ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Ada Apa Dengan Ukhti-Ukhti Hijabers, Dragon, Abdi, Kak Ando dan Kak Efendy

Bagikan Artikel Ini:

Hijabers

KITA tidak sedang mempergunjingkan pernikahan Aming dan Kevin, lalu bisa belajar memahami persoalan gender dan orientasi seksual dalam pernikahan itu. Tidak juga sedang membicarakan untaian URL berita hoax tentang Gubernur Ahok yang dibagikan anggota group di Sahabat DeMo. Tidak meributkan soal nasib tenaga kerja di Kotamobagu yang masih menerima gaji di bawah UMP. Tidak tentang perkara pelebaran jalan di Kotobangon – Moyag yang meniadakan rasa keadilan warga, tidak juga tentang pembangunan fasilitas publik yang amburadul dan mubasir, tentang penegakan hukum, tentang ranah private  yang senantiasa terkais oleh kepo-nya aparat,  tentang vonis 12 tahun penjara bagi pemenggal kepala warga Mongkonai, tentang kasus kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan dan anak di bawah umur, atau tentang Stadion Gelora Ambang yang masih terus terlantar.

Ya, kita tidak sedang membicarakan itu semua di Kotamobagu. Sebab sepertinya ada yang lebih penting dan fardhu ain dari semua yang diuraikan di atas, yakni; Agama.

Nampaknya Kotamobagu memang disesaki manusia – manusia cerdas yang kadar iman dan agamanya lebih tinggi dibanding kadar alkohol dalam minuman kesukaan yang biasa saya beli di Paris Super Store. Sehingga maklumlah ketika (saya sebut dengan takzim) Kakak Ando Lobud sesumbar di salah satu media (berikut kutipan aslinya); kalau pemerintah tidak pekah dengan permasalahan pelarangan karyawan toko muslim untuk mengenakan jilbab khususnya wanita, maka kami selaku elemen dan para lembaga yang ada di Kota Kotamobagu akan melakukan aksi penyegelan kedua toko tersebut,”

Toko mana yang Kakak Ando maksudkan? Pembaca setia ARUS pasti sudah tahu. Ya, betul. Dragon Swalayan dan Abdi Karya.

Selanjutnya, masih melalui media, ancaman penyegelan dikoarkan pula oleh (saya sebut dengan takzim) Kakak Effendi Abdul Kadir, Ketua LPKEL-Reformasi. Berikut kutipan aslinya ; “Jika tidak kami atas nama lembaga ini akan menyurat ke DPRD Kota Kotamobagu dan lembaga lainnya untuk menutup aktifitas kedua toko tersebut, bila perlu kami akan melakukan aksi demo besar-besaran dan menyegel secara langsung kedua toko tersebut,”

Mengapa demikian? Ya, itu tadi; Agama.  Kalau sudah persoalan itu, maka nonton Liga Euro atau duduk ngopi membahas masalah ketenagakerjaan di Kotamobagu, hanyalah igauan belaka.

Selanjutnya, saat ditelusuri, rupanya Kak Ando dan Kak Efendy berang setelah mendengar kabar yang konon terhembus dari media massa terbitan Kotamobagu bahwa, pihak Dragon dan Abdi Karya menolak pelamar kerja berhijab. Bahkan konon disebutkan, Dragon dan Abdi melarang karyawannya berhijab.

Astagafirullah ini perkara serius dalam soal aqidah. Tapi apakah tuduhan itu benar? Pihak Dragon dan Abdi Karya sudah membantah. Lantas siapa yang benar dan siapa yang berdusta? Hingga saat ini masih menjadi ajang debat di group fesbuk paling interaktif; Sahabat DeMo dari Bolmong Daya.

Namun yang jelas,  Kak Ando dan Kak Efendi yang cerdas dan tak sekadar hafal Pancasila,  berang. Selain itu, sebagai pemuda penegak tiang agama dan pendukung perempuan berhijab,  Kak Ando dan Kak Efendy yang hampir pasti sudah beberapa kali mengantongi sertifikat lulus Penataran P4, sadar betul bahwa;  falsafah negara ini adalah Pancasila. Ya, sekali lagi, Pancasila dan UUD 1945. Bukan dilandaskan pada Hukum Syariat Islam.

