ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Mendadak Bukan Beringin

Bagikan Artikel Ini:

BISA JADI hal yang amat membuat Setya Novanto benar-benar jengkel saat ini, adalah ulah orang-orang KPK yang kembali menetapkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus e-KTP. Padahal beliau baru saja bangkit dari keterkulaian dan bisa jadi belum pulih-pulih amat. Maklum banyak selang melingkar di sekujur tubuhnya yang lunglai itu saat terkapar di rumah sakit belum lama ini.

Bisa jadi juga kalimat yang cukup membuat kaum jomblo jengkel adalah pertanyaan yang sudah berapa kali melewati masa daur ulang, semacam ; “Kid jaman now aja sudah punya gabetan, masak ente belum?”

Bicara soal hal-hal yang menjengkelkan, memang cukup menyita urusan. Dampak terparahnya konon membuat orang berumur pendek. Namun di Mongondow, bisa berbeda. Hal-hal yang sebenarnya menjengkelkan dapat didaur ulang menjadi bahan tertawaan. Lebih dari itu, sesuatu yang sebenarnya menjengkelkan, justru dirayakan sebagai metode mengasah otak agar tetap fresh.  

Lalu apa sebenarnya yang (disadari atau tidak) bisa menimbulkan rasa jengkel orang-orang di Mongondow. Terutama mereka yang memiliki ikatan atau pertalian langsung dengan suatu perkara yang menimbulkan kejengkelan?

Pembaca setia arus utara dot kom, mari kita kupas dalam tulisan edisi jaman now ;

* * *

Sejak menyadari bahwa kampung di Bolaang Mongondow ini tak hanya Passi dan sekitarnya, tetapi ada juga yang namanya Kopandakan (bahkan melebihi dua dekade sebelum mekar jadi I dan II), sejak saat itulah kampung ini punya keterikatan dengan Pohon Beringin.

“Jaoh dari pohon beringin ngoni pe rumah?” begitu kira-kira percakapan bermula di antara kawan ketika mulai bergaul dengan kids-kids jaman lampau di awal tahun 90-an.

Pendek kata, Kopandakan memiliki keterikatan langsung dengan Pohon Beringin yang berdiri kokoh dan rimbun di simpang 3 jalan kampung itu. Pohon Beringin yang jika engkau sedang duduk di akar pohon itu, cukup dengan sekali lompat, tapak kaki sudah menginjak sudut tanah lapang, tak jauh dari masjid tertua di Bolaang Mongondow.

Dan sejak era kids jaman lampau hingga kids jaman now, sumpah kinutuk in kuruan, selaku orang jalang yang doyan bergaul masuk keluar kampung orang, tidak pernah telinga ini mendengar percakapan terkait Kopandakan macam begini; “Dekat pohong sombar ngoni pe rumah??”. Sumpah, tidak pernah!  Yang ada adalah; “Dari pohon beringin, ba kiri atau ba kanan,” atau. “Kalo qt dari arah Poyowa Kecil, pas dapa pohon bringin, ba kiri qta atau ba trus?” bukan “Serta dapa pohon sombar,masih jaoh ngoni pe rumah?”.

Sekali lagi, sumpah pemirsa! Kami tidak pernah menyebut Pohon Sombar. Orang Kopandakan pun tidak pernah menyebut; “Ba bilang jo kalo so sampe di Pohon Sombar, nanti qt jemput situ,”. Tetapi begini; ““Ba bilang jo kalo so sampe di Pohon Bringin, nanti qt jemput situ,”. Sekali lagi, Pohon Beringin, bukan Pohon Sombar.

Tapi apa yang terjadi di era kids jaman now? Pasca Pohon Beringin ini tumbang pekan lalu dan viral di linimasa, hal yang sebenarnya (disadari atau tidak) cukup menjengkelkan adalah ketika tiba-tiba bermunculan para ahli yang khatam betul soal ilmu tumbuh-tumbuhan.

Masya Allah, pembaca. Saya baru menyadari, selama bergaul di Kopandakan dan kenal orang-orang hebat di sana, ternyata saya alpa. Merasa belum paripurnalah saya bergaul di Kopandakan karena tidak pernah tahu, ternyata di kampung itu, berjejeran ahli botani dan agroforestri yang tak hanya kaliber dalam urusan mengidentifikasi jenis tumbuhan dan pepohonan, tapi lebih dari itu saya jadi curiga ternyata ada ahli rekayasa genetik tumbuhan disana. Bahkan ketambahaan beberapa ahli lagi di beberapa penjuru Mongondow. 

