ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Dari Luar Kota, Selamat Ulang Tahun Bro Rico

Bagikan Artikel Ini:

SAYA pertama kali mengenal atau bertemu Rico, kira-kira pertengahan tahun 2013. Itu terjadi di Lapangan Pondabo Tutuyan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sulawesi Utara. Seseorang mengajak saya kesitu. Saat tiba, ada banyak orang disitu duduk mengelilingi meja menikmati jajanan pisang goreng dan dabu-dabu. Dari seseorang ini pula saya sudah duluan tahu kalau Rico adalah salah satu seniman tato di Boltim. Sudah barang tentu ketika bertemu di jajanan meja pisang goreng itu, pembicaraan tak jauh panggang seputar tato setelah dimulai dengan basa-basi dan perkenalan. Kala itu Rico bersama seorang pelanggannya yang baru saja dirajah.

Dua tahun kemudian, kira-kira sudah 4 bulan lamanya menetap di Pulau Bali, saya mendapat kabar dari seorang kawan kalau ada kontes tato sedang berlangsung di wilayah Kerobokan. Saya lantas disuruh mengontak Michael Lembong yang ikut dalam kontes itu. Lembong sendiri adalah kawan seperkuliahan di Fisip Unsrat Manado sekaligus kawan di scene Punk,N,Skin. Sekitar 3 tahun sebelumnya, Lembong juga mulai dikenal sebagai seniman tato.

Banyaknya peserta termasuk pengunjung yang datang, ditambah lagi keterlambatan tiba yang diperparah dengan kealpaan Lembong menenteng ponselnya ke lokasi kontes, membuat saya tidak bertemu Lembong di antara riuh pengunjung dan padatnya peserta. Akhirnya saya dan Lembong saling kontak lagi untuk bertemu besok. Dari janji tersebut, saya juga diberitahu kalau ada anak Boltim yang ikut bersama mereka dari Manado ke Bali mengikuti kontes. Tentu saja itu Rico.

Esok malam di sebuah Villa tempat Lembong menginap, saya tiba kira-kira pukul 9 malam. Ketika saya tiba dan menanyakan dimana Rico, Lembong dan Kenk (juga seniman tato) mengatakan kalau Rico sudah duluan balik ke Manado, selanjutnya menuju kampung halamannya Boltim, karena istrinya tinggal menunggu beberapa hari atau kemungkinan beberapa jam melahirkan. Padahal saya ngin sekali bertemu dengannya malam itu. Bagi saya, adalah sebuah kebanggaan ketika ada anak Mongondow yang memilih jalan hidup sebagai seorang seniman tato, ketimbang menjadi sesuatu yang umum dalam pandangan atau cita-cita generasi mainstream.

Setahun di Pulau Bali, akhirnya saya kembali ke Kotamobagu. Selang beberapa waktu berjalan, saya mendengar kabar kalau Rico memindah studio tatonya dari Boltim ke Kotamobagu. Saya beberapa kali berkunjung ke studionya di Lorong Mimosa Mogolaing. Selain bercerita tentang seni tato atau hal-hal umum, di studio barunya itu kami juga membicarakan agenda-agenda gigs yang akan di gelar scene Kotamobagu. Kebetulan komunitas Punk and Skin Kotamobagu, menjadikan studio tato milik Rico sebagai rumah kedua.

Rico juga beberapa kali berkunjung ke kedai makan yang saya kelola sendiri di Jalan Diponegoro Biga bernama Teras Insomnia. Kedai makan sekaligus ngopi yang bersebelahan dengan kantor media online www.arusutara.com, tempat saya bekerja.

Hampir dua bulan belakangan ini, dari Lorong Mimosa, Rico memindah lagi studionya ke kompleks Taman Kota, atau di belakang kampus UDK, di simpang tiga Jalan TNI Kotamobagu.

Kira-kira 2 hari jelang ulang tahunnya, saya merapat ke studionya dan mendapat torehan karya darinya dengan konsep yang saya beri nama 5 fase kehidupan.

Esoknya saya merapat lagi di Rico Spotlight Tattoo Studio (demikian tempat ia berkarya diberi nama). Hampir 1 jam nongkrong, saya lantas pamit. Tapi Rico tidak tahu kalau malam itu saya akan meluncur ke Kota Manado. Saat saya pamit dan hendak menghidupkan kendaraan, Rico lantas mengingatkan agar tidak melupakan tanggal 8.

Apa itu? Tanggal 8 hari Jumat bulan Desember ternyata adalah tanggal kelahirannya. Beberapa malam sebelumnya Rico sebenarnya sudah duluan memberitahu kalau tanggal 8 itu adalah malam ulang tahunnya. “Kita bakar-bakar ikan sambil akustikan,” kata Rico saat itu. Sebuah acara yang tentu manis dan mengasyikan sehingga betapa sayang jika dilewati.

