ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Secuil Catatan Tentang Full Day School

Bagikan Artikel Ini:

Alam Raya Sekolahku

APA ITU Full Day School? Tanpa perlu baku bantah, kitorang sepakati saja Fuldeiskul itu; seharian sekolah atau ba skola sampe somo malam alias dekat Maghrib.

Enak tidak? Mendidik tidak? Melanggar HAM tidak? Merampas kekebasan anak-anak atau tidak?

Kita mungkin ingat ungkapan; tak menjalani jangan harap memahami. Maka anak skolah sendiri lah yang paling pas menjawab. Alasannya simpel; sebab merekalah yang menjalani. Bukan kitorang yang larut terkubu-kubu dalam ajang baku bantah nan tak kunjung usai di grup jejaring fesbuk, apakah Syiah itu Islam dan Sunni itu yang Islam.

Oke, lanjut ke topik. Di antara para pembaca mungkin ada yang cepat panas lalu meletuskan tanya; Apa? Paling berkompeten menjawab? Bukankah mereka masih anak-anak? Belum bisa mengartikan betapa asyiknya kedua orang tua mereka bermedsos seharian, bahkan di sela-sela kerja?

Eitttssss…tunggu dulu. Jangan pikir karena mereka masih kanak, lalu belum berkompeten menjawab. Era digital ini, mereka sudah lama berkenalan dengan Om Gogel. Maka informasi mana lagi yang hendak didustakan? Selain itu, tidak semua orang-tua/wali murid punya akun fesbuk dan larut bermaya-maya ketika anaknya berangkat sekolah. Kecuali kegemaran terhadap infotaiment dan Uttaran, itu tidak perlu diperdebatkan lagi.

Baik. Mari hentikan busa-busa di atas dan masuk pada pokok masalah, pertama: Apa itu fuldeiskul? Kemudian kedua; setujukah dengan program fuldeiskul? Dan terakhir; siapa calon Bupati Bolmong yang layak didukung.

Lha, kok poin terakhirnya nyerempet ke pulitik?

Hehe..ingat, kitorang tinggal di Mongondow. Di negeri peninggalan para Bogani ini, topik pulitik lebih punya tempat, ketimbang masakan khas Mongondow yang sudah lama kehilangan penggemar setelah dikalahkan Texas Chicken dan Ayam Goreng Lamongan.

Perlu saya beber bukti? Agar pendapat ini tak cepat dituduh hoax sebagaimana banyak link URL berisi nyinyir terhadap Jokowi dan Ahok disebar di grup jejaring fesbuk, cobalah kuliling Mongondow dan perhatikan, adakah tenda biru, kantin, café, atau restoran, menyajikan dengan penuh rasa bangga Sinabidak, Pinogi’ot, Yondog, Dinangoi, atau taruhlah yang paling sederhana; Kulipot?

Nah,sudah dapat jawabannya kan?

Baik, sekarang kita bahas soal Fuldeiskul. Ini adalah program yang ditelorkan Muhadjir Effendy, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan pengganti Anis Baswedan yang hingga saat ini kuat dugaan masih baper sama Jokowi. Menurut jalan pikiran Om Muhadjir, fuldeiskul itu menyenangkan dan bukan momok bagi anak sekolah.

Oh, ya. Pembaca mau bilang Om Muhadjir asal bunyi? Silakan. Tapi di media, salah satunya seperti yang dilansir Tempo.co, Om Muhadjir menyampaikan 3 alasan kenapa fuldeiskul pantas diterapkan dan tidak perlu ditanggapi terlalu berlebihan, sebagaimana sekumpulan mahluk hidup ciptaan Tuhan yang merasa paling benar dalam menanggapi Jamaah Ahmadiyah dan Syiah:

1. Tidak ada mata pelajaran

Menurut Muhadjir, fuldeiskul  adalah pemberian jam tambahan. Tapi dalam jam tambahan tersebut tidak ada mata pelajaran yang bisa membuat para siswa bosan. Kegiatan yang dilakukan adalah ekstrakulikuler yang konon merangkum hingga 18 karakter, seperti jujur, toleransi, disiplin, dan cinta tanah air. Dengan kegiatan tersebut, dia mengatakan para siswa bisa dijauhkan dari pergaulan yang negatif.

