ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Mari Berhenti Memonopoli Beranda Group

Bagikan Artikel Ini:

GERAK maju era digital disertai dengan arus perkembangan teknologi informatika, membuka dan memberi banyak peluang juga kesempatan. Panjangnya jarak meski terpaut ribuan kilometer tak lagi masalah. Ruang dan waktu sudah bukan perkara ketidak-mungkinan atau hambatan lagi. Dan sekali lagi; kesempatan. Betapa terbuka lebarnya kesempatan.

Kotamobagu sebagai bagian dari setitik kota dari sekian banyak kota di dunia, adalah satu di antara yang sedang berada dalam pusaran era digital dan pesatnya arus perkembangan teknologi informatika. Sehingga tanpa perlu berdebat dan bersitegang, pencanangan program untuk mewujudkan Kotamobagu sebagai Smart City oleh pamarentah kota, bukanlah sebuah keheranan yang perlu tempat untuk saling melempar kursi.

Omong-omong soal kemajuan era digital dan perkembangan teknologi informatika, saya hendak  berbagi tanya atau mungkin resah kepada para pembaca setia ARUS UTARA. Tapi pada kesempatan ini, saya membatasi ruang lingkup tanya dan keresahan (atau mungkin juga curhatan), pada satu pokok bahasan saja yakni media jejaring sosial teranyar yang biasa kita sebut fesbuk (tulisan benarnya facebook) dan segala fasilitasnya termasuk soal fanpage dan group/forum diskusi.

Kenapa?

Kehadiran aplikasi media jejaring yang bertumbuhan, menurut saya masih belum bisa mengalahkan fesbuk. Terasa belum lengkap rasanya bagi orang bergaul untuk tidak memiliki akun fesbuk. Orang bisa tidak punya Bbm, Path, Twitter, Instagram, Tumblr, dan Blog. Tapi fesbuk, ah terasa ada yang kurang.

Lalu tanya atau keresahan apa yang sebenarnya hendak saya bagi?

Jadi begini pembaca, terbuka lebarnya kesempatan dan peluang seiring kemajuan era digital dan teknologi informatika, tersimpan harapan agar para pengguna buah karya peradaban kekinian ini, bisa berkembang cara pikir dan pengetahuannya. Pendeka kata berwawasan atau sebut saja menjadi cerdas. Sehingga para pengguna dituntut pula untuk pintar menggunakan fasilitas yang disajikan era digital dan teknologi informatika hasil peradaban manusia milenial. Ekhem!

Apa kaitannya dengan situs jejaring sosial fesbuk?

Masyarakat Kotamobagu sebagai bagian dari pengguna dan penikmat buah karya peradabaan masa kini (era digital dan teknologi informatika), seperti sedang menyerap energi yang mencerahkan. Konsekuensi logis atas penyerapan energi ini membuat manusia-manusia Kotamobagu (sebagaimana pula harapan) bertambah ilmu, pengetahuan, dan wawasaanya. Maka beramai-ramailah manusia-manusia yang sedang tercerdaskan ini membuat akun fesbuk.

Dalam perkembangan selanjutnya, seiring bertambahnya wawasan dan pengetahuan, bertumbuhanlah inisiatif untuk membuat forum diskusi dalam situs jejaring fesbuk. Ini juga merupakan konsekuensi logis atas bertambahnya kecerdasan bahkan kekritisan seseorang. Maka lahirlah forum atau group-group diskusi yang sengaja dibuat sebagai ajang saling berinteraksi dengan lebih intens dan tentu lebih berbobot lewat topik-topik yang disesuaikan dengan kebutuhan group dan anggota yang diundang sebagaimana pengantar Admin dalam informasi atau ulasan group diskusi fesbuk.

Kesempatan atau peluang yang menganga lebar ini (sebagaimana yang sudah disinggung di atas), tentu tak akan dilewatkan lintas kalangan, profesi, dan sebagainya. Ambil contoh, tukang sayur misalnya, ketika terbuka peluang dan kesempatan luas lebar ini, tentulah tak akan menyianyiakan kesempatan untuk tidak membuat forum atau group untuk mengumpul jamaah (anggota) sebanyak mungkin untuk kemudian ditawari apa yang hendak ditawarkan sesuai nama atau topik dalam group. Yang suka jualan online pun tentu tak akan ketinggalan. Segala macam barang dagangan dilapak dalam group. Meski dalam perkembangannya, group ini banyak ditinggalkan jamaahnya hingga akhirnya terlantar. Selanjutnya, bagi yang suka diskusi atau yang punya hobi berdebat, kesempatan ini juga tak disia-siakan. Maka banyaklah di antara kita yang mendapat undangan group diskusi. Politisi juga tak ingin ketinggalan. Fanpage dan forum diskusi dibuat bahkan menggunakan nama politisi itu sendiri. Dalam info group kita tentu membaca pengantar tentang apa tujuan dari dibuatnya group atau forum tersebut.