Nah, wajarlah Kak Ando dan Kak Efendy menjadi semacam orang yang jenggotnya terbakar ketika mengetahui kabar; kok masih ada saja ditemukan warga negara melakukan praktek diskriminasi terhadap warga lain, pemeluk agama tertentu. Bukankah perlakuan ini hampir sama dengan praktek diskriminasi yang dilakukan suatu kelompok terhadap kelompok lain? Misalnya penyegelan terhadap rumah ibadah jemaat GKI Jasmin Bogor, kasus kekerasan terhadap jamaah Syiah di Sampang Madura, pembunuhan terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, kekerasan terhadap Gavatar di Kalimantan, atau si ukhti sang pelamar kerja berhijab di Kotamobagu yang terus jadi ajang debat.

Masya Allah, perkara genting dan serius bukan? Lebih penting dari tuntutan Istri yang suaranya mulai pekak di telinga ketika belum ada tanda-tanda Bapumpun.

Maka, selaku eks-kader P4 berpaham nasionalis, dan utamanya lagi pemegang teguh prinsip-prinsip Pancasila dan UUD 1945 termasuk batang tubuh yang terkandung di dalamnya, maka adalah sebuah keniscayaan tatkala Kak Ando dan Kak Efendy meradang akibat praktek diskriminasi tersebut. Apalagi mereka adalah penegak tiang agama dan pendukung gerakan wajib berhijab bagi ukhti-ukhti pekerja toko, sebagaimana yang mereka perjuangkan saat ini.

Apa? Pembaca tak percaya? Lha, bukti mana lagi yang hendak didustakan? Apakah segala koar dan ancaman yang mereka pekik ke media itu, cuma isapan jempol belaka? Sehingga para pembaca masih menyangsikan idealisme Kak Ando dan Kak Efendy dalam mewujudkan cita-cita kehidupan ketenagakerjaan di Kotamobagu yang berhijab bersyariah??

Oh,ya. Ngomong-ngomong, jangan nyinyir dan tak usah mengais-ngais data mencari tahu rekam jejak perjuangan Kak Ando dan Kak Efendy di bidang ketenagakerjaan bersyariah, atau pembelaan mereka terhadap hak-hak kaum buruh perempuan maupun calon buruh hijabers, lalu akan kalian pakai mencederai perjuangan Kak Ando dan Kak Efendy. Tak usah pula iri dengki  kemudian mencari tahu, apa reaksi atau dimana posisi Kak Efendy dan Kak Ando ketika  kaum Syiah dan Ahmadiyah dikejar pentungan, golok, dan clurit oleh kelompok radikal reaksioner. Tak perlu juga kita tanya apa komentar mereka terkait kasus kekerasan yang dialami kaum Syiah, begitupun pembantaian yang dilakukan di jalanan terhadap jamaah Ahmadiyah. Selaku warga negara yang tidak anti terhadap Pancasila dan UUD 1945, Kak Ando dan Kak Efendy  sudah tahu bahwa diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan suatu kelompok umat ke kelompok umat lain yang tak seiman, tak sealiran, atau tak seagama di republik ini, adalah pengkhianatan terhadap ideologi Pancasila dan UUD 1945. Dan pengkhianatan terhadap Pancasila itu, betapa akan bernasib apes dan akan sangat tragis nasibnya, sebagaimana Josua Oppenheimer menggugah kesadaran kita lewat film dokumenter; The Act of Killing (Jagal) dan Look of Silence (Senyap).

Baik, kembali ke Kak Ando dan Kak Efendi.

Lantas bagaimana? Apakah rencana mereka terkait penyegelan Dragon Swalayan dan Abdi Karya itu, sesuai dengan ajaran Pancasila dan amanat UUD 1945 termasuk batang tubuh yang terkandung di dalamnya??

Sebelum kita jawab, di antara kita mungkin ada yang berpikir begini; Dragon Swalayan dan Abdi Karya memang layak disegel. Penyebabnya kenapa? Rupanya berpegang pada pemberitaan yang diturunkan media massa. Laporan itu menyimpulkan;  Dragon dan Abdi Karya melakukan diskriminasi terhadap umat beragama karena menolak pelamar berhijab. Bahkan konon, informasi ini terkonfirmasi langsung. Meski ada juga media massa yang menurunkan laporan yang terkonfirmasi pula bahwa hal itu tidaklah benar.