2. Orang tua bisa jemput anak ke sekolah

Pertimbangan lain dari program fuldeiskul menurut Om Muhadjir adalah, masalah hubungan antara orang tua dan anak. Menurutnya, untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan, pada umumnya orang tua bekerja hingga pukul 5 sore. Dengan program tersebut, kata dia, orang tua bisa menjemput anak mereka di sekolah saat pulang kerja.

Saat ini, kata Om Muhadjir, siswa pulang dari sekolah pukul 1 siang, sementara orang tua baru pulang pukul 5 sore. “Antara jam 1 sampai jam 5 kita enggak tahu siapa yang bertanggung jawab pada anak, karena sekolah juga sudah melepas sementara keluarga juga belum ada,” kata Muhadjir sebagaimana dilansir Tempo.co.

3. Membantu sertifikasi guru

Program fuldeiskul dianggap Om Muhadjir dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru. “Guru yang mencari tambahan jam belajar di sekolah nanti akan mendapatkan tambahan jam itu dari ini,” katanya.

***

Nah, bagaimana pembaca? Terutama yang anaknya duduk  di bangku SD dan SMP? Setujukah dengan gagasan Om Muhadjir?

Tanpa perlu susah-payah cari PIN BBM Kak Seto, kemudian minta tanggapan pecinta, pemerhati, dan pembela hak-hak anak ini, mari beri waktu sejenak untuk kita tanggapi gagasan fuldeiskul Om Muhadjir sebagai berikut;

Pertama : Menurut Om Muhadjir, kegiatan ekstrakulikuler tersebut akan merangkum 18 karakter, seperti jujur, toleransi, disiplin, hingga cinta tanah air. Sedangkan sisanya yang 14, entah karakter macam mana lagi yang sedang dipikir-pikir pengganti Om Anis. Dengan kegiatan tersebut, menurut Om Muhadjir,  para siswa bisa dijauhkan dari pergaulan yang negatif.

Pembaca, jika program ini jalan, maka bagi orang tua sayang anak, ini adalah sebuah kekecewaan. Entah bagaimana pedihnya perasaan orang tua yang dari pagi hingga sore tak ketemu anaknya (termasuk yang sering jadi pemicu perkara antar tetangga gegara melempar mangga). Sudah tak bersama seharian, tepat pukul 5 sore anak baru pulang rumah. Tentu sudah dalam keadaan lelah. Paling-paling langsung tidur. Bayangkan jika ini terjadi selama 9 tahun. Berapa waktu terbuang tanpa pertemuan dengan anak.

Tapi bukankah orang tua juga harus bekerja? Artinya, pagi hari baik anak maupun orang tua, sama-sama berangkat keluar rumah. Orang tua ke tempat kerja, anak ke sekolah. Sudah itu bertemu kembali usai pukul 5 sore berbarengan pulang rumah dalam keadaan yang sama-sama cape. Dan satu lagi yang terlupakan, budaya tidur siang anak-anak bakal dikemanakan? Meskipun kita juga tahu, tak semua anak suka disuruh tidur siang. Dan tidak semua orang tua, seharian bisa mengontrol kemana anaknya bermain sepulang sekolah.

Kedua : Pertimbangan lain dari program fuldayskul adalah masalah hubungan antara orang tua dan anak. Menurut Muhadjir, untuk masyarakat yang tinggal di perkotaan, pada umumnya orang tua bekerja hingga pukul 5 sore. Dengan program tersebut, kata dia, orang tua bisa menjemput anak mereka di sekolah saat pulang kerja.

