ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Catatan Ringan Peringatan Hari AIDS Sedunia

Bagikan Artikel Ini:

ADALAH sebuah ketidak-tahuan, ketika orang terkasihnya pulang, sudah ada virus tinggal dalam tubuh orang yang sudah lama ia nantikan itu. Mereka memang hanya berpisah beberapa bulan saja oleh suatu urusan. Dan dunia beserta cerita kehidupan yang serba tak terduga, bisa membuat segala sesuatu berubah dengan cepat. 

Ia yang mengenal bagaimana klimis dan higinisnya kekasihnya itu, bertubuh atletis, kulit putih bersih dengan hiasan kumis tipis di atas bibir, menjadi tak perlu buang waktu untuk merangkul, mencumbu, memberi luapan hasrat rindu tebal dimulai dari dalam mobil, sofa, hingga di atas ranjang. Pergumulan itu menciptakan sebuah pertukaran cairan antara keduanya. Bagi Mawar (sebut saja demikian), tubuh sehat bugar kekasihnya itu, yang dikenal punya tabiat mandi tiga kali sehari dan seminggu sekali punya jadwal facial ke salon, adalah sosok bersih yang betapa meruginya untuk dilepas.

Waktu berjalan penuh kebahagiaan. Cekcok di antara keduanya nyaris tidak pernah terjadi sama sekali. Betapa mesra dan romantis. Sebuah hubungan yang didambakan banyak orang. Si cowok ganteng dan si cewek cantik. Pasangan serasi sepanjang masa. Jiwa cewek membawa cowoknya ke rumah, semua orang senang. Bahkan tetanggapun senang. Di antara mereka kagum; betapa gantengnya. Demikian sebaliknya, jika si cowok yang membawa ceweknya main ke rumah, tak hanya tetangga, bahkan orang sekompleks memberi jempol dan pujian. Meski tak sedikit juga banyak cowok sekompleks diam-diam berdoa dalam hati; mudah-mudahan putus biar di antara mereka bisa ikut bursa antrian panjang sebagai kandidat pengganti. Sebuah mimpi yang sia-sia sebab makin hari hubungan si cewek dan si cowok makin mesra saja dan lengket kayak prangko.

Tiga tahun kemudian, sebuah produk kecantikan digandeng salah satu LSM yang concern di bidang kesehatan. Sebuah program kampanye yang merambah kehidupan remaja kampus lantas dilaksanakan. Dalam program tersebut, si cewek terpilih sebagai endorse. Sedangkan pihak LSM, selain melakukan penyebaran kampanye kesehatan, turut membuka layanan periksa darah secara sukarela bagi kalangan mahasiswa. Si cewek selaku endorse produk kecantikan yang terlibat dalam program tersebut, secara sukarela ikut pula memeriksakan sampel darahnya. Diikuti sejumlah mahasiswa yang secara sukarela pula memeriksakan diri. 

Sampel darah lantas dibawa. Hasilnya akan diketahui 4 hari kemudian usai pengujian di salah satu Rumah Sakit yang ikut bagian dalam program tersebut. Berdasarkan petunjuk orang-orang LSM dalam program tersebut, nantinya setiap orang yang diambil sampel darahnya untuk diuji, akan mendapatkan pemberitahuan secara tertutup untuk mengambil sendiri hasil pemeriksaan di Rumah Sakit. Hasilnyapun sangat rahasia. Hanya antara si yang memberikan darahnya dan dokter.

Hasil pemeriksaan itu seperti kiamat bagi Mawar. Tentu ia tidak pernah menduga apa yang dialaminya. Mahasiswi bergudang prestasi, dari golongan keluarga terhomat, berada, dan disegani banyak kalangan, tubuh semampai, ditopang paras cantik, punya jadwal tetap di gym, manalah mungkin terinveksi virus mematikan yang hingga kini belum ada obatnya.  Berputar otaknya mencari tahu apa gerangan yang terjadi hingga ia bisa terinfeksi. Apalagi selama ini ia tidak pernah ada keluhan kesehatan. Menjalani hidup seperti orang normal, tanpa ada kurang satu apapun.

