ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

3 Solusi Untuk Alexis

Bagikan Artikel Ini:

SOAL tidak diperpanjangnya izin Alexis oleh Pemprov DKI Jakarta, mari kita orang daerah untuk sama-sama saling jujur mengakui kalau ada bahan gurau yang tak jarang kita jadikan sebagai lelucon penambah keriangan terhadap kawan, kerabat, mitra, handai toulan, atau siapapun itu dari daerah yang terbang ke Ibukota Republik dalam rangka macam-macam; mulai dari tugas yang tak lepas dari jabatan, atau sekadar melancong saja.

Apa isi gurauan, bualan, atau lelucon-lelucon yang berkonotasi nakal itu? Bisa seperti ini; “Saya tunggu di Alexis ya,”. Ada juga yang begini; “Kalau dalam rangka tugas ke kantor kementerian, cukup ke kantor kementerian. Jangan sampai ke kantor  Alexis,”  serta ragam gurauan lain bermakna enak-enak.

Kita mungkin bertanya? Kenapa untuk sekadar menyebut Alexis Texas, konotasinya kok bermakna ke arah yang enak-enak (kalau tak menyebut kata mesum atau lendir)? Lha, bukankah agar mantaf jiwa, seseorang apalagi kalangan berduit perlu untuk rileks, perlu yang enak-enak? Saat pikiran mumet, badan pegal oleh tugas ngurus ini-itu, apa salahnya seseorang memanjakan diri dengan cara berendam di kolam sambil ngebir, sudah itu rebah telentang diurut dengan aroma therapy kembang 7 rupa, dan apa salah orang jika untuk melepas kesuntukan Jakarta yang bau dan macet, seseorang perlu bernyanyi menghibur diri ketimbang teringat mantan. Atau ketika birokrasi begitu berbelit, belum lagi ini-itu yang terasa cukup menguras otak dan membuat jiwa letih hampir putus asa, bertandang ke Alexis adalah solusi dan semangat baru untuk tak pantang kendur menjalankan tugas yang kian bikin mumet. Sebab tak sedikit perayaan-perayaan atas tugas dan urusan yang rampung, dirayakan di tempat yang tenang, aman, nyaman, lampu yang teduh temaram, dan tentu harus bersih sehingga sudah tentu suasana adem asri begitu kental terasa. Jelas ini sangat wajar, sebab siapa juga mau merayakan kemenangan di tempat kotor macam di empang atau di sungai yang dipenuhi sampah plastik dan gelembung limbah beracun. Maka tempat semacam Alexis adalah sebuah kewajaran yang manusiawi.

Masya Allah, tempat bejat bin maksiat begitu kok dibilang wajar dan manusiawi???

Nah, tahu dari mana Anda kalau tempat itu adalah tempat bejat bin maksiat dimana dosa-dosa berlumuran di tubuh sebagaimana aroma kembang 7 rupa dioleskan para terapis di tubuh para pengunjung yang ingin memanjakan diri agar mantaf jiwa? Kecualia jika Anda sudah pernah kesana dan melakukan apa yang ada di dalam pikiran Anda itu? Nah, kalau begitu siapa yang salah mesum??

Oke, taruhlah begini; mari sama-sama menjadi manusia suci tanpa dosa yang membenci enak-enak, kemudian sama-sama sepakat untuk mengatakan; Alexis adalah sarang maksiat, sarang mesum, dimana tak hanya 7 bidadari yang ada disana melainkan ratusan dan enteng diajak bersetubuh asal Anda punya rupiah.

Maka tetap saja akan ada pertanyaan; tahu dari mana? Apakah ente alumnus Alexis? Jika kita menjawabnya; tahu dari media, atau dengan argumen yang lebih kekinian; tahu dari Om Gogel, maka sila dibuka apakah ada tayangan orang bersetubuh sambil luluran minyak beraroma kembang 7 rupa yang diberikan Om Gogel?

Tapi baiklah, agar tulisan ini tak dikata pesanan dari Alexis, atau bentuk dukungan terhadap kemaksiatan, maka mari sama-sama sepakat untuk kedua kalinya untuk menyerukan; Alexis adalah sarang maksiat yang dibiarkan pamarentah, sebuah pertanda kalau kiamat sudah dekat. Sehingga penyebab banjir di Jakarta bukan faktor manusia atau tata kelola lingkungan  melainkan  karena Alexis. Nah, pintar bukan?

Lantas bagaimana sebaiknya?

Jadi begini, negara kita kan didirikan berdasarkan pada syariah UUD 45, Pancasila, dan konsep Bhineka Tunggal Ika, maka supaya tidak buang-buang umur karena hukum di negara ini konon kata banyak orang tidak melegalkan persetubuhan orang-orang yang sama-sama sepakat untuk bersetubuh, atau sekadar pada urut-mengurut biji, dan berkaraoke ria sembari ditemani bidadari-bidadari lintas ras, suku bangsa, dan negara, maka adalah tugas pamarentah DKI untuk menghentikan praktek maksiat yang diduga terjadi siang dan malam di Alexis. Apa ini benar? Adalah sumbu masing-masing orang untuk mengolahnya. Disini saya sekadar memberi usulan agar tempat seperti Alexis tetap bisa berdiri di negara merdeka yang melindungi segenap warga negaranya tanpa pandang bulu.