Mungkin yang menjadi pertanyaan kita adalah; apakah Om Muhadjir tahu, tidak semua orang tua bekerja di kantor dan tidak semua orang tua terbiasa menjemput anaknya pulang sekolah. Selain itu, otomatis orang tua harus menambah biaya jajan sang anak, meski bisa disiasati dengan cara bawa makanan dari rumah. Tapi siapa juga yang bakal masak tiap pagi untuk bekal anak makan siang di sekolah.

Ketiga : Program fuldeiskul dianggap Muhadjir dapat membantu guru untuk mendapatkan durasi jam mengajar 24 jam per minggu sebagai syarat mendapatkan sertifikasi guru.

Bisa jadi di sinilah salah satu letak kekeliruan Om Mohadjir. Kenapa dia tidak bisa membedakan, mana sebenarnya program untuk anak, untuk orang tua, dan untuk guru. Jangan gara-gara niat utamanya adalah mau ngurus atau mendidik orang tua dan mensyaratkan guru bersertifikasi, lalu anak-anak yang jadi korban seharian di sekolah. Apalagi tidak semua sekolah punya fasilitas main layangan, sungai untuk mandi sambil bersalto, kolam untuk memancing, atau bermain buih ombak di pesisir.

Maka, apakah fuldeiskul itu penting? Setujukah dengan program fuldeiskul? Dan terakhir; siapa calon Bupati Bolmong yang layak didukung?

Pembaca, apapun uraian di atas, saya pribadi menganggap fuldeiskul itu penting. Mengapa demikian? Ini sebenarnya berangkat dari pengalaman dan pengamatan pribadi. Di Mongondow— saya ambil ukur di kampung saya Passi—rata-rata orang tua yang tidak kerja kantoran atau lebih banyak di rumah, bakalan murka ketika melihat anaknya sudah pulang rumah sebelum bel pulang sekolah berdentang.

Bahkan sepulangnya anak dari sekolah sesuai bunyi bel berdentang, mereka tidak menemukan orang tuannya di rumah sebab sedang ngerumpi di rumah tetangga. Sebagian lagi tidur. Dan paling menjengkelkan adalah, belum juga seragam dibuka, sudah disuruh pindah Sapi atau disuruh beli ikan teri di warung. Ini belum termasuk jatah timba air dan jemur pakaian.

Dan pagi-pagi, jangan coba-coba masih meringkuk dalam hangatnya selimut. Kalau bukan kuping yang merah di jewer, dinginnya air dalam ember bisa menjadi pembangkit selera ke sekolah.

Orang tua yang bekerja sebagai tukang, buruh bangunan, apalagi penambang, bahkan rela seperti Bang Toyib yang rela nggak pulang-pulang, demi mencari jajan dan biaya sekolah anak tersayang. Di antara para Bang Jali dan Bang Toyib bahkan rela terpisah dengan Anak Istri karena ke hendak mengadu nasib ke Pulau Obi, Pulau Buruh, Namlea, Kalimantan, NTT, bahkan Aceh selama berbulan-bulan asalkan anaknya sekolah.

Mereka ini pasti kelompok yang sangat setuju fuldeiskul diterapkan. Sebab mereka juga sedang menjalani fulmunwork bahkan multiyersjab di negeri orang.

Mengetahui anaknya sedang fuldeiskul saat mereka sedang menjalani fulmunwork, pasti kelompok orang tua ini senang dan tenang. Tak kepikiran, apakah sepulang sekolah anaknya langsung singgah rumah, atau justru berkeliaran menghindari pekerjaan membosankan di rumah. Belum termasuk kekhawatiran jika anaknya mandi di sungai sepulang sekolah, lalu terbawa arus, atau masuk jurang ketika dikejar majikan pemilik kebun rambutan yang kikirnya minta ampun, atau terlibat kenakalan lainnya yang level mudaratnya lebih berat.

Bagi mamak-mamak, terutama mamak-mamak muda yang tak ngantor, tentu punya waktu panjang untuk nonton tipi berisi sinetron dan infotaiment. Mamak juga punya banyak waktu untuk eksis di fesbuk, tanpa gangguan anak-anak atau khawatir buah hatinya apakah sedang pergi dengan geng penghidu ehabond atau kenakalan-kenakalan lainnya yang mengundang was-was. Kalau di sekolah kan enak, ada guru yang ngawasin. Seharian pun tak da masalah. Mamak terus aplot pict di Path.