Sejenak langkah saya terhenti, seperti menimbang, karena tahu kalau tanggal 8 itu otomatis saya tidak bisa hadir karena suatu urusan yang memang sifatnya personal. Namun demikian sebelum kendaraan dihidupkan, saya mengatakan ke dia; semoga saya bisa gabung. Rico lantas menegaskan, harus gabung. Sontak saya jadi sungkan menjawab untuk memberi kepastian. Saya hanya berkata kembali; ya,semoga saya bisa hadir. Kemudian berlalu. Namun disitu saya berharap, beberapa kawan nanti akan menyampaikan kalau malam itu saya sedang merapat ke Manado.

Bicara soal Rico, seniman tato kita ini mulai menggeluti seni rajah beberapa waktu sekembalinya ia bekerja dari negeri Papua sekitaran tahun 2011 di kampung halamannya Tutuyan-Boltim. Rico Suhendro Paputungan, adalah nama lengkapnya. Lahir tanggal 8 Desember 1987. Pada tanggal 19 April 2015, Rico menikah dengan Sabila Mokodompit dan dikarunia seorang putri yang diberi nama Mafahza Azalea, kini berusia 1,9 tahun. Sepanjang karirnya hingga hari ini, Rico telah beberapa kali mengikuti kontes tato, diantaranya Kopi Rock Tattoo Contest:
7 Sept 2013, yang diselenggarakan Indonesian SubCulture, Komunitas Manguni, Manado Gudang Seni, selanjutnya adalah Valentine Tatto yang berlangsung di IT Center Manado, Automorfosa di Hotel Lion didukung oleh Majik Ink, Indonesian Subculture, Anak Jingga Production, Koran Sindo, dan IMI. Selanjutnya adalah tiga kali mengikuti acara yang sama di Manado Town Squere tahun 2015Grand Kawanua Tattoo War, oleh ISC dan Manguni Raja, Anniversary Indonesian SubCulture ke-XI di Pulau Bali, dan Manado Tatto Expo 25 Februari 2017. Saat kontes tato di Mantos, Rico juga pernah ikut ambil bagian dalam memecahkan rekor nasional tato tercepat dimana 18 orang seniman merajah model secara bergantian selama 1 jam setengah, mengalahkan rekor yang pernah berlangsung saat kontes tato di kotaBandung dengan torehan waktu 3 jam. Rekor ini dicatat oleh MURI.


Sekarang saya berada di luar kota, bahkan di luar Manado, di luar propinsi Sulawesi Utara. Di medsos, pesta bakar ikan dan akustikan dalam merayakan ulang tahun sang seniman mulai diposting. Rico juga mengirimi saya chat untuk segera hadir setelah ikut memberitahu kalau ia dan kawan-kawan sudah lama menunggu. Rupanya Rico memang belum tahu kalau saya tidak sedang berada di Kotamobagu.

Maka dari itu, lewat tulisan ini saya hendak mengucapkan selamat ulang tahun kepada kawan saya seorang seniman tato dari negeri Mongondow. Saya ingin menyampaikannya dengan menulis begini;

kawan,
dari ketekunan jari dan akal pikiranmu, misteri tercipta sebagai karya yang terajah di raga atau di jiwa-jiwa yang mungkin resah oleh suatu keadaan, oleh suatu kondisi, atau oleh suatu pengalaman

dunia adalah gambaran-gambaran misteri yang sepertinya memang perlu dirajah.

di raga dan jiwa-jiwa yang gelisah, imaji bicara, tertancap, menusuk, masuk ke dalam pori, sebagian menjadi misteri yang entah diceritakan dengan cara yang bagaimana, menjadi karya yang ditahtakan, seolah ingin bicara ; dunia ini kejam, dan kekejaman bukan dimulai dari ujung jarum atau ujung belati, melainkan dari hati

kawan,
di dunia kita, orang-orang mungkin penuh ketidaksetujuan
semacam ada kegelapan atau sinisme yang dilontarkan
yang hanya akan menjadi racun
ketika cakrawala berpikir mereka hanya seluas lingkar tempurung, dan ruang di hati tak seluas samudera

tetapi kita bertahan
sekalipun dalam caci
bahkan semakin melebur bersama warna
pun goresan-goresan pedih yang tak pernah berdusta

dari jari dan alam pikiranmu
teruslah menari
teruslah merajah

semesta adalah misteri
dan setiap orang memang punya persepsi masing-masing

maka terus asah jarummu
kais raga-raga yang resah
yang penuh pemberontakan atas bau anyir kemunafikan
tahtakan karya di setiap pori yang gelisah
di setiap urat, daging, dan darah yang sepertinya hendak bicara; ini aku, punya kuasa bebas atas raga sebagai teritoriku sendiri

kawan,
terus asah jarummu
tajamkan
dan tahtakan karya di raga-raga yang resah
di jiwa-jiwa yang memberontak
di jarimu, rasa sakit adalah misteri paling tua yang selalu dibanggakan sejak kelahirannya

“hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Dan misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan”. Demikian Albert Einstein berkata.

Dari jarak yang terpaut ribuan kilometer ini, saya torehkan ucapan : Slamat ulang tahun Rico Spotlight!
Demikian saja.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol


Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.