ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Kenyinyiran Soal Walikota yang Mendadak Merah

Bagikan Artikel Ini:

 Tatong Biru Merah

SAYA sangat menyukai pemandangan alam; pegunungan dan lautan. Meski pegunungan itu terdiri dari hutan yang kita tahu berwarna hijau, namun jika dilihat dari kejauhan, pasti nampak biru. Sama seperti lautan yang menjadi biru karena menyerap warna langit.

Dan sebaiknya, untuk mengawali tulisan saya kali ini di ARUS, tak usah kita perdebatkan bahwa warna langit memang nampak biru. Jikapun di langit kalian warnanya merah jambu, kesumba, atau apalah… apalah, maka sebaiknya serahkan saja perdebatan itu kepada Jonru, Tere Liye, atau boleh juga ke Felix Siaw.

Oke, lanjut.

Akhirnya, warna biru menjadi warna kesukaan saya. Sebab warna itu mewakili pengunungan dan lautan. Namun seiring waktu, saya tiba-tiba menyukai warna merah. Meski saya masih tetap menyukai pegunungan dan lautan yang masih tetap biru itu.

Menyoal warna, pasti setiap orang memiliki warna favorit. Sama halnya dengan Walikota Kotamobagu (saya sebut dengan takzim) Ibu Tatong Bara, yang sudah barang tentu punya warna favorit.

Saya sendiri, sejak mengenal Ibu Tatong, sudah tahu bahwa yang sering disebut Srikandi Kotamobagu ini, identik dengan warna biru.

Tapi, ini penting ya untuk pembaca tahu, serta perlu saya tegaskan dari lubuk hati yang paling dalam bahwa, setahu saya Ibu Tatong menyukai warna biru bukan karena ia orang Partai Amanat Nasional (PAN). Sekali lagi, ini setahu saya ya, bukan setahu kalian. Bahkan sebelum menjadi pasangan Djelantik Mokodompit, sebagai Wakil Walikota Kotamobagu sebelumnya, Ibu Tatong sudah jauh-jauh hari saya ketahui lewat baliho, adalah sosok perempuan penyuka warna biru.

Keyakinan saya semakin kuat dan terpupuk, karena di beberapa kali kesempatan, termasuk informasi yang didapat saat terlibat percakapan dengan beberapa orang yang cukup mengenal Ibu Tatong, Srikandi Kotamobagu ini memang penyuka biru.

Sampai pada akhirnya Ibu Tatong saya ketahui resmi berada di bawah payung PAN yang identik dengan warna biru. Seandainyapun Tere Liye atau Jonru akan memperdebatkan ini, maka biarlah. Malas rasanya berdebat apalagi beradu argumen dengan dua orang pemilik fanpage di medsos yang konon diikuti puluhan ribu followers cerdas.

Tentu saja berada di PAN adalah anugerah dan nikmat tersendiri bagi Ibu Tatong. Sebab nikmat mana lagi yang hendak beliau dustakan, ketika selaku penyuka warna biru, menemukan tempat berlabuh (partei) yang identik dengan warna biru. Bahkan sampai di pucuk pimpinan Ketua DPW PAN Sulut. Klop bukan?

Seiring waktu berjalanan, dan singkat cerita, Ibu Tatong berhasil menduduki posisi sebagai Walikota Kotamobagu. PAN sebagai partei pengusungnya, tentu tak perlu diperdebatkan lagi jasa-jasanya. Sebaliknya juga, hasil jerih payah Ibu Tatong berhasil membesarkan PAN di jazirah Sulawesi Utara. Kalau ada yang membantah ini, silakan. Sebab bukan tugas saya berdiri sebagai pembela. Ini cuma pendapat yang setahu saya belaka. Bukan setahu si ini si itu atau apalah-apalah.

Lalu tibalah momen perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kotamobagu ke-9, yang jatuh hari ini, Senin 23 Mei 2016. Namun, peringatan HUT kali ini, ada yang berbeda dari biasanya; Ibu Tatong tiba-tiba modis dan tetap cantik dengan pakaian berwarna merah.

Jelas ini pemandangan yang menurut saya (terserah menurut kalian apa), berbeda dari biasanya. Jika kemarin-kemarin pakaian Adat Mongondow yang dikenakan Ibu Tatong adalah warna biru, maka kali ini, merah menyala adalah pilihan bliyo.