Solusi Pertama :

Negara kita memiliki 17.503 pulau. Berdasarkan data dari Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, ada 16.056 pulau yang telah dibakukan namanya di PBB hingga Juli 2017. Kekayaan wilayah ini tentu merupakan peluang. Jakarta selaku Ibukota Republik yang taat pada UUD 45, Pancasila, konsep Bhineka Tunggal Ika, Kekhalifahan, dan taat Syariah, terasa kian sempit. Terlebih lagi konon saat ini kota Jakarta kian dikuasai kaum fundamentalis penegak tiang agama. Maka sudah barang tentu Jakarta bukan lagi tempat yang cocok untuk membuka usaha perhotelan, Spa, dan Karaoke macam Alexis itu. Sehingga saatnya para pengusaha Hotel, Spa, dan Karaoke, melakukan lompatan besar bekerjasama dengan Deputi Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan stakeholder terkait, membangun pulau-pulau terluar. Mumpung Menteri Kelautan masih dipegang Ibu Susi yang selo sante keak dipantei tapi bisa membedakan mana kapal milik pribumi nelayan endonesya, mana perahu aseng pencuri ikan. Apalagi Kementerian terkait memang punya program pengembangan pulau terluar. Sudah cocok bukan?

Tapi pembaca pasti akan ketus; siapa juga pengusaha mau susah buang-buang duit bangun entertaint di pulau? Siapa pula pengunjung mau datang?

Untuk menghemat ruang dalam mendebat ini, berikut kata peribahasa; Ada Gula Ada Semut. Ada Alexis, Ada Pengunjung.

Solusi kedua;

Jakarta yang kini dipenuhi sesak oleh orang-orang dengan iman dan agama yang kuat, sebagaimana pernah kita pelototi dalam demo 7 jutaan jamaah, termasuk kekalahan Ahok yang kafir digantikan Anis-Uno yang rahmatanlilallamin, sepertinya memang sedang bermetamorfosa menuju kota yang bersyariah. Nah, manajemen Alexis sebaiknya segera bertoubat sekalian mengambil peluang. Ibarat perumpamaan,  jangan sampai jatuh dari tangga ikut ketiban tangga pula, tetapi pakailah peribahasa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Arti seenak perut saya adalah, karena Alexis izinya tak diperpanjang lagi sehingga harus tutup, maka pulau adalah tujuan. Atau ada peluang bernuansa reliji yang perlu digayung yakni; mengganti konsep jualan dengan kata syariah. Contoh; Al-exis Bersyariah. Karena di negeri reliji ini, segala sesuatu yang bernuansa syariah wajib hukumnya untuk didukung.

Sampai disini pasti akan ada bertanya dengan nada ketus; tempat maksiat kok pake label syariah?

Tunggu dulu pembaca, namanya juga pertaubatan. Bahkan ejaan Alexis bisa diubah menjadi Al-Eziz disambung dengan Bersyariah sehingga jadinya adalah; Al-Eziz Bersyariah. Nama baru ini tetap menjual produk macam Hotel (Penginapan), Spa, dan Karaoke. Untuk Karaoke playlistnya wajib berisi tembang-tembang dari Timur Tengah. Untuk Spa, tentu saja terapisnya harus berpenampilan seperti gadis-gadis di Turki tanpa perlu berpenampilan seperti para Penari Perut di gurun sana. Minyak oles untuk pijat yang mulanya adalah Kembang 7 Rupa dan pilihan produk aseng, wajib diganti dengan minyak Ziatun berlabel Halal. Maka nikmat mana lagi atau perkara maksiat apalagi yang harus kita persangkakan ketika di setiap ruangan Al-Eziz wajib ada rambu-rambu yang menunjukan arah Mekkah. Dan satu yang paling utama, dilarang berbuat maksiat. Kecuali dengan pasangan yang  sah. Apalagi ada kamera pengintai yang dijaga Satpam-satpam bersyariah, dan hanya dinonaktifkan bagi pengunjung yang membawa Istri sendiri terserah Istri sirih atau Istri tua, asalkan halal menurut agama.

Solusi Ketiga :

Jika solusi pertama dan kedua dianggap susah dijalankan, maka masih ada Pulau Bali menanti. Sebuah pulau sorga yang mampu membuat King Salman from Arab Saudi menambah masa liburannya untuk bisa berlama-lama di pulau seribu pura. Jikapun itu dianggap tidak memungkinkan maka, sebagai solusi terakhir saya ingin menyampaikan; Wellcome to Manado. 

Penulis : Uwin Mokodongan

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.