ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Perlawanan di Solog Memang Bukan Perlawanan Seperti di Kendeng

Bagikan Artikel Ini:
Foto : JMPPK via tempo.co

 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).“ (Qs. Ar-Rum : 41)

KENAPA saya mengutip ayat Qur’an dalam tulisan kali ini? Percayalah, bukan sok mau jadi penceramah seperti AA Gym yang dikenal tetap berlaku adil kepada istri-istrinya, bukan pula bermaksud sok suci seperti Ustadz Felix Siaw yang punya 3 juta lebih pengikut di fanpage Facebook, apalagi mencontohi kesohoran Habib Riziq sang penegak tiang agama panutan 7 juta umat dalam gerakan 212, yang belum juga pulang padahal sudah mau lebaran.

Tapi mungkin benar kiranya, saya mengutip Quran (bukan juga karena ini bulan ramadan) karena saya sedang menjadi korban ikut-ikutan sederet barisan pengutip ayat-ayat suci yang aktif di medsos. Padahal tabiat men-share ayat-ayat dari langit itu, sering jadi sasaran netizen nyinyir sebagai tindakan pamer kealiman yang lengket dari riya’.

Ya, katakanlah begitu. Saya menjadi orang yang ikut-ikutan berisik dan riya’ atau apalah, apalah, terserah lah. Biar saja demikian adanya persangkaan-persangkaan itu, karena pada pokoknya inti dari tulisan ini tidak membahas soal yang demikian-demikian itu, melainkan sebuah kegusaran, kemarahan, bahkan rasa malu atas apa yang hangat belakangan ini di tanah Mongondow.

Ya, pembaca sudah bisa menebak. Semua bermula dari perkara semen di Solog. Pembaca sudah tahu kan apa itu semen? Benar, material dari alam yang jika dicampur air dan pasir, kemudian diisi dalam cetakan berbentuk balok, didiamkan beberapa waktu sudah itu diangkat, maka oleh para istri, cocoklah balok semen itu dilayangkan ke titit suaminya yang ngasih THR ke wanita idaman lain, padahal di rumah toples-toples berderet dengan kondisi kosong melompong. Di bagian ini saya yakin, pembaca sudah akrab dengan Meme seorang wanita mengenggam sebalok semen di belakang suaminya yang sedang bermesraan dengan wanita lain.

Oke, lanjut. Lantas kenapa saya gusar, marah, bahkan malu terkait keributan di balik persoalan semen di Solog? Saya gusar karena keributan itu bukan bertolak pada kekhawatiran atas sumber kehidupan. Sehingga kegusaran yang saya rasakan ini, pelan-pelan melahirkan rasa marah. Tetapi rasa marah yang lahir ini bukan dipicu karena sebentar lagi lebaran, namun gaji belum cair, padahal imam masjid sudah ganti ayat. Melainkan amarah yang lahir karena (lagi-lagi saya tandaskan) perkara semen di Solog, tidak bertolak pada kesadaran tentang dampak yang dapat ditimbulkan terhadap tatanan ekosistim, kelestarian alam, dan lingkungan hidup (jika kita tidak mau menyinggung Pasal 33 Ayat 3 dan 4 UUD 1945).

Sila baca pemberitaan media massa  baik cetak maupun online soal terkait kisruh semen di Solog sepekan belakangan ini? Apakah pembaca menemukan kalau ‘penyerbuan’ rombongan pemerintah daerah (Pemkab Bolmong) dan rencana pembongkaran serta penutupan PT Conch didasarkan pada kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak lingkungan yang timbul karena aktivitas perusahaan?? Yang ada adalah, keributan itu didasarkan pada soal; mana izin mendirikan bangunan, mana izin minimarket, mana izin ekspoitasi pertambangan, dan tetek bengek birokrasi yang diatur melalui deretan regulasi (perizinan) yang biasanya selalu berpihak pada hasrat penguasaan seumberdaya alam oleh korporasi yang seolah tak ada batasnya, sehingga akan berdampak pada apa yang sudah disinggung dalam Ayat yang saya sematkan di awal tulisan.

Padahal kita tahu, tanah adalah sumber penghidupan dimana pangan kita panen sebagai bahan makanan untuk kelangsungan hidup kita selaku manusia yang makan beras, makan ubi, makan batata’, dan yang pasti bukan makan semen.

