ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Penggal-Penggal Kisah dengan Bro Safey

Bagikan Artikel Ini:

Copy of Safey

BAGI saya, Safey adalah cerita tentang remaja Mogolaing. Untuk menyebut lebih spesifik lagi, bukan sembarang omong jika saya menyebut tempat seperti, Wartel Kota Jaya, Golden Theatre, Jalan Amal, atau sepenggal masa di SMA 2, sebelum hijrah ke SMA Islam dan selesai di SMA 4 Kotamobagu.

Ah, anggap saja itu tidak spesifik untuk mengisahkan Safey di awal-awal pertemanan kami. Sehingga saya harus menyebut suatu tempat di mana orang-orang pernah melukis kisah di BKIA (sekarang klinik VIP RSUD Datoe Binangkang).

Oh,ya. Mungkin Anda tidak pernah bersama dia di sana. Maka, saya cukup menyebut 3 nama yang masih segar dalam ingatan saya. Sehingga apa kabar; Wawan Gots, Andy Gobel, dan Ento Soewikromo?

Kisah selanjutnya adalah Jalan Adampe Dolot, yang selalu ia tulis sebagai Potlot. Tertera sebagai coretan di cover buku catatan sekolah. Buku yang hanya satu kali pernah saya lihat ditanganya. Atau sebagai grafiti kecil di tempat-tempat persinggahan. Di bangku BKIA misalnya. Tempat dimana sekali-dua saya pernah membulinya sebagai perusak kuku. (Sebenarnya saya mau menulisnya pemakan kuku).

Kenapa perusak kuku? kawan-kawan dekatnyalah yang paling tahu. Atau siapa saja yang pernah memperhatikan kuku jari tanganya yang habis ia lumat dengan geriginya.

Ya, demikianlah. Safey adalah remaja tampan yang tidak semua orang tahu kalau dia adalah ‘pemakan’ kuku.

Saya pertama kali melihat Safey, sebagai adik kelas di SMP Negeri 1 Kotamobagu. Kami satu barisan putih-biru, saat hendak menjemput kedatangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang ketika itu dijabat Fuad Hasan. Berbasahan kami menanti sang Menteri di perempatan jalan Kotobangon, karena konon akan lewat menuju Ilongkow Rumah Jabatan Bupati. Tapi hingga sore menjelang, dengan seragam yang basah oleh hujan, tak juga nongol batang hidung sang Menteri di hadapan kami yang kuyup. Pertemuan pertama kali itupun, hilang, setelah saya pindah sekolah di kampung.

Tapi sekitaran tahun 1993, saat Marlboro Discotique, (perangkat sound sistem alias disko tanah untuk istilah di Kotamobagu) diundang main dalam sebuah hajatan pesta di Mogolaing, dan kami anak-anak Passi adalah rudies perangkat sound sistem itu, saya kembali bertemu dengannya. Memang sudah tak saling sapa lagi. Namun saya ingat betul, dia adalah salah satu barisan putih-biru yang kecewa tak bertemu Menteri Fuad Hasan. Memori saya memang selalu kuat mengingat orang. Sehingga kaos putih bertuliskan NY di punggung kiri yang ia kenakan, dan celana Jeans Lea yang membungkus kakinya, masih segar dalam ingatan saya.

Setelah kisah-kisah di BKIA, Wartel Kota Jaya, dan Golden Theatre, suatu ketika, Wawan Gots mengajaknya ke Passi. Di kampung tempat saya besar itu, ketika mulut dan pipi kami terasa seperti sedang ditampar pemilik warung, karena tak merokok usai makan siang yang pedas, Safey menawarkan saya supaya menggadaikan dompet bermereknya, lengkap dengan semua isi; ada SIM A, pasphoto, dan entah puluhan kartu nama dan alamat siapa.

Tapi tak ada yang tertarik. Sehingga saya akhirnya menambah catatan bon di warung. Setahun setelah peristiwa itu, kisah berjalan di Manado. Itu tahun 1997. Di kos belakang Jasa Raharja Sario Manado, Wawan Gots dan Safey mengetuk pintu kamar saya. Mereka baru tiba dari Kotamobagu. Kisah selanjutnya adalah lampu-lampu malam di Kota Manado, mencatat riang langkah kami mulai dari Boulevard hingga President Center.

Dari situ, saya lupa apa saja yang terjadi. Hingga pada tahun 1998, atau setahun kemudian, pintu kamar kos saya yang baru, kembali di ketuk oleh dua orang yang sama; Wawan Gots dan Safey.

Mereka sebenarnya hendak bertemu Ento Soewikromo. Adik laki-laki dari Dokter Bambang Soewikromo yang kebetulan, saat Wawan Gots dan Safey tiba, Ento belum pulang dari panjang perjalannanya yang entah kemana.

Sembari menanti kedatangan Ento, saya mengajak Wawan Gots dan Safey nongkrong sebentar di kamar kos saya di Villa Putih lantai 2. Di dalam, saya memperkenalkan sahabat saya bernama Yudi. Lalu entah apa yang dibicarakan, dari Kos Villa Putih Kleak, setelah Ento tiba, berdasarkan kesepakatan dengan Yudi, berempat kami bersesak-sesak dalam Taxi Merit menuju sebuah Cafe yang pernah terkenal; Cafe Carita. Lokasinya tak jauh dari Novotel. Oleh Yudi, kami diajak berkenalan dengan seseorang.

Setelah itu, saya tak ingat lagi apa yang terjadi. Tapi saat liburan semester dan pulang ke Kotamobagu, kami bersua di Wartel Kota Jaya. Ada Dedy Ular di situ, Wiwik Mamonto, Udy Sako, dan tentu saja kakak-beradik, Hanny dan Yaw.

Tahun demi tahun berlalu. Masing-masing punya kisah sendiri-sendiri. Sekali saya pernah dibuat kaget dan penasaran. Malam itu, ketika hendak Chek In di Hotel Tentram (milik keluarga Safey), ada mobil warna hitam lewat di Jalan Adampe Dolot Mogolaing. Saya dan teman sejalan baru saja memarkirkan motor di halaman Hotel. Mobil itu lantas berhenti tepat di mulut gerbang Hotel. Kaca diturunkan setengah, lalu nama saya menggema diteriakkan keras dari dalam mobil. Saat terperanjat, ketika menengok ke sumber suara, kaca mobil ditutup, lalu mobil dipacu laju. Sempat terdengar suara cekikikan, dan usaha untuk menutupi diri agar tak dikenali. Tapi saya kenal betul, paras dan suara siapa itu; Safey.

Dan betul, terkonfirmasi saat saya bersua lagi dengannya beberapa hari selanjutnya. Sembari ketawa, dia berseloroh; “Nakal skali ngana malam itu eh,” katanya. Saya bertanya; “Nakal bagimana?”. Safey hanya membalas dengan tawa ngakak dan memesum. Ini di Ultra Disc, di depan rumah Wiwik Mamonto. Tempat beberapa kali kami bersua oleh film favorite.

Sebelum itu, di pertigaan Lapangan Kotamobagu, kami bertemu lagi. Gayanya belum berubah. Termasuk kebiasaannya melumat habis setiap kuku di jari tangannya. Ketika itu, dia bersama seseorang. Pacar rupanya. Dialah Vira Mokodongan, yang akhirnya ia persunting sebagai istri, hingga lahirlah sang buah hati diberinya nama Bintang.

Tahun kembali berjalan. Samar saja saya mengetahui kalau dia sudah menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi. Hingga kami bertemu di Polres Bolmong, ketika sama-sama mengurus SKCK untuk keperluan pencalegan tahun 2009 silam.

Pada momen politik itu, kami sama-sama gagal memperoleh kursi. Namun tak lama berselang, kami bertemu kembali pada suatu kesempatan yang sungguh menyenangkan. Di Passi, di kediaman keluarga besar saya di Ikayang, saat Marjinal–komunitas Punk Rock–dan Taring Babi Creatif Colektive Home datang dari Jakarta, bersilahturasa dengan kawan-kawan di Mongondow, dengan berkendara sedan hitam, Safey tiba. Mobil di parkir dibawah pohon jeruk Bali. Kami senang menyabutnya. Saya tahu, Safey sangat tertarik dengan kesenian. Terutama seni tato. Maka sahabat kami Bob Bastardo, pembetot bass Marjinal, sekaligus seniman tattoo di Taring Babi, menyempatkan diri memberi karya di punggungnya.

Ada Rio Manoppo (Anggota DPRD Bolmong ketika itu), Andre Poga, dan Adrianus Mokoginta (Sekarang Anggota DPRD Kotamobagu), yang ikut memberi kaki, lengan, dan punggung sebagai wadah bagi Bob Basstardo berkarya.

Di tengah-tengah momen berkesenian itu, Handphone disakunya berdering, Safey mengangkatnya. Rupanya itu suara istri tercinta, Vira Mokodongan, menanyakan kabar dan posisinya. “Kita ada di Passi ini. Pa ngana pe sudara pe rumah, oh iyo iyo,” kata Safey menjawab telfon. Senyumnya mengembang. Dia lalu memutar-mutar badanya di depan cermin kamar saya. Meminta saya mengomentari. Selanjutnya kembali pada tempatnya, dan kisah berlanjut di tengah-tengah suasana hangat ketika kami menikmati ikan bakar hingga akhirnya menuju Kampus UDK.

Setahun setelah itu, atau pada 2010, saya sedang dalam perjalanan dari Manado menuju Kotamobagu. Mobil singgah di Amurang di sebuah Rumah Makan. Saya bertemu Safey di situ. Rupanya dia juga sedang dalam perjalanan tapi dari arah Kotamobagu menuju Manado. Setelah tegur sapa, kami terlibat pembicaraan kecil. Saat ditanya, saya mengutarakan kalau hendak ke Kotamobagu karena esoknya akan mengurus agenda Diskusi Budaya Mongondow dan Bincang-Bincang Tato di kampus UDK. Dia mengaku tertarik, tapi tak bisa turut hadir karena suatu urusan di Manado.

Tahun berjalan, dan saya mengetahui kalau Safey lulus perekrutan CPNS di Kota Kotamobagu.

Pertemuan kami selanjutnya bukan melalui medsos atau telfon. Tetapi berpapasan di jalan. Dan seperti biasa, kebiasaannya melumat kuku di jari tangannya belum juga hilang.

Tahun 2016, setelah 8 bulan lamanya bekerja di Bali, oleh karena suatu urusan, saya kembali ke Mongondow, di kampung halaman saya, Passi.

Baru seminggu di sini, dimana urusan belum selesai, Jumat 12 Februari kemarin, saat baru saja log in di Medsos, saya seperti terguncang ketika melihat foto yang diposting beberapa friend list dengan tagline; RIP Mohammad Safey Sugeha. Untaian doa dan kenangan lewat status dan komen, beruntai di situ. Saya bahkan mengira, apakah ini April Mop. Tapi tidak. Sebab sebentar lagi Valentine. Ini Februari.

Innalillahi Wainnalillahi Rojiun. Selamat jalan sobat. Semoga sorga untukmu. Mohon maaf jika ada kesalahan – kesalahan yang sempat hadir dalam pertemanan kita. Termasuk dalam tulisan ini jika tak berkenan.

Saya menulis ini dalam sebuah kamar. Tempat kita berkesenian 6 tahun lalu. Di depan sebuah cermin dimana engkau pernah memutar-mutar badanmu, meminta dikomentari. (Uwin Mokodongan)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.