ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Soal PBMR, Semungit, dan Apa Yang Harus Kita Perbuat

Bagikan Artikel Ini:

PBMR

BOLAANG MONGONDOW RAYA (Terdiri dari 4 Kabupaten dan 1 Kota), sejak diwacanakan menjadi satu Daerah Otonomi Baru (DOB) sebagai Propinsi Bolaang Mongondow Raya (PBMR), sudah menjadi cemilan alias tola-tola paling top markotop di warung-warung kopi yang tumbuh bak jamur di tanah para Lonua Bogani.

Di Kotamobagu, Kota yang punya pemerintahan sendiri pada tahun 2007, bisnis Warung Kopi memang meningkat tajam seiring dengan pertumbuhannya.

Saya tidak akan membahas teori ekonomi di sini. Sehingga tidak menyinggung soal berapa harga segelas kopi yang masih bisa ditoleran kantong (utamanya) para ABG yang sok penikmat komix. Ooppppss..salah! Kopi maksudnya. (Kakaw, Adew jangan langsung baper ya, lalu cepat-cepat bikin status; Otw bulan atau Otw Neptunus). Ah,tuh kan. Pada tahu maksud saya kan. Hehe..cup melong.

Baik. Saya lanjut.

Di salah satu warung kopi di Kotamobagu yang punya massa pendukung signifikan, kerap diadakan diskusi publik yang membahas wacana dan isu – isu seputar gerakan PBMR. Politikus, pengusaha, jurnalis, akademisi, ekonom, pimpinan organisasi, hingga  pemerhati ini-itu, seringkali terlibat reriuangan membahas PBMR.

Kalau mau menghitungnya, paling sedikit, saya sudah tiga kali mengikuti secara live diskusi tersebut. Meski kehadiran saya berkonsep pada 4D yakni, Datang, Duduk, Diam, dan ki Dunga-Dunga’ mai).

Di setiap closing diskusi, ragam kiat dan rekomendasi berjejer. Solusi yang dihasilkan sungguh mengental. Seperti korot bango’ pomiya’an kon manuk Pinogi’ot.

Sebagai orang yang berkapasitas DLK (Daya Loku Kurang), saya berpikir, jika nantinya semua hasil yang membumbung tinggi itu dibumikan, berarti tinggal tunggu waktu yang tak lama lagi, PBMR lahir secara defacto dan deyure.

Maka malam itu, tanpa ragu, sungkan, dan tanpa malu, saya bicara pada kawan yang duduk di sebelah, “Insya Allah PBMR akan segera terwujud. Amin Ya Rabb, so kurang mo se maso kaki kanan,”. Tentu diikuti mimpi tentang Kampus berstatus Negeri, Rumah Sakit berkategori A, Bandar Narkoba Udara, dan Eheem (ini yang Dedew-dedew paling tunggu), ada Mall.

peta-admistrasi-bolaang-mongondow-raya-1_1460999069029.jpg

Maka saat itu, teman saya, Rifandi Akbari Potabuga, lantas menyeletuk. “Berarti paling lat, tahun 2019, torang so nda mo ba status otw MDC di BBM deng FB, kalo so menjelang Idul Fitri kang?”.

Saya yang terbakar semangat sejak mengikuti diskusi itu, mengangguk saja sebagai tanda optimis. Dan kawan saya ini, yang punya semacam kesibukan mengurus Padepokan Jomblo dengan jargon; tunggu sampai bidadari class kabag tak bersayap datang meyapa, nampak ikut girang dengan mimpi yang barusan kami peluk dalam angan.

Namun lagi-lagi, kami lupa belajar bahwa, kenyataan lebih pahit dari mimpi.

Seiring berjalannya waktu pasca diskusi itu, belum ada tanda-tanda signifikan yang mampu menjaga kadar mimpi kami.

Semangat memang selalu terpampang membahana badai ketika kita berada di atas panggung. Tetapi semungit juga selalu membuntuti kita ketika tidak sedang berada di atas podium.

Oh,ya, apa itu semungit?? Semungit adalah ketika engkau bersemangat karena sedang diperhatikan banyak orang, tetapi menjadi tak bersemangat ketika tidak diperhatikan banyak orang. Maka jangan heran jika banyak kader semungit di forum-forum rumah kopi.

Saya memang memperhatikan, banyak dari peserta yang hadir dalam dialog di warung kopi, mengeluarkan pendapat-pendapat mutakhir. Membuat saya seperti melihat sejejeran sosok Bung Karno yang berapi-api.

Tapi di rumah, saya ingat omongan Ibu dalam bahasa Mongondow, ”Dolom mongonguman kon perubahan bulud ambang. Singgai mosiug bain mobangon pas kukussadi ain kon tudu meja,”. (Sengaja tidak di translate agar pembaca mencari tahu sendiri).

Oh,ya. Saya tidak bermaksud mengatakan, para Abang, Senior, Kakanda, Teman-teman, dinda dan seluruh utat ginalum don naton komintan yang turut hadir dalam forum-forum diskusi PBMR, tidak berbuat apa-apa. Ini hanya prasangka buruk saya sebagai masyarakat yang sebut saja awam.

Dan sebagai awam, saya ingin sekali berkoar; Perubahan tak akan datang jika dilakukan hanya dengan ka’in kulit in bibig alias manis di bibir memutar kata, malah kau tuduh akulah segala penyebabnya.

Saya berharap, solusi semuktahir dan se-strategis apapun yang tercipta dari diskusi, agar benar-benar dijalankan. Tak perlu mencari kambing kurban, tapi jika rakyat bersatu dengan pemerintah 5 daerah di BMR, maka kekuatan membahana badai mana lagi yang mampu dibendung Tjahyo Kumolo?

Setelah aksi bakar keranda di Paris tempo hari (Bundaran Toko Paris maksud saya), dan aksi Mamak-mamak Rukun Pogogutat di Bundaran HI Ibukota Republik Indonesia belum lama ini (Sayangnya saya tak membaca ada tulisan Propinsi BMR di spanduk),  tiba-tiba saya mengkhayalkan, kenapa tak ada gerakan orang BMR yang dapat menguncang Indonesia sebahana gempa Haiti. Membuat trending topik dengan hastag #PBMRYES berada di posisi pertama sosmed, meminta Manuel Neuer pemain Bayern Munchen mau mengunggah fotonya ke akun Instagram miliknya lalu diberi quote Support PBMR, atau unggahan video berbau PBMR di Youtube yang dapat mengalahkan viewers video Cita Citata dan Taylor Swift.

Itu semua bukan tidak mungkin tak bisa terjadi kan? Ada yang ingat aksi massa berjudul Umbrella? Itu lho, demostran yang ingin menggulingkan Perdana Menteri Negara Thailand, Thaksin Sinawatara. Mereka memadati kota Bangkok dengan jutaan payung.

Nah, kita di BMR bagaimana? Apakah cuma sekadar Monugung kon kopi, monontama’, bo mogolat kon otut in Propinsi?

Penulis : Sandong G Mokoagow

image

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.