ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Selamat Jalan Untuk Seorang Wira Sepanjang Masa

Bagikan Artikel Ini:

awan

CATATAN ini sengaja saya tulis untuk sekedar berbagi kenangan kepada pembaca, tentang sosok Arhap Abarang, di mata saya yang pernah menjadi murid Beliau 9 tahun lampau

“Innalillahi Wa Inna Illaihi Roji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Kepala SMP Negeri 1 Tutuyan. Selamat jalan Pak Guru Arhap Abarang, moga khusunul khotimah”

Demikian posting status salah seorang kawan saya di Facebook. Membaca itu, saya langsung mencari tahu, apakah betul yang dimaksud itu adalah Arhap Abarang, salah satu Guru saya kala masih menimba ilmu di bangku SMP, tahun 2007 silam.

Saa masih nyaris tak percaya, setelah mendapat kepastian bahwa Guru yang terkenal killer itu telah berpulang.

Menurut informasi, sekira pukul 06:30, Minggu pagi, 13 Maret 2016, Pak Guru Arhap menghadap Sang Pencipta. Dari kabar yang saya dapat, beliau memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi.

Memang kepergian beliau tidak serta merta membuat saya menangis terisak – isak, namun sebagaimana kawan – kawan lain yang merindukan gurauan, guyonan, dan canda tawa di sudut kantor sekolah kala itu, membuat saya tak bisa menafikan kesedihan yang tiba-tiba menjalar.

Tentu saja yang namanya kehilangan, pasti akan menyisakan kesedihan. Terlebih bagi yang mengenal cukup dekat sosok Pak Guru Arhap Abarang.

Arhab Abarang (Almarhum)

Patut diakui memang, Pak Arhap Abarang (semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT), bagi kami kalangan siswa, dikenal sebagai seorang pendidik yang tegas sekaligus keras. Sehingga (maaf) kami bahkan mengkategorikannya sebagai Guru killer.  Beliau memang tegas, dan keras. Meski begitu, kekillerannya punya dampak positif. Apalagi untuk menghadapi para siswa yang bandelnya minta ampun. Namun satu yang perlu pula diketahui, dibalik kekillerannya, ada satu yang paling mengembirakan yakni, beliau punya selera humor yang tinggi. Ajaib bukan? Seorang Guru killer yang punya sense of humor.

Selama tiga tahun menjadi muridnya, saya mengenal cukup dekat sosok yang penuh gurau dan lelucon ini. Kedekatan tersebut menemukan titik puncak ketika saya menjadi Ketua Kelas sekaligus Wakil Ketua OSIS pada tahun 2008 silam.

Kala itu saya duduk di Kelas II. Hubungan kami menjadi sangat akrab. Hingga guru yang dianggap killer oleh sebagian kawan ini, bagi saya adalah seorang yang bisa dijadikan sosok orang tua, sahabat, kakak, senior, inspirator, sehingga menjadi panutan. Meski setelah lulus SMP, komunikasi kami sempat terputus karena kesibukan masing-masing.

Pak Guru (begitu sapa kami sebagai muridnya) adalah sosok yang penuh kesederhanaan. Enak di ajak bicara meski hanya sekedar ngalur-ngidul tak karuan. Selain itu, mendiang juga selalu menjadi sumber mengalamatkan berlusin-lusin tanya tentang banyak hal ketika otak saya membuntu.

Mendiang hadir sebagai pelengkap dan penyeimbang keberadaan guru – guru lainnya dalam mendidik kami. Meski tak jarang sempat mendapat serangan balik dari segelintir murid, namun mendiang tetap tegar dan memilih bersikap memaklumi perilaku murid lebih penting dilakukan ketimbang menghajar atau mengutuknya.

Selaku Pak Guru, mendiang telah membuktikan betapa pentingnya pengendalian diri seorang tenaga pendidik dalam membimbing dan mengarahkan siswa ke jalan yang baik dan benar. Mendiang punya komitmen tinggi tentang itu. Sangat nampak dari caranya membangun komunikasi dengan siswa yang terlibat kasus di sekolah. Mendiang tak pernah bosan mengingatkan kami para murid agar dapat menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia.

Masih ingat saat memimpin apel pagi di halaman sekolah waktu itu, jujur saja saya melihat mendiang termasuk orang yang gelisah memikirkan perkembangan dan perilaku muridnya di tengah kondisi lingkungan sosial dan pendidikan yang kian kompleks. Mungkin kegelisahan itulah yang di satu sisi mendorong sikapnya menjadi keras kepada murid. Meski begitu saya bangga pernah menjadi bagian dari sifat kerasnya.

Di banding Kepsek lainnya, saya tahu mendiang punya hobi melepas pukat di pantai. Dan jangan kira hobi itu hanya sebatas mengisi waktu liburan. Sabtu kemarin, atau sehari sebelum kepergiannya, mendiang masih menyempatkan diri di pantai, di antara jaring dan tarian ikan – ikan yang menunggu dihela. Kabar ini saya dapat dari salah satu nelayan di kampung yang mengaku heran setelah mendengar kabar kepergian mendiang.

Saa juga tahu, mendiang telah menemui banyak rintangan dan halangan, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah dimana dia mengabdi. Pahit getirnya dinamika kehidupan yang menderanya, sudah dilahap tanpa sisa. Perjuangan tersebut tetap dilalui hingga berhasil menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP N 1 Tutuyan (dahulu SMP N 1 Kotabunan) sampai akhirnya tutup usia.

Saya juga tahu, mendiang seringkali dikecewakan sejumlah pihak. Meski begitu ia tetap menanggapinya dengan bijak. Begitu bijaknya hingga kadang tidak pernah menyalahkan apalagi membalas kekecewaan tersebut.

Mengenal mendiang baik secara langsung maupun tak langsung, membuat saya sadar bahwa menjadi seorang pendidik dengan sifat keras namun bijak, penting dimiliki setiap insan yang berkompeten di bidang pendidikan, terutama di Bolaang Mongondow Timur.

Lalu entah kenapa tiba-tiba saya ingat sebuah pepatah Latin; non scholae sed vita discimus (Kita belajar bukan untuk sekolah tapi untuk hidup).

Semoga kepergian Pak Guru Arhab Abarang, tak sedikitpun membuat bimbingan dan didikan keras di bekas sekolah tercinta saya itu menjadi redup. Namun justru sebaliknya, komitmen yang dirintis Pak Guru Arhab Abarang harus menjadi spirit baru bagi guru – guru yang ada dan generasi selanjutnya untuk dapat memanusiakan manusia.

Selamat jalan Pak Guru. Namamu layak dikenang seperti jasa-jasamu yang tak terbilang. Kau wira sepanjang zaman bagi kami yang dulu pernah merasakan jitakan, tamparan, bahkan cambukan rotan di genggamanmu. Sukur moanto’ karena telah mengajarkan kami menjadi manusia yang paling tidak, sudha bisa membaca, menghitung, dan menulis. Salam tabi bo tanob, semoga sumbangsih yang engkau berikan untuk kami dan tanah leluhurmu, dijadikan pahala dan amal jariyah oleh Allah SWT. Amin!

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT, teriring pula doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti merasakan mati.

Hodei mihi cras tibi (Semua kita punya giliran menuju liang kubur).

Penulis : Dhyrta Lasabuda

Bloger Negeri Lonua, pengelola grup BerSAMA tak Harus SAMA, ‘alergi’ huruf R, pemain COC
Bloger Negeri Lonua, pengelola grup BerSAMA tak Harus SAMA, ‘alergi’ huruf R, Jurnalis Boltim
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.