Tak hanya Ibu Tatong, tetapi jajaran SKPD pun ikut-ikutan berubah merah. Dekorasi HUT dan pernak-pernik panggung didominasi pula dengan warna merah.

Foto-foto selfie dan groufie pun seliweran di media sosial. Pendek kata, HUT Kotamobagu kali ini, semuanya mendadak merah.

Ah, ada apa ini? Begitu mungkin keluk-keluk tanya dalam benak para aktivis medsos di Kotamobagu, atau Bolaang Mongondow Raya, terutama di group yang kadar nyinyir dan debatnya tinggi seperti di; Sahabat DeMo Dari BolMong Raya

Fenomena mendadak merah ini, memancing reaksi spontan kalangan netizen dan aktivis medsos di Kotamobagu pun Bolmong Raya. Mulai dari yang paling nyinyir, yang sok bijak, atau gerbong pembela yang sebenarnya nampak begitu payah berdebat karena seringkali keluar dari substansi topik yang diposting, pun mereka yang nampak begitu tergopoh-gopoh di kolom-kolom komentar, dan mereka yang tak perlu kita identifikasi sebagai kelompok yang diam-diam kepo dan menikmati perdebatan dengan mengambil posisi sebagai pemantau bin penyimak belaka.

Memang ada kelompok penggiat medsos yang cepat mengambil kesimpulan bahwa, Ibu Tatong yang mendadak merah itu, adalah sinyal kepada orang-orang PDI-Perjuangan. Ada juga netizen yang bilang, jajaran SKPD atau PNS yang ikut-ikutan mendadak merah saat hadir dalam upacara peringatan HUT Kotamobagu siang tadi, pasti mendapat arahan atau perintah langsung dari Ibu Tatong agar kompak merah.

Ah, wahai pembaca setia ARUS, saya yang selalu berusaha menjaga hati agar terhindar dari suudzon dan harus adil sejak dalam pikiran, yakin bahwa jajaran SKPD dan pasukan PNS “Merah” itu, tidak diarahkan apalagi diperintah disertai ancaman tak akan mendapatkan TKD dan TPP, jika menolak merah. Sebab siapa tahu itu adalah kebetulan belaka.

Entah bagaimanapun ukuran skala atau statistik yang menjelaskan proses terjadinya kebetulan itu, kita yang pernah diajari AA Gym untuk menjaga hati agar tak selalu suudzon, berpikiran positif saja. Jikapun ada para pembaca yang meyakini; di dunia ini tak ada yang kebetulan, maka sekali lagi, sebagai pakemnya, menghilangkan buruk sangka itu vital.

Jadi bagaimana?

Meski gatal rasanya mengiyakan, pertanyaan saya berikutnya adalah; apakah kita tidak usah berpositif thinking? Bahwa pakaian adat, karpet, ornamen, segala dekor dan pernak-pernik yang didominasi warna merah, adalah proses kebetulan saja?

Sekali lagi, mari kita tahan rasa gatal dan semangat debat untuk memungkiri kebetulan itu. Sebab bisa jadi, mendadak merah itu terjadi karena untuk tahun ini, tiba-tiba saja Ibu Tatong dan jajaran SKPD, sama-sama suka warna merah.

Artinya, menyukai dan memilih berkostum warna merah, semata-mata bukan karena arahan, perintah, apalagi intimidasi apalah-apalah yang mudah diasosiasikan dengan partei pulitik, namun karena memang kecintaan dari lubuk hati yang paling dalam, atau kebetulan saja, seragam. Bukan begitu Ibu?

Tapi ada netizen kadung menanggapi dan menyeretnya ke ranah urusan pulitik dan dikait-kaitkan dengan partei; PDI Perjuangan. Padahal setahu saya (ini setahu saya ya), Ibu Tatong itu—jika diibaratkan pepatah—bukan tipe kacang yang lupa akan kulitnya. Dalam pandangan saya yang polos dan unyu-unyu ini, tidaklah mungkin Ibu Tatong setega itu meninggalkan partei yang sudah memberi segalanya untuk dia. Bukankah PAN adalah partei yang berjasa bagi Ibu Tatong hingga berhasil menduduki kursi Walikota.

Jadi, janganlah kita memfitnah Ibu Tatong bermerah-merah di HUT Kotamobagu, hanya karena ia ingin mencari perhatian dari orang-orang PDI Perjuangan, yang pada momen Pilpres kemarin, merupakan lawan terwahid yang mampu memudarkan cita-cita Prabowo dan Tim Suksesnya (termasuk Ibu Tatong) untuk menduduki RI 1.

