ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Beringin Kopandakan : The Tree of Connecting People

Bagikan Artikel Ini:
Foto : Gunky Detu-Dorumeat

ARUSUTARA.COM, KOTAMOBAGU – Ketika seseorang hendak mencari rumah seseorang di Kopandakan, atau ketika seseorang di Kopandakan akan kedatangan tetamu, Pohon Beringin di simpang 3 kampung itu kerap dijadikan patokan. “Jaoh dari pohon bringin tu rumah??” atau “Kalo pi pa ngoni pe rumah, dari pohon bringin ba trus atau belok kiri?”. Demikian kira-kira percakapan berlangsung.

Contoh di atas membuat kita akan sependapat, dari sekian banyak jenis pohon di Kopandakan, Pohon Beringin adalah satu-satunya pohon di Kopandakan yang telah memberi banyak kontribusi. Tak sekadar memberi keteduhan namun sudah semacam foursquare atau GoogleMap yang menghubungkan banyak orang. Dalam istilah kids jaman now sebutannya adalah; Beringin Is Connecting People!

Malam ini, kira-kira pukul 22:00 WITA, ketika di antara kita ada yang diam-diam membuka kembali isi SMS atau Chating dari sang pacar yang terlibat perang dingin dengan kita, dalam keadaan yang masih saling berkutat dalam atmosfir baku tahang ilmu, Beringin di simpang 3 Kopandakan akhirnya tumbang. Orang-orang berlarian keluar rumah hendak mencari tahu gerangan apa yang bergemuruh keras sekali. Lalu apa yang mereka saksikan? Masya Allah, Beringin itu akhirnya tumbang.

Tak hitung tiga suasana riuh terjadi di simpang 3 Kopandakan. Warga ragam umur dan kalangan tumpah ruah di sekitar tumbangnya Pohon Beringin yang tak lepas juga dari cerita mistis. Di antara warga yang tak ingin ketinggalan peristiwa itu, sebagian besar adalah apa yang kata kids jaman now sebagai adew deng kakaw-kakaw karlota. Dari percakapan yang sempat terdengar, mereka tidak pernah menyangka Pohon Beringin yang diperkirakan sudah berusia di atas 100 tahun ini, akhirnya tumbang. 

Kontributor awak www.arusutara.com di lokasi tumbangnya Pohon Beringin melaporkan, warga cepat mengambil inisiatif secara swadaya melakukan pembersihan dahan dan ranting pohon menggunakan gergaji mesin. Itu dilakukan agar tidak menganggu jalannya arus lalu-lintas.  

Foto : Dhar Pontoh

Ada pemandangan menarik yang sempat terekam ketika beberapa warga, terutama para pecinta bunga, berebutan meraih bunga anggrek yang hidup di dahan-dahan pohon Beringin yang tumbang itu. 

Di antara warga yang hadir, mereka juga saling melempar tanya, apa yang menyebabkan pohon Beringin itu tumbang. Padahal tak ada badai bertiup kencang. “Namun tadi siang memang sempat turun hujan cukup deras,” kata salah seorang warga.

Ngomong-ngomong soal Pohon Beringin, di Indonesia pohon jenis ini memang tak bisa lepas dari cerita-cerita mitos. Tak terkecuali di Kotamobagu. Konon semakin tua Pohon beringin, semakin menjadi tempat favorit bagi para roh penunggu. Pohon Beringin juga tak lepas dari panggung politik. Tak heran jika Partai Golongan Karya memakai pohon ini sebagai lambangnya. Demikian pula organisasi seperti Kosgoro. Dan satu lagi yang paling penting, selain kepopuleran Padi dan Kapas juga Kepala Banteng, Pohon Beringin masuk pula sebagai lambang Pancasila.

Malam ini, kira-kira pukul 10 malam, di tanggal 10, tepat di peringatan Hari Pahlawan, Pohon Beringin simpang 3 Kopandakan akhirnya tumbang. Apakah Pohon Beringin ini dapat kita kategorikan sebagai pohon bergelar pahlawan? Penulis menjawab, ya. Sebab sejak Pohon beringin ini tumbuh besar di Kopandakan, berusia kira-kira lebih dari 100 tahun, dengan patokan hitungan sejak Masjid Al-Huda berdiri tahun 1926, Beringin ini sudah ada, sudah tak terhitunglah oleh kita berapa ribu kali pohon ini saling menghubungkan tali silaturahmi orang per orang ketika pohon ini menjadi patokan bagi siapa saja yahg datang ke Kopandakan. Maka dari itu, menurut penulis, selain bergelar pahlawan tanpa tanda jasa, Beringin Kopandakan is the tree of connecting people sebagaimana istilah kids jaman now.

Selanjutnya, adakah sebuah pertanda di balik tumbangnya Pohon Beringin tua ini? Baik dari segi sosial maupun dari segi politik lokal Kotamobagu? Mari sama-sama kita nantikan bagaimana generasi milineal Kotamobagu akan membuatkan meme-meme menarik yang nantinya akan meramaikan beranda medsos kita. 

 Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.