ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dari Panggung Literasik Kotamobagu

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Panggung Literasik (Literasi dan Musik) yang berlangsung di Kedai Kampung Bogani, Jumat 23 Juni 2017, diminati sejumlah kalangan khususnya kawula muda Kotamobagu. Mereka terdiri dari mahasiswa, blogger, jurnalis, pecinta sastra, penulis muda, dan musisi.

Komunitas sastra dan literasi dari luar Kotamobagu, juga hadir. Mereka datang dari Gorontalo dan Boltim, termasuk kehadiran Jamal Rahman Iroth, penggiat sastra asal Manado yang kini berdomisili di Boltim. Jamal, penulis buku puisi Torotakon, usai membawakan pengantar diawal pembukaan Literasik, ikut tampil mementaskan beberapa puisinya. Aplause kian menggema ketika Jamal diiringi Beranda Rumah Mangga, kelompok musik lokal yang didirikan Vicky Mokoagow dan kawan-kawannya di Bongkudai, Boltim.

Usai penampilan Jamal, seorang gadis cilik bernama Rara Potabuga, tampil mementaskan puisi yang dibawakan dengan begitu sentimentil. Puisi yang ditulis dan dipentaskan untuk mengenang adik perempuan si pembaca yang telah meninggal dunia karena sakit.

Selanjutnya, penulis muda seperti Donald Qomadiansyah Tungkagi, Hamri Mokoagow, dan Neno Karlina, bertiga mereka turut tampil berbagi cerita, pengalaman, dan harapan-harapannya terkait kehidupan literasi yang menurut mereka, sudah seharusnya dilahirkan dan tumbuh berkembang di Kotamobagu. “Tulislah apa yang Anda pikirkan, apapun itu. Jangan sungkan bagaimana bentuknya nanti. Sebab untuk mengawali tulisan atau belajar menulis, hanya dapat ditempuh dengan menulis terlebih dahulu,” kata Donald. “Jadi tulislah terlebih dahulu. Nanti secara perlahan-lahan dan bertahap,  kita bisa belajar sehingga lambat laun tulisan akan semakin baik,” tambahnya. Menurut Donald, menulis dengan tema atau topik bebas, adalah salah satu kiat yang dibutuhkan setiap pemula untuk memulai bidang tulis-menulis. “Bisa tentang kehidupan Anda pribadi, dengan teman, bahkan suasana acara malam inipun, bisa dijadikan bahan untuk ditulis. Artinya, menulislah seperti Anda sedang berbicara dengan seseorang,” tukasnya.

Pada kesempatan itu, Hamri Mokoagow ikut memberi penyampaian yang pada pokoknya menitik-beratkan pada harus dilahirkannya wacana baru di tengah kehidupan generasi muda Kotamobagu yang menurutnya lebih banyak terpaku pada wacana berbau politik dan politik melulu. Dan wacana yang layak dilahirkan ini, lanjut Hamri,  adalah wacana bidang literasi. “Generasi muda Kotamobagu lebih cenderung mengusung wacana soal politik praktis. kalau bukan ngomongin Pilkada ya Pilwako, atau Pileg. Begitu seterusnya sering mengemuka di rumah-rumah kopi. Jarang sekali saya menemukan ada generasi muda yang punya wacana baru selain politik,” ketusnya. 

Setelah Donald Tungkagi dan Hamri Mokoagow, giliran Neno Karlina tampil mementaskan puisi dari seorang sahabatnya asal Jogja. Puisi itu dibawakan cukup panjang dan memukau para hadirin. Termasuk penampilan para penggiat literasi asal Mongondow yang kuliah di luar daerah seperti Makassar, Bandung, Jogja, dan Jakarta. Mereka tampil secara bergantian. Selain membahas tentang pengalaman dunia literasi yang mereka peroleh di luar daerah, diisi pula dengan resensi singkat  tentang isi buku yang pernah mereka baca dan sukai. Menceritakan kembali dan berbagi pengalaman serta pesan yang mereka temukan dalam membaca buku. Para peserta juga tampil mementaskan puisi yang ditulis sendiri maupun puisi dari penyair-penyair terkemuka, semisal Chairil Anwar yang mereka pentaskan secara musikalisasi, termasuk penampilan dari komunitas SLAB (Saung Layung Arus Balik), dan Rumah Pemuda Merdeka (RPM).

Turut menarik perhatian adalah kehadiran Sangadi (Kepala Desa) Passi, Delianto Bengga. Ketika bersua dengan awak media ARUSUTARA.COM, di lokasi acara dan dimintai tanggapan, Sangadi Debe (demikian ia akrab disapa), menyampaikan kalau dirinya memang sangat tertarik dengan dunia literasi. “meski memang baru sebatas pada hobi membaca puisi dan nongkrong bertukar pikiran dengan para penggiatnya. Belum pada upaya penerbitan, pengelolaan, dan penataan dalam arti literasi yang sesungguhnya,” katanya. Ia juga menambahkan kalau ini adalah kali kedua ia mengikuti acara yang hampir sejenis di kedai Kampung Bogani. “Tahun lalu, bersama kawan-kawan lintas komunitas di Kotamobagu, kami juga bikin acara semacam begini di tempat ini juga,” katanya. “Saat kawan-kawan panitia Literasik bikin acara Buka Puisi di Taman Kota pada 2016 silam, saya dan beberapa teman komunitas RPM dari Passi, turut hadir. Intinya setiap ada kegiatan sastra maupun literasi berlangsung di Kotamobagu, saya selalu menyempatkan diri hadir. Termasuk pada April kemarin ketika para penggiat seni di Kotamobagu menggelar Malam Puisi dalam rangka memperingati hari wafat penyair besar, Chairil Anwar, berlangsung di Teras Insomnia” urai Sangadi Debe.

Lebih lanjut, senada dengan Hamri dan Donald, ia menambahkan kalau  kehidupan khususnya generasi muda di Kotamobagu, memang butuh gerakan yang mampu memecah wacana sentral, dari politik, ke  wacana yang lebih berwarna. “Literasi misalnya, sehingga saya sangat sependapat dengan kawan-kawan yang mengusung acara ini,” tukasnya. Sangadi Debe lantas tampil  mementaskan puisi karya Dewa Putu Sahadewa, penyair asal Pulau Bali berjudul Sajak Dinihari.

Panggung Literasik yang berlangsung di Kedai kampung Bogani, digagas kalangan Mahasiswa asal Mongondow yang menempuh pendidikan di Makassar, Jogja, Bandung, Gorontalo, dan Jakarta. Mereka berkolaborasi dengan lintas komunitas lokal di Kotambagu. Di antara para penggas  adalah penulis muda, blogger, musisi, dan pecinta literasi. Beberapa nama dapat merujuk pada Donal Qomadiansyah Tungkagi, Vini Mamonto, Tyo Mokoagow, dan Vicky Mokoagow.  (redaksi)

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.