Sebagai pemuda berstatus duda polos yang ikut-ikutan kagum dengan Ibu Tatong (emangnya gak boleh saya kagum?), saya memang menyukai warna merah. Perkara warna merah ini, sebagai pemuda yang suka juga mengaku-ngaku progresif-revolusioner,  bukan karena keisengan atau kegenitan dengan pemuda-pemuda yang kini berurusan dengan pulisi, gegara memakai kaos merah dengan gambar Palu-Arit tercelup dalam cangkir kopi dengan tulisan Pecinta Kopi Indonesia (PKI).

Tapi memang ada sedikit tanya dari saya terkait perubahan warna favorit Ibu Tatong; biru ke merah. Meski saya yang, karena selalu menghindari buruk sangka, tidak mau menuduh bahwa itu adalah sinyal Ibu Tatong ke PDI-P.

Apalagi, meski saya yang sebenarnya sangat awam dan polos pulitik ini, tetap saja saya tahu bahwa, tidak boleh ada dua status keanggotaan dalam partei. Dan seawam-awamnya saya dalam pulitik, saya tahu kalau masuk partei apalagi menjadi kader partei itu tidak semudah memasukan ekor gajah ke lubang jarum. Jikapun fakta realita di lapangan berkata mudah seperti (ah, bakal panjang jika disebutkan), maka untuk masuk PDI Perjuangan, tentu tak semudah masuk gedung bioskop. Terlebih sudah ada kader-kader pendahulu di dalam. Antre bos… antre…! Belum lagi jika selalu ada beban terasa jikalau nanti di-bully sebagai kutu loncat.

Maka saya yakin seyakin-yakinnya, Ibu Tatong yang cantik dan elegan, tidaklah se-kutu-loncat itu sebagaimana fitnahan orang-orang nyinyir penuh iri dengki terhadap beliau. Semacam yang sempat saya baca di kolom komen fesbuk; “Ah, mongabo’!” Astagafirullahulazim, betapa anyirnya nyinyir itu.

Lantas, apa kesimpulan yang dapat kita putuskan dengan fenomena mendadak merah dari Ibu Tatong yang dicintai banyak kalangan?

Ah, saya terkecoh rupanya. Atau inilah akibat terlalu prematur menilai Ibu Tatong dari warna kesukaannya. Mulanya saya pikir, Ibu Tatong hanya memfavoritkan warna biru? Ternyata saya terkecoh. Baru tahu kalau merah adalah warna kesukaan Ibu.

Dan saya yakin (ini pendapat pribadi ya), kecintaan Ibu Tatong terhadap warna merah, bukan karena di latar-belakangi oleh urusan pulitik. Biarlah warna tetap independen, berdiri sendiri. Terpisah dari interpretasi. Warna ya warna. Merah ya merah. Pulitik ya pulitik. Pakaian adat ya pakaian adat. Jangan campur-adukan, sebagaimana juga saya baca dalam komen fesbuk.

Dan bukankah PDI Perjuangan bukan satu-satunya partei yang identik dengan warna merah? Jauh sebelum PDI Perjuangan lahir, di Indonesia sudah ada partei pendahulu yang identik dengan warna merah. Partei apa itu? Ya, betul PKI alias Partai Komunis Indonesia (yang  sudah dilarang), identik pula dengan warna merah.

Tapi, saya memang merasa terkecoh. Dari dulu saya sudah berpikir dan merasa paling benar bahwa, warna biru adalah warna kesukaan Ibu Tatong. Ternyata saya salah.

Sehingga mulai saat ini, saya akan mencoba berdamai dengan keterkecohan saya soal warna favorit Ibu Tatong.

Selamat bermerah-merah ya Ibu. Biar saja ada orang nyinyir. Toh, Ibu cuma suka warna merah dan kebetulan dicontek jajaran PNS. Bukan karena mau mencolek orang PDI Perjuangan. Salam takzim.

Penulis: @Sigidad. Bisa disapa di facebook Kristianto Galuwo. Duda beranak satu namanya Sigi. Doyan ayam goreng apalagi dibumbui sedikit puisi.

12688354_10204185090066928_6118863933590404408_n

Bagikan Artikel Ini:
One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.