Melalui diskusi dan penjelasan panjang lebar dari dokter yang sarat muatan psikologis, Mawar yang luruh runtuh tak dapat mengelak lagi kenyataan yang dihadapinya. Rekam jejak aktivitas Mawar dengan risiko kesehatan dalam kategori window periodik, dibentangkan sang dokter.  Mawar yang mengaku belum pernah melakukan transfusi darah sehingga kemungkinan virus itu diperoleh melalui jarum atau darah yang tercemar, belum pernah juga barang sekalipun memakai jarum suntik secara bergantian dimana jaurm tersebut dalam keadaan tidak steril atau bekas pakai dari orang sebelumnya yang terinfeksi, pun demikian ia tidak pernah merajah tato setitikpun dengan jarum yang juga tidak steril di tubuhnya, berhubungan seks hanya dengan satu pasangan saja dan tidak pernah bergantian, sementara pasangan hubungan seksualnya adalah seorang laki-laki sehat bugar, bersih, dan terkenal dengan hidup higinis, maka bagaimana mungkin virus itu bisa menjangkitinya?

Dokter yang memahami betul persoalan tersebut, kembali mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan yang akhirnya menimpa Mawar. Berdasarkan penuturan dan rekam jejak aktivitas kesehatan mawar, termasuk record hubungan seksualnya, Dokter menyimpulkan, kemungkinan besar orang yang paling berisiko menjangkitinya adalah kekasihnya sendiri. Terlebih diperoleh informasi, saat berhubungan seksual, ia dan kekasihnya tidak menggunakan pengaman. “Artinya, virus ini datang dari kekasihmu. Bisa jadi kekasihmu justru kena dari orang lain dan akhirnya menularkannya kepadamu. Apalagi hubungan kalian sangat berisiko karena tidak menggunakan pengaman,” kata dokter menjelaskan. “Lain soal jika kekasihmu itu tidak pernah berhubungan seks berisiko dengan pasangan lain yang sudah duluan terinfeksi, kemungkinan besar anda tidak akan kena,” tambah Dokter menjelaskan.

Pembaca ARUSUTARA.COM, kisah di atas hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh penyebaran virus HIV/AIDS. Sama halnya dengan yang dialami sebut saja Jingga, seorang karyawan swasta yang terinfeksi HIV/AIDS dari pacarnya yang punya rekam jejak hubungan seksual berisiko. Bagaimana kemudian Jingga mengalami korban ganda, sudah tertular HIV/AIDS, dijauhi orang karena stigma yang melekat di masyarakat, dan penderitaan batin lainnya termasuk hubungan dengan keluarganya.

Kisah lain sebagaimana dilansir Deutsche Welle, sebuah media Jerman yang menurunkan artikel dari Nadya Karima Melati, menyentil kisah seorang Ibu X pemilik warung kelontong asal Surakarta. Sepeninggal suaminya yang diketahui meninggal karena virus HIV/AIDS, warung kelontong Ibu X semakin sepi pembeli. Akibatnya, untuk menyambung hidup Ibu X semakin kesulitan termasuk dalam menghidupi anak-anaknya. Bukan sekali-dua juga kita mengetahui bagaimana bayi tak berdosa terinfeksi virus HIV/AIDS yang ditularkan Ibunya melalui ASI, juga fakta penyebaran lainnya yang mengguncang nurani.

Sebagaimana penyakit pada umumnya, virus HIV/AIDS memang tidak mengenal manusia berdasarkan strata sosial untuk menjadi pengidapnya. Semua bisa kena. Tua, muda, bayi, remaja, tukang ojek, karyawan Bank, politisi, ekonom, kuli panggul, artis, semua bisa terinfeksi. Penyebaran virus juga melebar ketika kurangnya pemahaman dan akses informasi masyarakat umum soal apa itu HIV/AIDS, bagaimana bisa terinfeksi, dan lain sebagainya. Ketidaktahuan ini turut menjadi pemicu terus berkembangnya penyebaran virus. Terlebih lagi berkembang mitos dalam masyarakat awam soal HIV/AIDS yang betapa keliru dan malah membuat kondisi semakin rentan. Mitos yang berkembang bahwa orang yang kelihatan sehat, cantik, tampan, sehat bugar, klimis, rajin olah-raga, bukanlah pengidap HIV/AIDS adalah salah kaprah yang sangat berbahaya. Sebab seseorang yang terinfeksi virus HIV sama sekali tidak memperlihatkan gejala-gejala aneh sebagaimana mitos yang berkembang dalam masyarakat awam. Karena pengidap HIV nampak seperti orang normal saja, tetap kelihatan sehat bugar. Seseorang baru bisa diketahui mengidap sebagai HIV semata-mata hanya melalui pemeriksaan darah saja. Selanjutnya taraf stadium dari HIV adalah AIDS, dimana penderita sudah terserang berbagai macam penyakit karena sistim imun dalam tubuhnya sudah rusak.

Hingga saat ini, virus HIV/AIDS tidak dapat diobati. Berikut ini informasi seputar penyebaran virus HIV/AIDS yang diolah dari berbagai sumber:

Virus HIV/AIDS dapat tertular melalui :

  1. Hubungan seks tanpa alat pengaman/kondom
  2. Pemakaian alat seksual secara bergantian
  3. Berbagi alat suntik dengan orang yang sudah terinfeksi HIV
  4. Memakai jarum suntik atau tattoo secara bersama-sama dengan orang yang sudah terinfeksi HIV
  5. Ibu Hamil positif HIV kepada bayinya selama masa kehamilan/persalinan/waktu menyusui
  6. Melalui seks oral
  7. Berciuman bibir dimana terjadi pertukaran cairan akibat adanya celah berupa sariawan, luka tipis yang memungkinkan terjadinya pertukaran cairan darah antara dua pasanagn yang berciuman
  8. Melalui transfuse darah/produk darah yang sudah tercemar virus HIV

Pencegahan :

  1. Tidak berhubungan seks berisiko (berganti-ganti pasangan tanpa alat pengaman seperti kondom)
  2. Tidak menggunakan alat bantu seksual dengan orang lain
  3. Tidak menggunakan alat atau jarum suntik yang tercemar
  4. Menggunakan alat atau jarum suntik yang steril/tersegel/belum pernah dipakai
  5. Jika menggunakan alat atau jarum suntik, pastikan selalu steril/tersegel/belum terbuka atau belum pernah digunakan.
  6. Tidak melakukan seks oral yang dapat menimbulkan risiko pertukaran cairan (sperma maupun cairan vagina).
  7. Tidak berciuman bibir dengan bibir dalam arti berisiko terjadinya kontak darah atau pertukaran cairan melalui sela luka sekecil apapun itu.

HIV adalah jenis virus yang rapuh. Tidak bisa bertahan lama di luar tubuh manusia. HIV bisa ditemukan di dalam cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Cairan yang dimaksud adalah cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI. Perlu diketahui bahwa HIV tidak bisa menyebar melalui keringat, urin, mandi di kolam renang bersama, atau lewat gigitan nyamuk.

Seseorang tidak akan tertular virus HIV/AIDS dari seseorang yang mengidap HIV/AIDS meski hidup serumah, berpelukan, berjabatan tangan, memakai toilet yang sama, duduk berdekatan atau bercengkrama lama.

Seorang pengidap HIV akan nampak seperti orang normal dan sehat-sehat saja. Yang cantik tetap akan kelihatan cantik, yang tampan tetap kelihatan tampan, yang pada intinya tidak memperlihatkan sesuatu yang aneh. Tak ada seorangpun dapat mengetahui bahwa seseorang tertular atau tidak tertular virus HIV hanya dengan melihat penampilan fisik saja. Virus HIV hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan darah oleh dokter.

Pemeriksaan HIV/AIDS dilakukan tanpa paksaan melainkan secara sukarela dari orang yang ingin memeriksakan diri. Sebelum seseorang melakukan tes HIV/AIDS, terlebih dahulu dilakukan konseling antara yang mau memeriksakan darahnya dengan petugas konseling maupun dokter.

Penderita HIV/AIDS di Kotamobagu

Hari AIDS sedunia diperingati 1 Desember setiap tahunnya. Rukaman Lantong selaku Sekretaris Rumah Sakit Kotamobagu pada 2016 lalu menghimbau, di momen hari AIDS se-dunia, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap virus mematikan ini. Salah satu yang perlu dibentengi, menurut Rukaman, adalah peningkatan iman dan takwa agar tidak mudah terpengaruh dengan hubungan seks bebas dan beresiko. “Karena dengan pola seks yang bebas dan beresiko, rentan terjangkit penyakit ini,” katanya.

Ia menjelaskan, virus HIV penyebab AIDS menular lewat hubungan seksual beresiko, yakni gonta-ganti pasangan tanpa pengaman atau tidak menggunakan kondom. “Bagi mereka yang suka melakukan seks bebas, atau sering gonta-ganti pasangan alias berhubungan seks beresiko, sebaiknya membentengi diri dengan cara menggunakan kondom saat berhubungan. Ingat, virus HIV penyebab AIDS ini belum ada obatnya,” urainya.

Selain menjangkiti lewat hubungan seksual tanpa pengaman, virus HIV juga dapat menular ketika ada luka yang terbuka. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril bahkan melalui transfusi darah dari si penderita, juga dapat menularkan virus mematikan ini.

