ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Pertahankan Pasar Senggol, Pemuda Gogagoman Ribut dengan Satpol-PP

Bagikan Artikel Ini:

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Bentrok antara Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Kotamobagu (Satpol-PP Pemkot Kotamobagu) dan pemuda Gogagoman pendukung Pasar Senggol, akhirnya meletus, Jumat 16 Juni 2017. Situasi yang cepat memanas itu terpicu setelah pemuda Gogagoman dan Aliansi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) mulai mendirikan rangka Kanopi di Jalan Bolian Pasar 23 Maret, untuk lapak Pasar Senggol. 

Satpol-PP yang sebelumnya sudah mewanti-wanti pemuda Gogagoman dan APKLI agar menghargai keputusan Pemkot Kotamobagu, terkait pelarangan pendirian Pasar Senggol di wilayah Kelurahan Gogagoman, bergerak ke lokasi (Jalan Bolian) setelah mengetahui ada aktivitas pendirian Kanopi. 

Kedatangan pasukan Satpol-PP yang dipimpin Sahaya Mokoginta dan Kepala Disperindag Kotamobagu, Herman Aray, mendapat perlawanan dari kelompok pemuda Gogagoman dan pedagang kaki lima, yang sedang mendirikan Kanopi Pasar Senggol.  Situasi cepat memanas hingga berbuntut aksi saling dorong, setelah Satpol-PP meminta kelompok pemuda dan pedagang kaki lima menghentikan aktivitas mereka dalam mendirikan lapak.

foto : Yudi (Arusutara.com)

Dalam aksi dorong-mendorong itu, terpantau oleh awak media ARUSUTARA.COM, tokoh-tokoh sentral yang mewakili kelompok pedagang dan pemuda Gogagoman yang biasa mengelola Pasar Senggol tiap musim lebaran tiba, muncul di garis depan. Mereka di antaranya Rifai Mokodompit, Lendi Mokodompit, Sofyan Bede, Bu’ Nedi, Opo, Ipan Pex, dan beberapa tokoh pemuda Gogagoman, yang berada di front depan saling dorong dengan Satpol-PP. 

Aksi dorong mendorong terus terjadi. Massa pendukung Pasar Senggol Gogagoman, terus berupaya mendesak mundur pasukan Satpol-PP agar menjauhi lokasi pendirian lapak di Jalan Bolian. Sementara pasukan Satpol-PP yang menyampaikan kepada kelompok pedagang bahwa mereka punya tugas dan wewenang mengamankan keputusan pemerintah setempat, tetap berupaya bertahan.Aksi saling dorong disertai ungkapan saling kecam antara kedua belah pihak, membuat situasi kian panas. Terlebih ketika massa pro Pasar Senggol Gogagoman yang kian bertambah dan terus merangsek.

Tak berselang lama, muncul pihak kepolisian yang dipimpin Kompol.Ruswan Buntuan,SIK, Kapolsek Urban Kotamobagu, menenangkan massa sebelum situasi semakin panas dan dikhawatirkan akan berujung bentrok yang parah hingga menimbulkan korban dari pihak-pihak yang bertikai. Melalui pengeras suara, Kapolsek meminta agar pihak-pihak terkait menahan diri kemudian diajak duduk bersama untuk berdiskusi.

Mediasi antara pemuda Gogagoman, pedagang kaki lima, Satpol-PP, dan Diperindag, akhirnya dilakukan di sebuah Ruko Jalan Bolian-Pasar 23 Maret. Namun demikian, mediasi yang diprakarsai kapolsek Urban Kotamobagu, belum mendapati titik temu. Kelompok yang mewakili pemuda Gogagoman dan pedagang kaki lima, tetap bersikukuh agar pendirian lapak Pasar Senggol di Jalan Bolian tetap dilangsungkan. Sementara pihak Satpol-PP dan Disperindag menyampaikan bahwa apa yang mereka lakukan semata-mata hanya mengawal dan mengamankan keputusan pemerintah, yang pada pokoknya melarang warga mendirikan Pasar Senggol di Kelurahan Gogagoman, kecuali di Desa Poyowa Kecil. 

Dalam mediasi tersebut, Kapolsek menghimbau pihak-pihak terkait agar tetap menahan diri sambil menunggu keputusan selanjutnya, pasca persitiwa itu terjadi. “Saya minta semua pihak menahan diri sembari menunggu keputusan selanjutnya buntut dari peristiwa (bentrok) ini,” kata Kapolsek. “Jadi kita tunggu dulu apakah ada keputusan selanjutnya yang ditempuh pemerintah, setelah peristiwa ini terjadi. Akan tetapi, yang paling penting adalah, semua pihak dapat menjaga ketertiban, ketentraman, dan keamanan. Jangan bertindak sendiri-sendiri. Kita tunggu sama-sama apa keputusan pemerintah selanjutnya,” himbau Kapolsek.

foto : Matox K

Usai mediasi yang belum membuahkan hasil itu, pihak-pihak yang bertikai akhirnya membubarkan diri. Sofyan Bede, mewakili pemuda dan pedagang yang  pro Pasar Senggol Gogagoman, saat dimintai tanggapan usai mediasi, menyampaikan kepada awak media bahwa meraka (pihak yang pro Pasar Senggol Gogagoman) tetap akan mendirikan Pasar Senggol di wilayah Gogagoman. Dari sekian banyak alasan yang dikemukakan, salah satu yang dijadikan alasan yang disampaikan Sofyan Bede adalah, sudah menjadi tradisi selama 28 tahun, tiap musim lebaran tiba, masyarakat Gogagoman terkhusus lagi kelompok pemuda senantiasa menggelar pendirian Pasar Senggol secara swadaya di Gogagoman. Namun belakangan, tradisi tersebut mulai terusik setelah adanya larangan yang ditetapkan pemerintah. Hal tersebut, lanjut Sofyan, dinilai berdampak pada usaha pedagang dan masyarakat Gogagoman, termasuk kelompok pemuda, dalam mencari peluang usaha dan pendapatan saat musim lebaran tiba. Apalagi pedagang menilai, wilayah Gogagoman lebih strategis dan ramai kunjungan ketimbang Desa Poyowa Kecil.

Sementara itu, Sahaya Mokoginta, Kepala Satpol-PP Pemkot Kotamobagu menyampaikan, pihaknya datang ke lokasi pendirian lapak yang disponsori pemuda Gogagoman bersama kelompok pedagang, bukan untuk membongkar lapak, melainkan hendak menghimbau kelompok yang pro-Pasar Senggol Gogagoman,  agar tidak usah mendirikan lapak jualan di lokasi yang tidak diperbolehkan pemerintah setempat, dan menghimbau agar berjualan saja di lokasi yang sudah ditetapkan pemerintah yakni di Poyowa Besar. Selaku Satpol-PP, kata Sahaya, sudah menjadi tugas mereka untuk mengawal apa yang sudah menjadi keputusan pemerintah. 

foto : Yudi (Arusutara.com)

Selanjutnya, Herman Aray, Kepala Disperindag Kotamobagu, ikut menambahkan bahwa keputusan Pemkot Kotamobagu memindahkan lokasi Pasar Senggol dari Gogagoman ke Poyowa Kecil pada musim lebaran tahun ini, adalah bentuk pemerataan ekonomi ke masyarakat Kotamobagu. Selain itu, pemerintah bertujuan agar lokasi pusat kota tidak. Tujuan lainnya adalah bentuk promosi terhadap pasar di Poyowa Kecil. Oleh sebab itu, lanjut Herman, persoalan dipindahkannya lokasi pendirian Pasar Senggol, jangan dipandang dari satu sisi saja, karena keputusan pemerintah terkait penetapan lokasi di Poyowa Kecil, sudah dipikirkan matang berdasarkan tinjauan dari berbagai aspek. “Pasar Senggol sebenarnya kan tidak dilarang, hanya lokasinya saja yang dipindah. Kan semua boleh berjualan di lokasi yang sudah ditetapkan. Jadi penting untuk dicatat bahwa pemerintah bukan melarang tradisi Pasar Senggol, melainkan hanya memindah lokasinya saja. Dan semua pedagang diperbolehkan berjualan dan menersukan tradisi Pasar Senggol di lokasi yang sudah diputuskan pemerinta,” pungkasnya.  (Yudi)

BERITA TERKAIT :

1. Sahaya : Jangan Coba-coba Dirikan Pasar Senggol Tandingan 

2. TNI-Polri Siap AmankanSK Wali Kota Terkait Pasar Senggol

3. Ini Curhatan Vera Soal Larangan Pasar Senggol di Gogagoman

4. DPRD Keluarkan Rekomendasi terkait Kisruh Pasar Senggol

5. Pasar Senggol Pindah, Pemuda Gogagoman Berdemo

6. Hanya Ada 1 Pasar Senggol, Jika Ada Yang Lain, Kami Bongkar!

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.