Namun satu dua warga yang sudah muak dan tidak percaya dengan pemberitaan media massa di Kotamobagu, turun langsung mencari tahu sendiri. Hasilnya apa? Meski menerima jawaban langsung dari pihak perusahaan (Dragon dan Abdi) yang mengatakan; apa yang dituduhkan itu tidaklah benar, toh yang dikasih tahu ini tetap bersikukuh enggan percaya, dan tetap mempersoalkan sebab konon sesuai investigasi yang mereka lakukan, baik Dragon Swalayan maupun Abdi Karya, sama-sama tidak memiliki karyawan berhijab.

Memang sih, kalau karyawan yang beragam muslim,  hampir mayoritas adalah pekerja di dua toko itu. Sayangnya mereka tidak mau berhijab, atau mungkin belum mampu berhijab, atau siapa tahu benar mereka memang dilarang berhijab.  Dan soal kenapa mereka enggan atau belum mau berhijab, sampai detik ini mereka tidak pernah ditanyai baik oleh media maupun oleh Kak Ando dan Kak Efendi. Soal belum mau berhijab, apalagi dilarang berhijab, itupun belum ada satupun keterangan yang terkonfirmasi kecuali prasangka belaka.

Nah, lantas kesimpulannya bagaimana? Apakah tetap akan menyegel Dragon Swalayan dan Abdi Karya? Dengan alasan; tak ada ukti-ukhti berhijab di sana, atau karena ada pelamar kerja berhijab yang konon tak diterima, dan itu adalah diskriminasi terhadap ukhti-ukhti berhijab.

Hmm, ngomong-ngomong soal segel-menyegel ini, saya kok jadi teringat  penyegelan rumah ibadah terhadap jemaat GKI Jasmin di Bogor. Membuat saya ingin bertanya; apakah tindakan penyegelan itu diskriminasi terhadap umat lain atau tidak? Selaku (taruhlah eks) kader P4 dan yang hafal Pancasila luar dalam, Kak Ando dan Kak Efendy pasti sepakat ya, kalo penyegelan rumah ibadah jemaat GKI Jasmin itu adalah tindakan diskriminatif. Opppsss….atau bagaimana???

Owh, beda ya wahai pembaca? Beda menyegel toko dan rumah ibadah? Baiklah saya ikuti arah pemikiran antum-antum. Sekarang saya bertanya; apa alasan paling sahih sehingga Dragon Swalayan dan Abdi Karya itu pantas disegel? Apakah alasannya masih sama seperti yang dipikirkan dan dipegang teguh itu; karena menolak pelamar berhijab? Atau karena di Dragon Swalayan dan Abdi Karya, tak ada satupun pekerja ukhti-ukhti berhijab??

Masya Allah, saya seolah mulai sangsi, Dragon Swalayan dan Abdi Karya ini sebenarnya toko kelontong atau Madrasah Aliyah? Atau kios yang ikut menjual minuman mengandung alkohol sebagaimana banyak toko di Kotamobagu tak terkecuali Paris Superstore tempat saya dulu suka beli bir??

Tapi bukankah Kak Ando dan Kak Efendi hafal Pancasila dan lulus Penataran P4? Atau perlukah mereka harus berkonsultasi dengan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kota Kotamobagu yang entah siapa-siapa pengurusnya dan apa saja tugas dan fungsinya?

Ah, sepertinya tak perlu ya. Apapun rencana Kak Ando dan Kak Efendy itu, adalah apa yang mungkin mereka anggap sbagai wujud jihad fisabilillah kader-kader pejuang kebenaran, pembela akidah, pembela hak-hak kaum buruh dan ukhti-ukhti calon kaum buruh berhijab, pembela hukum syariah, yang layak didukung tanpa harus suudzon, sebagaimana dibela oleh Pancasila dan diatur dalam UUD 1945.

Astagafirullah. Dibela Pancasila dan UUD 1945? Benarkah demikian?? Ah, mari sama-sama mengais kembali isi almari tua, segala locker maupun brankas; adakah kita memang pernah mengantongi sertifikat P4, atau kita ini memang buta Pancasila dan kelompok gagal paham yang tak santai.

Jika benar begitu, maka kita mungkin memang pantas diruqiah dengan perkataan bijak orang Mongondow; Ga’a-Ga’a tai pa apucu (kurangi emosi di diri).

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

Bagikan Artikel Ini:
2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *