ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Merayakan Kenyinyiran Orang Terhadap Ketidakmacetan dan Alpanya Ayu Tingting

Bagikan Artikel Ini:

kemacetan

Kita mungkin bisa taruhan untuk mengatakan pasti; orang Jakarta yang sudah puluhan tahun melahap kemacetan, di umur bumi yang semakin bikin baper ini, tetap akan beranggapan bahwa macet adalah sebuah kutukan yang harus dihindari.

Berganti pimimpin, berjejer ahli, semua berpikir bagaimana supaya Jakarta lepas dari kutukan kemacetan yang bisa membuat siapa saja terlambat bertugas atau batal mengejar mantan ke peron.

Berkaitan dengan pamarentah atau tata kelola kota, khususnya bidang perhubungan, kemacetan bisa dijadikan alat bahkan bahan buli untuk menjatuhkan pemimpin. Kota yang macet, berarti pemimpinnya jelek. Kota yang macet, berarti pamarentahnya tak becus.

Bagaimana dengan Mongondow? Nah, ini menjadi menarik sebab memantau lalu-lintas group fesbuk paling rica-rica di Mongondow belakangan ini, kemacetan sekonyong-koyong justru dianggap sebagai barometer kesuksesan suatu hajatan dan rencana. Macet berarti hebat, tidak macet berarti gagal. Macet berarti sukses.

Lha, kenapa bisa begitu? Haha, belum tahu rupanya. Inilah Mongondow. Negeri tolaeng dimana kemacetan yang sudah lama dianggap kutukan oleh orang Jakarta, atau orang-orang di kota besar, bisa dianggap sebagai keriangan dan alat ukur kesuksesan oleh orang Mongondow yang konon sudah mulai tercerahkan seiring bertambahnya kecerdasan rakyatnya, terutama di bidang pulitik.

Mau bukti? Telusurilah berita kampanye salah satu pasangan calon di media terbitan Mongondow baik online maupun cetak. Tapi…Oh, pembaca mungkin malas mengakses berita online atau tak berlangganan surat kabar? Jika demikian adanya maka, nongkronglah di group fesbuk paling ramai di Mongondow yang konon beranggotakan manusia-manusia cerdas. Disitu pembaca akan dengan mudah melihat bagaimana manusia-manusia berwawasan naujubilah itu menyinyiri ketidak-macetan yang terjadi ketika salah satu pasangan calon Bupati-Wakil Bupati menggelar kampanye. Bagi tukang nyinyir, tidak macet berarti kampanye gagal. Dan tidak macet berarti, kalah tarung dalam Pilkada Bupati Bolmong 15 Februari 2017 mendatang. Oh, alangkah intelek dan berwawasannya analisa itu.

Berangkat dari analisa cerdas itu, saya jadi bertanya-tanya; apakah manusia-manusia itu sudah pernah ke Jakarta? Ah, sudahlah Jakarta, tapi pernahkah mereka naik mobil tanpa AC lalu terjebak kemacetan panjang di Boulevard Manado? Pernah jugakah mereka merasakan bagaimana pahitnya berhimpitan dalam mobil dan arus lalu-lintas sedang lumpuh oleh macet? Bagaimana pula suasana hati mereka ketika orang yang mereka cintai sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan nafas yang putus-putus? Dan semua itu dialami ketika ada hajatan kampanye pulitik dalam rangka memilih pimpinan pulitik usungan partei-partei pulitik?

Ah, ngeri juga rasanya ketika keberhasilan pihak kepolisian, yang belajar dari peristiwa kemacetan pada kampanye sebelumnya, justru dinyinyiri orang-orang yang katanya cerdas. Padahal barisan pulisi itu sudah rela berpanas-panasan di bawah terik matahari dengan muka berkuah di jalanan, mengatur arus lau-lintas agar tertib tidak menimbulkan kemacetan parah. Bagaimana pula kontribusi Dinas Perhubungan yang berhasil memutar otak bekerjasama dengan pulisi agar kemacetan tidak ternjadi?

Pembaca, manusia berpemikiran macam apa yang menganggap kampanye tertib yang dihadiri ribuan massa dengan konvoi kendaraan tanpa menimbulkan kemacetan, adalah sebuah keburukan atau kelucuan yang layak ditertawai?? Kemudian kampanye yang menyebabkan kesemrautan dan kemacetan lalu-lintas justru dianggap sebagai sebuah kehebatan? Apakah mereka tidak berpikir, pihak kepulisian dan Dinas Perhubungan justru akan teraniaya dan jadi sasaran semprot terlebih dahulu kemudian dianggap tidak bekerja?

