu, fakta realita cinta di lapangan, PLN berani memadamkan listrik termasuk di jalur berdirinya Gedung DPRD Kota Kotamobagu. Mereka seolah tak mau ambil pusing, apakah ada rapat penting atau tidak yang sedang dilakukan para wakil rakyat. Kalau gilirannya mati ya mati. Lantas kalian mau apa? Menyalahkan PLN? Memaki PLN? Menuduh PLN melakukan korupsi? Rapat demi rakyat yang akhirnya tertunda? Ya itu derita kalian kali…!!

Apa betul pihak PLN akan mengoceh begitu? Tentu tidaklah. Marilah untuk tidak selalu berburuk sangka. Siapa tahu pemadaman itu terjadi karena kendala teknis. Apalagi sudah masuk musim kemarau. Eh, penghujan maksudnya. Siapa tahu ada pohon tumbang yang menganggu instalasi listrik, sehingga harus diperbaiki. Apa kita harus selalu berpikir bahwa PLN adalah sekawanan bangsat atau penjahat yang tak berkontribusi apa-apa demi terangnya dunia dan kemaslahatan umat? Mikir donk, kata Cak Lontoh. Emang PLN milik Bapak lu? Milik negara kan? Ya, DPRD juga kan lembaga milik negara kok. Hampir sama dengan PLN.

Tapi, demikianlah. Listrik padam ketika Beggie Gobel tengah membacakan pandangan Badan Legislasi, dalam Sidang Paripurna tingkat 2 untuk penetapan 3 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda).

Tapi, tunggu dulu. Sekedar intermezo, saat menerima kiriman email berita pemadaman ini, saya kok sekonyong-konyong sempat berprasangka buruk, macam begini; di saat listrik padam, dan anggota dewan sedang menggelar paripurna, PLN seolah-olah berkata; “Nih, rasain lu wahai para wakil rakyat,”.

Hehe, itu senda-gurau belaka saja ya dari saya. Ayo kembali ke laptop dan berpikiran sehat.

Namun para anggota dewan yang berjiwa besar, apalagi demi kemaslahatan rakyat, tak terpengaruh sama-sekali dengan kegelapan yang diciptakan PLN. Para wakil rakyat itu tetap setia di tempat masing-masing. Seolah sudah mahfum bahwa matinya listrik sudah bukan rahasia dan keanehan lagi di Kotamobagu. Seolah mereka sepakat dengan apa yang biasa dilontarkan cabe-cabean with cadeko and bonceng tiga di motor metik; “Biasa jo..so pernah lay,”. Sungguh merupakan sosok wakil rakyat yang hatam betul apa istilah kekinian dan kondisi perasaan terupdate rakyatnya.

Tapi, ternyata tidak semua anggota dewan menerima dengan ikhlas dan hati yang lapang atas pemadaman itu. Meski sebenarnya para staff di DPRD begitu cekatan mencari solusi dengan memberi penerangan alternatif berupa lilin, senter handphone, dan lampu charger, tetap masih ada saja yang tak mau terima begitu saja.

Tanpa perlu kami tuliskan namanya lagi, salah seorang anggota dewan yang belum mau ikhlas seenaknya dengan apa yang dikatakannya sebagai bentuk kesewenang-wenangan PLN, dia mengaku kecewa dengan keusilan perusahaan milik negara itu.

“Ini agenda penting. Demi rakyat. Seharusnya PLN harus mendukung, memahami, mengerti, bukan malah membuat gelap keadaan,” keluh anggota dewan tersebut, yang sengaja tidak kami tuliskan namanya di sini.

Alasan kami tidak perlu mempublish namanya, sebenarnya untuk berjaga-jaga saja dari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Misalnya, kami dari ARUS UTARA tidak mau nanti ada kejadian dimana orang PLN akan membuat rumah anggota dewan yang bereni protes ini, jadi kayak tempat dugem; mati menyala-mati menyala. Atau sudahlah itu, tapi bagaimana ketika ketemu di jalan nanti. Orang PLN yang militan dan sudah tidak bisa menahan amarah karena setiap detik dibuli, difetnah, dan di caci-maki, nanti akan mengepruknya dengan kunci inggris atau menancapkan tespen ke mulut anggota dewan yang cerewet itu. Atau yang terbrutal adalah dengan cara menyetrumnya hingga membiru. Gak boleh kan pihak media memans-manasi keadaan. Kuncinya adalah pengendalian diri kata AA Gym.

Lalu apa kata PLN terkait pemadaman ini? Apa karena debet air sungai menurun karena masih musim kemarau? Ooopsss… gak mungkin. Ini kan sudah musim penghujan. Lalu? Ah, seperti yang sudah disampaikan tadi, siapa yang tahu kalau instalasi terganggu dan harus diperbaiki dalam hitungan 1 X 24 minggu jam.

Ah, jangan berapriori. Cukup Apriwahyudi yang pernah menyaksikan, ada orang diludahi gara-gara keseringan main Gejet dan tak mempedulikan teman di sebelah.

Tapi, bukankah harus dikonfirmasi ke pihak PLN, gerangan apa terjadi sehingga mereka berani-beraninya memadamkan listrik di gedung DPRD Kota Kotamobagu?

Kami berpikir, upaya konfirmasi tak perlu kami lakukan lagi. Telah berkali-kali kami melakukan upaya konformasi tiap kali ada pemadaman. Dan jawaban yang kami dapatkan hampir selalu sama.

Namun di satu sisi, kami sebenarnya kasihan juga sama pihak PLN, yang mungkin juga sudah cape bahkan bosan dengan tamu yang datang untuk kepentingan konfirmasi keribuan kalinya. Selain kami khawatir jika suatu ketika, di kantor mereka, saat kepentingan konfrimasi, mereka yang akhirnya naik pitam oleh topik yang itu-itu saja, bakal menyetrum kami satu-satu. Kasihan juga kan mereka yang sudah digaji agar dapat bekerja dengan lebih baik dan profesional demi kepuasan pelanggan, tapi kenapa selalu mendapat buli, fetnah, dan caci-maki.

Maka biarlah, hanya warung yang dapat menjawabnya ketika banyak lilin laku tiap malam. (Uwin Mokodongan dan Tim Arus)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *