ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Rakyat Boltim Menang Melawan MONIPOL

Bagikan Artikel Ini:

Lawan Politik Uang

BOLAANG Mongondow Timur (Boltim) memang panas dalam banyak hal. Sudahlah soal cuaca yang selalu meramaikan Recent Updates para pengguna BlackBerry Messenger alay yang mengutuk kegemilangan matahari. Saya yang bukan sekali-dua pernah menjadi pelancong plus-plus (sosial politik maksudnya) di wilayah ini, pernah ikut merasakan bagaimana daerah ini bergeliat dengan cerita dan kisahnya.

Rabu 9 Desember 2015, kolom chat BBM saya ramai tak hanya oleh pesan berantai atau chat personal kawan-kawan yang ternyata selama ini adalah para pengamat politik di Boltim. Baik mereka selaku pengamat dadakan yang lahir dari momen Pilkada, atau mereka yang sudah lama ambil bagian dalam politik lokal negeri di ujung timur Mongondow yang punya banyak istilah (disematkan juga oleh para pengamat), mulai dari Komkomci, Lalampa, Panada, Lolipop, bahkan yang agak rasial yakni Timur Tengah.

Ya, chat yang masuk ini seperti daftar bumbu resep masakan lengkap dengan rempah-rempah dan takaran presentase, pasca pencoblosan siang tadi. Pun riuh euforia turut berjejalan di status BBM; mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa.

Boltim memang cukup menyedot perhatian publik di Mongondow. Bahkan tidak berlebihan jika merambah luar Mongondow. Apalagi ada liputan media nasional baik cetak maupun elektronik yang tersiar semakin riuh.

Sudahlah untuk merilis satu-satu daftar kehebohan yang mencuat dan dikait-kaitkan dengan Pilkada, tapi kekacauan yang terjadi saat masa kampanye hingga pada momen H min 2, adalah kehebohan yang sudah cukup membuat kita menyimpulkan; tensi dan suhu Pilkada di Boltim memang PANAS.

Sembari mengesampingkan kejadian-kejadian yang sudah sampai ke meja pulisi, ada satu peristiwa menarik yang membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus membuat bola mata saya berkaca-kaca entah karena reaksi terkakak-kakak bercampur rasa haru, entahlah saya kurang pasti.

Apa itu? Apalagi kalau bukan soal berita sekumpulan Mamak-mamak progresif-revolusioner yang mengeroyok oknum anggota dewan Boltim, karena dituduh membagi-bagikan uang ke warga supaya memilih salah satu pasangan calon yang didukungnya. Masya Allah, bayangkan Masbro and Sistbro, Mamak-mamak mengeroyok seorang lelaki berbadan sehat gara-gara mereka membenci pelaku MONIPOL (Money Politic) alias politik uang? Perut saya makin terkocok ketika membaca berita; selain mengeroyok, Mamak-mamak anti MONIPOL ini ikut membuat bodi mobil berplat merah yang dikendarai oknum anggota dewan yang mereka keroyok, peyot. Ekhuhu…!!

Lebih dari itu, lihatlah pula zebe-zebe (Bapak-bapak) dan para pemuda yang tak gentar menghadang kendaraan yang dicurigai bermuatan berkarung-karung rupiah, siap didistribusikan ke warga yang namanya sudah terdaftar. Para pejuang demokrasi ini rela meniadakan jam tidur sampai mereka pucat-pucat, demi mencegah kekotoran ‘serangan fajar’ (nama kuno dari MONIPOL). Jujur, pilihan mereka untuk meniadakan jam tidur malam ini, menjadi bahan buli pesaing di group media sosial facebook bahkan di Recent Updates BBM; “Hey, so boleh tidor stow. Apa so tu ngoni mojaga-jaga? Bukang ngoni pe doi kwa eh. Kasiang Rhoma Irama bilang jangan begadang supaya muka ndak pucat,”. Itu hanya sebagian untaian buli kepada mereka yang berjaga-jaga seperti Manikulu (Burung Hantu).