Lantas apa yang menjengkelkan? 

Sebenarnya saya merasa jengkel kepada diri saya sendiri karena luput mengetahui keberadaan mereka para ahli botani dan agroforesty, selama saya bergaul di Kopandakan. Namun sejengkel-jengkelnya saya terhadap diri sendiri, lebih jengkel lagi saya kepada para ahli yang saya sebut di atas karena selama ini mereka mengambil sikap tutup mulut soal pohon di simpang 3 Kopandakan. Aksi tutup mulut para ilmuan yang dilakukan secara turun-temurun ini, akhirnya membuat pohon di simpang 3 Kopandakan, tumbuh subur, besar, dan langgeng dengan Pohon Beringin.

Namun rahasia itu akhirnya terungkap. Jumat 10 November 2017, kira-kira pukul 10 malam, Pohon Beringin akhirnya tumbang. Beritanya dapat kita ikuti dengan menglik tautan ini ; Beringin Kopandakan, The Tree of Connecting People.

Pasca peristiwa tumbangnya pohon yang selama ini kita kenal dan sebut sebagai Pohon Beringin di Kopandakan viral di liviralnya nimasa, bermunculah para ahli yang selama ini menutup rapat-rapat kebenaran berumur 100 tahun lebih. “Itu bukan pohon Beringin,” demikian pengungkapan fakta dimulai dan berisik di situs jejaring sosial Fesbuk. “Ya, itu bukan pohon beringin,” sepakat yang lain dengan pemaparan pendapat yang mengambarkan ia adalah ahli tumbuh-tumbuhan dan seorang agroforesty. Penjelasan lantas saling bertautan sehingga Pohon Beringin di Kopandakan sudah bukan Beringin lagi tapi mendadak jadi Pohon Sombar alias Pohon Gamal. Dalam Bahasa Indonesia disebut Pohon Gamal. Sedangkan bahasa latinnya Gliricidia sepium. Supaya tulisan ini terkesan bergaya ke-ilmiah-ilmiahan, mari kita intip di Wikipedia yang menjelaskan Pohon Gamal adalah nama sejenis perdu dari kerabat polong-polongan (suku Fabaceae alias Leguminosae). Sering digunakan sebagai pagar hidup atau peneduh, perdu atau pohon kecil ini merupakan salah satu jenis leguminosa multiguna yang terpenting setelah lamtoro (Leucaena leucocephala). Nama-nama lainnya adalah kersidegliriside (kolokial)sliridia, liriksidiasirida (Jw)cebreng (Su); kh’è: no:yz, kh’è: fàlangx (Laos (Sino-Tibetan)); bunga Jepun (Mly)kakawate (Filipina); madre de cacao (Portugis); mata raton (Honduras) ; dan gliricidia, Nicaraguan coffee shade (Ingg). 

Sayangnya, para ahli ini nanti buka suara di Fesbuk pasca Pohon Beringin mendadak tumbang dan mendadak pula disangkal bukan Beringin melainkan Pohon Sombar. 

Jadi bagaimana pembaca? terutama kawan-kawan yang di Kopandakan sana. Apakah ngoni pe rumah jaoh dari Pohon Sombar??

Namun bukankah kebenaran memang harus diungkapkan. Sekalipun sudah 100 tahun lebih ada kekeliruan yang selama ini disembunyikan? Jadi mana kebenaran yang harus kita adopsi? Pohon Beringin atau Pohon Sombar?

Dari pada jengkel dan berbantahan panjang, apalagi sudah seabad ini Kopandakan tak bisa dipisahkan dengan Pohon Beringin di simpang 3, saran saya sederhana saja; mari sama-sama rayakan kebenaran yang baru muncul setelah 100 tahun ini dengan cara memeriksa kantong atau isi dompet para ahli yang akhirnya buka suara bahwa pohon yang selama ini dipercaya sebagai Pohon Beringin, ternyata Pohon Sombar. Mari sama-sama kita periksa apakah mereka mengantongi kartu anggota Partai Golkar atau tidak? Atau kemungkinan juga mereka adalah pengurus Kosgoro. Bisa jadi juga kelompok pesugihan atau sekte pemuja Pohon Beringin yang akhirnya tumbang sehingga harus disebut sebagai Pohon Sombar. Jika benar ID Card itu ada, maka mari melepas tawa senantiasa mengembang daripada merawat rasa jengkel. 

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol
Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.