Maka, untuk meringkas pembahasan, mari kita sama-sama untuk bertanya lagi; sebenarnya apa yang hendak dikemukakan?

Pembaca setia, pendek kata bertumbuhanlah banyak forum diskusi, dialog, atau group fesbuk di Kotamobagu dengan beragam tema, topik, dan hal-hal yang melatar-belakanginya. Termasuk fanpage dari (sebut saja) tokoh pemuda, tokoh budaya, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan terutama lagi politisi.

Sekarang saya hendak bertanya; apakah Anda adalah anggota group MENUJU KURSI PANAS BUPATI BOLAANG MONGONDOW? Jumlah anggotanya tak main-main pembaca. Tercatat ada 30.603 anggota. Lantas coba periksa infromasi group. Disebutkan disitu bahwa group tersebut adalah wadah diskusi politik kelas warung kopi jelang Pilkada Bolmong. Anggota group diberi kebebasan untuk debat terbuka tentang keunggulan dan kehebatan kandidat masing-masing.

Nah, sekarang coba periksa pembaca, topik apa yang mendominasi sebagai bahan diskusi atau debat dalam group itu sebagaimana tujuan group dibuat? Jawaban jujurnya adalah; bahan dalam group itu sudah dikuasai atau dimonopoli kalangan wartawan. Lantas apa yang diposting? Apakah memiliki kesesuaian? Sila simak sendiri pembaca.

Selanjutnya ada group fesbuk dari Senator asal Kotamobagu diberi nama ; BRANI PE TAMANG. Foto latar group memampang foto Benny Ramdani dengan jumlah anggota group 7.991 Anggota. Tidak ada keterangan apa tujuan group itu dibuat. Lantas apa topik atau bahan yang diposting dalam group itu sebagai menu atau sajian bagi para anggota? Lagi-lagi isi yang terpadat dan mendominasi adalah tautan berita dari kalangan wartawan. Sehingga pendek kata, group itu juga dimonopoli oleh kalangan pewarta.

Selanjutnya ada group bernama MENUJU KURSI PANAS WALIKOTA KOTAMOBAGU. Jumlah anggotanya 2.380. Disebutkan disitu bahwa group tersebut adalah wadah diskusi politik kelas warung kopi jelang Pilkada Bolmong. Anggota group diberi kebebasan untuk debat terbuka tentang keunggulan dan kehebatan kandidat masing-masing. Nah, sekarang coba periksa pembaca, topik apa yang mendominasi sebagai bahan diskusi atau debat dalam group itu sebagaimana tujuan group dibuat?  Jawaban jujurnya adalah; bahan dalam group itu sudah pula dimonopoli kalangan wartawan. Lantas apa yang diposting? Apakah memiliki kesesuaian? Simak sendiri pembaca.

Selanjutnya, masih sama seperti group di atas, ada juga DPC PKB KOTAMOBAGU. Jumlah anggota 1.111. Apa isi topik atau postingan sebagai sajian bagi para anggota group. Isinya adalah sama seperti di atas; monopoli kalangan pewarta memposting tautan berita di beranda group jujut-menjujut.

Ada juga group bernama RUKUN POGOGUTAT BOLAANG MONGONDOW. Memang kalah jumlah dari group-group di atas. Hanya ditongkrongi 605 anggota. Lantas apa yang diposting sebagai topik atau menu sajian bagi anggota group? Apakah soal budaya, adat istiadat, atau soal pogogutat?. Jawabannya masih sama; monopoli kalangan pewarta yang seperti biasa, menduduki beranda group dengan tautan berita bertumpuk-tumpuk meski tanpa likes atau komen.

Lalu apalagi pembaca? Adakah lagi group-group dengan lokus Kotamobagu atau Bolaang Mongondow Raya sebagai wilayah bahasan? Tak perlu sebutkan, cukup periksa atau kunjungi satu-satu lantas jadilah content analyst dadakan. Apa yang pembaca temui sebagai topik atau bahan saji bagi para anggota group yang dikunjungi? Masih monopoli kalangan pewartakah?

