ARUSUTARA.COMKlik Untuk Subscribe Fanpage Resmi Arusutara.com

Pilwako Kotamobagu, Apa Yang Jadi Penentu Kemenangan?

Bagikan Artikel Ini:

 

MARI kita saling berdebat, berbantahan, adu argumen dan pendapat sampai urat menegang di leher dan kepala bahwa; penentu kemenangan dalam Pilkada (Pilgub, Pilbup, dan Pilwako), adalah pasangan calon yang amat dicintai pendukungnya. Bukan karena kekuatan money politic, atau apapun istilah yang merujuk pada kekuatan uang.

Ya, mari saling berdebat berbantahan adu pendapat bahwa pesta demokrasi pemilihan Wali Kota Kotamobagu kemarin itu, bukan ditentukan oleh karena si A punya kekuatan finansial, atau si A menang karena si B atau karena parpol B mendukung sepenuhnya si A, atau si B menang karena ketokohan si C,  si D menang karena punya pemilih militan. Mari saling berbantahan bahwa praktek money politic tidak terjadi pada Pilwako kemarin dan bukan penentu kemenangan pasangan Wali Kota – Wakil Wali Kota Kotamobagu. Tetapi yang memenangkan kontestan adalah karena rakyat kebanyakan yang sudah memilih kandidat Wali Kota – Wakil Wali Kota oleh karena semata-mata sebuah kesadaran dan rasa cinta kepada kontestan Pilwako yang tak bisa dibayar dengan rupiah.

Pendek kata, rakyat Kotamobagu bukan kelompok pemilih (dalam Pilkada) yang mudah dibayar dengan rupiah. Tetapi warga Kotamobagu adalah pemilih berkategori hati nurani. Tanpa bayaran, tanpa pengaruh uang, tanpa bujukan, tetapi semata-mata  karena rasa cinta dan kasih sayang kepada pasangan kontestan. Bukan karena diberi rupiah atau disogok dengan apa yang diistilahkan sebagai serangan fajar. Tidak ada itu. Titik! Warga Kotamobagu memilih bukan karena serangan fajar, bukan karena rupiah, melainkan rasa cinta dan kasih sayang kepada kontestan. Sekali lagi demikianlah fakta adanya, titik!

Benarkah demikian? Ya, benar. Tak perlu perdebatan lagi. Pokoknya tidak pernah terjadi dalam Pilwako maupun Pileg bahwa warga Kotamobagu adalah warga yang memilih karena dibayar. Warga Kotamobagu tidak kenal dengan istilah; ada uang abang disayang, tak ada uang maaf ya bang!

Benarkah demikian? Ya, benar. Memang demikian adanya! Titik!

Tapi, mungkin ada bisik menimbang dalam dada; ah,siapa bilang warga Kotamobagu tak kenal rupiah saat Pilwako apalagi saat Pileg. Terus yang terjadi kemarin itu apa? Pendirian posko pemenangan, kumpul-kumpul massa, koordinator lapangan, relawan, daftar nama, bagi-bagi amplop, antar amplop, kan itu yang terjadi kemarin?

Bantahan lantas mengemuka; siapa bilang? mana buktinya? Ingat ada Panwas dalam setiap perhelatan demokrasi. Lagian semua tim punya satgasnya masing-masing dalam menjaga praktek politik uang terjadi karena dinilai menodai demokrasi. Jadi tak ada sama sekali itu politik uang berlaku dalam Pilwako kemarin. Tak ada massa yang dibayar, tak ada pemilih yang diberikan amplop oleh tim sukses. Jangan mengkhayal, jangan mengada-ada. Warga Kotamobagu adalah pemilih cerdas, pemilih rasional, pemilih realistis, bukan pemilih pragmatis, bukan pemilih yang masuk kategori mudah dibayar, mudah disogok, mudah disuap, baik dalam Pilwako maupun dalam Pileg. Tak pernah terjadi dalam Pilwako maupun dalam Pileg ada warga yang dibayar oleh kontestan. Tidak pernah ada itu.

Pembaca setia ARUS UTARA, apakah demikian adanya?