Masya Allah, saya akhirnya sadar bahwa kenyinyiran memang tidak pernah menjaga dan memuliakan akal sehat, sehebat apapun isi kepala manusia itu. Namanya nyinyir ya nyinyir. Ia sudah jahat sejak dalam pikiran.

Lalu bagaimana dengan Ayu Tingting?

Pembaca, konon kabar yang seliweran mengatakan, sebelum kampanye digelar, pihak panitia atau tim sukses salah satu pasangan calon yang berkampanye pada Kamis 19 Januari 2017 kemarin, sesumbar di medsos bahkan konon di media massa bahwa, Ayu Tingting akan hadir turut meramaikan panggung kampanye sebagaimana janji DPP Perindo. Namun tak dinyana, hingga kampanye usai, batang hidung Ayu Tingting yang tak hanya bikin baper kaum jomblo, justru tidak nongol. Konon kabar tersiar, Ayu Tingting tidak sempat hadir karena sedang berhalangan. Bisa jadi halangan itu karena dia terjebak ‘alamat palsu’. Kecuali itu, batang hidung dan suara merdu Adi Naff dan beberapa artis Ibukota, akhirnya terdengar dari atas panggung.

Dan sebagaimana yang mudah sekali ditebak bahkan oleh anak putus sekolah sekalipun, alpanya Ayu Tingting sipelantun Alamat Palsu, dijadikan senjata untuk memukul lawan pulitik. Sehingga jangan heran jika ada media menurunkan liputan di halaman etalase begini; Kampanye SBM-JITU Sukses Bohongi Warga.

Hahahahaha….. karena saya bukanlah ahli bahasa dan pakar media, maka biarlah kawan-kawan wartawan berkwalitas dan bersertifikasi di Mongondow yang akan membahas judul itu. Sebab mereka yang lebih berkompeten.

Tapi, ada kawan orang Mongondow yang selalu menjaga kewarasan akal sehatnya bertanya kepada saya; bagaimana si sipenulis berita itu mengukur dan menyimpulkan bahwa kampanye itu sukses membohongi warga? Ada berapa sampel dan variabel apa yang digunakan? Metode pengukuranpun memakai metode apa? Jika alat ukur yang digunakan adalah kira-kira belaka, tentu ini bahaya bagi si wartawan itu sendiri. Terlebih bagi yang belum mengantongi sertifikasi sebagai wartawan yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Sebab akan bersengketa dengan Pasal ITE atau KUHP karena UU Pers hanya berlaku bagi wartawan yang bersertifikasi dan tergabung dalam organisasi kewartawanan semacam AJI dan PWI.

Karena saya sedang dalam keadaan malas, maka jawaban yang saya berikan kepada dia adalah; biarlah itu menjadi urusan orang-orang kritis bidang media massa atau pakar bahasa. 

Tentu dia kecewa dengan jawaban saya. Tapi saya memang bukan orang yang saat itu bertugas untuk mengobati rasa kecewannya. Dan karena memang sedang malas, saya tidak memarahinya ketika ia menyemprot saya dengan ungkapan begini; “Kalian memang sama saja!”

Sekarang kita kembali ke Ayu Tinting. Saya mulai dengan pertanyaan; sebenarnya siapa yang kecewa dengan kealpaan Ayu Tingting yang berhalangan hadir? Apakah para penggemar Ayu Tingting, atau ribuan massa yang rela berpanas-panasan dan kehujanan di lapangan Inobonto? Atau justru satu-dua penggemar Ayu Tingting yang diam-diam menyusup dalam barisan massa pendukung salah satu calon?

Adalah membuang-buang waktu untuk mencari tahu siapa penggemar Ayu Tingting yang sebenarnya, kemudian kecewa padahal sudah susah payah ke arena kampanye mendengarkan orasi pulitik setelah antri di SPBU.

Lantas bagaimana dengan orang-orang anti macet, yang mau tertib berkonvoi lalu memarkir kendaraannya agar tidak kena sumpah serapah dan kutuk orang-orang yang terlambat ke tempat tujuan? Pun mereka yang memberi 2 jempol atas kerja pihak kepulisian dan Dinas Perhubungan dalam mengatur arus lau-lintas?

Rayakanlah kenyinyiran orang-orang penggila kemacetan lalu-lintas itu, dengan cara pangko kaki sembari menyeruput kopi korot dan menghadapkan pandang ke Pulau Molosing yang cantik dengan pasir putihnya. Itu lebih mulia dibanding berbusa-busa atau keras-kerasan dengan akun-akun palsu penuh nyinyir di grup fesbuk paling nyinyir dan rica-rica di Mongondow.

Percayalah, siapapun yang akan jadi Bupati, Patung Bogani tetap ada di pertigaan Kotobangon. (Uwin Mokodongan)

Uwin Mokodongan

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.