Menurut Rukaman, RS Kotamobagu sudah beberapa kali menangani kasus penderita HIV-AIDS. “Namun kami terikat kode etik dan tidak boleh menyebutkan nama penderita,” katanya, Kamis 01 Desember 2016, di ruang kerjanya.

Diterangkannya, penderita AIDS yang ditangani RS Kotamobagu hingga akhir 2016, berjumlah 8 orang penderita. “Dari 8 itu sudah ada 2 orang yang meninggal dunia. Sedangkan sisanya saat ini sudah dirawat di RS Kandow Malalayang Manado,” beber Rukaman.

Dijelaskan Rukaman, kasus penularan HIV-AIDS di Kotamobagu yang ditangani pihaknya, ada yang terjadi karena pasangan seseorang yang keluar daerah, berhubungan seks beresiko alias tanpa pengaman. Dari hubungan itu, ternyata pasangan seksualnya sudah menderita virus HIV. Sekembalinya dari luar daerah, orang tersebut lantas berhubungan seks lagi dengan pasangannya, sehingga terjadilah penularan, termasuk menjangkiti cabang bayi yang di kandung pasangnnya.

Rukaman menghimbau, pasien penderita HIV-AIDS tidak perlu dikucilkan dalam lingkungan masyarakat. “Pasien tidak perlu kita kucilkan, tetapi virusnyalah yang wajib kita hindari, bukan orangnya,” ujarnya.

Diterangkannya pula, meski kita berdekatan bahkan berpelukan dengan si penderita HIV-AIDS, termasuk tinggal seatap dengan pasien, virusnya tidak akan menjangkit selagi kita tidak berhubungan seksual dengan si pasien, atau memakai jarum suntik secara bergantian dengan pasien. Pendek kata, tidak berhubungan seksual dengan si pasien, tidak terbuka luka sehingga terjadi pertukaran darah atau cairan lewat luka termasuk luka sariawan.

Sementara itu Dinas Kesehatan Kotamobagu, melalui Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular, Vonny Kawuwung, membeber, data terkait pasien terjangkit HIV di Kotamobagu, dari Januari hingga Desember 2016, berjumlah 64 orang penderita. Data ini dikumpul sejak tahun 2007 hingga 2016.

Data tersebut, menurut Vonny, hanyalah data kumulatif atau data gelondongan yang sudah terdeteksi, berdasarkan pula data dari Dinkes Propinsi Sulut. “Yang terdata memang ada 64 penderita. Itu yang sudah diketahui atau terdeteksi setelah pasien memeriksa kesehatan,” bebernya. Hal tersebut, menurut Vonny, tidak menutup kemungkinan ada pasien yang di luar sana yang belum terdeteksi atau belum terdata, sebab penderita virus HIV, nampak sehat tak kurang satu apapun. Kecuali ketika sudah memasuki stadium selanjutnya atau dari HIV ke AIDS. Karena penderita AIDS sudah memperlihatkan gejala-gejala yang signifikan.

“Kalau penderita atau yang terjangkit virus HIV, kita tidak bisa mendeteksinya kecuali dengan memeriksakan darahnya. Karena umumnya penderita HIV itu nampak sehat-sehat saja,” beber Vonny.

Pihak Dinkes Kotamobagu sendiri, dikatakan Vonny, terus melakukan sosialisasi pencegahan virus HIV-AIDS sejak beberapa tahun belakangan. Ke depan nanti, pada 2017, Vonny juga mengaku akan terus menggalakan sosialisasi mulai dari sekolah-sekolah untuk menanamkan pengetahuan dan kesadar-tahuan sejak dini tentang bahaya penyakit HIV-AIDS

Pada intinya, kita dapat mencegah terjangkit virus mematikan ini dengan mengetahui risiko penularan atau penyebarannya. Dan sebagai bentuk support kita terhadap orang-orang yang terinfeksi atau pengidap HIV/AIDS, kita tidak perlu menjauhi, memusuhi, atau mencampakan mereka. Tetap perlakukan mereke selayaknya manusia. Jika ada teman kita terjangkiti, jangan musuhi, jauhi, atau campakan dia. Tetapi berikan dukungan terhadapnya untuk tetap menjalani hidup seperti biasa. ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) sudah cukup terbebani baik oleh penyakitnya maupun stigma buruk yang diberikan masyarakat. Ingat kata doktor Sam Ratulangi, Sitou Timou Tumou Tou, Manusia Hidup Untuk Memanusiakan Manusia lainnya. Semoga kita semua dapat terhindar dari virus ini.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.