ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Siapa Sebenarnya Balanda’ Rondi’?

Bagikan Artikel Ini:

Balanda

SIAPA Bolanda Morondi’? Ini topik yang belakangan sedang hangat-hangatnya di Mongondow? Sehangat isi chating BlackBerry Messenger (BBM) mantan kepada pacarnya, namun masuk sebagai chat ke kontak kita selaku mantan yang baper.

Sebelum lanjut,  saya hendak mengganti penulisan Bolanda Morondi’ dengan Balanda’ Rondi’. Soal apa alasannya, nanti akan saya jelaskan ketika bertemu pembaca artikel ini di rumah kopi. Asal dengan 1 catatan; semoga mantan tak nonkrong disitu.

***

Saya pertama kali mendengar Balanda’ Rondi‘, ketika kongkow-kongkow di sebuah rumah kopi dari sekian banyak rumah kopi yang ada di Kotamobagu. Ada beberapa kawan dengan ragam profesi berbeda terlibat dalam forum kongkow itu. Kejadiannya belum genap sepekan ini.

Karena saya bertanya, dimana bermula istilah Balanda’ Rondi‘, anggota kongkow memberi saya tautan link URL dan menyarankan supaya menelusurinya di jejaring sosial fesbuk, dimana istilah Balanda’ Rondi’ (Belanda Hitam) mula-mula digemakan hingga bermakna semacam gugatan dalam konteks ke-Mongondow-an kita selaku orang Mongondow. Sedangkan sebagian anggota forum kongkow lainnya, menunjukan ragam tanggapan di kolom komentar fesbuk.

Dua-tiga menit saya membacanya lalu bertanya pada forum kongkow yang didominasi orang-orang tak lagi jomblo. “Menurut kalian, siapa itu yang dikategorikan sebagai Balanda’ Rondi’ dan siapa itu Balanda’ Budo’?” demikian saya melempar tanya.

Tak ada yang memberi jawaban. Padahal saya baru mau bertanya, setahu mereka  mana penyebutan yang benar;  Bolanda’ atau Balanda’ ?

Tapi ketika mendengar ada banyak lidah kelu dan kurang fasih menyebut kalimat itu sesuai lidah Mongondow, saya tiba-tiba kehilangan gairah. Padahal belum masuk pada pertanyaan; apa musabab sampai istilah Balanda’ Rondi’  mencuat? Belum juga sampai pada pertanyaan; kepada siapa atau kepada kelompok mana itu ditujukan?

Ya, saya mahfum. Sebab pembuat status maupun yang memberi komen (termasuk di meja forum kongkow), tidak memberi secuil penjelasan dan penegasan soal siapa atau kelompok mana yang dikategorikan sebagai Balanda’ Rondi’ dan siapa yang bukan. Apalagi dikaitkan pada tatanan kehidupan secara universal di Mongondow. Kecuali itu, yang ada (status dan komen status) adalah semacam ‘umpatan’ dan bentuk ‘kekecewaan’ pada suku bangsa sendiri (Mongondow) yang diyakini masih bermental atah.

Tapi topik pembicaraan di warung kopi siang itu, menyerempet pula ke aksi unjuk rasa sekelompok orang Mongondow terkait penolakan terhadap Penjabat Bupati Bolmong, belum lama ini. Kemudian berkembang menjadi ‘debat’ dan poleke.

Saya berpikir, apakah frasa Balanda’ Rondi’ ini mencuat dan mempengaruhi situasi sosial, politik, dan budaya di Mongondow, akibat hasil pertandingan Piala Eropa dimana Portugal berhasil menundukkan Perancis, atau tidak? Satelah dikaji, ternyata tak ada kaitannya sama sekali. Saya putar lagi otak, lalu berpikir; apakah istilah ini muncul gara-gara Jokowi mengocok kabinetnya, sehingga bermunculan nama seperti Wiranto yang konon terlibat HAM di Tim-tim, begitupun  Sri Mulyani tenaga magang di World Bank yang selalu dituding kelompok kiri sebagai pendukung Neolib dan antek asing?

Setelah dikaji, sungguh jauh dari panggang. Maka tak ada cara lain kecuali membawanya ke langit lokal, yakni ke seputar ‘huru-hara’ yang meletus 2 pekan lalu, dimana ada elemen masyarakat Mongondow menolak Penjabat Bupati Bolmong, sebab bukan putra daerah alias bukan orang Mongondow. Hmm, seperti cerita mantan saja ya, yang menolak diajak nikah karena yang datang melamar beda suku, alias say no for else! atau lanss di mantos jo sampe pica pembuluh darah, meminjam istilah kekinian remaja Mongondow yang tak seberapa lama main Pokemon Go.

Nah, awalnya saya memang berpikir, dengan membawa duduk perkara Balanda’ Rondi’ ini ke ranah pulitik lokal, mungkin lebih mendekati benar. Kemudian mengaitkannya dengan situasi sosial politik terkini di Mongondow, pasca Penjabat Bupati  datang  bahkan dijemput melalui prosesi upacara Adat yang bikin banyak orang Mongondow baper. Apalagi istilah Balanda Rondi’ ternyata baru saya tahu muncul pasca pelantikan Nixon Watung.

Namun ternyata,  saya keliru sebab masih merasa masih gagal menemukan konektivitasnya dengan istilah yang mengemuka. Bukan semata-mata karena penunjukan Penjabat Bupati itu tidak melanggar Pancasila dan UUD 1945 serta anak-pinak Perpres, Permen, dan Kepmen.

Jadi saya pikir begini, orang Mongondow sewajibnya jeli dan harus mau untuk senantiasa memahami pokok soal yang sebenarnya. Termasuk kelemahan-kelemahan yang terkandung di dalamnya akibat ketidak-jelian dan kekurang-pahaman dalam mengulitik substansi masalah.

Keriuhan dan kemelut di kotak finalti mungkin lebih menarik penonton, pun media. Termasuk mencaci-maki wasit yang dinilai biadab karena berlaku curang dan tak memberi kartu merah meski ada striker yang terjerembab, entah karena aksi diving atau benar-benar kena sliding tanpa bola.

Lalu siapa Balanda’ Rondi’ dan siapa Balanda’ Budo? Adakah ini ada, nyata, dan sedang terjadi di negeri Mongondow? Lalu sudahkah ada penjelasan dan penegasan terkait pendikotomian istilah tersebut pada tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, bahkan ekonomi di Mongondow? Atau adakah bantahan sebagaimana mantan selalu bersikukuh bahwa, sebenarnya dia sudah berjuang mati-matian mempertahankan hubungan, dan selalu memperhatikan kita tetapi kitalah yang kurang peka? (atau mungkin dia yang kurang pintar merasa), sehingga ogah-ogahan  lalu pergi meninggalkan kita setelah merasakan bagaimana enaknya naik motor besar?

Ah, saya tiba-tiba khawatir, jika Balanda Rondi‘ dan Balanda’ Budo’ ini benar-benar ada dalam tatanan kehidupan secara universal di Mongondow, maka semoga  anak, cucu, dan cece kita sebagai pewaris tanah leluhur Mongondow masa depan, tak memaksukan kita ke dalam daftar sebagai yang senyata-nyatanya Balanda’ Rondi’.

Namun jikapun itu terjadi, toh kita tinggalah tulang belulang diliputi debu, atau fosil yang tak berharga sama sekali di mata mereka. Tabe’

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
susah senang, tetap saudara sepiring dan sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.