Berita di media akhirnya muncul; 3 mobil Daihatsu Xenia ringsek di bombardir batu. Sopirnya bahkan mengalami luka sobek di wajah. Beberapa penumpangnya ikut mengalami luka, kena peluru pongo (lemparan batu), kaca mobil hancur berhamburan, warga yang meniadakan jam tidur malam ini menuduh orang-orang yang di dalam mobil adalah orang-orang kiriman yang menerima tugas sebagai eksekutor lapangan, tukang bagi-bagi MONIPOL. Polisi lantas bersigap dan berhasil menyiduk para pelaku yang main hakim sendiri, dan main tuduh sembarangan. Kasusnya sudah di meja penyidik. Pelaku masuk sel.

Apa yang saya simpulkan dari dua peristiwa di atas? Eyang (Sehan Landjar) sebagai petahana, dalam beberapa kesempatan pidatonya di panggung kampanye, berhasil menggugah kesadaran rakyat Boltim (terutama pendukungnya), agar bangun dari keterlelapan panjang akan manisnya gula-gula politik alias MONIPOL. Eyang atau mungkin tim suksesnya, berhasil meramu Kopi tanpa Gula. Politik tanpa Uang. Kesadaran pendukung atau tim suksesnya mungkin hendak mengatakan dan meyakini; tidak selamanya kopi itu harus pakai gula. Sehingga tidak selamanya kemenangan itu harus dengan money politik. Bagi mereka politik seolah-olah seperti secangkir kopi; harus ada perjuangan untuk ‘meringkus’ rasa. Kopi tak selamanya harus manis.

Mereka berhasil. Rakyat Boltim dibuat tak melulu terbuai dengan politik uang, dengan kebusukan MONIPOL yang sudah menipu banyak rakyat endonesya selama ini; menjamur dan tumbuh subur; membudaya dan mengakar. Tak ada uang tak ada sayang.

Tapi apa yang terjadi di Boltim?Mamak- mamak mengeroyok pelaku MONIPOL. Papak-papak dan pemuda-pemuda berjibaku menahan kantuk, merazia kendaraan yang seharusnya menjadi tugas Panwaslu dan Polisi. Dan alangkah lucunya, sekaligus tragis dan bikin mual, adalah ketika orang-orang yang meniadakan tidur ini, berhasil menghadang dan menangkap 3 oknum polisi yang diduga terlibat menjadi tim sukses dan eksekutor lapangan tukang bagi-bagi MONIPOL. Di dalam mobil ditemukan bergepok-gepok duit. Kini sudah diamankan di kantor polisi sebagai barang bukti, untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Amarah meletup di Boltim. Rakyat dibikin cerdas dengan menolak politik uang. Bebatuan berhamburan ke kendaraan yang membagi-bagikan uang. Boltim tak butuh ‘Sinter Class’ politik yang menghambur-hamburkan uang demi kekuasaan. Mereka akhirnya berproses menjadi cukup pintar untuk ditipu dan dibodohi dengan rupiah. Tak ada satu pun yang layak disebut konsultan politik, selama ia masih berkutat menakar uang.

Saat ini, di media, data perhitungan sementara masih dipimpin oleh Eyang sang petahana. Jika ini terus bertahan hingga keluarnya keputusan resmi dari KPUD Boltim, maka pada hakikatnya ini bukanlah semata-mata kemenangan Eyang, tetapi kemenangan massa rakyat progresif-revolusioner yang telah melahirkan sejarah bagi Endonesya, yang mereka mulai dari ujung timur negeri Mongondow; MENOLAK MONIPOL. Maka ajarkanlah itu dan ceritakanlah kepada anak-cucu mulai dari Boltim, Indonesia, dan dunia.

Selamat berpesta rakyat Boltim. Setidaknya kalian telah belajar bersikap. Biarlah orang Kotamobagu malu tapi akhirnya akan sadar dan mengikuti jejak kalian di tahun-tahun yang akan datang. Sungguh sebuah pendidikan politik yang cantik. Salut untuk Boltim!

Penulis : Kristianto Galuwo

Sekarang lagi berguru di Undergroundtalo. Anggota AJI Gorontalo.
Sedang berguru di Undergroundtalo. Anggota AJI Gorontalo. Tergila2 pada kue Panada.
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.