Logika sehat kita mungkin berpikir begini; kalau lapak sayuran, pasti isinya sayuran. Kalau lapak onderdil, pasti juga isinya onderdil. Topik pembahasannya tentu tak lepas dari urusan sayur mayor dan onderdil. Foto-fotonya juga begitu. Sama halnya kalau lapak pakaian. Mulai topik, pembahasan, perdebatan, dan foto-foto yang diposting, tentu adalah urusan pakaian. Begitupun kalau group soal palinggir (layang-layang). Pasti membahas urusan seputar palinggir, sebab salah tempat kalau group palinggir, lalu yang dibahas atau diposting adalah soal ikan lele.

Tapi apa yang kita temui dalam group atau forum-forum diskusi yang kita sebut di atas?

Sampai disini, pembaca mungkin akan bertanya dengan nada protes; “Lha, bukankah penulis artikel ini juga pernah melapak dalam group-group di atas? Memposting tautan berita di forum-forum diskusi yang disebutkan di atas? Kok sekarang tiba-tiba nyinyir. Dan bukankah penulis artikel ini juga seorang pewarta? Kenapa protes kalau group-group di atas dimonopoli kalangan pewarta yang adalah kawan seprofesi? Kalo suka, ba iko kwa!”

Benar sekali pembaca. Tak salah pembaca melontarkan pertanyaan demikian sekalipun dengan nada protes. Dan pada kesempatan kali ini, saya hendak meminta maaf sekalian meminta dari dalam lubuk hati yang paling dalam; periksalah kapan postingan terakhir saya disitu. Sebab di saat itulah saya akhirnya menyadari untuk merawat kesadaran agar tidak lagi merampas beranda group-group itu lagi, dengan harapan; agar group atau forum tersebut punya kesempatan untuk sadar dan berkembang sesuai tujuan group itu dibuat.

Dan perlu saya sampaikan juga, penyampaian disini bukanlah bentuk kenyinyiran kepada kawan-kawan seprofesi yang keren-keren dan sudah memonopoli ruang group sebagaimana yang dimaksud. Tetapi kesadaran dan ajakan semata untuk mari sama-sama melihat kebutuhan atau tujuan group sebagaimana yang tertulis, dan tidak memonopolinya dengan keegoisan atau ketidakpedulian kita terhadap Admin, sekalipun kita menyadari bersama berdasarkan kondisi faktual bahwa, Admin semua group atau forum diskusi di atas terkesan seolah-olah tak berfungsi sama sekali, atau bahkan sudah lama mati.

Selanjutnya, sebagai tawaran kedua bagi kawan-kawan pewarta yang ganteng, cantik, cerdas dan baik hati adalah; mari kita hentikan praktek memonopoli semua beranda group dan forum yang disebutkan di atas, dan biarlah group berkembang sesuai ketentuan yang ditatapkan Admin. Oleh sebab itu juga, mari berharap agar Admin mengerti dan memahami ini agar apa yang melekat pada diri Admin benar-benar dihargai bersama. Artinya, mari kita biarkan Admin Group berdaulat, punya kuasa dan wewenang bertugas menjaga ‘teritorinya’.

Tawaran ketiga adalah, bagi kawan-kawan pewarta marilah kita buat fanpage atau group dengan nama media kita masing-masing, lalu kita undang sebanyak-banyaknya pemilik akun untuk masuk menjadi anggota. Nah, disitu kita bisa sesuka hati memposting semua kebiasaan kita tanpa perlu dikatai merampas atau memonopoli beranda group yang sebenarnya dibuat bukan sebagai tempat kita melapak tautan berita. Tak usahlah bersikeras atau ba popo untuk berkata; “kalo suka baiko!” karena sebagaimana ungkapan; marilah gunakan medsos dengan cerdas. Ini berarti pula, masyarakat Kotamobagu benar-benar tercerdaskan dengan berkembangnya era digital dan pesatnya arus kemajuan teknologi informatika. Sehingga konsep Smart City yang hendak diwujdukan Tatong Bara, sesuai pada marwah yang dicita-citakan. Kita mulai dari diri kita sendiri sebagai ujung tombak pemberitaan yang cerdas dan berkwalitas tanpa perlu salah kamar. Tabe’

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.