Keributan soal semen di Solog tidak bertolak pada pemikiran soal kwalitas lingkungan hidup, melainkan pada urusan regulasi birokrasi berupa tumpukan kertas bermaterai, yang nantinya akan diteken tangan-tangan yang adakah peduli soal dampak yang ditimbulkan setelah sepenggal wilayah Desa Solog, dijadikan lahan eksploitasi pertambangan semen? Adakah dalam rombongan itu menanyakan; mana AMDAL perusahaan semen? Yang ada adalah, mana IMB? Dan adakah di antara keributan terkait penutupan atau pengrusakan bangunan milik perusahaan semen didasarkan pada suatu pemikiran bahwa siapa yang akan dipersalahkan atau menanggung akibat jika nanti aktivitas pertambangan itu dapat menyebabkan kerusakan ekosistim,  sehingga sepenggal Solog tinggalah cerita tentang padang rumput tempat sapi-sapi gemuk, hamparan sawah nan hijau tempat petani menuai padi, mangrove tempat ikan bertelur, yang (semoga tidak) akhirnya berganti hamparan beton yang tidak bisa dimakan.

Sebab ketika tanah diberikan ke tangan kelompok yang memimpikan keuntungan atas pengerukan perut bumi, yang bersekongkol dengan birokasi yang sama-sama tak peduli dengan kwalitas lingkungan hidup,  maka Solog tinggalah beton-beton yang tak ada gunanya bagi kemaslahatan orang Mongondow pemakan yondog, sinabidak, dan inambal.

Perusahaan semen akan kami ratakan karena tidak mengantongi izin mendirikan bangunan. Perusahaan semen akan kami bulldozer karena tak mengantongi izin eksploitasi. Perusahaan semen akan kami usir dari negeri Mongondow karena kulinya bukan kuli dari Mongondow, melainkan kuli-kuli dari negeri aseng! Demikian kira-kira tagline yang betapa berisiknya mencuat ke lini massa sepekan ini.

Sejenak kita bertanya-tanya, oh rencana pembongkaran gedung dan pabrik milik PT Conch oleh pamarentah daerah, kemudian dilanjutkan dengan penutupan segala aktivitas perusahaan itu, ternyata dikarenakan perusahaan tersebut belum mengantongi izin mendirikan bangunan dan izin eksploitasi. Jadi kalau mereka sudah mengantongi izin, ya silakan gali..gali..gali..dan gali sampai tembus lubang neraka, tak masalah. Asal izin sudah dikantongi, perkara usai. Titik.

Tetapi apa yang lebih kutuk dari semua keberisikan tentang perusahaan semen di Solog? Adalah tentang orang Mongondow tanpa mamak-mamak seperti di Kendeng. Sebuah barisan perlawanan dari kaum perempuan, terhadap perusahaan semen yang berkonco dengan pamarentah setempat terkait pembangunan pabrik semen. Sebuah perlawanan dari Ibu-ibu petani karena kekhawatiran akan melenyapnya air tanah di Kendeng, yang akan mengubah pola penghidupan para petani di pegunungan Kendeng, yang akan merusak tatanan sosio-kultur kehidupan para petani di Kendeng, yang terikat secara histori terhadap tanah-tanahnya yang subur warisan para leluhur di Kendeng, yang akan tercerabut dari bumi hijau Kendeng yang masih gegap gempita terus berjuang melawan kekuatan korporasi.

Lantas, adakah yang lebih kutuk dari keributan di Solog? Ya, ada. Apa itu? Adalah kita, yang tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya bikin status di medsos; tutup perusahaan semen di Solog. Ratakan gedung PT Conch. Hidup Pemkab Bolmong. Lalu akhirnya diam pertanda setuju ketika semua permintaan diluluskan oleh PT Conch.

Maka gusar dan marah ini pelan-pelan berubah menjadi rasa malu terhadap diri sendiri. Karena di Mongondow, tak ada perlawanan seperti barisan mamak-mamak di Kendeng yang melawan perusahaan semen. Barisan perlawanan yang bertolak dari kesadaran dan pemikiran atas ancaman kehancuran tanah ladang dan masa depan generasi berikutnya.

Perlawanan di Mongondow terhadap perusahaan semen adalah perlawanan  dalam rangka menunggu izin dikantongi. Sudah itu sama-sama bergandengan tangan menggali beton-beton untuk dimakan.

Ah, Mongondow memang bukan Kendeng. Maka gusar dan marah ini, menjadilah rasa malu terhadap diri sendiri selaku orang Mongondow. Rasa malu karena di tanah warisan para Bogani yang hebat dan gagah berani, saya hanya bisa menulis tanpa bisa berdiri menjadi penjaga setiap jengkal tanah leluhur, lipu’ in totabuan.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.