Baiklah. Mari kita sama-sama sepakat untuk tidak saling berdebat atau tidak saling mengungkit apa yang sudah lewat. Mari sama-sama sepakat bahwa uang bukanlah segalanya dalam perhelatan pesta demokrasi di Kotamobagu. Dan satu lagi yang paling penting; warga Kotamobagu tidak mengenal politik uang, warga Kotamobagu adalah pemilih yang tidak mudah dibayar, bahkan benci jika pilihannya dipengaruhi dengan uang. Mari kita sepakati itu agar tulisan kali ini lebih dingin, untuk kemudian kita simpulkan secara singkat; apa yang diperlukan agar kontestan dapat memenangkan pertarungan karena penentu semua pertarungan adalah pilihan rakyat saat berada di dalam TPS. Dan rakyat itu adalah rakyat yang benci dengan politik uang.

Jika kita sepakat bahwa rakyat atau pemilih di Kotamobagu adalah demikian adanya, yakni barisan orang-orang yang benci jika dibayar untuk mengubah pilihannya, atau pemilih yang enggan dibujuk dengan rupiah, maka kalimat yang penting untuk kita tanyakan kemudian mungkin begini; lantas apa yang disukai warga Kotamobagu agar setiap kontestan (dalam Pilwako) dapat meraih suara paling banyak hingga akhirnya memenangkan pertarungan?

Jawaban mungkin bisa beragam, bermacam-macam. Di antara kita mungkin akan berkata begini; jualan program yang pro-rakyat, visi-misi yang brilian, pasang baliho sebanyak-banyaknya, turun kampanye ke kantong-kantong massa, adakan pendekatan lewat para tokoh, bikin acara spektakuler yang mengundang banyak massa, adakan kampanye dialogis, beri perhatian banyak kepada kaum papah, angkat tim sukses yang punya pengaruh luas, atau beri perhatian terhadap kaum ibu-ibu.

Apakah itu yang memang ditunggu-tunggu atau dirindukan warga Kotamobagu? Kontestan dengan program dan visi-misi yang brilian dan pro-rakyat? yang punya banyak baliho bertebaran hingga ke pelosok lorong? yang sering turun lapangan ke kantong-kantong massa menggelar kampanye dialogis? apakah demikian yang disukai warga Kotamobagu? Kontestan berdiri di podium lalu berpidato menyampaikan visi-misi yang alangkah cemerlangnya dan punya kepedulian terhadap wong cilik? demikiankah yang ditunggu-tunggu warga Kotamobagu?

Mari sama-sama sepakat bahwa, ya. Itulah yang dirindukan warga Kotamobagu selama ini. Bukan kontestan yang membawa bergepok-gepok duit kemudian dibagi-bagikan ke tim sukses, selanjutnya didistribusikan kepada siapa saja yang datang mendengar kampanye atau berada dalam forum kampanye di sebuah pertemuan. Rakyat Kotamobagu menunggu kontestan yang punya program pro-rakyat. Bukan yang punya berkarung-karung uang untuk dibagikan kepada rakyat pemilih sebagai serangan fajar yang melegenda itu. Karena warga Kotamobagu adalah warga yang membenci uang jika dipakai untuk memengaruhi pilihan. Warga Kotamobagu adalah warga yang menolak rupiah yang diberikan kontestan saat suksesi Pilwako, terutama saat H minus 1.

Maka kita mungkin akan bertanya; benarkah penyampaian di atas? benarkah demikian adanya?? Jika kita masih sepakat bahwa jawabannya adalah Ya, maka mari bertanya; kontestan mana yang akan memenangkan pertarungan sebentar nanti?

Sesudah itu, ketika kontestan Pilwako akhirnya terpilih berdasarkan suara terbanyak oleh warga Kotamobagu yang membenci politik uang, mari sama-sama kita buka kembali artikel ini. Saya yakin, perdebatan yang akan muncul menjadi tidak menarik lagi karena akan ada yang akan berkata; hentikan perdebatan tak berguna ini, karena sejak  awal, kita sudah tidak jujur dalam menjawab realita sosial politik yang sebenarnya di Kotamobagu.

Penulis : Uwin Mokodongan

susah senang tetap saudara sepiring sebotol

 

Bagikan Artikel Ini:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.