ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Tarkam di Dumoga dan Grup Lawak

Bagikan Artikel Ini:

Tarkam Dumoga

“Lumrah dalam sebuah revolusi,”. Jika omongan ini benar, maka konon itulah yang disampaikan Bung Karno dalam sebuah adegan pelem sejarah Orba—tentu kita tahu pelem apa itu—saat ia menerima kabar meninggalnya 7 jenderal lewat aksi penculikan dan pembunuhan oleh (semacam) faksi di tubuh TNI sendiri, dikomandani Letkol Untung, yang konon merupakan kaki-tangan PKI.

Maka dalam konteks Kamtibmas di wilayah Dumoga, ketika kita di jazirah Mongondow mendengar kabar tarkam kembali meletus dan memakan korban di wilayah panas itu, banyaklah di antara kita akan bicara hampir seperti apa kata Bung Karno; “Lumrah dalam sebuah tarkam di Dumoga,”. Atau meminjam istilah para dedew-dedew ; “so pernah lay,”.

Tak usah kita menganalisa kondisi apa sebenarnya yang menjadi penyebab tarkam cepat meletus di wilayah itu. Bukan karena kita tidak peduli dengan kedamaian di Dumoga, tetapi pada kesempatan kali ini, biarlah urusan itu menjadi bahasan mereka yang paling mengetahui seluk-beluk Dumoga dan segala isinya; mulai dari perspektif sosial, budaya, politik, bahkan tinjauan kejombloan. Dan siapa mereka yang paling mengetahui itu, tak usah pula tanyakan kepada saya. Biarlah itu selalu menjadi semacam misteri yang tak terpecahkan di Dumoga.

Kita juga tidak perlu menyalahkan Rangga dan Cinta yang sebentar lagi akan bertemu di Bioskop- bioskop seluruh Indonesia, dalam pelem AADC2 tanggal 28 April mendatang, bertepatan dengan tanggal berpulangnya penyair besar kita, Chairil Anwar. Sebab Rangga dan Cinta memang tak ada kaitannya dengan kehidupan pemuda atau masyarakat Dumoga yang punya semangat tawuran tingkat tinggi entah
karena apa.  (Lho, sudah tahu tak ada kaitannya, kenapa dibawa-bawa ya, hehe).

Tetapi, kenapa tidak terpikirkan oleh kita bahwa Cinta dengan air mukanya yang syahdu sayu itu, bisa membuat para pemuda Dumoga hobi tarkam, cepat baper seperti dedaunan kering kena guyur hujan pagi-pagi.

Ah, adalah mimpi di siang bolong membawa Dian Sastro, pemeran Cinta dalam pelem AADC2, berdomisili di Dumoga, meski dengan tujuan mulia; demi perdamaian dan ketentraman. Alih-alih menjadi duta perdamaian, siapa menyangka, Dian Sastro justru membuat konflik di sana semakin meruncing, liar, dan tak terkendali, setelah pemuda di kampung-kampung berbeda yang ada di Dumoga, bersalah-paham gegara saling sikut mau cari perhatian neng Cinta yang di kehidupan nyata, sudah dipersunting lelaki bunting beruntung.

Lantas solusi apa yang bisa ditawarkan demi sebuah perdamaian yang awet lengket merekat di Dumoga? Apalagi pekan kemarin, baru saja meletus tarkam di Desa Siniyung? Menyebabkan 3 rumah terbakar dan beberapa warga dilarikan ke Rumah Sakit setelah kena peluru senapan angin?

Jelas saja saya, kamu, kalian, atau kita, bukan ahli dalam memberi solusi. Cukuplah itu tugas para motivator seperti yang sering kita liat di tipi itu lho. Apalagi kita juga bukan pak pulisi yang bertugas mengayomi dan menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat.

Lalu apa tugas kita? Tugas kita mungkin menyinyiri atau sekadar prihatin, terkait konflik yang masih terus-terusan terjadi di Dumoga. Semacam sahabat yang prihatin ketika mendengar kabar; seorang kawan baru saja merana menyandang status mantan dan kini jomblo setelah ditinggal pergi sang pacar terbahana badai.

Maka, sebagai bentuk keprihatinan atas konflik yang masih senantiasa meletus di Dumoga, bagaimana kalau kita membisiki pihak-pihak berwenang atau para stakeholder di Dumoga untuk menghadirkan group lawak, yang nantinya akan didomisilikan di kampung-kampung rawan konflik di wilayah sana.

Grup lawak ini harus benar-benar lawak, yang mampu mengocok perut warga Dumoga yang telinganya selalu panas, dan darahnya cepat mendidih ketika mendengar bunyi tiang listrik dipukul, atau mendengar kabar ada kesalah-pahaman terjadi antar pemuda ketika berjoget di pesta malam muda-mudi.

Dalam sepekan, grup lawak ahli mengocok perut yang disebar di kampung-kampung rawan konflik ini, tampil 2 kali. Bisa diatur tiap malam Selasa atau Sabtu malam. Tujuannya, agar supaya para pemuda—termasuk generasi tua yang masih bangga menenteng parang dan senapan angin—lebih terkonsentrasi di panggung lawak (bisa diadakan di Balai Desa). Di panggung itu, perut para penyuka tarkam ini terus terkocok-kocok sampai kehabisan tenaga untuk tertawa, hingga akhirnya kecapaian, membuatnya pulang tidur lebih dini, lalu lelap di dipan penuh kehangatan dan damai.

Atau, taruhlah ada suara tiang listik dipentung warga untuk membangunkan warga lainnya, agar beranjak dari dengkur untuk siap-siap bertarkam ria? Nah, bagaimana itu??

Sudahlah. Biarkan saja. Setelah mereka yang masih kumabal dan enggan move on ini sudah siap dengan aneka benda maut ditenteng keluar rumah, maka lepaslah di tengah-tengah mereka grup lawak ahli mengocok perut yang baru saja membuat tidur mereka lelap. Percayalah (ini bukan PHP lho, hehe), tak hitung tiga, suasana tegang mencekam itu tiba-tiba akan menjadi suasana Wkwkwkwkwkwkwk.

Tak percaya? Silakan bayangkan saja ada Kale’, Amoy, Bolot, atau Komeng di situ.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.