Sampai disini, kemungkinan akan ada banyak pembaca yang mendadak jadi aktivis dan pemerhati anak. Sehingga tergesa-gesalah mereka membentuk koalisi dengan Kak Seto, lalu mengecam saya sebagai orang yang tidak pro terhadap kebebasan dan hak-hak anak. Maka jangan heran jika ragam caci cepat disematkan. Sebab bagi mereka, fuldeiskul adalah penindasan terhadap kebebesan anak, atau kurikulum yang tak lain dan tak bukan adalah sarana eksploitasi dan penyiksaan terhadap anak.

Hm, baik. Adalah hak setiap orang untuk jas-menjas, cap-mencap. Dunia ini hitam-putih. Tidak sepakat berarti kontra, tidak kontra berarti pro. Titik. Sesederhana itu. Di fesbuk, saya melihat banyak tipe ‘pemikir’ macam begini.

Oh, ya. Ngomong-ngomong soal eksploitasi anak, pernah lihat ada anak di Mongondow kehilangan waktu bermain sepulang sekolah, karena harus menenteng bakul menjajakan kue di siang yang terik demi membantu ekonomi keluarga? Pernah lihat anak mengembalakan Sapi di bukit, di tepi sungai, atau yang disuruh memikul kotak amal masuk gang keluar gang melewati lampu merah, keluar masuk toko, kantin, rumah kopi, terminal, pasar-pasar, hampir diserempet motor metik dedew bonceng tiga? Ayo mana suaramu?

Atau pernahkah di antara kita memaksa anak tidur di siang bolong sepulang sekolah, padahal dia tidak mengantuk, sementara di luar sana suara teman-temannya memanggil karena sudah janjian main kelereng atau play station di rumah teman?

Pernahkah di antara kita saling berebut remote control, gara-gara anak suka nonton kartun atau laptop si Unyil sedangkan mamaknya suka nonton gaya hidup artis maju mundur cantik Syahrini dan prahara rumah tangga artis yang sedang di ambang perceraian?

Dan berapa kali kita menyuruh anak bolak-balik konter pulsa karena paket data internet kita habis, padahal chating Bbm dan Fesbuk lagi seru-serunya? Apakah itu tidak termasuk penindasan atau eksploitasi terhadap anak? Ayo mana suaramu wahai aktivis anak di Mongondow.

Ah, terakhir, siapapun calon Bupati Bolmong nanti, semoga yang terpilih bakal mendukung program fuldeiskul Om Muhadjir dan memperhatikan orang Mongondow yang rela terpisah dengan anak karena harus fulmunwork di negeri orang nun jauh di sana, demi anak-anaknya yang harus sekolah.

Masih belum setuju?

Pasti ente-ente pernah membaca Foucault, Disipline and Punish (1975). Om Plontos ini memang mengatakan, pendidikan adalah penindasan.

Baiklah, ayo sama-sama turun ke jalan, bergandengan tangan membentuk koalisi mendesak Presiden Jokowi agar mengganti Om Muhadjir, jika tidak mengganti konsep fuldeiskul dengan konsep Alam Raya Sekolahku.

Lha, kok Alam Raya Sekolahku? Nantilah kita bahas ini di lain waktu. Beberapa pembaca pasti ada yang ingat Paulo Freire yang menganjurkan sistem Pendidikan yang Membebaskan.

Tapi batrei laptop sudah hampir mampus, sedangkan listrik sudah lumayan lama dipadamkan pemadam kelistrikan. Eh, hampir lupa. Jangan lupa, kalau ikut kampanye pasangan Calon Bupati Bolaang Mongondow, anak-anak jangan dibawa serta ya. Biarkanlah sebagian dari mereka bermain bersama si Jlamprang dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan Umar Khayam.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.